Aku duduk berhadapan dengan Gentala di meja makan, sudah beberapa menit kami hanya berpandang-pandangan di depan meja yang kosong melompong seperti lapangan bola Barcelona.
Rupanya bi Tuti terpaksa pulang kampung sementara waktu karena anaknya ingin melahirkan, sehingga tidak ada yang membuatkan kami makan malam.
"Sampai kapan kita akan seperti ini Pak?" Akhirnya aku angkat bicara, menunggu Gentala yang berbicara sampai mati kelaparan juga gak bakalan bicara dia.
"Saya ini tamu." Jawaban Gentala sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan pertanyaanku, yang aku inginkan sekarang bagaimana caranya agar malam ini kita makan.
"Iya pak, saya tau Bapak tamu, tapi kita sama-sama butuh makan lho pak? maksud pertanyaan saya bagaimana caranya agar kita bisa makan malam ini, cari solusi dong! katanya dosen kok ditanya A jawabannya B." Aku mulai merepet lagi, biasanya aku tidak pernah seperti ini lho sama laki-laki, pasti attitude ku jaga selalu, tapi kok sama Gentala sikap ku menjadi buruk ya? padahal banyak sekali mahasiswa yang menjaga sikap jika berhadapan dengan Gentala.
"Kamu maunya gimana?"
"Lho? Di tanya kok balik nanya?" Mudah-mudahan aku tidak pingsan lagi malam ini gara-gara terlambat makan.
"Maksud saya kamu mau makan di rumah atau makan di luar?" Penawaran cukup menarik dari Gentala.
"Makan di luar dong Pak, sudah pasti bisa milih mau restoran yang mana." Rasanya girang sekali kalau sudah di ajak makan di luar, ya biasanya Rangga yang selalu mengajakku makan di luar, karena Rangga sedang sibuk koas jadi aku terlantarkan untuk persoalan makan, Aku sangat jarang aku makan masakan bi Tuti sebab selalu tidak cocok di lidahku.
Oh iya, bicara soal Rangga aku lupa menelponnya hari ini, bahkan mengirim pesan pun tidak ku lakukan, biarlah pulang dari makan nanti sekalian baru ku telpon dia, yang penting sekarang isi perut dulu agar maag akut ku tidak kambuh lagi.
Sepanjang perjalanan Gentala tak sedikitpun berbicara padaku, apa salahnya kan bertanya hal yang simpel-simpel seperti 'Kamu maunya makan di mana Shena?' atau paling tidak 'Makan ayam geprek enak nih!' masa bertanya itu saja tidak mampu, coba saja Rangga yang bawa aku makan, pasti mulutnya akan sibuk menanyakan seleraku seperti apa, maunya malam ini makan dimana, dessert nya mau yang manis atau asin, minumannya mau yang segar atau yang hangat, ah! Gentala payah! Mulutku terasa masam kalau tak berbicara.
Mobil berhenti di depan sebuah restoran yang sama sekali belum pernah aku kunjungi seumur hidupku, bahkan mama dan papa ku pun tidak pernah mengajakku datang kesini.
"Bapak yakin mau makan di sini?" tanyaku sambil mengikuti langkah kakinya yang panjang masuk kedalam restoran. Jangan kalian pikir kami akan bergandengan mesra masuk kesana, mana mungkin itu terjadi, yang ada kalau aku tidak mengikutinya masuk mungkin aku sudah di tinggalkannya di parkiran, emang keterlaluan si Gentala ini.
"Iya." Jawabnya singkat.
Ya Tuhan bagaimana caranya aku mau protes sementara jawabnya jutek begitu.
Kami terpaksa duduk di meja paling depan karena semua meja sudah terisi penuh, aku risih karena berpasang-pasang mata sudah mulai memandang kami, rasa kurang nyaman mulai menyerangku.
"Silahkan!" Seorang pelayan restoran datang membawa menu untukku dan Gentala.
Aku membaca satu persatu nama makanan yang ada di dalam buku menu itu, rasanya aku ingin muntah membacanya, baru saja membacanya belum lagi aku memakannya.
"Pak, sebaiknya cari restoran yang lain deh Pak, mumpung belum pesan." Aku berbicara setengah berbisik pada Gentala yang sepertinya sangat antusias membaca menu.
"Kenapa?" tanyanya singkat dengan wajah datar.
"Semua menu di sini saya tidak bisa makan Pak, saya hanya makan daging saja pak! Kenapa Bapak bawa saya ke restoran Vegetarian hm?"
"Kamu kan lagi kurang sehat Shena, semua makanan ini bagus untuk lambung kamu!"
Aku tidak bisa bicara apa-apa lagi, rasanya seluruh dunia ini runtuh semenjak kehadiran Gentala di dalam hidupku, mulai dari menjadi dosen pembimbingku, kemudian Gentala berkembang biak di dalam kehidupanku menjadi calon suamiku dan malam ini puncaknya keberhasilan Gentala menghancurkan hidupku, dengan wajah tak bersalahnya dia membawaku makan di restoran Vegetarian, bagaimana mungkin aku bisa menelan sayuran sementara aku adalah makhluk karnivora yaitu pemakan daging.
Berdebat juga percuma, hanya bisa pasrah menerima kenyataan saat ini, pesanan ku serahkan kepada Gentala sepenuhnya, terserah dia mau memesan apa karena aku juga tidak mengerti dengan nama-nama makanan yang ada di dalam buku menu itu, beruntunglah di sini ada jus, setidaknya aku bisa bertahan menjelang pulang kerumah.
Saat makanan datang ku akui semua tampilannya sangat menyejukkan mata, cantik-cantik dan terlihat sangat alami, warna hijau sangat mendominasi dalam hidangan ini, kemudian warna orange yang pastinya adalah wortel, dan warna merah serta warna ungu, tapi sayang cantik-cantik tak bisa ku nikmati karena bukan seleraku.
Hidangan ini sangat sesuai dengan Gentala, tampan, mapan, matang tapi tak bisa ku nikmati, karena bukan seleraku.
Gentala dengan lahapnya menikmati semua hidangan ini, sedangkan aku, entahlah! Apa yang kumakan jangankan untuk menikmati, menelannya saja harus memejamkan mata hingga air matapun keluar dari sudut-sudut mataku.
Awas saja Gentala, kalau di sini tidak bisa protes tunggu di rumah nanti, habis kau ku buat.
"Lho, Pak Gentala ada di sini? Vegan juga ya Pak?" Seseorang yang sangat ku kenal suaranya menyapa Gentala, aku lekas menyembunyikan wajah menggunakan tas kecilku.
"Hm, oh! Bu Katy rupanya!'
Bu Katy dosen wanita yang paling pelit nilai, untuk mendapatkan nilai yang baik aku sampai harus menyogoknya dengan makan setiap kali dia mengajar di kelasku, itupun aku hanya mendapatkan nilai B.
"Hm, calon ya? kok wajahnya di tutup pakai tas?" Bu Katy mulai kepo dengan urusan orang lain, dia mulai ingin mengintipku di balik tas yang kugunakan menutup wajahku.
"Dia Mahasiswi kita Bu." ucap Gentala jujur, ya Tuhan, enteng sekali mulut Gentala bicara jujur, dia tidak melihat apa aku mati-matian menyembunyikan wajah di depan Bu Katy agar dia tidak mengenaliku.
"Siapa?" dengan lancangnya bu Katy menarik tasku.
"SHENA! Ka-kamu ngapain bersama Pak Gentala, kamu merayu dia?" Bu Katy mulai meracau saat melihat wajahku.
"Apaan sih Bu?" Aku jadi malu karena suara Bu Katy terlalu besar sehingga orang-orang mulai memperhatikan kami.
"Pasti kamu mau merayu Pak Gentala kan agar skripsi kamu cepat selesai, saya bukan tidak tau karakter kamu Shena, kamu tipe mahasiswi yang menghalalkan segala cara untuk meraih nilai bagus, bukannya Pak Gentala dosen pembimbing kamu?" Mata Bu Katy melotot memandangku seolah aku penjahat yang sedang tertangkap.
"Pak Genta, kamu jangan tertipu dengan rayuan maut wanita ini, dia ini sangat jago merayu dan menggoda, saya saja sudah pernah termakan rayuan mautnya!"
Sialan ni dosen, kok jadi bukan kedok ku di depan tempat umum seperti ini, aku jadi malu.