"Sesuai syarat, saya permudah urusan kamu dan kamu tidak boleh menolak perjodohan itu!' Gentala duduk bersandar pada kursi kebanggaannya sambil memandangi ku yang duduk tepat di depannya.
Aku mencoba mencerna setiap kalimat yang keluar dari mulutnya.
"Hanya sementara!" Perjanjian ini harus jelas, kalau perlu harus ada hitam di atas putih.
Gentala diam tidak menjawab, dia hanya menatapku dengan tajam, tatapan itu membuat bulu kudukku seketika merinding, baru kali ini aku ditatap seperti itu oleh seorang lelaki dewasa.
"Aku tidak bisa memastikan."
"Maksudnya?"
"Sampai papa merestui hubungan saya dengan calon istri pilihan saya." Aku mengerjapkan mata beberapa kali, oh ternyata dia sudah punya calon istri, haha aku tertawa di dalam hati saja membayangkan si kutub utara ini punya calon istri, emang ada wanita yang punya kriteria lelaki seperti Gentala, pasti wanita itu orangnya seperti kutub juga, jika lelakinya kutub utara pasti wanitanya kutub selatan, sebelas dua belas lah! haha.
"Kenapa tersenyum?"
Tersenyum? Apa aku sedang tersenyum, ingin sekali melihat raut wajahku di kaca, tapi aku tidak punya kesempatan untuk melakukan itu.
"A-aku tidak tersenyum, mungkin hanya perasaan mu saja Pak dosen yang terhormat, ya secara wajahku ini memang manis, dan murah senyum." Aku beralibi dan salah tingkah karena mata tajam milik pak Gentala masih saja menatapku.
"Ba-baiklah, sekarang beralih ke topik perjodohan kita, aku tidak mau di rugikan dari perjodohan ini, aku dan Rangga akan menikah, jadi aku harap Bapak bisa secepatnya meyakinkan om Dirga"
"Oke!" ucap pak Gentala singkat, beberapa detik kemudian aku menunggu kalimat selanjutnya tapi dosen itu tidak kunjung
berbicara, hingga tercipta suasana hening di antara kami. Aku yang biasanya banyak bicara tiba-tiba menjadi canggung jika berada di posisi seperti ini.
"Apa ada yang perlu kamu bicarakan lagi?" Gentala akhirnya melontarkan pertanyaan kepadaku.
Aku menggeleng.
"Silahkan!" Tangannya mengarahkan ke pintu, memberikan kode, mempersilahkan aku untuk segera keluar dari ruangannya.
Baru saja ingin berterimakasih, rasa jengkel kembali menyerang lagi pada laki-laki yang bernama Gentala ini, bisa-bisanya dia mengusirku, padahal antara aku dan dia punya kepentingan masing-masing, mengapa seolah-olah aku yang lebih membutuhkan dia, dasar dosen sialan.
Aku segera berdiri untuk meninggalkan Gentala, bukan saja dia, akupun tak sanggup berlama-lama di depan wajahnya, namun saat berdiri tiba-tiba rasa pusing di kepala menyerangku.
Gentala yang masih duduk di depanku berubah menjadi dua saat aku berkedip, kemudian berubah menjadi tiga, empat lalu aku tidak bisa menghitungnya lagi, mataku kabur dan berat, ada rasa perih yang luar biasa di ulu hati dan menjalar sampai d**a yang sakitnya seperti ditusuk menembus sampai pundak, akhirnya aku susah bernafas dan tubuhku mulai hilang keseimbangan
"SHENA!" pekik Gentala.
Satu jam kemudian.
"Lain kali kamu sarapan ya, jaga kesehatan, jangan stres dan jangan banyak pikiran, kalau kamu sakit aku juga sakit lho Shen!" Rangga duduk di sampingku yang sedang berbaring di atas brangkar rumah sakit, sejak kesadaranku pulih aku terus di ceramah oleh kekasihku, Rangga tampak khawatir dengan kondisiku.
Aku memang mempunyai penyakit maag akut, kebetulan saat kedatangan teman bisnis papa yaitu om Dirga bersama putranya Gentala membuat aku sama sekali tidak berselera untuk menyentuh makan malamku karena ternyata mereka merencanakan perjodohan aku dan Gentala yang merupakan dosen pembimbingku sekaligus paman dari kekasihku, Rumit bukan? tentu saja rumit sehingga selera makanku turun drastis, hanya fried chicken yang dikirimkan oleh Rangga makanan berat yang masuk dalam lambungku hingga siang ini aku tidak makan apapun kecuali minum, hal itulah yang membuat maag akut ku kumat seketika hingga pingsan.
"Kamu ngapain di sini?" Aku bertanya dengan suara pelan.
"Sayang, aku koas disini, kamu lupa!" maafkan aku Rangga, aku memang lupa, kemudian aku tersenyum lemah.
"Ponselku mana?"
"Buat apa? Buat kasih kabar ke orang tua kamu? Udah di kabarin, tapi mereka sedang pergi ke Bandung, kamu tenang saja mungkin sekarang mereka sudah di perjalanan pulang" Rangga mengelus kepalaku dan tersenyum manis, hari ini dia terlihat tampan sekali, wajahnya yang putih berseri di hiasi alis tebal dan hidung Bangir, bibir tipis bergelombang membuat wajahnya seperti opa-opa Korea, di tambah lagi hari ini Rangga memakai jas putih khas jas para dokter yang terlihat sangat pas di tubuhnya yang tinggi.
Tapi tunggu, tadi sebelum aku tidak sadarkan diri aku sedang bersama Gentala, dimana dia sekarang? Apakah dia yang mengantarku kerumah sakit? Ah! Mana mungkin Gentala mengantarkan ku kesini, mana peduli dia dengan hidupku, mungkin saja dia akan senang kalau aku mati, dia tidak perlu repot-repot memikirkan perjodohan itu.
"Shena sayang, aku tidak bisa berlama-lama menemani kamu, masih banyak tugas yang harus ku selesaikan, aku titip kamu sama om gentala ya!"
"Tapi..."
"Jangan lupa makan ya sayang, aku lagi buru-buru nih!" Belum sempat aku mengatakan apapun Rangga sudah meninggalkanku sambil melambaikan tangannya, kemudian punggungnya hilang di balik pintu, belum sempat daun pintu tertutup sempurna seorang laki-laki bertubuh tinggi tegap masuk kedalam ruanganku.
"Bagaimana keadaan kamu?" Dia berdiri di sampingku sambil memasukan tangannya ke saku samping celananya.
Aku hanya menjawabnya dengan anggukan.
"Okay" Gentala tak lagi berbicara, dia berlalu dari sisiku menuju sebuah sofa yang telah tersedia untuk keluarga pasien di dalam ruangan rawat inap yang sepertinya VIP ini.
Benar-benar dingin sekali, kutub utara memang tepat menjadi sebutan laki-laki ini, tapi mengapa dia berada disini? Melihat dari sikapnya tak mungkin Gentala yang membawa ku kesini.
Setelah selesai makan bubur aku berencana ingin tidur, tapi kantong kemih ku terasa penuh, aku bingung bagaimana caranya untuk pergi ke toilet, mana mungkin aku bisa sendirian sedangkan jarum infus masih tertancap di punggung tanganku.
Aku melirik kearah Gentala yang sedari tadi sibuk dengan ponsel dan laptopnya, seolah aku tidak ada artinya di ruangan ini, Rangga benar-benar salah telah menitipkan aku dengan Gentala karena dia bahkan tidak memperhatikanku sedikitpun.
Aku mencoba untuk pergi ke toilet sendiri, ku turunkan kakiku dari tempat tidur dengan pelan, dan aku berhasil, berjalan pelan menuju toilet sambil mendorong tiang infus melewati Gentala yang sedang serius menatap layar komputernya.
Aku yang sedang mendorong tiang infus sedikitpun tidak menarik perhatiannya, aku jadi curiga apa yang sedang di lihatnya di layar laptop itu, jangan-jangan pak dosen itu nonton film biru, pemikiranku semakin memburuk, bulu kudukku meremang seolah aku sedang lewat di depan setan, di tambah lagi aku dan Gentala hanya berdua disini, oh Tuhan, apa yang akan terjadi jika di benar dugaan ku itu.
Aku mencoba mempercepat langkah menuju toilet, tubuhku yang tremor ternyata masih tidak bisa bergerak seimbang, akhirnya tanpa sengaja kakiku menendang tiang infus dan aku jatuh telungkup.
"Aw!"
"SHENA!" Gentala bangkit lalu menyambar ku.