8. Salah Sangka

1053 Words
Jangan kalian pikir kutub utara itu menyambar ku seperti adegan di film-film, tubuh di sambut dengan kedua lengan kokoh sang laki-laki lalu kedua mata mereka bertemu, rasa cinta kemudian tumbuh tiba-tiba lalu sang laki-laki menggendong sang wanita ala bridal style ketempat tidur. Jangan bayangkan adegan seperti itu di antara aku dan Gentala, dia menyambar ku dengan keras di kerah baju bagian belakang, akhirnya aku tercekik tetapi Gentala malah menarik ku keatas hingga aku kembali berdiri. "Akh! Sakit" Aku meronta meminta di lepaskan. "Niat nolong gak sih Pak?" Aku berbicara sambil merapikan kerah bajuku. Tapi Gentala langsung menangkap tanganku, dan menekan bagian punggung tanganku, aku refleks ingin melepas kan tangannya dari tanganku, tapi Gentala menahannya. "Apaan sih Pak! Bapak mau macam-macam sama saya ya? Lepas gak?" Aku melotot padanya, enak saja dia pegang-pegang tanganku, dasar m***m. "Tanganmu berdarah!" "Apa?" Aku segera melihat pada punggung tanganku, ternyata jarum infus di tanganku tercabut saat aku terjatuh tadi dan darah segar keluar dari sana. Rasanya aku kembali ingin pingsan, Darah! itu adalah kelemahan ku, melihat darah seperti melihat malaikat maut bagiku, aku meleyot kebawah, tapi di tahan oleh Gentala. Tenagaku hilang sirna melihat darah di tanganku, tapi Gentala dengan sigap mengangkat ku ke tempat tidur, akhirnya adegan romantis terjadi, mataku yang mulai mengabur hanya mampu menatap wajah Gentala dari bawah, dari semua yang ada di wajahnya hidungnya lah yang paling mendominasi saat dilihat dari bawah, bau mint menyeruak memenuhi rongga penciumanku. Aku tidak jadi pingsan! "Pak, saya tidak bisa melihat darah." ucapku pelan. "Jangan di lihat, saya akan kembali!" *** Akhirnya seorang perawat kembali memasang infus ke tangan yang sebelahnya lagi setelah aku pergi buang air kecil, sedangkan Gentala kembali ke alam nya lagi, yaitu berhadapan dengan laptop dan ponsel di sofa, tidak sedikitpun dia peduli dengan keadaanku, coba saja Rangga ada di sini sudah pasti dia akan panik dengan kondisiku. "Calon suaminya ganteng banget mbak!" bisik perawat itu sambil mengupas kan buah untukku, entah siapa menyuruhnya melayani aku sampai harus mengupas buah segala. "Calon suami?" Aku mengulang ucapannya. Perawat itu mengangguk sambil menunjuk kearah Gentala yang masih sibuk dengan laptopnya Tampa memperdulikan kami, mungkin di kiranya aku dan perawat ini adalah patung batu. "Udah ganteng, perhatian lagi! Ada duplikatnya gak mbak?" Gila benar si perawat ini, masa laki-laki seperti Gentala di tanyain ada duanya apa tidak, padahal aku berharap laki-laki seperti Gentala spesiesnya akan segera musnah, ya karena aku sama sekali tidak suka dengan orang yang dingin, arogan dan seolah tidak butuh orang lain. Dan yang paling aku herankan adalah kenapa lelaki seperti Gentala banyak sekali yang menyukai, mulai dari kampus hingga kerumah sakit ini, Heran! "Mbak, teman-teman saya di luar titip salam sama calonnya mbak, tolong sampaikan ya! Kalau bisa kami minta foto bareng sama dia" Astaghfirullahal'adzim, tingkah perawat di depanku ini persis seperti orang yang kasmaran, akan tersenyum jika memandang Gentala yang sama sekali tidak memperhatikan kami, mukanya pun bersemu merah. "Udah deh mbak, dia itu tidak suka dengan wanita." bisik ku pada perawat itu, mulutnya langsung terbuka saat mendengar ucapanku. Sengaja ku buat fitnah yang keji ini pada laki-laki dingin itu, biar tidak semua wanita menyukainya, lama-lama jika seperti ini dia akan makin sok kegantengan. "Gak mungkin deh mbak, mbak pasti cemburukan calon suami mbak di sukai banyak wanita? Makanya mbak sengaja ngomong begitu." Sepotong buah apel di sodorkan oleh perawat itu kepadaku. "Hm?" Gentala berdehem sambil melirikku, dia memberi kode bahwa apa yang kami bicarakan mungkin dia mendengarnya. "Tuh kan, kedengaran sama dia." bisik perawat itu kepadaku. Gentala berdiri dari duduknya lalu mendekatiku, tangannya di masukan ke kedua saku celananya, sepertinya ini adalah suatu kebiasaan Gentala. Sedangkan perawat yang masih mengupas apel itu ternganga melihat wajah Gentala yang menurutku biasa saja, tapi perawat itu seolah melihat artis Hollywood ataupun Bollywood, selera rendah ya seperti itu, menilai lelaki hanya dari wajahnya saja, coba saja dia tau bagaimana sipat aslinya Gentala pasti gak bakalan suka sama ni laki-laki. "Sudah pukul sembilan, sebaiknya kamu istirahat, dan kamu terimakasih sudah menemani calon istri saya dengan baik!" Sang perawat hanya mengangguk pelan menjawab semua ucapan Gentala. Enak sekali mengaku-ngaku kalau aku calon istrinya, dasar tidak tau malu ni pak Gentala. "Jari kamu luka!" ucapnya membuat mataku dan mata perawat itu segera berpindah pada tangan perawat yang memang masih mengupas buah. "Akh! Aduh!" Perawat itu langsung melepaskan pisau dan buah apel yang di pegangnya, dengan tergesa-gesa dia keluar meninggalkan kami. Gentala serta Merta menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis melihat tingkah perawat itu. Tapi tunggu! Dia tersenyum? Ini fenomena alam yang langka terjadi, bahkan baru kali ini aku melihat Gentala tersenyum dengan jarak dekat. Hm, ku akui manis juga, pantas saja perawat itu sampai mengiris tangannya, ya ku akui Gentala punya pesona tersendiri, wajahnya sangat sulit sekali aku deskripsikan, kira-kira seperti wajah laki-laki yang berasal dari timur tengah, kulitnya kuning langsat, alis tebal dengan warna hitam pekat berpadu dengan mata coklat yang tajam, hidung mancung di sempurnakan dengan bibir tipis bergelombang, dan yang paling menjadi ciri khas Gentala adalah rahangnya sangat tegas tapi di bagian ini yang tidak ku suka, bagian rahangnya di tumbuhi bulu halus yang tipis. Ah, jika di bayangkan bulu itu pasti sangat menggelikan!. Aku tidak suka lelaki seperti itu, mungkin karena tua ya pipinya sampai di tumbuhi bulu, gak kebayang kalau aku benar-benar menikah dengan Gentala, tidak! Itu tidak boleh terjadi, calon suamiku adalah Rangga, putih bersih seperti opa Korea, duh jadi kangen sama Rangga! Aku harus menelponnya, tapi dimana ponselku? "Ponsel kamu saya pegang, sekarang sudah pukul 9 malam, istirahat biar kamu cepat pulih" Gentala seakan tau apa yang ku cari, dia berucap tapi dia langsung kembali ke tempatnya semula, yaitu duduk di depan laptop. "Kembalikan ponsel saya Pak! Saya ingin menelpon orang tua saya!" "Mereka besok baru sampai!" serunya dari sofa. "Tetap saja saya mau nelpon mereka Pak, lagi pula apa hak Bapak menahan ponsel saya, bapak tidak punya urusan sama saya, sebaiknya bapak pulang saja kerumah." Terlanjur kesal ku usir saja si kutub ini, bosan juga melihatnya lama-lama di depanku, tidak bisa di nikmati. Gentala tidak menjawab, dia kembali fokus pada laptopnya seolah apa yang baru saja ku ucapkan adalah angin lalu. Ih, geram sekali aku melihatnya, baru pertama kali jumpa laki-laki seperti ini, ya Tuhan, kenapa aku bisa berjumpa dengan laki-laki seperti ini? Di jodohkan pula sama dia? Aku berbaring untuk segera tidur saja, semoga cepat pulih agar bisa kembali kerumah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD