Aku terbangun saat mendengar suara orang membaca wirid, kulihat jam dinding ternyata pukul 4.45 subuh, ya wajarlah ternyata orang baru selesai sholat subuh, tapi kok terdengar dekat sekali wiridnya? Apa rumah sakit ini di kelilingi oleh masjid sehingga wirid itu terdengar sangat jelas?
Tubuh yang semula menghadap dinding karena malas melihat wajah Gentala, orang yang sok berkuasa dalam hidupku itu ku alih posisikan menghadap sofa, dimana tempat spesies dosen resek itu berdiam, ini kulakukan untuk kepo kepada apa yang di lakukannya subuh buta ini, apakah masih berkutat di depan laptop? Atau sedang tidur dan ngorok berat khas tidurnya laki-laki matang, haha jika itu terjadi akan ku vidio kan si Gentala dan akan ku sebarkan aibnya ke seluruh alam semesta ini.
Biar tau rasa dia, pasti malu!
Tetapi saat tubuh ini sudah menghadap kesana aku mendapatkan pemandangan yang sangat menakjubkan sekaligus membuat hatiku berdebar, wajahku bagaikan di tampar tangan yang tidak kasat mata mendapati gentala sedang berada di atas sajadah sambil membaca wirid.
Sudah lama sekali aku tidak melihat penampakan seperti ini? Apakah karena aku tidak pernah pergi ke masjid? Atau karena aku tidak berada di lingkungan yang taat agama? Entahlah! yang jelas hati ini merasa tentram mendengar wirid yang keluar dari mulut Gentala.
Kalau melihat lelaki seperti ini aku jadi berharap kalau Rangga akan sama seperti pamannya yang rajin ibadah, sedari dulu aku berharap mempunyai suami yang bisa membimbingku di jalan agama Allah, karena selama ini aku buta akan hal itu, kenikmatan dunia membuat aku lupa dengan yang maha menciptakan.
Ah! Apa pula rasa ini, tiba-tiba jadi melow, tapi aku bukan mengagumi mu ya gentala, jangan besar kepala kamu?.
Tiba-tiba yang sedang menghadap kiblat menoleh kearahku, wajahnya begitu berseri memakai kopiah hitam dengan baju Koko putih, bibir ranumnya tersenyum padaku, aku jadi salah tingkah di buatnya karena ketauan memandangnya sejak tadi, terpaksalah ku balas senyumannya itu!
Setelahnya dia kembali khusyuk membaca wirid dan berdo'a.
Aku tak ingin lagi memperhatikannya, cukup sudah ketahuan sekali jangan sampai kedua kalinya, tubuhku yang semula menghadap punggungnya ku balikan lagi menghadap dinding, memejamkan mata berpura-pura tidur.
"Kamu mau sholat?" Rasanya baru sebentar mau akting pura-pura tidur, eh sudah di tanyain aja sama pak dosen.
Aku diam saja, malas menanggapi, biar saja dia bertanya sendiri jawab sendiri.
"Oke, terserah kamu, yang jelas sesama muslim saya sudah mengingatkan!" Ceramah Gentala memenuhi lobang telingaku, aku masih diam, terdengar langkah kakinya menjauhi tempat tidurku, mungkin balik lagi ke tempat asalnya. Kenapa dia tidak memaksaku? padahal aku ingin sekali di paksa, dasar Gentala tidak peka dengan perasaan wanita, pantas saja tidak laku-laku.
Pukul 8.00 pagi Gentala sudah nampak rapi, sepertinya dia akan keluar, aku yang sedang menikmati sarapan bubur di temani oleh perawat Siska yang kemarin memuja-muji Gentala sampai mengiris jarinya-jarinya dengan pisau buah, aku masih bisa melihat jari telunjuk dan jari tengahnya di bungkus plaster.
"Ini ponsel kamu, Saya sedang ada keperluan." ucapnya datar Tampa ekspresi sambil menyodorkan ponselku, aku segera merebutnya, uh! Sejak kemarin aku merindukan barang ini, rasanya tanpa dia hidupku hampa.
"Tolong temani dia!" ucapnya lagi pada perawat Siska, perawat itu hanya menunduk tanpa mampu menoleh sambil menganggukan kepala, mungkin dia trauma atas kejadian kemarin malam.
Setelah sarapan aku segera mengecek ponselku, banyak sekali pesan masuk serta panggilan suara tidak terjawab, tapi sayang semuanya dari teman kuliah dan dari orangtua ku, sedangkan orang yang paling ku harapkan mengkhawatirkan ku sama sekali tidak menghubungiku, sebegitu sibuknya kah dirimu Rangga?
[Gimana kabarmu Shena? Kami ingin membesuk mu siang ini. ] Pesan dari Sean.
[Shena! Semoga lekas pulih, kami semua mengkhawatirkan mu."] Pesan dari Firdaus.
[Berita kamu pingsan di ruangan dosen Keren itu tersebar ke seluruh Antero kampus Beb, banyak sekali gosip receh beredar di kalangan mahasiswa dan dosen, cepetan pulih! Sudah tidak sabar bertemu kamu."] Pesan dari Gea membuatku merasa tidak nyaman.
[Dasar gatal, pura-pura pingsan supaya dapat perhatian dari pak Gentala, akal busuk!"] Pesan dari nomor yang tidak kenal. Siapa ini? Berani sekali dia mengataiku gatal dan akal busuk, ini pasti orang yang tidak menyukaiku.
Aku bersiap ingin menelpon nomor yang tidak di kenal itu, tapi keburu dokter masuk di ikuti oleh tiga orang dokter koas dan dua orang perawat.
"Selamat pagi, gimana kabar kamu? Apa ada keluhan?" Dokter itu bertanya padaku, dan di antara ketiga koas itu adalah Rangga, aku memandang Rangga dan dia tersenyum manis padaku.
'Selamat bertugas sayang.' Bahasa isyarat ku lontarkan dari mataku kepada dokter muda pujaan hatiku itu.
'Iya sayang, i love you sekebon!' Jawabnya melalui kedipan mata, ah! Indahnya dia sampai membuat seluruh sakit ini langsung sembuh tanpa obat dokter.
"Hm!" Dokter yang bertanya berdehem memutuskan percakapan batin antara aku dan Rangga.
"Maaf Dok, saya oke hanya saja nyeri pada lambung masih terasa jika masuk makanan." ucapku memberikan jawaban, malu juga ketahuan berkode-kodean dengan koas.
"Mual masih?" tanya dokter itu sambil memeriksaku dengan menggunakan stetoskop.
"Kurang dok, apakah saya sudah bisa pulang?' Aku merasa sudah sehat, walaupun sedikit agak lemah, sepertinya istirahat di rumah lebih baik dari pada disini, apa lagi bersama dosen yang sangat menyebalkan itu.
"Sudah, nanti saya bicarakan pada pak Gentala." Apa pula hubungannya dengan Gentala, toh dia bukan orang tuaku bukan pula saudaraku, kenapa harus bicara kepada si Gentala itu.
Tapi ku biar saja dia berbicara apa, aku tidak mau berdebat apa lagi di depan Rangga, itu akan merusak image ku sebagai wanita yang cantik dan anggun.
Setelah visit para dokter berakhir, perawat Siska tidak juga kunjung pergi, privasiku jadi terusik karena kehadirannya. "Mbak kalau mau kerja silahkan, saya mau istirahat." ucapku pada perawat itu.
"Saya di tugaskan secara pribadi oleh Pak Gentala untuk menjaga anda Mbak." ucapnya sinis seolah tidak suka dengan apa yang baru saja ku katakan.
Lagi dan lagi, si Gentala seolah punya hak untuk mengatur kehidupanku sekarang, aku jadi tambah ilfil dengan Gentala, jangan-jangan dia beneran ingin jadi suamiku.
"Kalau bukan karena dia mana mau saya jaga Mbak, mendingan saya ngerumpi sama teman-teman saya di sana!" Rupanya ada kelanjutannya ucapan si perawat ini.
"Ya sudah, pergi sana!" Aku mengusir perawat itu, siapa juga yang butuh bantuan dia.
"Jangan belagu ya Mbak, mentang-mentang cantik sombong amat, Mbak itu cuma wanita yang beruntung kebetulan bertemu sama Pak Gentala, kalau saya jadi Gentala saya tidak sudi punya calon istri seperti Mbak ini." Apa? katanya aku cuma wanita beruntung, kok jadi resek ini perawat ngata-ngatain hidup ku.
Darahku tiba-tiba terasa panas dan naik ke ubun-ubun, hormon marahku seketika aktif karena perawat ini!
"Gentala yang seharusnya beruntung karena punya calon istri seperti saya!" Bersamaan dengan itu pintu kembali terbuka, di sana berdiri Sean yang membawa buqet bunga beserta teman-teman kampus yang lainnya.
Gawat!.