Aku berbaring dengan selimut yang menutupi tubuh, rasa menggigil menyerangku tanpa ampun, aku tidak bisa tidur bukan saja karena suhu dingin tetapi karena perasaan yang bercampur aduk. Pembicaraan bersama Rangga dan Gentala membuat aku ingin segera mengakhiri segalanya, hanya sebuah penyesalan yang ada di dalam pikiran ini. Ku kira setelah menikah dengan Gentala aku akan bisa membuat Rangga kebakaran jenggot dengan kemesraan-kemesraan yang ku ciptakan dalam pernikahan sandiwara aku dan Gentala, ternyata aku salah, akulah yang kebakaran jenggot karena pernyataan mereka. Tok-tok-tok Sebuah ketukan di pintu menghalau pikiranku, siapakah gerangan? dirumah ini hanya kami bertiga, aku Gentala dan Rangga. Apakah Rangga? tapi untuk apa dia malam-malam mengetuk pintu kamarku? Ataukah Gentala?

