Bima memandangi layar ponselnya yang telah gelap. Satu kata balasan dari Calista, "Ya". Dingin, singkat, seperti kembali ke pengaturan awal. Sangat berbeda dengan ekspresi Calista pagi tadi sebelum mereka berpisah, rambut basah, senyum lepas, tubuh yang lengket menempel padanya dengan kemanjaan yang tulus. Kini, hanya ada kesenyapan yang membuat dadanya sesak. "Ayah." Suara kecil itu menarik perhatiannya. "Iya, jagoan?" Bima meletakkan ponsel di nakas, lalu merangkul Juno yang terbaring lesu di sampingnya. Tubuh mungil bocah empat tahun itu terasa panas, demam kembali menyerang hanya tiga minggu setelah pemulihan yang melelahkan. Juno memeluknya, lengannya yang kecil hanya mampu merengkuh sebagian dadanya. Kehangatan anaknya seharusnya menjadi pelipur, tetapi justru membuat rasa bersala

