18. Diamnya

1507 Words

Selama dua hari sisa waktu itu, Calista berusaha menyibukkan diri dalam pekerjaan. Jarum pentul, gunting kain, dan sketsa desain menjadi pelariannya. Namun, di balik setiap goresan pensil dan jahitan mesin, bayangan Bima selalu muncul. Peringatan keras Rita seperti rekaman yang terus diputar ulang di kepalanya, mendinginkan setiap kenangan panas tentang ciuman mereka di dalam mobil. Pada hari ketiga, ketegangan itu mencapai puncaknya. Calista berdiri di depan manekin, sehelai kain satin merah tergantung di tangannya, tetapi tatapan matanya kosong. Dia membayangkan Bima di bengkel, tangannya yang kasar memegang perkakas, lalu membayangkan bagaimana tangan itu pernah meraih pinggangnya dengan genggaman yang menggila. Nafsu dan penyesalan berperang dalam dirinya. Dia menyetujui syarat itu da

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD