Kursi tunggu rumah sakit terasa dingin dan keras di bawah Rita, meski udara di koridor sudah pengap oleh bau antiseptik dan keputusasaan. Tangannya terkepal di pangkuannya, kuku-kuku jarinya menekan telapak tangan sampai meninggalkan bekas kemerahan. Hari ini, di suatu tempat yang jauh dari sini, suaminya sedang mengucapkan janji suci dengan wanita lain. Rasa itu seperti sebilah pisau tumpul yang menggerus dadanya pelan-pelan. "Rita." Suara Dina menyadarkannya. Rita menoleh, berusaha menyusun kembali ekspresi di wajahnya. "Ayahnya Bima sudah sadar," ucap Dina memberi tahu seraya duduk di sampingnya. Wajahnya lelah tapi membawa cahaya kecil. "Dokter bilang, masa kritisnya sudah lewat." Rita menangkup kedua tangannya, mengucap syukur dalam hati. Namun, rasa lega itu hanya sebentar, tengg

