12. Empat Hari, Kamu Milikku

1560 Words

Calista berdiri di depan wastafel marmer, tangannya mengusap permukaan cermin yang berembun hingga bayangannya tampak samar. Dia menatap sosok di balik kaca itu, wanita dengan rambut coklat kemerahan terurai, garis bahu yang turun, dan mata yang menyimpan sisa-sisa kehancuran harga diri. Penolakan Bima tadi malam masih terasa seperti tamparan dingin yang membekas di kulitnya. "Dasar memalukan," gerutunya kesal. Wajahnya berkerut dalam ekspresi jijik pada dirinya sendiri. Bayangan di cermin itu seakan mengejek, "Lihatlah dirimu, Calista Tedjakusuma, mengejar suami orang dan ditolak mentah-mentah. Sungguh memalukan!" Dia memutar keran air dingin, menyeka wajahnya dengan kasar, seolah ingin menghapus rasa panas malu yang masih membakar pipinya. Sambil menyikat giginya dengan gerakan agresif

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD