Calista membuka pintu apartemennya dengan kunci elektronik. Begitu masuk, matanya langsung tertuju pada sepasang sepatu kerja lusuh milik Bima yang tertata rapi di rak sepatu, sebuah kontras yang mencolok di antara deretan sepatu mahalnya. Dia melepas heels-nya dan berjalan menyusuri koridor. Di ruang tamu, Bima terduduk di sofa, ponsel terpegang di tangannya namun tatapannya kosong. Pria itu menoleh saat mendengar langkah kaki, dan Calista langsung menyambutnya dengan senyum yang membuat dadanya sesak, senyum yang selalu berhasil mencairkan pertahanannya. Calista duduk persis di sampingnya, tas kulitnya dilempar ke ujung sofa. "Jadi kamu benar-benar mengunjungi Kakek? Kenapa tidak memberitahuku?" "Awalnya tidak ada rencana. Tapi teringat permintaanmu tadi malam, jadi kuputuskan langsun

