Rita membeku di ujung koridor rumah sakit, tas berisi makan malam masih tergenggam di tangannya. Sosok yang bersandar di dinding depan ruang ICU itu terasa asing, namun tidak sepenuhnya tidak dia kenal. "Mas Bima ...?" Suaranya terdengar penuh keraguan. Pria itu menoleh, dan sejenak Rita seperti melihat orang yang berbeda. Rambut suaminya yang biasanya berdebu dan acak-acakan kini tersisir rapi. Bau parfum halus, bukan aroma oli dan bensin, menyertai kehadirannya. Kemeja mahal yang dipakainya menyorotkan bahu tegap yang biasanya tersembunyi di balik baju kerja kotor. "Kamu dari mana?" tanya Bima yang kini duduk bersama Rita di kursi tunggu. "Dari rumah, bawa makanan untuk Ibu." Rita duduk perlahan, matanya masih menelusuri perubahan pada suaminya. "Mas kok di sini? Bukannya seharusnya

