Alia kaget bukan main. Pintu rumah yang baru saja dia buka, membuatnya terpakus saat kedua matanya menangkap sosok Luna berdiri dengan senyuman sumeringah di hadapannya. Luna yang seolah tanpa beban dan tanpa rasa malu, langsung mendekati Alia dan mencium pipi kanan dan kiri Alia, lantas memeluknya erat.
Alia benar-benar merasa jijik bukan main melihat sikap Luna saat itu padanya. Dia tidak pernah berpikir bahwa Luna bisa hadir di hadapannya dan malah bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Alia sendiri sebenarnya sudah memaafkannya semenjak dia melepaskan Panji untuk bisa menikahi Viola. Namun mendengar cerita dari Mawar kemarin, saat keduanya bertemu dengan Luna, Alia benar-benar geram bukan main. Rasanya ingin memakinya secara langsung saat itu juga, namun sayangnya Viola melarangnya dan memintanya untuk bersikap biasa saja, saat bertemu dengan Luna nanti.
Alia tidak pernah percaya, bahwa pertemuannya dengan Luna benar-benar di luar dugaan akan secepat ini. Bayangan Alia, Luna tidak akan berani hadir di hadapannya, entah untuk sekedar menyapanya, atau malah sekedar bertanya kabar. Namun kini, Luna malah hadir seolah-olah tidak ada apa pun yang terjadi.
“Tante apa kabar?” tanya Viola dengan nada suara manjanya seperti biasa. Nada suara yang membuat Alia muak bukan main melihatnya. Namun mengingat dia sudah berjanji pada Viola untuk bersikap biasa saja, membuat Alia mengontrol emosinya agar tidak ke luar begitu saja.
“Baik,” jawab Alia singkat, berharap Luna akan mengerti dan memilih pergi meninggalkannya saat ini juga.
“Luna rindu banget sama tante, tante gimana, pasti rindu juga sama Luna, kan?” tanya Luna yang sebenarnya ingin dijawab Alia dengan gelengan kepala. Dia sama sekali tidak merindukan Luna. Bahkan untuk mengingatnya saja pun, Alia tidak pernah.
“Maaf, Luna, Tante lagi banyaik kerjaan.” Alia memasang wajah masam saat itu. “Kalau gak ada yang ingi diomongin, sebaiknya kamu pulang saja ya. Tante harus selesaikan semuanya secepatnya, sebelum om pulang.”
“Kok gitu sih, Tante,” keluh Luna. “padahal Luna ke sini benar-benar ingin ngobrol sama Tante, masa Tante malah ngusir Luna kayak gitu, sih?”
“Kalau kamu nyari Panji, dia gak ada di rumah!” jawab Alia lagi tanpa bsa-basi yang sesaat membuat Luna mengerutkan keningnya. Bibirnya tampak manyun yang membuat Alia sadar, bahwa Luna saat ini tidak menyukai jawabannya yang sedikit kasar. Namun ekspresi wajah itu tidak bertahan lama, Luna dengan cepat memudarkan ekspresi itu dan berusaha tersenyum kembali seolah tidak terjadi apa pun.
“Tante ini, Luna kan udah bilang kalau Luna ke sini karena rindu, bukan karena hal lain,” jawab Luna berbohong. “Apa lagi karena ingnin bertemu dengan Panji, ya enggaklah!”
Luna berusaha meyakinkan Alia tentang kedatangannya yang sebenarnya memang untuk bertemu dengan Panji. Luna malah tidak berharap bisa bertemu dengan Alia. Dia kecewa bukan main pada wanita yang kini berdiri di hadapannya dengan ekspresi kesalnya itu. Andai saja bukan karena Panji, mungkin saat ini Luna sudah memaki wanita di hadapannya itu secara membabi buta.
Bukan tidak mungkin Luna membencinya, mengingat Alia yang awalnya membelanya dan mendukungnya sekuat tenaga untuk bisa bersama Panji, malah secara tiba-tiba menikahkan Panji dengan Viola. Luna merasa dikhianati. Padahal dulu hanya Alia yang dia harapkan bisa membantunya untuk ebrdekatan dengan Panji. Namun Alia malah mengecewakannya dengan kenyatan pahit tentang keputusannnya yang akhirnya menyetujui hubungan kedua manusia yang semula abanng adik itu.
“Sudah? Ada yang ingin dibahas lagi sekarang?” tanya Alia yang mendapati sikap diam Luna. Dia tahu, Luna emosi padanya. Namun itulah yang saat ini ingin diperbuat Alia. Dia ingin Luna marah dan membuatnya terpancing sampai akhirnya mengatakan segala kekesalannnya pada Luna yang sudah menyakiti hati Viola.
“Boleh Luna masuk, Tante?” tanya Luna tanpa rasa malu. “Sudah cukup lama kita tidak mengobrol, Luna pengen banget hari ini nhgobrol panjang sama tante. Boleh ya?” tanya Luna penuh harap meski pun dalam hatinya lagi-lagi memakin Alia tanpa ampun.
“Gak usah, gak ada lagi yang perlu di obrolin di antara kita,” ucap Alia yang semakin membuat Luna geram bukan main. “Kalau mau ngobrolin Panji, saya tidak punya waktu untuk itu. Dan seharusnya Luna ssadar, kalau Panji bukan lelaki lajang seperti dulu yang bisa Luna dekatin sesuka hati lagi,” ucap Alia berusaha tenang walau hatinya menggebu-gebu karena emosi. “Kalau Luna berharap lebih lagi sama Panji, sebaiknya hapus saja pengharapan itu. Karena sampai kapan pun, Luna dan Panji gak akan pernah Bersatu. Panji sudah menikah, dan tante harap kamu mengerti.”
“Luna hanya ingin menyadari Panji dan juga tante, kalau yang pantas untuk berdampingan dengan Panji, adalah Luna, bukan Viola.”
“Tapi yang tante lihat malah lebih pantas Viola,” jawab Alia cepat yang membuat hati Luna sakit bukan main. “Cukup sikap kekanak-kanakannya, Luna. Gak kamu, gak si Gritte itu, semua sama saja. Memaksa untuk bisa bersama Panji, padahal kenyataanya Panji juga gak pernah mau sama kalian berdua. Dia sudah menjatuhkan pilihan sama anak saya, dan saya tidak ingin siapa pun merusak hubungan mereka!” jawab Alia lagi.
“Tante egois!” bentak Luna yang membuat Alia geram bukan main. “Seharusnya tante sadar, kalau selama ini tante egois. Mentang-mentang Panji bukan anak kandng tante, tante suka-sukanya aja ngerusak hidup Panji dengan menikahkannya sama anak tante yang cacat itu!”
“Luna!!” bentak Alia yang benar-benar tidak bisa lagi menahan gejolak empsi dalam dadanya. “Jaga bicara kamu!”
“Tapi Luna benar kan, Tante? Tante egois, yang tante pikirkan hanya kebahagiaan anak tante saja. Tante takut kalau bukan Panji yang menikahi Viola, Viola akan jadi perawan tua yang gak akan selalu sendirian dengan kondisinya yang seperti itu. Aku benar kan, tante!”
Sebuah tamparan melesat ke pipi Luna yang membuat Luna terdiam dan menatap geram ke Alia yang gemetar menahan emosi. Luna memegang pipinya, menatap Alia geram dan rasanya ingin sekali membalaskan tamparan Alia padanya. Namun baru saja dia mengangkat tangan kanannya tinggi untuk melesatkannya ke pipi Alia, seseorang memegang tangannya hhingga membuatnya tertahan. Luna berbalik dan melihat seorang wanita cantik hadir di belakangnya. Alia yang mendapati sosok itu hadir, bukannya senang malah bertambah geram bukan main. Bukannya memuji pertolongannya, Alia malah mendengus kesal saat melihat Gritte datang seolah-olah pahlawan yang menolongnya dari orang jahat.
“Jangan sentuh calon mertuaku!” bentak Gritte yang jelas saja membuat Luna bingung bukan main mendengar ucapan wanita cantik yang kini melepaskan tangannya kasar. Alia sendiri memutar kedua bola matanya kesal dihadapkan dengan dua wanita yang tak punya akal sehat.