Alden sudah kembali ke kantornya, dia sudah mencari Bening di sekitar lantai 8. Sayang, dia tidak dapat memeriksa satu per satu ruangan di lantai delapan kecuali toilet laki-laki. Alden berpikir bagaimana caranya dia dapat bertemu Bening dan berbicara baik-baik dengan Bening. Tadinya Alden berniat akan langsung menghampiri Bening sepulang jam kantor nanti, tetapi tiba-tiba saja dia berubah pikiran.
Keputusan Alden yaitu dia akan mencari tahu terlebih dahulu tentang Bening. Terutama status Bening saat ini, Alden tidak ingin terjadi kesalahpahaman nantinya jika status Bening istri orang. Lagi pula, di pertemuan berikutnya mereka pasti akan berjumpa. Entah itu dalam rapat selanjutnya mungkin.
“Mahira kalau ada Kak Andin datang kamu langsung suruh masuk saja,” beritahu Alden kepada Mahira. Tadi pagi memang Kakaknya itu menelpon bahwa dia akan datang ke kantor Alden untuk membicarakan perihal Alden dengan Ibu mereka.
“Baik Pak,” sahut Mahira.
“Oh ya Mahira, boleh saya minta tolong? Ini bukan tentang pekerjaan sih, tapi nanti akan ada bonusnya kok buat kamu,” Alden menghentikan langkahnya yang akan masuk ke dalam ruangannya. Dia justru berdiri di depan meja Mahira.
“Kalau saya bisa pasti akan saya bantu Pak,” jawab Mahira sekenanya.
“Saya mau minta tolong kamu carikan saya informasi tentang Bening Citra Lentera. Pegawai perusahaan yang tadi terlambat di rapat,” jelas Alden yang sebenarnya sedikit tidak enak hati meminta bantuan Mahira untuk masalah pribadi.
“Oh bisa kok Pak, kebetulan sepupu saya bekerja di sana. Nanti saya akan coba tanya sama dia,” ujar Mahira menyanggupi permintaan tolong Alden.
“Ya sudah, nanti kamu kabarin saya saja. Untuk bonusnya nanti akan saya berikan di luar gaji,” kata Alden yang memberikan senyumnya untuk Mahira, mungkin itu sebagai DP dari Alden untuk Mahira.
Setelah meminta tolong dengan Mahira, Alden masuk ke dalam ruangannya. Dia kembali sibuk bekerja sambil memikirkan Bening. Terlalu banyak hal yang ingin ditanyakan Alden kepada Bening, salah satunya adalah alasan apa Bening begitu kuat ingin bercerai dengan Alden. Perasaan Alden mengatakan ada yang tidak beres pada perceraian mereka di masa lalu.
“Ngelamun aja! Sampai Kakaknya dating gak tau,” tegur sebuah suara yang tidak lain adalah Andin. Kali ini Andin datang sendirian tanpa ditemani Steve.
“Steve kemana Kak?” tanya Alden menanyakan keberadaan keponakan tersayangnya itu.
“Steve dibawa Mama ke arisan, katanya temen-temen Mama pada bawa cucu masing-masing,” ucap Andin yang sedikit sebal.
“Itu arisan atau taman bermain?” komentar Alden yang tidak habis pikir dengan kelakuan ajaib Ibunya.
Alden menghampiri Andin yang duduk di sofa, double A biasa mereka dijuluki oleh orang-orang terdekat. Belakangan ini keduanya menghabiskan waktu bersama seperti dulu saat Alden masih menikah dengan Bening. Dulu mereka kerap kali double date bersama dengan suami Andin.
“Masa lalu mulu yang dipikirin! Emang mau sampai kapan kamu begini terus?” tanya Andin dengan nadanya yang sedikit kesal.
“Aku tadi ketemu Bening. First time setelah sekian lama aku dan dia tidak pernah bertemu ataupun berkomunikasi,” cerita Alden langsung tanpa menanggapi pertanyaan Andin tadi.
“Really?! Ketemu dimana?!” Andin yang tadinya ingin mengomel justru terlihat antusias. Perubahan mood Andin yang sangat gampang ini membuatnya dijuluki sebagai bunglon betina oleh Alden.
“Bunglon betinanya kumat deh,” ledek Alden sambil membuat gerakan memutar bola matanya malas. “Kita ketemu waktu rapat, dia bekerja dengan clien-ku,” lanjut Alden lagi sebelum Andin merubah moodnya lagi menjadi seperti semula.
Andin menatap Alden dengan tatapan aneh, menurut Andin cerita-cerita seperti itu hanya ada di dalam novel yang kerap dia baca. “Kamu gak ngada-ngada ceritakan? Kamu gak se depresi itukan?” tanya Andin sanksi.
“Kamu meragukan kewarasan adik kamu sendiri Andin?” sinis Alden yang sedikit tidak terima dicurigai tidak waras dengan Andin.
“Terserah deh ya mau kamu waras atau enggak …” ujar Andin sambil mengibas-ngibaskan tangannya. “Yang pasti aku ke sini mau minta kamu buat baikan sama Mama. Untuk kali ini saja kamu turuti dulu kemauan Mama …” lanjut Andin, dia berhenti sebentar untuk mengambil nafas lalu melanjutkan lagi, “Gak ada salahnya Cuma berkenalan saja bukannya langsung disuruh nikah.”
Andin, tipe perempuan dan ibu-ibu gaul yang sedikit blak-blakan dan terlalu banyak bumbu cerewetnya. Sudah biasa bagi Alden melihat Andin mengomel panjang kali lebar luas lapangan sepak bola. “Kak. Mama tidak akan diam saja dan membiarkan aku menentukan pilihanku, lagi pula jika aku mau lebih dekat dengan Rexa itu artinya Mama mendapat lampu hijau dariku. Jadi keputusanku tetap NO!” ujar Alden yang tetap pada keputusannya.
“Memangnya kamu mau mengejar Bening lagi? Ingat dia yang minta cerai dari kamu! Dia yang ninggalin kamu kenapa kamu yang harus berjuang?” rasa kesal Andin terhadap Bening beberapa tahun lalu kembali meluap ke permukaan.
“Karena aku yang terlalu lemah, aku yang dengan mudahnya melepaskan dia. Dan ketika dia tidak ada aku sadar aku membutuhkannya,” jawab Alden mantap.
♥♥♥
Jam pulang kantor sudah tiba, Bening yang kebetulan tidak ada jam lembur membereskan barang-barang di atas mejanya. Ketika itu Fahreza keluar dari ruangannya, dia menatap Bening sebentar. Sebenarnya banyak yang ingin Fahreza tanyakan kepada Bening tentang kejadian di rapat tadi. “Bening, hari jum’at aka nada peninjauan lapangan pembangunan gudang. Tolong kamu wakili saya, karena saya harus berangkat ke Bali untuk pengecekkan rutin di sana,” kata Fahreza kepada Bening.
“Baik Pak,” hanya itu yang dapat Bening ucapkan. Sebenarnya, di dalam lubuk hatinya yang terdalam dia ingin menolak perintah tersebut. Dia tidak siap jika harus dipertemukan kembali dengan Alden. Tidak siap jika Alden menanyakan tentang dirinya dan juga keberadaan Kevyn yang mungkin saja akan segera diketahui Alden.
“Sepertinya kamu kurang enak badan,” Fahreza memperhatikan Bening dengan seksama, bahkan dengan lancangnya dia meletakkan telapak tangannya di dahi Bening.
Kontan saja hal itu membuat Bening berjengit mundur, “Saya baik-baik saja Pak,” ujar Bening sedikit terbata-bata. Pasalnya kejadian tadi baru saja menjadi tontonan trio gosiper-Naura, Yani dan Sari.
“Cepat kamu bereskan barang-barangmu. Saya akan antar kamu pulang,” perintah Fahreza yang tidak ingin ditolak.
Tetapi, bukan Bening namanya jika dia tidak menolak, “Saya baik-baik saja dan saya rasa saya tidak perlu tumpangan dari Bapak.” Setelah mengatakannya Bening langsung angkat kaki dari sana.
Sikap Bening yang terlihat sedikit berbeda itu membuat para penghuni divisi keuangan yang masih ada melongo. Bening yang biasanya bersikap anggun dan sopan berubah menjadi Bening yang sedikit tegas dan rada menjengkelkan, setidaknya begitulah pemikiran trio gosiper.
Fahreza sendiri hanya bisa pasrah saja, ini bukan pertama kalinya Bening menolak tumpangan pulang darinya. Bukan pertama kalinya juga Bening meninggalkannya begitu saja setelah menolak ajakannya. Ingat saat beberapa waktu lalu dia mengajak Bening untuk pulang bersama, tetapi dia justru lebih memilih menggunakan payung dibanding pulang bersamanya.
“Aduh Bening kenapa kamu lepas kontrol gitu,” rutuk Bening di depan cermin toilet wanita yang masih berada di lantai 8. Bening memandangi wajahnya di depan cermin, dipegangnya pipi kanan kirinya. Lalu ditepuk-tepuknya pelan seraya berucap, “Sadar Bening Sadar!”
“Kamu udah kayak orang gak waras ngomong sendiri gitu,” sindir Ibu Dian yang tiba-tiba saja nongol dan berdiri di samping Bening.
“Aku tadi kasar gak Bu? Soalnya aku lama-lama risih dengan sikap Pak Manajer,” curhat Bening kepada Ibu Dian.
“Gak masalah sih kasar, kan udah di luar jam kerja. Lagipula dia lebih dahulu yang mulai nggak sopan pegang-pegang dahi lebar kamu itu.” Ibu Dian berhenti mencuci tangannya dan melihat Bening yang sedikit berantakan. “Mood kamu sedang tidak bagus ya, lagi PMS?” lanjut Ibu Dian bertanya lagi.
“Nggak PMS Bu, cuma lagi ada yang ngebuat kepikiran aja,” ujar Bening yang tidak ingin menceritakan pertemuannya dengan Alden tadi.
“Saran Ibu sebaiknya kamu bicarakan dengan Fahreza tentang sikapnya itu. Jangan sampai gosip beredar semakin luas. Nantinya itu akan menyulitkan diri kamu sendiri, Fahreza itu atasan kita,” nasehat Ibu Dian tulus.
♥♥♥
Bening menunggu lift bersama dengan beberapa karyawan lain, sedangkan Ibu Dian sedang ada keperluan di divisi pemasaran, yang membuat Bening semakin tidak enak hati di antara orang yang menunggu lift ada sosok Fahreza. “Loh Mbak Bening! Kirain sudah pulang,” sapa Naura yang ternyata juga sedang menunggu lift.
“Ah tadi aku ke toilet dulu,” sahut Bening sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Pintu lift pun terbuka. Beberapa orang mulai masuk ke dalam lift yang di dalamnya sudah terisi beberapa orang. Bening sempat terpaku saat melihat di dalam lift terdapat sosok Alden. Terlebih lagi Alden tidaklah sendirian, dia berdiri berdampingan dengan Andin.
“Mbak Bening mau masuk gak?!” suara Naura menyentakkan Bening dari keterpakuannya. Mau tidak mau demi profesionalitasnya Bening masuk ke dalam lift, perinsip Bening selagi masih di dalam gedung kantor dia harus tetap menjaga profesionalitas yang selalu dijunjung tinggi olehnya.
Diam-diam Fahreza memperhatikan Bening yang terlihat kaku berdiri di sebelah Naura. Sementara itu, di belakang Bening berdiri Alden yang terus menatap Bening dari pantulan kaca lift di depan Bening. Semakin kuat rasa penasaran Fahreza terhadap hubungan Alden dan Bening, walaupun dia sudah dapat menebak jika Alden merupakan mantan suami Bening.
Ting!
Lift berhenti di lobi gedung perkantoran, sebelum keluar Bening sempat berpamitan kepada Fahreza. “Mari saya duluan Pak.”
Sementara itu Andin dengan cepat berbisik di telinga Alden, “Kejar dia sekarang!” walaupun bisikan tersebut lebih terdengar seperti teriakan karena dapat didengar oleh penghuni lift yang lainnya.
Alden pun menerobos beberapa orang yang menunggu antrian keluar dari lift, dia bahkan tidak sempat menggumamkan maaf. “Bening!” teriaknya saat melihat sosok Bening yang terus berjalan. “Bening berhenti atau aku akan bertindak memalukan sekarang juga!” peringat Alden. Beberapa orang di sana memperhatikan keduanya, bahkan teriakan peringatan Alden itu sukses membuat langkah kaki Bening berhenti.