05 Takaluf : Mengutamakan formalitas sehingga menyulitkan diri sendiri

1584 Words
Bening dan teman-teman satu divisi yang lainnya merasa senang karena anggaran yang mereka buat bersama tim perencanaan diterima oleh direksi. Untuk itu beberapa waktu kedepan mereka akan sibuk mengurusi ini itu, bahkan Bening sudah memegang jadwal tinjau ke lapangan bersama tim perencanaan dan beberapa utusan perusahaan. Dari divisi keuangan memang Bening yang selalu meninjau lokasi pembangunan investasi, karena Fahreza akan sibuk dengan agendanya ke beberapa kantor cabang di luar kota. “Jadi setiap Jum’at dan Sabtu Mbak Bening di Bandung?” tanya Yani. Saat ini Bening dan ketiga gadis biang gosip-Yani, Naura dan Sari-sedang makan siang bersama di salah satu mall yang tidak jauh dari gedung perkantoran mereka. “Iya Yan. Mau gak mau aku harus bawa Kevyn. Soalnya itu pas weekend, kasihan Kevyn kalau harus menginap di TPA,” jawab Bening yang sedang menikmati nasi ayam penyet pesanannya. “Ah iya si Kevyn ikut dong berarti, tapi sama tim peninjau sudah dapat izin bawa Kevyn Mbak?” suara Sari terdengar sedikit aneh karena dia berbicara sambil mengunyah ayam goreng. Bening menelan makanannya terlebih dahulu, lalu dia meminum seteguk air putih dan kemudian berkata, “Sudah, Pak Manajer sudah bantu tadi urus izin. Lagi pula waktu kelapangan nanti Kevyn aku tinggal di hotel. Kebetulan fasilitas hotel yang dipilih menyediakan TPA.” “Syukurlah Mbak, daripada si Kevyn harus ditinggal lama di TPA sini,” ujar Yani yang sudah selesai dengan makan siangnya. Sedari tadi hanya Naura saja yang diam menyimak, dia terlihat sangat menikmati makan bebek cabe ijo yang dipesannya sambil mendengar dongeng-dongeng gratis teman makannya. “Itu setiap minggu selama berapa lama Mbak?” tanya Sari lagi yang terlihat lebih kepo dibanding dengan Yani dan Naura. “Nggak tiap minggu kok, aku gantian sama Pak Manajer. Kalau Pak Manajer berhalangan ya aku yang pergi, tapi kalau Beliau ada ya Beliau yang pergi,” Bening memasukkan potongan terakhir ayam penyetnya sambil menjawab pertanyaan Sari. “Tapi biasanya Pak Manajer gak mau sendirian dia butuh asisten, wong rapat aja dia selalu bawa asisten,” komentar Naura yang sedari tadi diam saja, ternyata bebek miliknya sudah ludes masuk ke dalam perutnya. “Ya kamu Nau yang pergi, aku repot bawa-bawa Kevyn,” sahut Bening sambil menaikkan bahunya acuh. “Ogah ah! Ngapain weekend di luar kota, kerja pula! Mbak Bening aja yang menemani Pak Manajer biar sekalian kelihatan keluarga bahagia gitu bareng Kevyn,” ceplos Naura asal. “Kok kamu ini minta aku pites ya Nau?” Bening memicingkan matanya kesal mendengar crocosan Naura. Tidak ada ekspresi marah atau tersinggung, karena menjadi bahan gosip dan ledekkan dengan Fahreza sudah menjadi makanan sehari-hari Bening. ♥♥♥ Di ruang kerjanya, Alden sedang memeriksa hasil rapat kemarin yang dihadiri oleh Marco. Pasalnya, nanti sehabis makan siang dia akan rapat bersama dengan perusahaan tersebut untuk lebih membicarakan tentang mekanisme pekerjaan. Jadi Alden perlu untuk mempelajari hasil rapat kemarin terlebih dahulu. Sejak pertengkaran Alden dengan Ibunya kemarin dia belum ada memberi kabar kepada si Ibu. Sekali-kali Alden ingin Ibunya mengerti akan perasaannya, dia bahkan juga mengabaikan panggilan telepon dan pesan singkat yang dikirim oleh Soraya untuknya. Alden berencana akan pulang ke rumah orangtuanya besok setelah dia selesai mengurus rapat yang terkesan dadakan ini. “Permisi Pak,” suara Mahira menyentakkan Alden yang sedang sibuk membaca dan memahami rangkuman rapat yang Marco berikan kepadanya. “Ada apa?” Alden menatap Mahira yang terlihat sudah rapi, bahkan wangi parfum Mahira tercium hingga ke indera penciuman Alden. “Saya ingin mengingatkan Bapak kalau sepuluh menit lagi rapat akan dimulai,” ujar Mahira sedikit gugup ditatap oleh Alden. “Ya sudah, kita berangkat sekarang. Di lantai 8 kan rapatnya?” Alden memastikan sekali lagi tempat mereka akan rapat, walaupun sebelum makan siang tadi Mahira sudah memberitahu tempatnya. Alden bersama Mahira turun menuju lantai delapan, bersyukur lift tidak terlalu penuh sesak karena kebanyakan penghuni gedung tersebut sudah kembali ke rutinitas mereka masing-masing. Alden berpenampilan rapi, walaupun bulu-bulu halus di sekitar dagunya tidak dicukur, justru hal itu meninggalkan kesan tampan. Rambutnya yang tidak terlalu klimis, serta jas yang pas body membuat Alden sangat terlihat seperti executive muda. Ting! Lif sebelah kanan dan kiri yang satu dari arah atas dan yang satunya dari arah bawah berhenti bersamaan di lantai delapan. Alden dan Mahira keluar dari lift dan langsung berjalan di lorong antara partisi-partisi berkaca film. Di belakang mereka dengan jarak yang cukup jauh berjalan Yani dan Sari, lalu di belakang Yani dan Sari disusul Bening dan Naura. “Bening!” tiba-tiba Fahreza memanggil Bening. Fahreza terlihat baru saja dari arah toilet yang berada di sayap kanan lantai delapan. “Iya Pak?” Bening berhenti dan menunggu Fahreza menghampirinya, sementara itu dengan curangnya tiga sekawan itu meninggalkan Bening menunggu Fahreza. Mereka langsung berjingkrak-jingkrak cepat masuk ke dalam ruangan divisi keuangan. “Kamu ambil berkas terkait pembangunan gudang di meja saya, kita akan segera rapat bersama direksi. Saya tunggu di ruang rapat,” perintah Fahreza yang setelah mengatakan kalimat itu langsung bergegas meninggalkan Bening dan berjalan menuju ruang rapat. ♥♥♥ Kondisi ruang rapat saat Alden dan Mahira sampai sudah ramai oleh beberapa peserta rapat. Alden disambut hangat oleh para direksi, memang beberapa di antara mereka pernah bekerja sama dengan Alden pada proyek lain. Selama lima menit Alden menunggu dan rapat pun segera dimulai. Pembukaan dimulai dari Alden yang menjelaskan konsep gudang yang sebelumnya telah disepakati pada rapat sebelumnya yang diwakilkan oleh Marco. Semua tuntas dijelaskan kembali oleh Alden dengan ringkas dan tepat. Tetapi, di tengah penjelasan Alden itu terdengar suara pintu rapat yang diketuk. “Maaf semuanya itu staff saya yang juga merupakan peserta rapat,” Fahreza berdiri dari duduknya dan membungkukkan badannya seraya meminta maaf. “Tidak apa-apa santai saja,” sahut Alden yang terlihat biasa saja. Dia bahkan berjalan menuju pintu rapat, berniat membukakan pintu untuk staff yang terlambat tersebut. Saat pintu terbuka, terlihat wajah Bening yang sedang menunduk memperhatikan ujung sepatunya. “Silahkan ma …” ucapan Alden terhenti saat Bening mengangkat kepalanya. Keduanya saling bertatapan, baik Bening dan Alden sama-sama terkejut. Bola mata keduanya saling melebar tidak percaya, bibir mereka kelu untuk berucap. Bahkan untuk mengucapkan sepotong nama yang selama ini selalu tersimpan baik di dalam memori keduanya. Aksi diam keduanya justru memancing rasa bingung peserta rapat lainnya. “Bening ayo masuk,” Fahreza yang sudah berada di depan pintu menarik Bening ke dalam ruang rapat. Buyar lah kekagetan antara Alden dan Bening. “Saya kira cukup penjelasan dari saya, sekarang mungkin kita bisa mendiskusikannya. Jika ada yang memiliki pendapat bisa diutarakan dan jika tidak ada kita akan masuk pada tahap pembiayaan,” ucap Alden yang masih berusaha keras untuk mengendalikan dirinya. Bahkan matanya sesekali melirik ke arah tempat duduk Bening. Sementara itu, Bening menundukkan kepalanya dan membiarkan wajahnya tertutup rambutnya yang terurai. Dihapusnya air mata yang ternyata sudah menetes di pipinya, dia berusaha mengendalikan dirinya sebaik mungkin. Profesionalitas dirinya sedang diuji saat ini. Sepanjang rapat berlangsung, Alden dan Bening tidak terlalu fokus pada rapat. Masing-masing dari mereka terlalu terkejut karena dipertemukan dalam keadaan formal setelah lima tahun lamanya. Alden ingin sekali memeluk Bening, meluapkan semua kerinduannya dan mengucapkan beribu kata maaf. “Bening! Kamu kenapa melamun saja?” tegur Fahreza saat rapat akhirnya selesai. “Ah maaf Pak,” sahut Bening masih terlihat agak ling-lung. Dari depan ruang rapat terlihat Alden memperhatikan Bening, sorot matanya begitu lega karena Bening baik-baik saja. “Pak Alden mengenal Bening?” tanya salah satu direksi yang kebetulan sudah mengenal Alden sejak di New York. “Ya dia mantan istri saya,” jawab Alden dengan perasaan yang sakit karena harus mengucapkan kata mantan istri. “Ah! Maaf saya lancang menanyakan urusan pribadi Anda,” orang yang bertanya tadi langsung tidak enak hati dan meminta maaf atas kelancangannya. “Tidak apa-apa Pak,” Alden berusaha memberikan senyum tulusnya dengan matanya yang tetap memperhatikan gerak-gerik Bening. Dengan kekuatan yang tersisa Bening meninggalkan ruang rapat secepat kilat, dia sedikit berlari. Bahkan itu menimbulkan pertanyaan di dalam benak Fahreza. Alden yang tau dan paham Bening menghindarinya mengambil ancang-ancang untuk mengejar Bening. Mungkin aksi mereka lebih terlihat seperti kisah film-film India. “Maaf saya permisi duluan Pak,” ujar Alden cepat dan langsung mengejar Bening keluar ruang rapat. Tingkah keduanya menjadi tontonan peserta rapat yang masih berada di ruang rapat. Beberapa di antaranya adalah dewan direksi yang memang ingin mengobrol lebih jauh dengan sosok Alden yang masih muda dan sukses. Namun sayang, orang yang dituju justru sedang sibuk mengejar cinta lamanya. ♥♥♥ “Loh Mbak Bening kenapa lari-lari gitu?” tanya Naura mewakili rekan kerjanya yang lain. Heran melihat Bening yang kembali ke ruangan dengan nafas ngos-ngosan dan raut wajah yang tidak begitu baik. “Ada apa Ning?” Ibu Dian juga ikut bertanya karena heran melihat Bening seperti ketakutan. Tidak ada jawaban dari bibir Bening, dia hanya membalik badannya dan melihat sosok Alden di luar ruangan sedang berlari melewati divisi keuangan. Hembusan nafas lega Bening keluarkan, setidaknya untuk saat ini dirinya aman. “Kamu kenapa lari begitu ngeliat Pak Alden Bening?!” suara Fahreza terdengar sangat kaku, dia berdiri di depan pintu partisi ruangan divisi keuangan. Bening masih berdiri di depan pintu yang artinya sekarang Bening berdiri di depan Fahreza. “Maaf Pak,” Bening membungkukkan badannya meminta maaf. Lalu dia langsung kembali ke tempat duduknya. Dia tidak berniat menjelaskan kenapa dia lari melihat Alden, karena itu semua masalah pribadinya. Di antara penghuni divisi keuangan kecuali Fahreza tidak ada yang berani bertanya kepada Bening. Yang dilakukan Bening pun hanya melamun saja, entah apa yang sedang dilamunkannya. Tetapi raut wajah Bening menggambarkan banyak hal, di sana ada gembira dan sedih di saat yang bersamaan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD