Langit pagi Jakarta terlihat sedikit mendung, tidak ada tanda-tanda akan munculnya matahari. Membuat udaranya pun juga terasa sedikit sejuk dari biasanya, terlebih hari itu adalah hari senin yang terkenal dengan julukan monsterday. Seperti biasa, jalanan Jakarta di pagi hari akan selalu macet. Pengendara motor dan mobil yang dengan sengaja menerobos jalur busway menjadi pemandangan biasa.
Bening berlari-lari kecil di lobi gedung perkantoran, dia baru saja mengantar Kevyn ke TPA di seberang gedung. Bening sedikit telat karena terjebak macet yang luar biasa, hari ini Bening sengaja memilih naik taxi karena melihat cuaca yang mendung. Sesekali Bening melirik jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul 8 lewat lima belas menit. Itu artinya dia sudah telat lima belas menit.
Saat lift terbuka Bening langsung menerobos masuk hingga mengakibatkan dirinya terhimpit di antara orang-orang lain yang ingin masuk. Tanpa Bening sadari ada sosok laki-laki yang berdiri di sudut lain lift. Ya, laki-laki itu Alden. Tadinya Alden berniat ingin menuju parkiran mengambil sesuatu yang tertinggal, namun tiba-tiba dia membatalkan niatnya dan memilih kembali ke kantornya di lantai 25.
Jarak keduanya sungguh dekat, tetapi terhalang banyak orang. Tidak ada yang menyadari keberadaan satu sama lain, baik itu Alden maupun juga Bening. Ruang lift yang penuh sesak itu semakin sesak saat berebut oksigen secara bersama dan dalam waktu beberapa menit tidak ada juga yang kunjung ke luar.
Kantor Bening terletak di lantai 8 gedung tersebut, “Permisi!” ujar Bening pelan terhadap orang di depannya saat lift berhenti dan terbuka di lantai 8.
Sekali lagi, takdir mempermainkan mereka. Saat Bening keluar tatapan mata Alden justru fokus kepada layar smartphonenya. Dia sedang sibuk mengecek e-mail yang baru saja masuk sehingga tidak mengetahui keberadaan Bening yang begitu dekat dengannya.
“Mbak Bening ditunggu Pak Manajer di ruangannya!” seru Naura kepada Bening yang baru saja masuk ke dalam ruangan.
“Oke Nau!” jawab Bening dengan nafas yang ngos-ngosan karena harus berlari terburu-buru. Secepat kilat Bening meletakkan tas bawaannya ke atas meja kerja dan menyambar sebuah map berwarna kuning yang ada di atas meja.
“Huh! Semangat!” gumam Bening sebelum tangannya bergerak mengetuk pintu partisi ruangan atasannya yang tidak lain dan bukan adalah Fahreza.
“Kamu telat dua puluh menit Bening,” ujar Fahreza langsung saat Bening sudah berdiri di hadapannya. Sedangkan Bening hanya dapat meringis malu dan merasa bersalah, ini bukan pertama kalinya dirinya telat seperti ini.
“Maaf Pak saya tidak akan mengulanginya lagi,” sesal Bening sambil menundukkan kepalanya dalam.
“Ya sudah! Sekali lagi saya maafkan kamu,” Fahreza memandang Bening yang rambutnya sedikit berantakan, lalu dia berdeham dan berkata, “Berkas kerja sama untuk pembangunan gudang sudah selesai di olah? Jum’at siang perusahaan perencanaan sudah memberikannya bukan?”
Bening sedikit bernafas lega karena kali ini dia kembali dimaafkan, untunglah Fahreza tipe atasan yang tidak terlalu ingin ambil pusing. “Iya Pak, ini berkasnya sudah saya olah dan cek juga,” jawab Bening sambil menyerahkan map kuning yang sedang dipegangnya.
“Bagus! Saya akan cek dulu, nanti jika sudah oke baru kita bawa ke rapat perencanaan besok,” Fahreza menerima map yang diberikan Bening. Dia juga sempat membaca sekilas isi map tersebut sebelum melanjutkan kembali perkataannya mengusir Bening, “Kamu boleh kembali ke meja.”
♥♥♥
Alden sudah kembali ke ruangannya, kini dia disibukkan dengan berkas-berkas yang menumpuk. Semuanya harus selesai diperiksa sekarang agar nanti siang dia dapat meninjau lapangan. Tubuhnya sudah terasa lelah karena terlalu diporsir, di hari libur yang seharusnya dia beristirahat justru digunakannya untuk mencari Bening.
“Permisi Pak,” muncul Mahira di depan pintu ruangan Alden.
“Ya ada apa?” Alden bertanya tanpa sedikit pun mengalihkan perhatiannya dari berkas-berkas yang sedang diperiksanya.
“Ada Ibu Bapak datang berkunjung ….” belum selesai Mahira berbicara dia justru terdorong minggir oleh Soraya-Ibu Alden.
“Kamu ini kenapa kalau Mama datang harus lapor dulu?” omel Soraya langsung kepada sang anak yang hanya bisa menghela nafas melihat kelakuan Ibunya itu.
“Mahira kamu boleh kembali ke mejamu …” usir Alden halus. Lalu dia beralih ke Ibunya dan bertanya, “Ada apa Mama kemari?”
“Apa Mama tidak boleh mengunjungi anak Mama sendiri?” Soraya justru bertanya balik tanpa mau repot-repot menjawab pertanyaan Alden.
Tidak ingin ambil pusing, Alden membiarkan Ibunya itu duduk manis di sofa selagi dia menyelesaikan pekerjaannya. “Malam ini kamu harus ikut Mama ke acara ulang tahun putrinya Om Satria. Mama tidak terima penolakan,” ujar Soraya tidak ingin dibantah.
Alden menghela nafas pelan sebelum menjawab, “Ma. Alden kan sudah bilang kalau aku belum berniat untuk menikah lagi.”
“Mama tidak meminta kamu untuk menikahi Rexa sekarang. Mama Cuma mau kamu berkenalan dan menjalin kedekatan dengan Rexa,” kata Soraya yang masih tetap bersikeras untuk Alden ikut bersamanya.
“Alden tidak mau menikah dengan Rexa Ma!” nada suara Alden sedikit menaik, dia sudah hampir kehilangan kesabaran dengan tingkah Soraya yang tetap menginginkan dirinya menikah dengan gadis pilihannya.
“Alden! Mama tahu kalau kamu selama ini mencari-cari perempuan sialan itu kan?!” Soraya bangun dari duduknya, matanya melotot marah. Raut wajah Soraya memerah karena menahan marah, Alden anak laki-laki satu-satunya yang sangat disayanginya.
“Bening bukan perempuan sialan Ma!” Alden menatap Soraya tanpa ada ketakutan sedikit pun. “Alden mau mulai saat ini jangan ikut campur urusan aku! Aku ini sudah besar Ma, bisa memilih mana yang baik dan yang buruk!” lanjut Alden lagi.
Soraya terdiam, dia tidak percaya anak laki-lakinya yang selama ini penurut berubah menjadi pemberontak. “Mama tidak sudi jika perempuan itu menjadi menantu Mama lagi!” peringat Soraya sebelum dia keluar dari ruangan Alden.
Sepeninggal Soraya, Alden berusaha mengatur emosinya. Dia benar-benar sudah kehilangan akal, baru kali ini dia berbicara begitu sengitnya dengan sang Ibu. Tetapi, ini demi kebaikannya. Alden tidak ingin semakin hancur dengan membiarkan Ibunya memaksanya.
Sekarang dia sudah hancur dan akan menjadi keping-keping yang berserakan ke mana-mana jika menuruti kemauan Ibunya. Dia hanya ingin bertemu Bening, memastikan Bening baik-baik saja. Jika Tuhan memberinya kesempatan untuk kembali kepada Bening, akan dipergunakannya kesempatan itu sebaik mungkin.
Alden memilih tidak menyelesaikan pekerjaannya, dia memilih untuk meninjau lapangan. Tetapi tiba-tiba saja Mahira menghentikan langkah Alden dan mengatakan, “Pak pihak clien pembangunan gudang di Bandung ingin rapat sekarang, rencananya pembangunan akan dipercepat.”
“Sekarang juga?”
“Iya Pak, rapatnya di lantai 8 gedung ini, bagaimana Pak? Jika tidak bisa saya akan cancel dan ganti hari saja,” jelas Mahira yang sedikit takut-takut karena wajah Alden sedang tidak bersahabat.
“Begini saja, hubungi Marco untuk menggantikan saya ke rapat. Kamu damping Marco, biar saya yang meninjau lapangan langsung,” perintah Alden kepada Mahira.
“Baik Pak.”
♥♥♥
Di lantai 8 gedung yang sama, tepatnya ruangan tempat Bening bekerja sedang disibukkan dengan berbagai macam berkas yang harus disiapkan mendadak. Karena pihak direksi menginginkan untuk mengadakan rapat hari ini juga. Bening terlihat sudah berkali-kali bolak-balik antara mejanya dan ruangan Fahreza.
“Oke ini sudah fix, saya akan rapatkan ini dulu. Naura kamu ikut saya,” ucap Fahreza di tengah ruangan. Bening akhirnya bernafas lega karena pekerjaan yang serba dadakan itu sudah berhasil diselesaikan.
“Mbak! Kok Boss ganteng ngajakin Naura? Biasanya dia ngajakin Mbak Bening kan ya,” ujar Sari yang kelihatan heran.
“Jangan mulai gossip ya Sar!” peringat Bening yang sudah hafal dengan tabat gadis-gadis penghuni divisi keuangan itu.
“Tapi Mbak, aku dengar kabar nih ya. Aku mau nanya sama Mbak karena penasaran,” Sari berbicara sedikit memutar-mutar.
“Nanya apaan sih? Langsung aja nanya,” Bening sedikit memicingkan matanya dari tempat duduknya. Dia masih mengistirahatkan sebentar jarinya yang sedari tadi pegal karena terlalu banyak mengetik dalam waktu singkat.
“Itu Mbak, aku dengar mantan suami Mbak itu kece banget ya orangnya?” pertanyaan tidak bermutu itu akhirnya keluar juga dari bibir Sari.
“Namanya siapa Mbak?” Yani ikut bertanya menimpali karena penasaran.
“Menurut kalian Kevyn seganteng itu gen dari mana? Ngapain kamu nanya-nanya nama mantanku Yan?” Bening menjawab pertanyaan mereka dengan bertanya balik.
“Nama mantan suaminya Bening itu Alden Basupati,” bukannya Bening yang menjawab, justru Ibu Dian yang menjawab. Ibu Dian terlihat mengedipkan sebelah matanya menggoda Bening.
“Aku kayak pernah denger namanya deh,” gumam Yani yang kelewat keras sehingga dapat didengar oleh yang lainnya.
“Iya lah pernah denger. Orang namanya mirip sama nama pemilik perusahaan arsitek yang kita sewa untuk pembangunan gedung di Bandung!” seru Sari enteng.
“Oh iya! Yang kantornya di lantai 20 sampai 25 itu kan? Katanya orangnya ganteng pake banget lagi!” timpal Yani dengan sinar matanya yang berseri-seri.
Mendengar ocehan teman-temannya itu Bening terdiam, jantungnya berdetak sangat cepat. Otaknya bekerja cepat, Bening sangat tahu bahwa Alden merupakan seorang arsitek. Dia pernah mencari informasi tentang Alden beberapa tahun yang lalu, Alden berubah menjadi arsitek terkenal di New York pada saat itu.
Apa dia kembali ke Indonesia? Tanya Bening dalam hati.
“Denger-denger gossip dia itu dijodohkan dengan Rexa model terkenal itu kan?” Yani melanjutkan gosipnya bersama dengan Sari.
“Eh katanya sih gitu, malah katanya orang tua si ganteng udah sering ketemuan sama si Rexa. Apa bagusnya si Rexa itu sih? Wajahnya bahan kimia semua gitu,” Sari juga bersemangat membahas gossip bersama Yani.
“Kalian ini! Jangan menggosip aja terus, kerjaannya diberesin,” tegur Ibu Dian yang sedikit melirik Bening yang terdiam.
Bening merasa hatinya sakit jika memang benar Alden akan segera dijodohkan. Konyol memang, mereka sudah berpisah dan itu atas permintaan dirinya. Tetapi, hatinya tidak bisa berbohong bahwa dia masih sangat mencintai Alden. Apa dia harus pergi jauh untuk dapat melupakan Alden? Membawa semua hatinya yang sudah hancur berkeping-keping ini?