03 Dersik : Desir Angin

1606 Words
Pagi-pagi sekali Bening sudah repot dengan rengekan Kevyn yang meminta diajak ke taman, bermain bersama teman-temannya. “Kamu masih kurang enak badan Vyn,” tolak Bening sibuk membereskan alat masak yang baru saja dicucinya. “Kevyn sudah sembuh Bu, ayolah Kevyn bosan di rumah saja,” rengek Kevyn sambil menarik-narik baju daster yang Bening kenakan. Kaki mungilnya mengikuti setiap gerakan Bening, membuat Bening lama-lama risih dan tidak tega juga. “Oke oke, kita akan pergi tapi kasih Ibu waktu untuk membereskan ini semua dan bersiap-siap. Bagaimana? Setuju?” ujar Bening kepada Kevyn. “Siap Madam!” seru Kevyn setuju dan memberikan gerakkan hormat kepada Bening. Setelahnya Kevyn berlari menuju ruang TV dan meninggalkan Bening sendirian di dapur. Ada rasa sesak yang Bening rasakan saat dia hanya berdua saja dengan Kevyn untuk merasakan kebahagian ini, dia ingin Ayah Kevyn juga merasakan indahnya pagi bersama keluarga kecil. “Andai ada kamu, Kevyn pasti akan mengajakmu bermain di  taman dan aku akan menunggu di rumah dengan sarapan yang terhidang,” gumam hati kecil Bening. Setitik air mata lolos dari mata indah Bening, begitu banyak harapan Bening untuk dapat mengulang waktu. Bagi Bening, jika dulu dia menolak lamaran Alden bisa saja mereka akan bersama sekarang. Membiarkan Alden menyelesaikan pendidikannya dan meraih cita-citanya. Rasa penyesalan akan banyak hal menggunung di dalam hati Bening, apalagi ketika dia melihat Kevyn, terbayang betapa Kevyn sangat merindukan Ayahnya. “Bu jangan lama-lama nanti keburu panas!” teriakan Kevyn dari ruang TV membuyarkan lamunan Bening. Diusapnya cepat air mata yang mengalir di pipinya, lalu bergegas menyelesaikan pekerjaan dapurnya. ♥♥♥ Matahari sudah mulai terik, panas mulai terasa sangat menyengat kulit. Bening melihat jam pada pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 11 siang. Taman bermain masih ramai dengan anak-anak dan keluarga mereka. Menikmati hari libur sambil berkumpul bersama keluarga di taman memang menjadi keasyikan tersendiri. “Kevyn! Ini sudah siang,” Bening melambaikan tangannya ke arah Kevyn yang sedang bermain kejar-kejaran dengan beberapa temannya. Paham dengan panggilan Ibunya, Kevyn langsung berlari menuju ke arah Bening. “Kita pulang Bu?” tanya Kevyn sambil menerima sebotol air minum kecil yang diberikan oleh Bening kepadanya. “Hmmm, bagaimana kalau makan dulu baru pulang?” tawar Bening sambil mengedipkan sebelah matanya menggoda sang anak. “SETUJU!” teriak Kevyn girang. Tanpa keduanya sadari, dari jauh terlihat sebuah mobil mewah terparkir sejak sejam yang lalu. Penghuni mobil tersebut memandangi Bening dan Kevyn dengan tatapan yang tajam, bibirnya tersenyum sinis melihat interaksi Bening dan Kevyn. Helaan nafas berat terdengar dari orang tersebut, seolah-olah sedang berpikir apa yang harus dia lakukan saat itu. “Kita jalan Pak,” suruhnya pada sopir pribadinya. Bening membawa Kevyn ke sebuah restoran keluarga yang letaknya tidak jauh dari taman. Di sana terdapat berbagai macam pilihan makanan yang cocok di lidah Kevyn, “Kamu mau makan apa sayang?” tanya Bening kepada Kevyn yang sudah duduk manis di sebelahnya. “Kevyn mau udang goreng!” ujarnya semangat, kakinya yang terjuntai dari kursi juga bergerak-gerak semangat. Terlihat sangat menggemaskan dan sangat lincah. “Untuk makannya udang goreng dan nasi bakar ayam bakar,” pesan Bening pada pelayan. “Minumnya apa? Es jeruk?” tanya Bening lagi kepada Kevyn yang langsung mengangguk dengan semangat. Bening kembali menatap pelayan dan mengatakan, “Minumnya es jeruk dan jus mangga.” Setelah pelayan tersebut pergi dengan pesanan mereka, Kevyn langsung meminta turun kepada Bening. “Jangan main jauh-jauh ya sayang,” pesan Bening kepada Kevyn yang sudah langsung berlari menuju kolam ikan kecil yang berada di dalam restoran tersebut. Dari kejauhan Bening tersenyum menatap Kevyn yang asik melihat ikan-ikan di dalam kolam. “Bu ikan!” teriaknya kepada Bening, beberapa tamu di restoran tersebut terlihat tersenyum dengan tingkah Kevyn tersebut. Bening bangkit dari duduknya, berniat menghampiri Kevyn. Tetapi, dibatalkannya niat tersebut saat melihat seorang perempuan dan anak laki-laki mendekat ke arah Kevyn. “Kak Andin,” gumam Bening saat dirinya mengenal siapa perempuan tersebut. ♥♥♥ “Halo anak manis, kenapa sendirian?” tanya Andin kepada Kevyn yang belum diketahui Andin sebagai keponakannya. “Hai kenalin namaku Steve,” belum sempat Kevyn menjawab pertanyaan Andin sebuah tangan kecil terulur ke arahnya. “Kevyn, aku boleh panggil kamu Abang Steve kan?” Kevyn menyambut uluran tangan Steve yang sudah menganggukkan kepalanya memberikan persetujuan kepada Kevyn yang ingin memanggilnya ‘Abang Steve’. “Ibu kamu mana sayang?” tanya Andin sekali lagi, sebenarnya Andin merasa sangat familiar dengan wajah Kevyn. Kevyn menolehkan kepalanya ke arah samping kiri, tempat dimana seharusnya Bening duduk. “Kevyn datang sama Ibu, mungkin Ibu sedang ke toilet. Itu, di sana mejanya,” jawab Kevyn sambil menunjuk meja tempatnya dan Bening duduk. Di lain meja kosong Bening duduk sendirian, dia menutupi wajahnya dengan menu yang ada di atas meja. Sedikit-sedikit dia akan memperhatikan Kevyn yang berinteraksi dengan Andin dan Steve. Keringat dingin mulai mengucur, rasa takut jika Andin mengenali Kevyn terasa merambat di seluruh aliran darah Bening. Bukannya Bening egois, dia hanya tidak mau Kevyn bertemu dengan neneknya. Terlalu banyak kepahitan yang sudah diterima dirinya dan Kevyn saat masih dalam kandungan. Dia tidak ingin hinaan kembali diterima Kevyn, cukuplah dirinya saja, begitulah pemikiran Bening. “Sekarang terlalu mendadak,” bisik Bening pada dirinya sendiri. Memang terlalu mendadak jika Bening muncul di hadapan keluarga Alden lagi. Terutama Andin yang sangat menyayangi adik laki-lakinya itu. Bening takut saat Andin bertemu dengannya cacian dan makian yang akan diterimanya. “Bening,” panggil seseorang yang sudah berdiri di sebelahnya. Orang itu adalah Fahreza, laki-laki yang merupakan atasan Bening di kantor. “Pak Reza,” Bening langsung berdiri dari duduknya saat melihat Fahreza berdiri di sampingnya. Secepat kilat Bening menatap ke arah Kevyn yang ternyata sudah kembali sendirian. Mau tidak mau Bening menghembuskan nafasnya lega karena sosok Andin dan Steve sudah tidak terlihat. “Kamu kenapa?” tanya Fahreza kepada Bening yang tadi terlihat seperti sedang ketakutan. “Enggak apa-apa kok Pak,” jawab Bening cepat, matanya menangkap pergerakkan Kevyn yang berlari menghampirinya. “Ibu!” panggil Kevyn. Lalu saat sudah sampai di dekat Bening, Kevyn bertanya, “Ibu tadi kemana?” “Ibu tadi ke toilet sayang,” ujar Bening memberikan alasan. “Kalian berdua saja?” Fahreza menatap Kevyn dengan ramah, Kevyn yang ditatap seperti itu langsung mendekat dan menyalami tangan Fahreza dengan sopan. “Apa kabar Kevyn?” memang itu bukan pertemuan pertama kali antara Kevyn dan Fahreza. “Baik Om,” ucap Kevyn. “Mari Pak Reza, saya dan Kevyn permisi kembali ke meja kami,” pamit Bening kepada Fahreza. “Ah Bening! Boleh saya bergabung dengan kalian?” pinta Fahreza. Baru saja Bening akan menjawab tetapi, terdengar suara Kevyn terlebih dahulu yang berkata, “Boleh kok Om!” Akhirnya, Bening dan Kevyn makan siang bersama dengan Fahreza. Sepanjang makan siang itu Bening lebih banyak diam, hanya Fahreza dan Kevyn yang saling bercerita seru soal kartun pagi yang kerap kali ditonton oleh Kevyn. ♥♥♥ Di lain tempat, Alden sedang duduk di sebuah cafe milik temannya Zidan. Sudah hampir satu jam dia di sana hanya untuk melamun sambil minum kopi. Sementara itu, Zidan hanya dapat geleng-geleng kepala melihat kelakuan Alden yang semakin hari semakin mirip dengan mayat hidup. “Masih banyak wanita lain di dunia ini, hidupmu masih panjang Bro,” ujar Zidan kepada Alden. “Kau akan tau rasanya menjadi aku saat ditinggal oleh istrimu,” cibir Alden yang tidak terima dengan perkataan Zidan. “Jangan doakan aku bernasib sama denganmu Al!” balas Zidan yang tidak terima dengan cibiran Alden. Zidan menatap Alden yang benar-benar terlihat sangat kusut, “Terakhir kali kita bertemu di New York dirimu tidak sekusut ini,” lanjut Zidan yang sekarang mengomentari penampilan Alden. Tidak ada jawaban dari bibir Alden, dia hanya diam saja dengan pikirannya yang melayang entah kemana. Hari minggu siang seperti itu bukanlah waktu yang tepat untuk menemani orang galau seperti Alden, tetapi karena Alden adalah sahabat Zidan itu pengecualian. Zidan rela menghampiri sahabatnya itu saat barista di cafenya mengatakan Alden ada di cafe. “Apa aku harus menyewa detektif untuk menemukannya?” pertanyaan Alden lebih terdengar seperti gumaman. “Kau hanya minum kopi sudah seperti orang mabuk lima botol saja!” sekali lagi Zidan mencibir Alden. Dia tidak habis pikir dengan Alden yang sudah lima tahun tetap tidak dapat melupakan mantan istrinya. “Hembusan angin pun tidak dapat membantuku untuk menyampaikan rasa rindu ini, aku harus bagaimana Dan?” Alden menatap Zidan dengan matanya yang sudah memerah menahan air mata agar tidak meluncur bebas. “Aku tidak mengerti apa masalahmu, mungkin sudah saatnya kau membuka hati Bro! Tidak akan ada habisnya jika kau terus seperti ini. Lagi pula, apa kau yakin jika mantan istrimu itu masih tetap sendiri? Tidak ada jaminan untuk itu, bisa saja saat ini dia sedang ketawa-ketiwi dengan suaminya, sedangkan kau? Lihat dirimu Alden! Kau seperti mayat hidup alias zombie,” nasihat Zidan blak-blakan. Sebenarnya bukan hanya Zidan yang mengomentari dan menasihati Alden secara blak-blakan seperti itu. Sudah banyak orang yang meminta Alden untuk melupakan Bening dan hidup bersama dengan wanita lain. Banyak wanita yang secara sia-sia dikenalkan orang terdekatnya untuk menggantikan posisi Bening. “Seperti yang kau bilang Alden, hembusan angin pun tidak berpihak kepadamu. Simple saja, kau dan Bening tidak berjodoh!” Zidan kembali berkata sinis kepada Alden yang benar-benar sudah seperti batu, sangat keras. Karena tidak mendapat jawaban apa pun dari Alden, Zidan bangkit dari duduknya sambil mencibir, “Dasar kepala batu!” Mungkin memang tidak ada orang yang dapat memahami perasaan Alden, harapan Alden tidaklah besar. Dia hanya ingin bertemu Bening, memastikan sendiri cintanya hidup layak dan bahagia, jika memang Bening sudah mendapatkan penggantinya, maka dengan sendirinya Alden akan mundur. Merelakan Bening untuk bahagia bersama orang lain dan Alden akan mencoba melakukan hal yang sama juga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD