02 Lakuna : Ruang Kosong, Bagian Yang Hilang

1933 Words
Seminggu sudah Alden berkantor di Indonesia, selama seminggu itu juga Alden sibuk menghabiskan waktu di luar jam kerjanya untuk mencari sang kekasih hati. Dulu sekali Alden percaya pada takdir, dia percaya bahwa memang mereka berjodoh maka mereka akan bertemu. Tetapi, sekarang Alden tak ingin menunggu, Alden ingin merubah takdirnya. Alden hanya ingin berjodoh dengan Bening, ingin meminta maaf dan juga ingin melindungi Bening. “Permisi Pak ini berkas kerja sama dengan ....” Mahira menyebutkan sebuah perusahaan dan menyerahkan sebuah map merah. Alden membuka dan mengecek map tersebut, apakah draft perjanjiannya sudah benar atau masih perlu revisi. “Ini perusahaan satu gedung sama kita?” tanya Alden kepada Mahira sambil membaca alamat perusahaan yang tertera. “Iya Pak, mereka meminta kita untuk menangani pembangunan gudang di daerah Bandung,” jelas Mahira lebih lanjut yang hanya dijawab anggukkan santai oleh Alden. “Bagus sudah tidak ada yang perlu direvisi lagi, kamu atur saja untuk bertemu,” Alden menutup map merah tersebut dan menyerahkannya kepada Mahira. “Baik Pak saya permisi dulu.” Setelah Mahira keluar dari ruangannya Alden kembali sibuk dengan laptopnya, dia sedang sibuk membuka social media yang dibuatnya kemarin. Alden sedang berusaha mencari info tentang Bening lewat segala macam social media. Bahkan dia menghubungi beberapa teman Bening yang dulu sempat Alden kenal secara sekilas, dan hasilnya masih nihil. “Terakhir kali Bening memainkan media sosialnya lima tahun yang lalu?” Alden bertanya kepada benda mati di depannya itu seolah-olah benda itu dapat menjawab semuanya. “Kenapa kamu susah sekali untuk ditemukan sih Bening?” Alden menghembuskan nafasnya frustasi. Alden menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, matanya tajam memperhatikan layar laptopnya dan tangannya lihai memainkan mouse laptopnya.  Awalnya Alden ingin mencari siapa pun yang mengenal Bening dan apa pun yang berkaitan dengan Bening namun, tanpa sengaja matanya menangkap foto-foto yang menarik perhatiannya di halaman social media seseorang. Alden menyipitkan matanya seolah-olah memperjelas penglihatannya, bahwa sosok seseorang di antara sosok lainnya di foto-foto tersebut adalah Bening. “Universitas Udayana?” Alden membaca sebuah tulisan pada kolom komentar. Klik Klik Klik Tangan Alden secara otomatis menzoom foto tersebut kebagian sosok yang diduga Alden adalah Bening. Tetapi, kemudian bibir Alden berucap dengan sendirinya “Mana mungkin pasti hanya mirip saja,” ketika Alden melihat sosok itu dalam keadaan hamil. “Ini pasti hanya karena resolusi gambarnya yang jelek dan masa sih Bening pindah ke Bali?” Alden sudah seperti orang gila yang berbicara sendiri dan menjawab sendiri. “Foto ini empat tahun yang lalu,” ucap Alden ketika menghitung mundur tanggal sekarang dengan tanggal foto tersebut diupload. Karena tak ingin lebih lama menjadi gila Alden memutuskan menutup laptopnya. Alden menopang kepalanya dengan kedua tangannya, mencoba berpikir jernih. Mencari pencerahan, siapa tahu saja dia dapat menemukan jalan pintas untuk mencari Bening. “Ruang kosong ini sungguh menyakitkan, sungguh kamu benar-benar bagian yang hilang dari diriku Bening!” Alden dengan tiba-tiba menepuk bagian dadanya sambil menggeram keras. Semua pertahanan yang dibangun Alden selama di New York runtuh, dulu waktu dia masih di New York hanya saat istirahat saja dia akan memikirkan Bening.  Tetapi sekarang, hampir tiap detik yang ada di kepala Alden hanya Bening dan strategi apa yang digunakan Alden untuk dapat menemukan Bening. Alden mencoba mengontrol emosinya, mengatur nafasnya. Bahkan untuk menunjang rencananya untuk mencari Bening Alden memilih tinggal terpisah dengan orang tuanya. Padahal Alden tak pernah keluar dari rumahnya kecuali saat dia pindah ke New York. Dulu saat dia menikah dengan Bening pun, dia masih tinggal di rumah bersama kedua orang tuanya. Tok Tok “Silahkan masuk Mahira,” ujar Alden. Dia sudah tahu bahwa Mahira lah yang mengetuk pintu ruangannya karena Alden menerapkan siapa pun tamu yang akan bertemu dengannya harus lewat sekretarisnya terlebih dahulu. “Ada Ibu Andin ingin bertemu Pak,” Alden menganggukan kepalanya sebagai tanda persetujuannya. Lalu tak lama muncullah sosok perempuan cantik dengan balutan pakaian mahal sambil menggandeng bocah laki-laki berumur tujuh tahun. “Uncle!!” belum sempat Alden mengucapkan salam bocah laki-laki itu sudah lebih dahulu berlari ke arah Alden sambil berteriak kencang. “Hai Steve!” Alden meraih bocah laki-laki itu ke dalam gendongannya dan dengan semangat Steve memberikan ciuman rindu kepada pamannya itu. “Kapan nyampe Kak?” Andin yang dipanggil ‘kak’ oleh Alden terlihat duduk manis di sofa ruangan Alden, bahkan tangannya sudah membolak-balik majalah bisnis. “Tadi malam,” jawab Andin singkat. “Berdua dengan Steve saja?” Alden berjalan ke arah sang kakak dengan Steve yang masih ada dalam gendongannya. “Bertiga dengan Mas Josh. Aku kira kamu tinggal di rumah makanya aku tidak bilang kalau akan pulang, mau buat surprise,” Andin memperhatikan Alden yang duduk di hadapannya dengan Steve di pangkuannya. Satu yang dapat Andin tangkap dari fisik adiknya itu, berantakan. “Aku malas dan bosan direcokin Mama sama acara perjodohan gak jelas itu,” sahut Alden santai sambil memberikan ponselnya kepada Steve yang sudah ribut ingin meminjam ponselnya. Anding mengernyitkan dahinya, dia merasa adiknya itu menyembunyikan sesuatu. Seperti apapun Mama mereka, Alden pasti dapat mengatasi sifat Mama. Akan ada seribu satu alasan untuk Alden menolak perjodohan itu tanpa harus keluar dari rumah. “Mau belajar mandiri ya adik kecilku ini? Padahal dulu udah nikah aja masih tinggal di rumah,” Andin memicingkan matanya dan bibirnya tersenyum sinis ekspresi khas Andin ketika sedang mencibir seseorang. Bahkan Andin tersenyum puas begitu mendengar Alden menghembuskan nafasnya lelah dan berat. Andin yakin tebakannya benar bahwa sang adik sedang berusaha untuk rujuk kembali, dia pasti sudah bertemu dengan Bening. Adik ipar yang sangat disayangi Andin. “Mau rujuk ya?” tembak Andin langsung dan matanya menajam memperhatikan reaksi Alden. “Boro-boro mau rujuk Kak. Ketemu aja belum!” sungut Alden. Alden memejamkan matanya sesaat lalu membukanya, sebisa mungkin dia menghindari bertatap mata dengan Andin. Sehingga dia memilih mengalihkan perhatiannya ke arah Steve yang sedang sibuk memainkan sebuah game di ponselnya. “Masa sih belum ketemu?” Andin bertanya dengan nada tak percaya. Dia sedikit sanksi bahwa Alden belum bertemu dengan Bening. Adiknya itu tahu semua tentang Bening, dia juga tahu siapa saja orang yang dikenal Bening. “Dia kayak hilang gak ada jejak Kak, mana aku cuma ada waktu saat pulang kerja saja untuk mengobrak-abrik Jakarta,” cerita Alden dengan suaranya yang terdengar sangat mengiris hati. Andin menatap prihatin Alden, tak menyangka adiknya itu akan semenderita ini. Dia kira lima tahun waktu yang cukup untuk Alden dapat melepas Bening, bahkan dia sudah menyebrangi benua untuk melakukannya. ♥♥♥ Sore hari itu Jakarta diguyur hujan deras, beberapa orang lebih memilih berhujan-hujanan untuk cepat dapat pulang dan salah satunya adalah Bening. Perempuan itu menunggu di depan gedung perkantoran sambil memegang payung lipat berwarna pink stabilo. Menimbang-nimbang apakah dia harus menerobos hujan dengan bekal payung? Sedangkan dirinya masih harus berjalan ke halte yang jaraknya lumayan, bukan tidak mungkin dia akan tetap basah. Bening adalah tipe perempuan yang malas berhujan-hujanan karena daya tahan tubuhnya yang lemah jika sudah bertemu dengan hujan. Tetapi rasa khawatir Bening terhadap Kevyn yang sedang demam mengalahkan rasa malasnya. Bagi Bening, Kevyn adalah prioritas utamanya. Payung pink stabilo itu sudah sepenuhnya terbuka dan kaki Bening sudah siap melangkah, ketika seseorang menahan siku Bening dari arah samping. Memang di sekitar Bening banyak penghuni gedung yang sedang berdiri menunggu hujan reda. Di sana, di sebelah Bening berdiri seorang pria yang sedang menatap Bening lekat. “Ayo saya Antar,” tawarnya cepat. Bening dengan cepat secepat yang dia bisa melepaskan tangan Fahreza dari sikunya. “Tidak usah Pak, saya bisa pulang sendiri,” tolak Bening halus, mata Bening bergerak gelisah. Tanda bahwa Bening tak nyaman dengan keadaan sekarang. Ada beberapa karyawan perusahaannya yang memperhatikan tingkah Fahreza tadi. Hal itu cukup untuk menjadi alasan Bening merasa tak nyaman. “Hujannya masih lama berhenti,” Fahreza masih berusaha membujuk Bening untuk pulang bersamanya. “Saya bawa payung kok Pak,” dan Bening masih berusaha untuk menolak tawaran atasannya itu. “Saya permisi Pak,” Bening langsung melangkahkan kakinya cepat tak ingin mendengar bujuk rayu Fahreza yang lainnya. Sementara itu dari dalam lobi seorang anak laki-laki berlari-lari sambil berteriak, “Aunty!” berkali-kali. Dan di belakangnya seorang perempuan berumur awal 30-an mengejarnya. “Steve! Kamu ini kenapa lari-lari dan teriak-teriak gitu sih!” ternyata anak laki-laki dan perempuan itu adalah Steve dan Andin. “Aku tadi lihat Aunty Ma!” ujar Steve sambil cemberut dan tangannya bersedekap di depan d**a. “Aunty siapa? Jangan ngaco deh kamu!” Andin mendelikkan matanya kepada Steve yang berdiri dengan wajah bete. “Ih Mama! Steve tadi lihat Aunty yang fotonya ada di ponsel Uncle. Kata Uncle itu Aunty-nya Steve!” jelas Steve panjang lebar. Sedangkan Andin mengerutkan keningnya bingung dengan penjelasan Steve. “Sudah-sudah ayo kita pulang, nanti Oma ngomel kalau kita pulangnya kemalaman,” tak ingin ambil pusing dengan omongan Steve, Andin menggandeng tangan sang anak menuju mobil mereka dengan tangan sebelahnya yang sudah memegang payung. Jika itu kejadian dua jam lalu, maka kejadian sekarang di rumah kontrakan sederhana milik Bening lain lagi. Bening sedang cemas menatap Kevyn yang tertidur pulas sehabis minum obat. Walaupun panas Kevyn sudah mulai turun tetapi, Bening tetap khawatir karena sang buah hati yang terlihat masih lemas dan enggan untuk beraktifitas, untuk makan pun tak mau. “Cepat sembuh sayang,” ujar Bening sambil tangannya mengelus pelan rambut lebat Kevyn. Melihat anaknya yang seperti ini Bening mengambil keputusan akan cuti kerja, dia merasa tak tega menitipkan Kevyn di TPA dengan kondisi Kevyn yang sedang tidak fit. Bening tersenyum kecil begitu melihat salah satu tangan Kevyn memegang telinganya di dalam tidur, persis seperti Alden. “Walaupun ada Kevyn di sampingku, tetap saja ada ruang kosong di hatiku tanpa kehadiranmu,” ucapan Bening itu dibarengi dengan turunnya setitik air mata. Sudah ribuan kali Bening menangis untuk Alden, rasa sesal di hati Bening. Menyesal karena tak bisa bersikap egois terhadap Alden, yang dengan mudahnya melepas Bening. Begitu juga Bening yang dengan mudahnya meminta pisah. “Maafin Ibu karena gak bisa kasih Kevyn kasih sayang Ayah,” Bening mencium pelan pipi Kevyn dengan air mata yang bercucuran. Hal itu sukses mengusik tidur Kevyn. “Ibu jangan sedih,” Kevyn yang melihat Ibunya bersedih dengan refleks memeluk Bening dan membisikkan kata-kata yang membuat hati Bening merasa tenang. “Kevyn akan jadi anak baik buat Ibu, jadi Ibu jangan sedih lagi,” Kevyn anak berumur 4 tahun yang sudah fasih berucap dalam berbicara. Kevyn bukan tipe anak yang harus melewati masa cadel saat berbicara. Gaya bahasa Kevyn juga terlihat seperti orang dewasa, seperti mana Ibunya yang selalu bertutur sopan. “Kevyn harus janji sama Ibu untuk cepat sembuh,” Bening mengurai sedikit pelukan mereka dan mengangkat tangannya menunjukkan jari kelingkingnya ke arah Kevyn. “Janji!” Kevyn menyambut uluran jari Bening sambil tersenyum memperlihatkan deretan gigi susunya. ♥♥♥ Waktu sudah menunjukkan jam 11 malam, Alden masih berkutat dengan jalanan Ibu Kota yang macet. Keadaan Alden yang sangat lebih kacau dibanding saat tadi dia masih di kantor. Kondisi kemeja putih Alden yang kusut, dua kancing teratasnya sudah di buka, dasi dan jasnya sudah tersampir di jok belakang mobil, sedangkan rambutnya sudah kusut. Alden memang memutuskan tidak pulang dulu dan langsung memutari Jakarta sepulangnya dari kantor tadi sore. Mencoba mencari-cari Bening di antara padatnya Jakarta, serta kerlap-kerlip lampu malam. “ARGHHHH!!” Alden berteriak frustasi sambil tangannya memukul stir mobil kuat. Bahkan kepala Alden yang mulai pusing sejak tadi sore tak dapat menghentikan Alden untuk mencari Bening hingga larut seperti ini. Terkadang terpikir oleh Alden untuk menyewa orang untuk mencari Bening namun, ditepisnya keinginan itu. Alden ingin dia berjuang mencari sendiri Bening, bahkan Alden rela jika dia harus berkeliling dunia untuk mencari Bening. Menghabiskan waktunya, uangnya dan stok kesabarannya untuk menemukan Beningnya. Bening, hidup ini tanpamu hanyalah lakuna.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD