Beberapa hari setelah insiden konser, Riku akhirnya diperbolehkan pulang dari rumah sakit.
Namun sebelum benar-benar kembali ke dorm, Dr. Naru meminta satu pertemuan khusus. Ia pernah menyebutkan tentang bercak pada paru-paru kanan Riku. Kini, hasil pemeriksaan lanjutan sudah keluar: CT-scan toraks resolusi tinggi, analisis darah lengkap, dan uji fungsi paru.
Di ruang konsultasi yang tenang itu, empat orang duduk mengelilingi meja.
Dr. Naru dengan map hasil medis di tangannya.
Riku duduk tegak, jari-jarinya saling bertaut.
Banri di sampingnya, lebih tegang daripada pasiennya sendiri.
Yamato duduk sedikit condong ke depan, siku bertumpu di lutut, wajahnya tidak lagi menyimpan senyum santai khasnya.
Dr. Naru membuka pembicaraan.
“Hasil CT-scan menunjukkan adanya area infiltrat pada lobus superior paru kanan. Tidak luas, tapi cukup jelas terlihat. Ini konsisten dengan proses inflamasi kronis yang kemungkinan sudah berlangsung cukup lama.”
Riku menelan ludah. Banri langsung meliriknya.
“Apakah itu... infeksi?” tanya Yamato hati-hati.
“Bukan infeksi aktif saat ini,” jawab Dr. Naru tenang. “Lebih tepatnya jaringan parut ringan akibat inflamasi berulang. Kita menyebutnya fibrosis parsial. Kondisinya masih tahap awal, dan itu kabar baik. Tapi jika terus dipaksakan, kapasitas vital paru bisa menurun permanen.”
Ruang itu mendadak terasa lebih sempit.
Riku menunduk sedikit. Jadi benar. Bukan sekadar kelelahan biasa.
Dr. Naru melanjutkan, nadanya tegas namun tidak menghakimi.
“Uji fungsi paru menunjukkan penurunan ringan pada FEV1 dan kapasitas difusi oksigen. Itulah sebabnya kamu merasa sesak dan pusing saat aktivitas berat, terutama saat bernyanyi dengan kontrol napas panjang.”
Banri mengepalkan tangan di atas paha.
Yamato menarik napas dalam, pelan, seolah paru-parunya sendiri ikut diuji.
“Langkah selanjutnya?” tanya Yamato, kali ini dengan suara lebih serius.
“Kita akan mulai terapi farmakologis jangka panjang,” jelas Dr. Naru. “Kortikosteroid inhalasi dosis rendah untuk mengendalikan inflamasi. Ditambah bronkodilator kerja panjang jika diperlukan sebelum aktivitas fisik. Selain itu, Riku wajib menjalani pulmonary rehabilitation, latihan pernapasan terstruktur dengan fisioterapis.”
Riku mengangkat wajahnya sedikit. “Berapa lama?”
“Minimal enam bulan evaluasi berkala. Kontrol tiap empat minggu. Jika stabil, kita turunkan dosis bertahap.”
Enam bulan.
Bagi idol, itu bukan sekadar angka. Itu musim promosi. Itu tur. Itu jadwal yang tak pernah kosong.
Dr. Naru menatap Riku langsung.
“Dan ini penting. Must do dan must not do.”
Ia menyelipkan kertas ringkas di meja.
“Pertama, tidak boleh latihan vokal intens lebih dari tiga puluh menit tanpa jeda. Kedua, tidak ada koreografi high-impact sampai fungsi paru membaik. Ketiga, tidur minimal tujuh jam. Tidak bisa ditawar.”
Riku mengangguk pelan.
“Dan yang paling penting,” lanjut Dr. Naru, “tidak menyembunyikan gejala. Sesak napas, nyeri d**a, batuk persisten, atau kelelahan ekstrem harus segera dilaporkan. Kondisi seperti ini memburuk diam-diam.”
Kalimat terakhir itu terasa seperti sindiran yang lembut tapi tepat sasaran.
Riku mengepalkan jarinya. “Saya… memang sudah merasakannya sejak beberapa waktu lalu.”
Banri menoleh cepat. “Sejak kapan?”
Riku tidak langsung menjawab.
“Beberapa bulan.”
Hening.
Yamato memejamkan mata sebentar. Bukan marah yang pertama muncul di wajahnya. Tapi kecewa yang berat, seperti seseorang yang tahu ia seharusnya melihat lebih cepat.
Banri menghela napas panjang, lalu menunduk. “Kau menahan ini sendirian?”
Riku tersenyum kecil. Senyum yang terlalu ringan untuk topik seberat itu. “Aku pikir cuma kelelahan biasa.”
Dr. Naru menyilangkan tangan.
“Menahan kondisi medis demi performa adalah keputusan yang berisiko tinggi, Riku. Tubuh bukan properti panggung. Ia punya batas fisiologis.”
Kalimat itu jatuh tanpa nada tinggi, tapi tajam.
Yamato akhirnya berbicara, suaranya lebih rendah dari biasanya.
“Kalau dia memaksa terus tampil tanpa terapi?”
“Risiko progresi fibrosis. Penurunan kapasitas paru permanen. Dalam skenario terburuk, ia bisa kehilangan kemampuan bernyanyi secara profesional.”
Tidak ada yang berbicara setelah itu.
Riku merasakan dingin menjalar sampai ujung jarinya. Kehilangan kemampuan bernyanyi. Itu bukan sekadar kehilangan pekerjaan. Itu kehilangan identitas.
Namun Dr. Naru menambahkan, kali ini lebih lembut.
“Tapi kita belum sampai ke sana. Kondisinya masih reversible jika disiplin terapi. Dengan pengelolaan yang baik, Riku tetap bisa kembali ke panggung.”
Harapan itu kecil, tapi nyata.
Banri akhirnya bersuara dengan tegas. “Kami akan memastikan dia mengikuti semua instruksi.”
Yamato mengangguk. “Kalau perlu, kami atur ulang jadwal total.”
Riku menatap mereka berdua. Ada rasa bersalah yang menyelinap, tapi juga kehangatan yang tak bisa ia bantah.
Ia membungkuk kecil ke arah dokter.
“Saya akan menjalani terapinya. Dan… saya tidak akan menyembunyikan apa pun lagi.”
Dr. Naru mengangguk puas. “Bagus. Ingat, kesembuhan bukan lomba cepat. Ini maraton.”
Saat mereka berdiri meninggalkan ruangan, Banri tetap berjalan di sisi Riku, seolah paru-parunya sendiri rapuh dan bisa pecah jika dibiarkan sendiri.
Yamato melangkah di sisi lain, kali ini bukan sebagai senior yang santai, tapi sebagai seseorang yang siap menjadi penyangga jika Riku goyah. Dan untuk pertama kalinya sejak konser itu, Riku tidak merasa sendirian menghadapi napasnya sendiri. Ia memang belum kembali ke panggung. Tapi ia belum kalah, Dan untuk sekarang, itu sudah cukup.
“Kita lalui ini Bersama, Riku. Jangan pernah berpikiran untuk menyembunyikan apapun lagi setelah ini”, Yamato berujar serius, namun memiliki intonasi yang lembut. Riku tersenyum simpul, tidak tau harus berucap apa lagi. Ini semua terlalu tiba-tiba. Ia hanya berharap jika ini merupakan salah satu episode dari mimpi buruknya, yang akan hilang saat ia bangun tidur nanti. Walau ia tahu dengan sadar, bahwa ia tidak sedang tidur.
***
Setelah kepulangan Riku dari Rumah Sakit, ia masih tidak diperbolehan beraktivitas. Banri lebih sering tinggal di dorm saat anggota IDOLiSH7 yang lain sedang mengadakan syuting atau sesi pemotretan. Tentunya, hiatusnya sang center menarik perhatian agensi lain. Yuki dan Momo bahkan tanpa konfirmasi, datang berkunjung ke dorm IDOLiSH7 di malam ketiga setelah Riku pulang dari rumah sakit. Mereka bercerita, saling mengisi, dan menguatkan mental Riku. Tak dapat dipungkiri bahwa hasil pemeriksaan itu memukul telak mental Riku. Di malam pertamanya pulang dari rumah sakit saja ia sama sekali tidak mau bertemu dengan siapapun, mengurung diri dengan menangis sendirian, bergelut dengan pikirannya yang sibuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan paling buruk.
Kemudian di hari kelima, saat kondisi Riku sudah cukup kuat untuk mengikuti segenap aktifitasnya, tanpa disangka Tenn datang. Berkunjung sendiri. Mengunjungi Riku. Terkejut? Jelas. Bahkan Riku sama sekali tidak bisa berkata-kata. Member IDOLiSH7 yang lain memberi waktu kepada mereka berdua, sengaja membiarkan kakak beradik kermbar itu di dorm.
Tenn memilih mengobrol di kamar Riku. Mereka berdua duduk dalam kecanggungan, berhadap hadapan tanpa ada yang mau memulai pembicaraan. Hingga akhirnya, Riku memberanikan diri untuk membuka percakapan lebih dahulu.
“Tenn-nii, sudah makan malam?”
Tenn hanya diam, memandang lurus ke manik crimson milik Riku. Kentara sekali tak ada niatan untuk merespon ucapannya. Riku pun semakin merasa kikuk.
“A-ah! Akan aku buatkan teh untukmu, Tenn-nii”, ia beranjak dari tempat duduknya, berusaha kabur dari situasi canggung.
“Diam disitu, Riku. Tidak usah berusaha kabur”
Riku urungkan niatnya, lalu kembali duduk dengan kaku, “B-Baiklah…”
“Riku…”
“Ya?”
“Tak ada hal yang ingin kau bicarakan padauk?”
“M-maksud Tenn-nii tentaang rencana tur kami atau-“
“Cukup, Riku! Haruskah aku mengetahui kondisimu dari orang lain?! Segitunya kah kau menganggaku orang asing?! Dan lagi, berapa kali aku bilang padamu, kau tak akan kuat berada di panggung yang sama denganku! Berhentilah menjadi idol, Riku!”
Lidah Riku kelu. Tak ada jawaban yang ingin ia lontarkan, atau sanggahan yang bisa ia jadikan pembelaan akan situasinya kini. Ia tahu kapasitas dirinya, tapi berhenti sebagai idol? Menganggap kakaknya sebagai orang asing? Hei, bahkan ia yang selalu diacuhkan oleh kakaknya itu.
Riku merasa napasnya tercekat. Ia lalu lupa bagaimana caranya bernapas. Satu batuk kecil lolos. Kemudian disusul batuk berikutnya. Kemudian lagi, dan kali ini agak keras. Tersadar, Riku dengan cepat meraih inhaler di sebelahnya dan mulai menggunakan alat penyelamat hidupnya itu.
Tenn tampak panik, suaranya yang mencoba memberi instruksi pada Riku sama sekali tak dapat terdengar. Riku masih sibuk dengan pikirannya, juga sesak yang ia rasakan. Hingga pada dosis ketiga, Dimana dadanya sudah terasa lebih longgar, tubuhnya melemas, bersandar penuh pada sisi kanan tempat tidur yang ada di belakangnya.
Dua menit ia terdiam dengan napas masih terengah, kemudian ia mulai bersuara
“Tenn-nii… aku sakit”, ungkapnya parau. Kini ia menunduk, memainkan jemarinya sambil sesekali tersenyum, menertawakan dirinya sendiri.
““Aku sakit… dan aku tahu itu. Setiap hari aku tahu.”
Tenn terduduk kaku di depannya. Tangan di samping tubuhnya mengepal begitu kuat sampai buku-buku jarinya memutih.
Riku mengangkat wajahnya perlahan. Mata crimson itu basah, tapi tidak lagi lari.
“Tapi aku juga idol, Tenn-nii.”
Ia terbatuk lagi. Cepat ia menutup mulutnya, berusaha menahan getar di tenggorokannya.
“IDOLiSH7 bukan cuma panggung dan lampu sorot. Itu… tanggung jawab.”
Batuk kecil lagi. Napasnya tersendat.
“Ribuan orang percaya pada kami. Mereka menunggu lagu kami. Mereka tersenyum karena kami.”
Tenn membuka mulut, tapi Riku mengangkat tangan, meminta satu detik lagi.
“Dan aku bagian dari itu. Bukan karena aku mau keras kepala. Tapi karena kalau aku berhenti begitu saja…” suaranya melemah, “…aku seperti mengkhianati semua orang yang sudah berdiri di sampingku.”
Ia menarik napas dalam, terlalu dalam. Dadanya langsung protes. Batuknya kembali pecah, lebih keras dari sebelumnya.
Tenn refleks maju selangkah. “Riku, hentikan dulu—”
“Tenn-nii yang bilang aku tak akan kuat berdiri di panggung yang sama denganmu!” Riku memotong, suara pecah di antara batuk. “Tenn-nii yang selalu bilang aku terlalu lemah!”
Setiap kalimat membuat napasnya semakin pendek.
“Tapi yang paling sering merasa sendirian itu siapa, Tenn-nii?”
Ia terbatuk lagi, tubuhnya sedikit membungkuk.
“Aku… aku yang selalu melihat punggungmu dari jauh. Aku yang selalu ditinggalkan.”
Tenn terdiam.
Riku menyeka sudut matanya dengan punggung tangan.
“Kenapa Tenn-nii merasa terasingkan? Justru aku yang selalu merasa seperti orang luar dalam hidupmu.”
Kalimat itu jatuh pelan. Tidak berteriak. Tidak menyalahkan. Hanya jujur.
Napas Riku kembali tak teratur. Ia meraih inhaler sekali lagi, menarik dosis perlahan. Tangannya gemetar, tapi kali ini ia lebih tenang. Setelah beberapa detik, dadanya mulai longgar meski masih terasa berat.
Tenn akhirnya berbicara, suaranya lebih rendah dari sebelumnya.
“Aku membentakmu karena aku takut.”
Riku menoleh pelan.
“Aku tahu tubuhmu lebih rapuh dari siapa pun. Aku tahu betapa sakitnya itu. Dan setiap kali kau memaksakan diri… aku melihat diriku sendiri di masa lalu.”
Tenn menggigit bibirnya, sesuatu yang jarang ia lakukan.
“Aku tidak ingin kau hancur demi panggung.”
Riku tertawa kecil. Tawa yang berubah jadi batuk ringan.
“Kalau aku berhenti sekarang, Tenn-nii… aku justru hancur.”
Hening.
“Menjadi idol bukan cuma soal berdiri di sebelahmu. Itu pilihanku. Itu hidupku. Dan aku ingin tetap berjalan, walau pelan. Walau harus pakai inhaler. Walau harus latihan separuh dari yang lain.”
Ia menatap Tenn lurus.
“Aku tidak butuh kau mengusirku dari panggung. Aku butuh kau percaya kalau aku bisa berdiri di atasnya. Dengan caraku sendiri.”
Tenn memejamkan mata.
Semua amarahnya barusan… bukan kemarahan pada Riku. Itu ketakutan yang tak pernah ia pelajari cara mengucapkannya.
Ia mendekat dan duduk di tepi tempat tidur, jarak mereka kini hanya sejengkal.
“Bodoh,” gumam Tenn pelan. “Kau selalu keras kepala.”
Riku tersenyum kecil. “Turunan siapa?”
Untuk pertama kalinya malam itu, sudut bibir Tenn terangkat tipis.
“Tapi dengar,” lanjut Tenn serius, “jika kau merasa sesak, jika kau merasa dunia terlalu berat… jangan pernah menanggungnya sendirian lagi.”
Riku mengangguk. Kali ini bukan karena terpaksa.
“Dan jika aku tetap jadi idol?” tanyanya pelan.
Tenn menatapnya, lama.
“Kalau begitu… jadilah idol yang hidup. Bukan idol yang mengorbankan dirinya.”
Riku mengangguk lagi. Air matanya jatuh satu tetes, tapi senyumnya tidak redup. Di luar kamar, anggota IDOLiSH7 yang lain masih menunggu dengan cemas. Di dalam kamar itu, dua saudara kembar yang terlalu mirip untuk bisa benar-benar jauh, akhirnya mulai berbicara tanpa topeng, dan untuk pertama kalinya sejak hasil pemeriksaan itu keluar, napas Riku tidak hanya terasa lebih ringan secara fisik. Ia terasa lebih lega di dalam d**a.