Malam itu, ruang tengah dorm IDOLiSH7 diterangi lampu hangat yang tak cukup mengusir tegang di udara.
Semua hadir.
Iori duduk paling tegak, tangan terlipat rapi. Mitsuki gelisah memainkan ujung lengan bajunya. Tamaki bersandar tapi tidak santai seperti biasanya. Sogo tenang, namun matanya terus mengamati Riku. Nagi berdiri dekat jendela, ekspresinya sulit ditebak. Yamato duduk di sisi sofa, posturnya sedikit condong ke depan. Banri berdiri di dekat meja, membawa map medis. Tsumugi duduk di sampingnya. Dan di kursi utama, dengan wibawa yang tenang namun tak bisa dibantah, duduk Takanashi Otoharu. Riku duduk di tengah-tengah mereka semua. Bukan sebagai center. Tapi sebagai pusat kekhawatiran.Banri membuka pembicaraan.
“Seperti yang sudah kalian tahu, hasil pemeriksaan Riku sudah keluar. Ada infiltrat dan fibrosis parsial di lobus superior paru kanan. Fungsi paru menurun ringan, terutama pada kapasitas difusi oksigen.”
Tamaki langsung menegang. “Itu… bahaya, ya?”
“Belum dalam tahap kritis,” jawab Banri tegas. “Tapi kalau dipaksakan terus, bisa menjadi permanen.”
Sunyi. Tsumugi melanjutkan dengan suara yang lembut tapi professional, “Dokter sudah menetapkan terapi jangka panjang. Kortikosteroid inhalasi, kemungkinan bronkodilator sebelum tampil, dan program pulmonary rehabilitation rutin. Evaluasi tiap bulan.”
Iori mengangguk kecil. Ia sudah menduga ini bukan sekadar kelelahan biasa.
Otoharu berbicara pelan, namun setiap kata terasa berat, “Prioritas utama adalah stabilisasi kondisi medis. Kita tidak akan mengambil Keputusan yang berakhir membebani Riku, benar bukan?.”
Semua member mengangguk, sedangkan Riku menunduk sedikit. Yamato akhirnya mengambil alih bagian yang paling sensitif., “Kita perlu bicara soal posisi center.”
Tatapan semua orang beralih ke Riku. Iori berdiri perlahan, “Aku siap mengambil posisi center sementara. Sampai Riku dinyatakan stabil secara medis.”
Mitsuki langsung menambahkan, “Dan kita bisa ubah koreografi supaya tidak terlalu high-impact. Fokus vokal dibagi lebih rata.”
Sogo mengangguk. “Aransemen ulang lagu juga memungkinkan. Nada tinggi bisa dialihkan sementara.”
Tamaki bersuara lebih pelan dari biasanya. “Pokoknya… jangan bikin Riku sendirian lagi.”
Kalimat itu sederhana, tapi menghantam. Riku mengepalkan jemarinya di atas lutut. Ia sudah mempersiapkan diri untuk mendengar keputusan ini. Tapi mendengarnya langsung tetap terasa seperti berdiri di bawah hujan yang tak terlihat.
“Aku tidak mau jadi beban,” ucapnya pelan.
Nagi akhirnya berbicara, suaranya tenang seperti biasa.
“You are not a burden, Riku. You are a member. That is different.”
Banri mengangguk setuju. “Riku tetap ikut konser. Tapi dengan pembatasan.”
Ia membuka catatan.
“Setiap penampilan maksimal tiga lagu penuh. Sisanya bisa diatur sebagai partisipasi terbatas. Tidak ada encore tambahan tanpa persetujuan medis. Latihan vokal maksimal tiga puluh menit per sesi.”
Iori langsung menyela, “Dan jika kondisimu drop, kau turun. Tidak ada negosiasi.”
Riku mengangkat wajahnya. Tatapan Iori tegas, bukan dingin.
Ayah Tsumugi menyilangkan tangan.
“Untuk jadwal syuting, kita kurangi proyek fisik berat. Fokus pada talk show, radio, atau rekaman yang bisa dikontrol durasinya. Manajemen akan menyesuaikan kontrak.”
Tsumugi menatap Riku dengan lembut.
“Kita tidak menghentikanmu. Kita hanya mengatur ritmenya.”
Yamato tersenyum tipis. “Anggap saja kita lagi aransemen ulang. Lagu yang sama, tempo berbeda.”
Ruangan itu akhirnya menghangat sedikit.
Riku menunduk. Bahunya bergetar pelan. Ia mencoba menahannya, tapi satu tetes air jatuh ke punggung tangannya.
“Aku… benar-benar minta maaf sudah menyembunyikan ini.”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Lalu Mitsuki bangkit dan menepuk bahunya.
“Bodoh. Kita ini keluarga, tahu?”
Tamaki mengangguk kuat-kuat.
“Kalau napasmu berat, kita bantu ambil napas bareng-bareng!”
Sogo tersenyum lembut.
“Kita sesuaikan harmoni. Tidak ada suara yang dibiarkan hilang.”
Iori mendekat selangkah.
“Kau kembali ke panggung nanti. Tapi bukan sendirian.”
Yamato akhirnya berdiri dan menepuk kepala Riku pelan.
“Center itu posisi. Tapi hati grup ini… itu bukan cuma satu orang.”
Riku mengangkat wajahnya. Matanya masih basah, tapi senyumnya… terang. Bukan senyum dipaksakan. Bukan senyum untuk menenangkan orang lain. Senyum yang lahir karena ia akhirnya berhenti menahan semuanya sendiri.
“Aku akan sembuh,” katanya pelan, tapi tegas, “Dan aku akan menyanyi lagi. Bersama kalian.”
Di ruang tengah dorm yang sederhana itu, keputusan besar telah dibuat. Center bisa berganti. Formasi bisa berubah. Jadwal bisa disusun ulang. Tapi malam itu, satu hal menjadi pasti, bahwa IDOLiSH7 tidak kehilangan siapa pun.
***
Pagi setelah rapat itu, dorm terasa terlalu normal. Aroma kopi memenuhi dapur. Suara televisi kecil menyala pelan. Mitsuki sedang mengomel karena Tamaki meninggalkan bungkus pudding di sofa lagi. Semuanya tampak biasa.
Dan justru itu yang membuat d**a Riku terasa aneh. Ia berdiri di depan wastafel dapur lebih lama dari seharusnya, memandangi pantulan dirinya di kaca jendela. Rambut merahnya sedikit berantakan. Wajahnya tampak pucat karena kurang tidur.
Semalam ia akhirnya tertidur hampir pukul tiga pagi. Bukan karena sesak, tapi karena ia takut. Takut semuanya berubah setelah ini. Begitu banyak hal yang menghantui pikirannya.
'Apakah aku bisa bersikap biasa pada semuanya?'
'Apakah aku akan merepotkan banyak orang?'
'Apakah aku kuat? Atau aku memang harus berhenti?'
'Kalau aku berhenti sekarang, bagaimana dengan para fans yang selalu setia pada Idolish7?'
'Lalu Tenn-nii... Apakah dia akan semakin membenciku karena aku begitu tidak berguna?'
'Apakah aku hanya akan menjadi beban?'
Semua pertanyaan itu terus berputar di dalam kepalanya seperti kaset tua yang sudah rusak. Matanya benar-benar tak mau terpejam. Saat ia memaksakan untuk tidur pun, mimpi aneh dan bayangan seperti akan diterkam langsung menghampirinya. Sungguh, malam yang melelahkan.
Sejurus kemudian, pintu dapur terbuka pelan.
“Kalau kau menatap gelas kosong selama lima menit, airnya tidak akan muncul sendiri, Riku.”
Itu suara Iori. RIku sedikit tersentak. Dan karenanya, ia sedikit bergetar. Sesuatu dalam dadanya mulai berdentum keras.
“Iori…” gumamnya kemudian, nyaris tak terdengar.
Iori berjalan masuk sambil membawa tablet dan beberapa lembar jadwal baru. Ekspresinya masih setenang biasanya, tapi kali ini tidak terasa tajam.
“Ayah Tsumugi mengirim revisi jadwal.”
Riku langsung menegang, dan Iori menyadari hal itu. Ia kemudian menghela napas kecil dan melanjutkan pembicaraan karena Riku tak kunjung memberikan tanggapan.
“Kau bisa berhenti memasang wajah seperti manusia dari dimensi lain, Riku.”
“Aku masih mencerna perkataanmu, Iori. Aku baru bangun asal kau tahu”
“Kau bukan seperti orang baru bangun, tapi terlihat seperti orang yang tidak tidur karena terlalu banyak berpikir. Jam berapa kau tidur semalam?”
Riku terdiam. Skak Mat! Dari dulu Iori selalu peka terhadapnya.
"Etto... jam berapa ya? Aku... tidak ingat", Riku berusaha berkilah walau sebenarnya ia sama sekali tidak memiliki tenaga untuk berdebat dengngan Iori. Beruntungnya, Iori tidak lanjut mengintrogasinya. Ia lantas duduk dan meletakkan lembar jadwal di meja. Kemudian Riku ikut duduk di kursi yang berseberangan dengan Iori.
Iori menjelaskan skema baru yang dibuat oleh Manager dan juga tim yang lain. Blok latihan Riku dipangkas hampir setengah. Beberapa rekaman dipindah. Posisi center untuk live berikutnya tertulis atas nama Iori, bukan lagi Riku.
Melihatnya langsung dengan mata sendiri tetap menimbulkan sensasi aneh di d**a. Riku merasa...kosong. Dunia seakan senyap beberapa saat, seperti ada sesuatu yang dicabut pelan-pelan.
“Aku minta maaf,” gumam Riku lirih setelah berhasil mengontrol dirinya lagi.
Iori yang masih menjelaskan detail perubahan jadwal langsung menatapnya.
“Untuk apa?”
“Karena semuanya jadi harus berubah…”
“Riku”, Nada suara Iori kali ini lebih rendah, “Menurutmu kenapa sebuah grup disebut grup?”
Riku tidak menjawab. Ia benar-benar merasa seperti gelas kosong saat ini.
Iori akhirnya menepuk pundak Riku agak keras agar ia keluar dari zona lamunannya, “Karena saat satu orang melambat, yang lain menyesuaikan langkah. Bukan meninggalkannya.”
Riku terbelalak. Ada kilatan yang tak bisa Iori ungkapkan di matanya. Mungkin campuran antara terkejut, dan rasa ingin membantah. Atau mungkin ia ingin menangis namun juga ingin marah disaat yang bersamaan. Sunyi kecil jatuh di antara mereka karena tak ada yang mampu membaca pikiran masing masing.
Lalu, tanpa aba-aba, Tamaki muncul dari lorong sambil membawa dua pudding di tangan.
“Rikuuu, makan dulu sebelum dimarahi dokter Iori lagi.”
“Hei! Aku tidak pernah bilang kalau aku akan menjadi dokternya Riku disini!,” sahut Iori protes. Ia melepaskan tangannya dari pundak Riku, kembali duduk tegak di kursinya. Sedangkan Riku masih mencerna yang terjadi. Jujur, ia merasa seperti PC keluaran terlama sekarang. Otaknya benar benar tak bisa mereboot kejadian dengan cepat. Efek kurang tidur dan lelah secara emosional ternyata bisa separah ini.
“Tapi mukamu bilang”, Tamaki masih melanjutkan sanggahannya sambil duduk di sebelah Riku, "Rikkun? Daijobu? Kau tampak pucat hari ini"
Tamaki ternyata menyadari kalau Riku agaknya tidak dalm kondisi prima.
Riku menanggapi dengan senyum paling indah yang bisa ia buat. Ia tidak ingin dikhawatirkan sedini ini.
"Aku baik-baik saja, Tamaki. Mungkin karena lapar? Sini, aku minta puddingmu satu, ya"
Mereka bertiga kemudian bercengkrama ringan. Hati satu sama lain sebenarnya msih menyimpan rasa khawatir, namun mereka juga berusaha saling menjaga, agar tak ada yang merasa tak nyaman disini. Mereka grup, keluarga, satu ikatan. Dan akan tetap begitu, saling menopang dan saling menjaga.
Mitsuki tiba-tiba ikut masuk ke dapur dengan energi seperti badai pagi hari, “OI! Hari ini kita latihan formasi baru! Dan sebelum ada yang depresi pagi-pagi, aku sudah memesan pancake!”
“Kenapa pancake bisa jadi solusi emosional?” tanya Sogo yang baru datang sambil tersenyum lembut.
“Karena mentega adalah terapi.”
“Itu… agak masuk akal,” jawab Yamato dari ruang tengah.
Dorm perlahan kembali hidup oleh percakapan dan candaan kecil. Tidak ada yang membahas penyakit Riku pagi itu. Tidak ada tatapan kasihan, tidak ada suasana hati-hati berlebihan. Dan justru karena itulah, mata Riku terasa panas. Mereka benar-benar berusaha mempertahankan tempatnya. Bukan sebagai seseorang yang harus dijaga terus, melainkan sebagai bagian dari kehidupan mereka yang memang sudah seharusnya ada di sana.
Namun jauh di dalam dadanya… ketakutan itu belum hilang seluruhnya. Karena beberapa hari lagi, mereka akan tampil live dengan formasi baru untuk pertama kalinya. Dan untuk pertama kali sejak IDOLiSH7 berdiri, center mereka akan berdiri di sisi panggung, bukan lagi di tengah.
Sementara itu, di sudut meja ruang tamu, ponsel Banri bergetar pelan. Satu pesan masuk dari dokter paru yang menangani Riku. Banri membacanya dengan cepat, lalu tiba-tiba ekspresinya berubah tipis. Tidak cukup drastis untuk membuat panik. Tapi cukup untuk membuat senyumnya menghilang.
“Ada satu hasil tambahan dari CT scan yang perlu kita diskusikan langsung. Saya sarankan jangan memberi tahu Riku dulu sebelum pemeriksaan lanjutan.”
Dan untuk pertama kalinya sejak rapat semalam…
Banri merasa bahwa mungkin keadaan Riku belum sesederhana yang mereka harapkan.
tbc