Studio latihan dipenuhi suara sepatu yang bergesekan dengan lantai. Musik diputar belum terlalu keras. Hanya cukup untuk menjadi penanda tempo bagi tubuh-tubuh yang sudah menghafal gerakan bahkan tanpa perlu berpikir.
“Sekali lagi dari chorus!” seru Mitsuki sambil bertepuk tangan.
Formasi segera bergerak. Iori maju ke tengah. Sementara Riku… berhenti satu langkah lebih belakang dari biasanya. Tubuhnya sempat terlambat bereaksi, walau hanya sepersekian detik. Tapi itu sangat berpengaruh terhadap sinkronisasi kelompok. Dan bagi seseorang yang selama ini selalu berdiri di titik pusat panggung, perubahan kecil itu terasa seperti dunia yang bergeser.
“Kiri sedikit, Riku!” panggil koreografer.
“Ah, maaf!”
Riku segera berpindah posisi dan kembali tersenyum seperti biasa. Tapi setelah itu gerakannya mulai sedikit kacau. Timing terlambat, putaran kurang presisi, dan napasnya yang mulai tidak stabil bahkan sebelum lagu selesai.
“Break dulu.” ucap Nagi memutuskan.
Begitu musik dimatikan, Riku langsung membungkuk kecil sambil mencoba mengatur napas diam-diam agar tidak terlalu terdengar. Namun suara napas berat itu tetap sampai ke telinga semua orang. Tamaki paling pertama mendekat.
“Rikkun…”
“Aku baik,” jawab Riku terlalu cepat, dan justru itu membuat suasana makin sunyi.
Karena semua orang tahu, Riku selalu berkata “aku baik-baik saja” tepat saat dirinya sebenarnya tidak baik-baik saja.
Iori menyerahkan botol air tanpa banyak bicara, “Kau terlalu memaksakan sinkronisasi langkah.”
Riku menerima botol itu pelan, “…Aku hanya.. uhuk uhuk... belum terbiasa...”
"Kita istirahat 10 menit. Riku, jangan paksakan tubuhmu. Ingat, sekecil apapun alarm yang dikeluarkan oleh paru-parumu, beri tahu kami. Jangan dilawan. Kami disini bukan sebagai tempat penghakiman, Riku. Kita keluarga, kan? Jika kau sakit, maka kami pun ikut merasakan sesaknya", ucap Yamato panjang lebar karena melihat Riku yang sudah seperti ikan kehabisan air. Ia benar benar khawatir sebenarnya. Namun ia sadar, kekhawatiran yang berlebihan justru akan membuat Riku merasa menjadi beban. Jadi ia lebih memilih membuat Riku sadar akan batasan-batasannya, dan lebih membuka diri untuk tidak menyembunyikan apapun dari mereka.
Riku tertegun mendengar nasehat Yamato. Ia ingin menangis rasanya. Ia menyadari kesalahannya dan menyadari kekhawatiran rekan-rekannya.
"Maaf, aku hanya... belajar menyesuaikan posisi", Riku bergumam sangat lirih. Bahkan kalimat itu keluar lebih lirih daripada yang ia inginkan.
Dan seketika ruangan terasa hening. Riku begitu bukan karena kesalahan tari. Tapi karena semua orang akhirnya sadar bahwa Riku belum terbiasa dengan pergantian center. Ada sesuatu dalam hatinya yang tak tau bagaimana cara melepaskannya.
Ruang latihan masih hening beberapa detik setelah ucapan Riku menghilang di udara.
“…belajar menyesuaikan posisi.”
Kalimat itu sederhana, tapi entah kenapa terasa lebih menyakitkan daripada suara batuknya tadi.
Tatapan Iori tertahan pada Riku lebih lama dari biasanya.
Ada sesuatu yang berputar di dalam matanya. Kesal karena Riku terus memaksakan diri. Khawatir karena napas Riku semakin terdengar berat akhir-akhir ini. Dan mungkin… rasa bersalah kecil yang tak ingin ia akui, karena sekarang ia berdiri di tengah formasi. Di posisi yang selama ini selalu menjadi milik Riku.
Iori mengepalkan jemarinya pelan, “…Kau tidak harus terbiasa secepat itu,” katanya akhirnya.
Riku mengangkat wajah. Iori melanjutkan tanpa menatap langsung padanya kali ini.
“Posisimu berubah sementara. Bukan keberadaanmu.”
Sunyi kembali turun. Namun kali ini tidak setajam sebelumnya. Mitsuki segera bertepuk tangan keras, sengaja mengusir suasana berat.
“Oke! Break selesai lima menit lagi! Tamaki jangan habiskan semua minuman isotonic!”
“Hah?! Aku belum buka tutupnya!”
“Itu justru mencurigakan!”
Suasana perlahan kembali bergerak.
Namun di sudut ruangan, Yamato memperhatikan Riku yang diam-diam menekan dadanya pelan saat menarik napas, dan firasat buruk mulai tumbuh perlahan di benaknya.
***
Sementara itu, di rumah sakit pusat Tokyo, aroma antiseptik memenuhi ruangan konsultasi paru. Banri duduk tegak di depan meja dokter sambil memegang map hasil pemeriksaan. Di sebelahnya, Tsumugi tampak jauh lebih tegang daripada biasanya. Jemarinya saling menggenggam erat di atas pangkuan.
Dokter paru yang menangani Riku membuka hasil CT scan digital di layar monitor. Area putih samar tampak menyebar di bagian paru kanan atas.
“Awalnya kami menduga ini hanya inflamasi kronis akibat overuse dan riwayat infeksi pernapasan berulang,” jelas dokter pelan, “Tapi setelah kami bandingkan dengan hasil HRCT sebelumnya…”
Beliau memperbesar gambar scan.
“Terdapat progresivitas fibrosis interstisial parsial.”
Tsumugi menegang kecil dan Banri langsung fokus.
“Seberapa serius?”
Dokter menghela napas pendek sebelum menjawab.
“Fibrosis paru berarti sebagian jaringan paru mulai membentuk jaringan parut permanen. Pada kasus Riku, lokasinya dominan di lobus superior kanan.”
Ia menunjuk area scan.
“Jaringan paru yang normal seharusnya elastis untuk membantu pertukaran oksigen. Tapi jaringan yang mengalami fibrosis menjadi lebih kaku. Itu sebabnya Riku mulai mengalami penurunan kapasitas difusi oksigen dan sesak lebih cepat saat aktivitas berat.”
Tsumugi menelan ludah.
“…Apa ini bisa sembuh total?”
Ruangan hening sesaat.
“Jaringan parut yang sudah terbentuk tidak bisa kembali normal.”
Kalimat itu jatuh seperti batu.
“Tapi,” lanjut dokter cepat, “progresnya masih tergolong tahap awal. Dengan pengobatan agresif, pulmonary rehabilitation, kontrol aktivitas fisik, dan pengawasan ketat, kita bisa memperlambat perkembangan penyakitnya.”
Banri menatap hasil scan itu lama, lalu bertanya pelan, “Diagnosis pastinya?”
Dokter menatap mereka bergantian.
“Interstitial Lung Disease dengan fibrosis paru parsial stadium awal.”
Tsumugi refleks menutup mulutnya sendiri.
Bahkan Banri yang biasanya tenang tampak kehilangan kata-kata beberapa detik.
Dokter kembali membuka beberapa lembar hasil pemeriksaan.
“Selain itu, saturasi oksigen Riku mulai menunjukkan desaturasi ringan saat aktivitas intens. Belum membutuhkan oxygen support permanen… tapi kalau ia terus memaksakan performa panggung tanpa pembatasan, risikonya bisa berkembang menjadi gagal napas kronis di masa depan.”
Sunyi.
Yang terdengar hanya dengung AC ruangan.
Lalu dokter menatap Banri serius.
“Mulai sekarang, kalian harus memperhatikan kelelahan sekecil apa pun. Pingsan, sesak mendadak, batuk berkepanjangan, nyeri d**a, atau penurunan saturasi tidak boleh dianggap sepele lagi.”
Dan entah kenapa, jantung Banri mendadak berdegup tidak nyaman.
Seolah tubuhnya lebih dulu menangkap firasat buruk sebelum pikirannya sempat memproses.
***
Malam harinya, dorm IDOLiSH7 jauh lebih sepi dari biasanya. Latihan hari itu berakhir lebih cepat karena kondisi Riku terlihat menurun. Meski begitu, Riku tetap memaksa tersenyum sepanjang perjalanan pulang.
“Aku cuma kurang stamina,” katanya berkali-kali, dan semua orang pura-pura mempercayainya.
Kini lampu ruang tengah sudah diredupkan. Tamaki tertidur lebih dulu di sofa. Mitsuki masih mengobrol pelan dengan Yamato sambil memeriksa ulang jadwal live mendatang. Iori duduk diam dengan buku di tangan, meski sejak lima menit lalu ia belum membalik halaman sama sekali, karena pikirannya terus tertahan pada suara napas Riku tadi siang.
Lalu—
BRAK!
Suara benda jatuh keras menggema dari arah lorong kamar mandi. Semua orang langsung menoleh.
“Riku?” panggil Nagi yang ada di depan pantry spontan.
Tidak ada jawaban. Jantung Iori langsung turun seketika. Yamato berdiri paling cepat. Pintu kamar mandi terkunci dari dalam.
“Riku!” kali ini suaranya lebih keras.
Tetap tidak ada respons, dan saat itu juga…mereka mendengar suara napas. Pendek, berat., dan terputus-putus. Napas seseorang yang terdengar seperti sedang tenggelam. Ekspresi Iori berubah drastis.
“Sougo! Ambil kunci cadangan! Buka pintunya. Sekarang!”