Lampu-lampu panggung menyorot wajah Nanase Riku dengan gemerlap yang menyilaukan.
Sorak penonton menggema, menembus d**a dan menembus langit tinggi di atas sana.
Di tengah lautan cahaya itu, sang center IDOLiSH7 berdiri tegak, tersenyum cerah, senyum yang menenangkan banyak orang.
Padahal ia tahu, senyuman itu berlawanan dengan kenyataan: tubuhnya nyaris tak mampu menahan getar napasnya sendiri.
Udara terasa tipis. Nada-nada yang biasa meluncur ringan dari tenggorokannya kini tersangkut di d**a. Namun ia bertahan. Di depan sana, ribuan pasang mata mempercayainya. Teman-temannya menaruh kepercayaan penuh padanya, dan di belakang panggung, para staf telah mengorbankan banyak hal demi konser hari ini.
Lagu terakhir dimulai. Kedua tangannya bergetar, mikrofon nyaris terlepas dari genggaman.
Iori menyadarinya, namun segalanya sudah terlambat. Menghentikan Riku di saat seperti ini tidak akan pernah berhasil.
Pada bait terakhir, langkahnya mulai goyah. Pandangannya berputar, lampu-lampu seolah menari tak beraturan di matanya, menambah gelombang pusing yang sejak tadi ia tahan. Dadanya kian sesak. Keringat dingin semakin banyak mengalir di pelipisnya. Kini ia bahkan bisa mendengar bunyi seperti peluit dalam tiap tarikan napas yang ia ambil.
Senyumnya perlahan memudar, berganti dengan kernyitan halus sarat akan menahan rasa sakit. Tubuhnya limbung, lalu jatuh menghantam lantai panggung, diiringi teriakan panik penonton dengan musik yang tetap mengalun.
Dalam kekacauan yang mendadak itu, Tsumugi dengan cepat meminta pergantian lagu, kemudian lampu panggung segera menyorot sub-unit, MEZZO". Semua bergerak cepat, bahkan mereka tidak sempat mengekspresikan kepanikan yang terjadi. Mereka abai? Tentu tidak. Namun demi penonton, demi penggemar, mereka harus tetap professional.
Koordinasi dilakukan nyaris tanpa celah, demi menenangkan ribuan penonton yang belum memahami apa yang baru saja terjadi.
"Riku! Hei, Riku!"
Saat lampu panggung hanya menyorot pada MEZZO", di bagian panggung yang lain tempat Riku kini terbaring, Yamato tampak langsung mengangkat sang center, diikuti dengan suara Nagi yang terdengar parau, gemetar di antara kebisingan.
Banri secara cepat naik ke atas panggung untuk memberi aba-aba cepat pada staf.
“MEZZO" akan menutup konser ini! Pastikan semuanya tetap berjalan!"
Sorot lampu berganti warna, menutup insiden dengan profesionalisme yang dingin.
Sementara itu, Yamato menggendong Riku yang tak sadarkan diri ke belakang panggung, diikuti anggota lainnya. d**a Riku Nampak naik turun dengan cepat dan dangkal. Dahinya mengernyit dalam. Wajahnya pias, dengan bibir yang perlahan mulai kehilangan warnanya.
“Manager! Ambulan!” Iori lantas memanggil Tsumugi saat melihat Perempuan itu berlari menghampiri mereka.
Tsumugi langsung menelpon ambulans dengan suara bergetar. Mereka membaringkan Riku setengah duduk, bersandar sepenuhnya pada d**a Yamato. Nagi menyiapkan nebulizer yang selalu mereka bawa saat konser dan memberikannya pada Riku sebagai pertolongan pertama.
"Kalian tetap di sini. Aku dan manager akan membawa Riku ke rumah sakit," ujar Nagi tegas kepada Iori, Yamato, dan Mitsuki.
Banri datang sesaat kemudian, mengambil kendali atas situasi dan memberi tahu bahwa ambulan telah tiba.
"Mitsuki..." panggil Yamato lembut saat ia menyadari ketegangan di wajah Mitsuki, membuat pemuda itu menunduk, menyembunyikan kekhawatiran. Mereka sudah berulang kali melihat Riku kambuh. Tapi hal itu tak pernah membuat mereka terbiasa, dan tetap meninggalkan rasa takut tersendiri.
Yamato menepuk pelan pundaknya, "Tenang. Riku itu kuat. Dia akan baik-baik saja."
Malam itu, sang center IDOLiSH7, yang selalu mampu menenangkan banyak orang—kini terbaring dalam senyap, sedang bergulat hanya sekedar untuk menarik satu tarikan napas penuh.
***
Ruang rawat nomor 1245 Rumah Sakit Internasioal Tokyo malam itu terasa hening.
Nagi meminta agar sang manajer beristirahat. Bagaimanapun juga, malam telah jauh berlalu.
Kini, Tsumugi terbaring di sofa kecil di sudut ruangan, lelah namun tetap terjaga setengah sadar.
Riku berbaring dengan wajah yang masih pucat di ranjang putih, masker oksigen menutupi sebagian wajahnya.
Nagi berdiri di dekat jendela, menatap hujan yang turun perlahan di luar sana.
Pikirannya kalut—tentang Riku, tentang konser yang harus diselesaikan, dan tentang bagaimana media akan menulis insiden malam ini dengan nada sensasional. Wajah lelaki asal Northmeria itu kini mampak serius. Sesaat kemudian, ketika dokter masuk, Nagi segera berbalik.
"Naru-sensei, bagaimana-"
"Riku-san mengalami kelelahan ekstrem," ujar dokter itu datar namun tegas, “Selain itu, kami menemukan flek di paru-paru kanan. Kondisi ini dapat memperparah asmanya. Ia tampak memaksakan diri, dan sepertinya juga mengabaikan kualitas udara di sekitarnya akhir-akhir ini. Kami menyarankan agar ia dirawat inap setidaknya beberapa hari."
Saat dr. Naru masih menjelaskan bagaimana kondisi Riku pada Nagi, tanpa mereka sadari Riku membuka matanya pelan, menatap langit-langit putih di atasnya.
Sebenarnya ia sudah sadar sejak tadi, hanya saja tubuhnya terlalu lemah untuk bergerak. Bahkan membuka mata pun terasa berat. Belum lagi sensasi tak nyaman di dadanya.
"Saya... tidak bisa… tinggal … uhuk uhuk!" belum sanggup untuk berbicara banyak, Riku langsung tersedak dan terbatuk keras, hingga membuat Nagi dan dr. Naru menoleh terkejut.
"Riku!" seru Nagi hingga Tsumugi terperanjat, terbangun dari tidur singkatnya.
"Bernapas perlahan, Riku. Daijobu, pelan pelan saja", Nagi berusaha menenangkan Riku.
Riku menggeleng lemah. "Aku baik... sungguh. Hanya perlu … tidur sebentar."
Ucapannya diakhiri dengan batuk pelan—batuk yang terdengar kering, menyesak.
Dr. Naru menghela napas panjang sambil membantu menyamankan posisi Riku.
"Bahkan untuk berbicara pun kau masih kesulitan, Nak. Jangan berpikir untuk keluar dari sini sebelum kondisimu stabil. Kau butuh terapi oksigen setidaknya beberapa hari ke depan”
“Tapi…”
“Tidak ada tapi-tapian, Nak. Nagi, jaga dia dan pastikan dia segera tidur. Aku akan kembali ke ruangan. Segera berkabar jika laju napasnya berubah ya. Istirahatlah, Riku. Kau butuh itu"
Dr. Naru beranjak meninggalkan ruangan setelah mengusak rambut Riku. Ia telah menangani Riku sejak tiga tahun belakangan. Satu hal yang paling sulit ia taklukan, keras kepala Riku yang selalu mementingkan orang lain. Ia harap pasien VIP nya itu sehat selalu, karena bagaimana pun juga merawat Riku mengingatkannya pada mendiang anaknya.
***
“Apa ada yang tidak nyaman, Riku? Butuh aku ambilkan selimut tambahan? Kau suksek membuat kami semua khawatir, Riku” ujar Nagi.
“Maaf” yang ditanya hanya bergumam pelan. Suaranya teredam di balik masker oksigen yang ia kenakan, “Boleh dibuka? Nggak nyaman” Riku menunjuk pada masker oksigen yang ia kenakan.
“Kau masih membutuhkannya, Riku. Akan aku tanyakan pada perawat terlebih dahulu untuk menggantinya dengan selang oksigen saja, ya?” Tsumugi beranjak akan pergi keluar saat kebetulan seorang perawat masuk untuk memberi obat pada infusan Riku.
Setelah beberapa pengecekan dan prosedur pergantian dilakukan, perawat itu keluar dan saat itulah, teriakan yang memecah kesunyian tiba-tiba terdengar.
"Riku!"
Ryuu muncul lebih dulu, diikuti Gaku dan Tenn di belakangnya.
Riku menoleh pelan. "Ah... Ryuu-san datang. Dan... Tenn-nii..." gumamnya kecil, masih dengan nada hangat yang sama.
Tenn berdiri di depan ranjang, menatap adiknya lama tanpa sepatah kata. Pandangan matanya tajam, tapi di baliknya tersimpan getar yang sulit ditafsirkan; antara marah, takut, dan putus asa.
"Kenapa kau tetap memaksakan diri?" tanyanya rendah.
"Karena... aku tak ingin … membuat fans kecewa," jawab Riku lemah. Perkataannya pun masih beberapa kali terhenti. Ia menunduk. Tak sanggup menatap kakak kembarnya yang menatap penuh intimidasi.
Tenn mengepalkan tangan, rahangnya menegang. Tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Ia berbalik cepat, meninggalkan ruangan tanpa menoleh sedikit pun. Nagi hendak menyusulnya, namunditahan oleh Tsumugi dengan gelengan, seolah berkata ‘biarkan ia sendiri dulu’.
Gaku menatap punggung Tenn, lalu menghela napas.
"Maafkan dia, Riku. Kau tahu, dia hanya tidak ingin melihatmu terluka."
Riku tersenyum samar. "Aku tahu. Aku memang…salah"
Di luar, hujan semakin deras.
Dan di dalam ruangan itu, hanya tersisa aroma obat dan keheningan yang berat—seolah dunia berhenti berputar untuk memberi ruang bagi satu napas yang tersisa.