Bab 2

1061 Words
Cahaya matahari menyelinap malu-malu lewat tirai putih ruang rawat, menyentuh pucuk rambut Riku yang masih kusut setelah malam panjang. Ia baru saja selesai pemeriksaan pagi, dan kini tengah duduk bersandar dengan nampan sarapan di overbed table. Suasana terasa lebih hidup dibanding semalam. Aroma kaldu hangat memenuhi udara, bercampur bau antiseptik yang entah kenapa terasa lebih lembut hari ini. Nagi telah kembali ke dorm untuk beristirahat. Banri menjemputnya seraya membawa kabar tentang konser semalam yang berakhir baik-baik saja karena mereka berhasil menenangkan penonton. Anggota IDOLiSH7 yang lain masih beristirahat di dorm, dan Banri erta Tsumugi memang sengaja tidak membolehkan mereka menjenguk Riku terlebih dahulu. Mereka juga harus istirahat. Tsumugi tersenyum lega melihat rona tipis di pipi Riku, meski selang oksigen masih bertengger di hidungnya. "Kelihatannya kamu sudah lebih baik, ya," katanya pelan sambil menuang teh hangat. Riku mengangguk kecil. "Sedikit. Masih berat kalau menarik napas panjang, tapi... setidaknya aku tak pusing lagi. Maaf, Tsumugi-san. Semua jadi berantakan, karena aku" “Tidak ada yang perlu dimaafkan karena tak ada kesalahan disini, Riku. Jangan bebani pikiranmu dengan hal-hal negative dulu, ya?” “Tapi konsernya pasti kacau, gara-gara aku” “Riku-san, dengar,” suara Tsumugi terdengar lebih berat dari sebelumnya. Ia meletakkan cangkir teh, lalu duduk lebih dekat ke ranjang. “Kalau kamu terus mengatakan ini semua salahmu… baiklah. Aku akan jujur.” Riku terdiam. Jari-jarinya mencengkeram selimut tipis. “Kamu memang salah,” lanjut Tsumugi, lembut tapi tegas. “Tapi bukan karena konsernya berantakan. Bukan karena kamu jatuh di atas panggung.” Riku mengangkat wajahnya sedikit, bingung. “Kamu salah karena menyembunyikan kondisimu. Dari aku. Dari Banri-san. Dari semua orang yang setiap hari berdiri di sisimu.” Ruangan menjadi hening. Mesin kecil di samping ranjang berdengung pelan. “Kami ini tim, Riku. Keluarga. Kalau kamu kesakitan dan memilih menanggungnya sendirian… itu yang menyakiti kami.” Napas Riku tersendat. Selang oksigen bergetar halus mengikuti ritmenya. “Tapi konsernya—” “Tidak hancur,” potong Tsumugi cepat. Matanya berkaca-kaca, tapi suaranya stabil. “Ketika kamu tetap berdiri di bait terakhir itu, meski suaramu gemetar… para penonton tidak marah. Mereka menangis. Mereka meneriakkan namamu bukan karena kecewa, tapi karena mereka tahu kamu sudah memberikan segalanya.” Riku membeku. “Fans tidak melihat kegagalan,” lanjutnya pelan. “Mereka melihat ketulusanmu. Mereka melihat seorang center yang tetap bernyanyi sampai tubuhnya tak lagi sanggup.” Tsumugi tersenyum tipis. “Dan kau tahu? Setelah kamu dibawa turun panggung, seluruh arena meneriakkan ‘Riku, arigatou.’” Kata-kata itu jatuh pelan, seperti salju pertama. Bahu Riku bergetar. Setetes air mata jatuh ke punggung tangannya. “Aku… hanya tidak ingin mengecewakan siapa pun,” bisiknya serak. “Kamu tidak mengecewakan siapa pun,” jawab Tsumugi. “Tapi kamu harus belajar bahwa menjadi kuat bukan berarti diam. Kami ingin kamu bersinar… bukan terbakar sendirian.” Sunyi kembali menyelimuti ruangan. Riku menunduk. Rambut merahnya menutupi sebagian wajahnya. Bahunya naik turun pelan. Lalu ia mengangkat kepala. Air mata masih menggantung di sudut matanya, tapi senyumnya muncul. Bukan senyum panggung. Bukan senyum yang dipaksakan. Senyum kecil. Jujur. Terang. “Terima kasih… Tsumugi-san.” Cahayanya lembut, tapi begitu tulus hingga membuat d**a Tsumugi menghangat. Seolah ada sesuatu yang bersinar dari dalam dirinya sendiri, bukan dari lampu mana pun. *** Pintu ruang rawat terbuka pelan, lalu muncul sosok yang membawa dua kantong kertas berisi sarapan. "Hei, pasien manja, biasanya kau akan meminta omurice dariku, Riku?" Suara riang itu milik Mitsuki, yang muncul bersama Iori dan Yamato di belakangnya. Riku tersenyum cerah, refleks. "Mitsuki-san... omuricemu selalu juara, tapi sepertinya hari ini aku harus melewatkannya terlebih dahulu" "Oh, maafkan aku. Dr. Naru pasti belum membolehkanmu untuk memakan makanan berat, ya…" Riku terkekeh kecil, suaranya masih lemah namun berisi kehangatan, "Tenggorokanku tak cukup kuat untuk saus tomat legendarismu, Mistuki" Tsumugi menahan tawa, sementara Yamato yang sejak datang duduk di kursi dekat aranjang pembaringan Riku menoleh sambil menautkan alis. "Aku merasa tersaingi, Mitsuki-san. Apa aku juga perlu belajar membuat omurice untuk mendapat senyum seperti itu?" "Berhenti jadi kompetitif bahkan untuk hal begini, Pak Tua!" Mitsuki mencibir, membuat Riku tertawa kecil — tawa yang cepat berubah menjadi batuk tertahan. Tsumugi segera mendekat, menepuk lembut punggung Riku sampai napasnya kembali stabil. "Pelan-pelan saja. Tidak perlu memaksakan bicara." "Mm... maaf, Tsumugi-san." Keheningan kecil menurun setelah tawa mereda. Hanya suara detak jarum jam yang terdengar, sebelum akhirnya Iori membuka suara. "Ikut senang melihatmu sudah lebih baik," katanya datar, tapi matanya menatap lurus ke arah Riku. "Ah, Iori. Hari ini kau tidak sekolah?" tanya Riku sambil tersenyum. "Tidak. Aku meminta izin. Ada hal yang perlu disampaikan." Nada suaranya berubah — terlalu tenang, terlalu pasti. Mitsuki yang semula sedang menata kantong sarapan langsung berhenti bergerak. Tsumugi menoleh cepat, sedikit terkejut oleh perubahan nada itu. Sementara Yamato, yang biasanya selalu punya komentar ringan, hanya terdiam. "Apa maksudmu, Iori?" Iori melangkah mendekat, suaranya tetap tenang tapi mengandung ketegasan yang menusuk. "Mumpung manajer di sini, aku ingin menyampaikan pendapatku. Untuk sementara... aku yang akan menjadi center di konser kolaborasi nanti." Kata-kata itu jatuh begitu saja, datar namun berat. Suasana ruangan seketika membeku. Tsumugi spontan menatap Riku, yang kini terpaku tanpa suara. Mitsuki membulatkan mata, sementara Yamato menghela napas tanpa sadar. Riku berusaha tersenyum, walau matanya kehilangan sedikit cahaya. "Jadi begitu, ya..." suaranya pelan sekali, nyaris berbisik. Iori tak menatap langsung, tapi nada bicaranya tak berubah. "Kau masih dalam masa pemulihan. Aku hanya ingin memastikan semuanya berjalan tanpa resiko. Aku harap kau mengerti." Tsumugi buru-buru menengahi. "Baiklah, sepertinya hal ini sebaiknya dibicarakan nanti saja. Riku belum benar-benar pulih, dan kita tidak ingin menambah bebannya." Yamato menimpali lembut, "Benar. Kita semua tahu niat Iori hanya untuk menjaga. Tapi waktu untuk membahasnya... bukan sekarang." Iori diam, tapi tidak membantah. Ia menunduk sedikit, lalu berbalik menuju pintu tanpa menatap siapa pun. Riku menatap punggungnya perlahan, tersenyum samar. "Iori... terima kasih sudah memikirkan semuanya." Tidak ada balasan. Yang tersisa hanyalah keheningan yang menggantung lama— keheningan yang, entah kenapa, terasa jauh lebih menyakitkan daripada kata-kata apa pun. Iori berjalan keluar ruangan. Bukan untuk kabur setelah memberi ultimatum seperti itu, tapi untuk menstabilkan dirinya sendiri, yang sebenarnya merasa dilema mengatakannya di saat seperti ini. Ia hanya ingin melindungi semuanya. Melindungi fans, melindungi masa depan IDOLiSH7, dn tentunya melindungi Riku. Apakah ia terlalu tidak tau diri hingga mengatakan hal itu bahkan saat Riku sakit? Bukan, bukan maksudnya untuk menambah beban pikiran. Ia ingin Riku menyadari batasannya sendiri. Tapi mungkin, caranya terlalu menyakitkan untuk seseorang selembut Riku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD