Luke membungkukan badannya, gigi taringnya terlihat dan badannya mulai membesar diiringi dengan bulu-bulu halus yang muncul di seluruh tubuhnya. Wujud Luke sdah berubah menjadi seekor serigala yang besarnya seukuran dengan bus sekolahannya dahulu. Luke menggertakan taringnya sembari mengamati semak-semak belukar yang ada di hadapannya, Anasthasiaa berdiri di belakang Luke sembari memegang batu-batu magis yang diberikan oleh Nyonya Hudston, meskipun ia tidak tahu bagaimana cara kerja dan apa kekuatan dari batu-batu tersebut, namun Anasthasia masih menyimpan harapan besar bahwa batu-batu pemberian Anasthasia akan dapat menolong mereka dalam situasi yang darurat.
Tanah di sekitar merea bergetar, bahkan tubuh Anasthasia hmpir terjatuh ke tanah akibat getaran tersebut, Anasthasia langsung menyadari bahwa mahluk yang akan mereka hadapi adalah raksasa yang ukurannya melebihi Lukke, apa mungkin laba-laba raksasa seperti sebelumnya?
Anasthasia bersembunyi di balik pepohonan, sedangkan Luke tetap di tempatnya dalam posisi siaga, tanah yang mereka pijak semakin bergetar dengan kuat hingga Anasthasia harus memegang erat batang pohon yang ada di hadapannya
HOOOOAM
Sebuah suara kantuk terdengar, suara kantuk yang begitu keras hingga telinga Anasthasia terasa akan tuli saat itu juga, Anasthasia menutup telinganya rapat-rapat, begitupula dengan Luke yang menjatuhkan kepalanya ket tanah lalu menutup telinganya dengan kedua kaki depannya. Anasthasia membuka sebalah matanya dan melihat ke langit, nampak sebuah kepala batu berwarna abu gelap sedang mengua dan memandang sekitar dengan bosan "TROLL?" gumam Anasthasia tak percaya, setahunya bahwa para troll hanya akan berada di daerah pegunungan dan dekat air terjun, mengapa ada troll di hutan itu? Anasthasia jadi meragukan akan kebenaran dari buku mitologi yang ia baca di ruangan baca pamannya dahulu.
"PSSST... PSSST" Anasthasia berdesis mencoba untuk memberikan kode pada Luke, baru saja luke akan menengok ke arahnya, wajah troll tersebut malah lebih cepat mendhahului Luke.
Troll memicingkan matanya sembari memiringkan kepalanya, mengamati Anasthasia "Si-apa-ka-u?" ujar troll tersebut dengan suaranya yang memikikan telinga. Anasthasia hanya bediam diri, tidak bergerak ataupun mmenjawab meskipun ia sendiri tahu bahwa pertanyaan tersebut ditujukan padanya.
Luke mencoba untuk mengangkat tubuhnya selagi troll tersebut hanya berdiam diri di tempat dan tidak membuat tanah di sekitar bergetar. Luke menghampiri Anasthasia, lalu menggertakan tring-taringnya ke arah troll di hadapannya seolah ia ingin menunjukan bahwa ia akan melindungi Anasthasia dengan baik.
"Aku rasa troll tersebut tidaklah jahat" ujar Anasthasia, asal menebak.
Luke mengedarkan pandangan kesal pada Anasthasia, pasalnya gadis di hadapannya itu sama sekali tidak tahu bahwa troll adalah mahluk yang ambisius dan tidak akan melepaskan mangsanya begitu saja.
Luke menggerakan kepalanya ke belakang, matanya mengarah ke punggungnya, ia membungkukan tubuh, meminta Anasthasia untuk naik punggungnya yang berbulu lebat, ia pun menuruti, jika rencana lUke adalah untuk membawa dirinyakabur menjauhi troll secepat kilat maka Anasthasia akan sangat setuju.
"Kau siapa?' tanya troll itu lagi sembari mengernyitkan dahinya. Luke berdiri, ia melompat dan berlari menjauhi troll tersebut, berlari tanpa arah, yang jelas ia sudah bertekad untuk mencari dan membawa Sofia kembali.
"Apa tidak masalah jika kita meninggalkan troll itu disana sendirian?" tanya Anasthasia.
Anasthasia memukul kepalanya beberapa kali, ia merasa bodoh karena telah mengajak serigala berbicara.
Luke akhirnya berhenti saat ia melihat sebuah pemukiman di sekitar hutan yang mereka datangi, rumput ilalang berwarna emas dengan daun lily puti yang nampak indah membuat desa kecil tersebut terlihat megah, beberapa penghuni berumur tujuh tahun sedang berlatih untuk menembakan anak panah tepat sasaran, dan beberapa penduduk dewasa pria sedang memotong kayu bakar, sedangkan dewasa wanita menyiapkan makan malam untuk kelompok kecil mereka.
Luke merubah wujudnya kembali sebagai manusia, Dadanya telajang dan rambutnya nampak berantakan "Ayo" ajak Luke, Anasthasia langsung mencengkeram tangan Luke agar ia tidak bisa mengambil langkah baru untuk mendekati desa di hadapan mereka dengan keadaan luke yang hanya mengenakan pakaian dalam saja, alih-alih akan diberikan tempat tinggal, para penduduk desa pasti akan langsung mengusir luke karena mengnaggapnya sebagai orang m***m, setidaknya itulah yang dipikirkan oleh Anasthasia.
"Berhentilah menjadi pengecut Anasthasia. Aku tidak tahu apa yang sedang kau pikirkan saat ini, namun asal kau tahu saja ya bahwa datang dan menghampiri mereka yang disana akan jauh lebih bagus dibanding mereka hanya berdiam diri dan mengamati mereka perihal kericuhan yang akan terjadi.
Luke menepiskan cengkeraman tangan Anasthasia lalu ia berjalan menghampiri desa kecil yang sedang dikerumuni oleh para penduduknya yang berjumlah sedikit. Kemunculan Luke dengan mengenakan pakaia dalam saja berhasil menarik perhatian para penduduk disana, mereka terus memandangi Luke sembari bertanya-tanya siapa dia. Penduduk yang masih anak-anak berlarian menjauhi Luke dan menghampiri para ibu, mereka memeluk kaki sang Ibu sembari bergetar ketakutan, sedangkan ibu mereka membalas pelukan tersebut dan menenangkannya dengan usapan lembut.
Sang ketua penduduk yang mengenakan mahkota bundar dengan bulu-bulu hewan menghiasi tersebut mendatangi Luke dengan wajahnya yang garang, bibirnya berwarna hitam dan kering "Siapa kau dan ada keperluan apa datang kemari?" ujar ketua kelompok penduduk tersebut."Aku Luke" balas Luke sembari menyodorkan tangannya, namun uluran tangannya tersebut tidak mendapat sambutan. Luke segera menurunkan kembali tangannya lalu melirik ke arah Anasthasia "Dan dia adalah Anasthasia, anak dari mendiang ratu Valencia" ujar Luke lagi. Mata penduduk itu pun langsung membesar, mengarah pada Anasthasia yang baru saja keluar dari balik semak-semak akibat namanya dipanggil oleh Luke. Riuh suara terdengar dari para penduduk yang mempertanyakan kebenaran dari ucapan Luke.
"Apa ucapanmu itu benar?" tanya si ketua penduduk.
Luke mengangguk dengan yakin, "Au melihat masa lalunya yaang berada dalam pelukan mendiang Ratu Valencia" ujar Luke. Anasthasia memasang senyuman ramahnya yang nampak terpaksa dan membuat para penduduk anak-anak merasa takut.
Luke menggelengkan kepalanya, ia merasa Anashasia tidak akan mampu menarik minat para penduduk terhadapnya, terlebih lagi gadis itu belum menguasai satupun ilmu sihir, jadi akan sulit untuk membuktikan diri bahwa ia adalah anak Puteri Ratu Valencia yang mereka nantikan.
"Aku bisa melihat sosok Ratu Valencia melalui bola matanya" timpal seorang kakek tua yang bergerak maju menghampiri, ia tak melepaskan pandangannya sedikit pun pada Anasthasia "Kau pasti memang benar orang itu, hanya saja aku tidak bisa merasakan aura dari kekuatan yang kau miliki, apakah mungkin... kau tidak mewarisi kekuatan orang tuamu?" ujar lelaki tua yang baru saja datang, Luke mengepal tangannya dengan erat karena kesal atas ucapan yang baru saja ia dengar.
"Bagaimana aku tahu bahwa aku mewarisinya atau tidak, jika aku belum pernah menghabisi monster disini dengan kekuatanku murni" balas Anasthasia dengan wajahnya yang datar.