Kedatangan Luke

1007 Words
Hans membelalakan matanya, ia terlihat begitu terkejut sekaligus tidak percaya akan ada sosok luke di hadapannya padahal menurut Ntonya Hudston sendiri, Luke tidak akan datang untuk menjenguk mereka selagi mereka sedang berlatih. "Dimana dia?" tanya Luke dengan suaranya yang bass, peluh keringat terlihat di tubuhnya. "Si-siapa maksudu?" tanya Hans terlihat ggup. Luke memutar ke dua bola matanya "Ya, wanita muda bernama Anasthasia itu" ujar Luke kemudian, Hans baru mengerti, lalu ia pun menunjukan tempat berlatih Anasthasia yang letanya berbatasan dengan hutan Valendis. Luke berlari mennghampiri Anasthasia, dilihatnya dia sedang mengayunka tongkat sihirnya berkali-kali namun tidak ada sihir yang keluar dari tongkat yang dipegangnya. "Siapa yang mengajari da semua dasar ilmu sihir yang harus dihadapi?" tanya Lukke dengan geram, saat ituloh Nyonya Hudston menunjukan dirinya melalui penampilan palsunya melalui latihan yang harus dilakukan oleh Anasthasia. "Aku tidak mengakui anak itu, kau sendiri tidak suka ditahan-tahan bukan?" ujar Luke secara langsung, menarik emosi Nyonya Hudston untuk tetap melindungi Anassthasia nanti "Ya, anggaplah begitu tapi sekarang semua hal tentangnya bukanlah urusanmu lagi" balas Nyonya Hudston sembari mengalihkan pandangannnya ke arah Anasthasia. "Tuan Puteri Anasthasia" panggilnya dan Anasthasia pun langsung menengok dengan perasaan yang bercmpur aduk, napasnyanaik turun dengan rime yang tidak seimbang "Kau harus makan dulu baru bisa melanjutkan latihan" ujar Nyonya Hudston kemudian, Anasthasia teringat akan makanan yang nampak tidak enak tersebut "Hmmm aku lebih ska belajar sihir disini lebih lama lagi Nyonya" ujar Anasthasia "Hm tidak, tidak boleh begitu, jiika tetap diteruskan lagi makatubuhmu tidak akan sanggup menahannya lalu ambruk" uja Nyonya Hudston lagi "Dan lagi... kau harus menemui orang itu, dia menunggumu semnjak tadi" lanjutnya sembari menunjuk ke arah Luke yang sedang bersender pada pepohonan dan tiba-tiba saja pohon yang iagunakkan untuk berteduh itu malah akan lari, ttidak tahu harus meminta maaf kepada siapa lagi, bahkan orang yang ada di sampingnya itu hanya menanyakan keadaannya beerapa kali saja seelumnya. Mata Anasthasia menyipit, ia mengamati orang yang ditunjuk oleh Anasthasia , ia tidak bisa melihat orang itu dengan jelas, namun wajahnya ternyata tidak bisa terlihat "Aku rasa dia harus mengobati orang itu" ujar Anasthasia. Nyonya Hudston nampak sedang berpikir pasalnya ia tidak pernah menolong yang bukan merupakan penyihir dan bagitupun dengan yang lama. Nyonya Hudston mengacak-ngacak rambutnya. "Hm sayang sekali, tapi dia tidak terluka jadi aku tidak prlu mengobatinya" ujar Nyonya Hudston, Anasthasia mengelus lehernya yang tidak terasa gatal, ia merasa malu karena telah salah lihat" pikir Anasthasia, dan pikiran tersebut bisa dibaca oleh Luke seorang hingga membuat lelaki itu merasa terpanggil dirinya. Luke menghampiri Anasthasia "Hei" sapanya. Anasthasia mengamati wajah Luke dan sangat terkejut saat melihat wajah ketua kelas jutek ada di hadapannya "Kau! SEdang apa kau disini? Apakah kau terjebak juga disini?" tanya Anasthasia dengan heboh, luke menggelengkan kepalanya "Aku tidak tahu bahwa kau bisa seheboh ini padahal saat kau datang ke sekolahan itu kau terlihat seperti orag yang sangat pendiam" ujar Luke "Dan kau sejak kapan menyapaku begitu? Disini? Kau sebenarnya apa?" balas Anasthasia, tak menanggapi ucapan Luke sebelumnya. "Ah aku selalu menyapa mereka yang tiba di negeri ini" ujar Valendiis sambil tersenyum palsu. "Kalau memang kau selalu menyaa mereka yang datang ke negeri ini, maka seharusnya yang ku temui adalah kau, bukan Sofia" ujar Anasthasia sambil tertawa sinis. "Sofia... oh iya peri penjaga itu, jadi dimana Sofia sekarang?" tanya Luke, "Pantas saja para monster bermunculan di dunia manusia ternyaa karena portalnya tidak ada yang menjaga ya" lanjut Luke lagi, wajahnya sekarang brubah menjadi kalut seolah ia sedang memikirkan sesuatu. "Kau sudah mencarinya?" tanya Luke lagi "Aku berniat untuk mencarinya, itulah mengapa aku menjalani latihan har ini' balas Anasthasia, Luke mengangguk mengerti, "Undur latihanmu lalu kita segerakan mencari Sofia" ujar Luke lagi "Apa maksdumu, kenapa harus secepat itu?" tanya Anasthasia penasaran "Karena dunimu sekarang sedang hancur, tidak karuan akibat para monster yang terus berdatangan, kita harus segera menemukan Anasthasia agar bisa menuup portal penghubung dan mencegah kerusaka parah lebih lanjut" jelas Luke. Anasthasia penasara seperti apa dunianya saat ini terlebih lagi ketika Luke mengatakan bahwa dunianya hancur. "Nyonya, bagaimana menurutmu?" tanya Anasthasia pda nyonya Hudston. Wanita paruh bayaitu menghela napasnya dengan berat lalu ia memberikan anasthasia sekantong kecil bebatuan dengan warna dan corak yang berbeda, "Pergilah dan lindungilah dirimu dengan batu-batu itu, mereka memiliki kekuatan yang berbeda namun kesemuanya adalh kekuatan untuk melindungi, prgunakanlah dengan baik" ujar Nyonya Hudston. Anasthasia terlihat sedikit kesal, pasalnya Anasthasia sama sekali tidak ingin Nyonya Hudston mengizinkannya untuk pergi dan mencari Sofia. Anathasa mengerucutkan bibirnya, ia kesal, namun dia bisa menerimanya dengan lapang d**a, Anasthasia memeluk Nyonya Hudston lalu memaksakan diri untuk tersenyum di tengah perpisahan yang mereka hadapi. "Do'akan aku agar selamat Nyonya" ujar Anasthasia dengan raut wajah yang sedih, Nyonya HUdston tersenyum dengan lebar "Percayalah bahwa kau akan selamat karena kau memiliki Luke di sampingmu" ujar Nyonya Hudston. Anasthasia lagi-lagi hanya tersenyum kecil lalu melamabaikan tangan seirama dengan langkah kaki yang semakin menjauh dari Nyonya HUdston. ***** Luke dan Nyonya Hudston pergi ke arah Barat laut hutan, sudah setengah hari mereka berjalan dan Anasthasia tidak menemukan apapun yang membahayakan "SEpertinya perjalanan ini akan mudah karena tidak ada monster yang muncul" ujar Anasthasia sambil tersenyum seorang diri "Itu artinya keadaan duniamu semakin gawat karena para monster di hutan ini tidak ada bukan karena mereka musnah dari hutan ini, mlainkan mereka bergerak membuat kekacauan di daerahmu. Mata Anasthasia membelalak, ia jadi merasa takut akan ucapan dari Luke "Kalau begitu lebih baik kita menghabisi para monster itu." ujar Anasthasia, Luke meringis "KIta? Mungkin yang kau maksud adalah aku sendiri karena kau kan sedang tidak bisa menggunakan kemampuan sihirmu" balas Luke. "Kau hanya akan menjadi beban dalam pertarungan, untuk itu lebih baik jika kita mencari Sofia llau memintnya untuk langsung menutup portal" lanjut Luke. Anasthasia menghela napas, ia tak mampu memberontak, semua perkataan Luke terdengar benar dan membuat perasaannya tidak tenang "SSSST" Tiba-tiba saja Luke menghentikan langkah kakinya dan membuat Anasthasia berdesis penuh dengan tanda tanya di dalamnya "ADa apa? Apa kau merasakna hal buruk akan terjadi?" tanya Anasthasia kemudian, Luke menggelengkan kepanya "Tidak ada siapapun, hanya saja hawa ini terasa dingin seperti seseorang yang jahat ada di depan sana" balas Luke.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD