Dion

1007 Words
"Apakah terdapat naga di desa lain yang menghilang?" tanya Luke pada Nyonya Hudston. Nyonya Hudston menghela napasnya dengan berat sembari menggengam telapak tanfannya sendiri di atas meja teras halamannya yang mengarah ke tempat Anasthasia melakukan latihan, Nyonya Hudston memperhatikan Anasthasia, sudah beberapa kali gadis itu mengayunkan tongkatnya mencoba memecahkan batu atau pepohonan hingga tepat sasaran namun hasilnya nihil, Anasthasia tidak pernah bisa melakukannya hingga saat itu "Ya, ada beberapa naga yang hilang di beberapa desa, dan sudah pasti akan diapakan naga-naga yang mmereka curi itu." Nyonya HUdson menatap wajah Luke dengan dalam "Luke..." panggilnya lirih. Luke seketika mengangkat wajahnya dan balas mnatap Nyonya Hudston, tersirat ketakutan di mata tua milik Nyonya HUdston "Kau pasti sangat mencemaskannya an takut bahwa ia tidak akan bisa memimpin peperangan, kan?" tanya Luke, menebak. Nyonya HUdston menggelengkan kepalasembari menutup matanya "Bukan begitu Luke, aku hanya belum merasakan keingin membunuh atau mengalahkan dari gadis itu, kau tahu kan bahwa perasaan semacam itu adalah hal yang sangat berpengaruh dalam perang?" ujar Nyonya Hudston "Ya, kalau begitu kita hanya perlu memberikan motivasi padanya, mungkin kita bisa membawa pamannya dan menjadikannya sanderaan" balas LUke sembari tertawa kecil PLAAAATAK Kepala luke seketika dipkul oleh tangan keriput Nyonya udston "Kau tidak boleh melakukan hal yang kasar terhadap seorang puteri" balas nyonya Hudston. Luke terkekeh "Aku hanya bercanda" balsnya ***** "Hei," panggil Luke, Anasthasia berhenti mengayunkan tongkatnya, ia mennegok ke arah sumber suara, Luke dengan d**a bidangnya yang begitu mempesona, membuat wajah Anasthasia menjadi bersemu merah "Kau seharusnya memakai baju, kaos atau jubahmu di cuaca yang dingin seperti ini" ujar Anasthasia, gugup. Luke manatap dirinya sendiri, iamerasa tak ada yang salah dengan dirinya "Hmmm memangnya kenapa? Aku selalu merasakan hangat di tubuhku karena aku adalah manusia serigala, lebih baik kau khawatirkan saja dirimu sendiri karena jika kau belum juga bisa mengasah kemampuan sihirmu maka kau akan diharuskan untuk tetap tinggal disini karena tidak ada yang bisa membukakan pintu portal untukmu" ujar Luke. "Haaah" Anasthasia menghela napasnya dengan nelangsa "Aku harus bagaimana agar kekuatanku bisa berkembang dengna cepat?" tanya Anasthasia seorang diri "Kau haus mengisinya dengan makanan yang berasal dari duni ini, rsakan lah energi alamanya dan--" "Luke, apakah di sekolah ada yang tahu bahwa kau menjalani kehidupan dua dunia seperti ini?" tanya Anasthasia memotong ucapan Luke. Luke tertawa dengan keras "Kenapa juga mreka perlu tahu? Tidak ada yang tertarik dengn kehidupanku di duniamu, aku benar-benar tidak suka karena mereka harus menjadi manusia yang tidak berperasaan pada sekitar, padahal manusia menjadi istimewa karena perasaan yang dimiliki olehnya" ujar Luke. Anasthasia menghela napas panjang. "IKutlah denganku ke dalam huta Anasthasia, kau harus mengembangkan kekuatan dalam dirimu dengan langsung terjun melawan para monster yang ada di dalam hutan disana" ujar Luke. Anasthasia menggelengkan kepalanya dengan mantap "TIdak, aku sama sekali tidakk ingin masuk ke hutan itu apalagi melawan monster katamu? Yang ku inginkan adalha pulang kembali ke rumah dan bertemu dengan pamanku, bukan menjadi penyiir ulung. Itu semua adalah keinginanmu bukan aku LUke!" balas Anasthasia sembari berlalu pergi. Udara terasa semakin dingin menusuk, Anasthasia memeluk dirinya sendiri dengan kedua tangannya lalu masuk ke dalam rumah nyonya HUdston yang hangat. ***** Dion sibuk membaca buku di dalam rumahnya, wajahnya yang tampan terlihat begitu menawan saat melihat isi bacaan yang dibaca olehnya. BRAAAAK Dion langsung terperanjat kaget kala sebuah suara dentuman keras dari pintu yang dibanting terdengar secara tiba-tiba. Dion menutup bukunya lalu beridri, ia mengambil langkah cepat untuk mencapai ruang depan dari rumahnya yang begitu luas. Dion mndapati sosok Betsy bersama dengan saudara kembangnya tengah sibuk beradu mulut. "Untuk apa kalian datang kemari?" tanya Dion secara langsung. Betsy mengatupkan mulutnya lalu enjentikkan jarinya dan seketika Dion bergerak ke arahnya s esuai dengan apa yang dipikirkan oleh Betsy. "Hei Dion, sepertinya kau semakin bertambah tampan saja tiap harinya" ujar betsy sembari berdesis seperti ula, matanya yang hijau mengamati Dion dengan seksama, ular dari balik jubah Betsy keluar lalu ikut memandangi Dion yang nampak begitu tenang. Betsy tertwa dengan keras "Kau mau tahu apa yang dikatakan olehh ularku Dion?" tanya Betsy secara riba-tiba. "TIdak" balas Dion dengan singkat, ia sama sekali tidak tertarik dengan isi pikiran dari ular bodoh yang selalu menempel pada Betsy. Betsy lagi-lagi tertawa dengan keras "Ya mau bagaimanapun sikapmu sekarang, kau pasti akan sangat senang karena pada akhirnya aku berhasil menemukan dan mengumpulkan banyak naga dari berbagai desa" ujar Betsy. Dion hanya menoleh sedikit ke arah Betsy "Aku tidak peduli" balas Dion sembari memejamkan matanya, ia memusatkan pikirannya llau urat-urat di tubuhnya muncul dan menonjol ke permukaan kulitnya, mata Dion berubah wenjadi warna putih ke abuan, ia berdiai lalu merentangakan tangannya ke samping dan sihir Betsy pun tidak berpengaruh lagi padanya "Aku ingi menemui ayahku, apa kalian ingin ikut?" tanya Dion namun Betsy secara refleks menggelengkan kepalanya "Tidak, aku belum berani dengan yang mulia raja Villian disaat misi yang ia berikan belum juga selelsai" balas Betsy dengan sedih. Dion menoleh ke arah Alex yang semenjak tadi hanya berdiam diri seperti seseorang yang sedang brsedih "Kau sendiri bagaimanaAlex? Apakah kau juga samaseperti sadari kembarmu?" tanya Dion kemudian. Mata Alex langsung menyipit, ia menatap Dion dengan kesal "Tentu saja kita berdua berbeda, dan kau pun dengan kami adalah mahluk yang berbeda, jadi kenapa aku harus menuruti perkataanmu hah?" ujar Alex sambil mengepalkan tangannya, gram. Dion tertawa kecil "Tentu saja karena ayahku adalha Raja iblis sekaligus pimpinan ayahku langsung, mungkin kau bisa saja tiak menurut padaku karena menganggapku lemah, bukankah begitu?" ujar Dion sambil tersenyum dengan ngeri, ia berjalan pergi menjauhi Alex dan Betsy "Aku titpkan rumah ini pada kalian ya" ujar Dion sebelum akhirnya ia menghilag dari hadapan Betsy dan juga Alex. "Apakah itu kekuatan seorang immortal? Berpindah kemanapun dengan cepat?" gumam Betsy Alex nampak kesal saat melihat saudara kembarnya itu terus-terusan mengagum Dion padahal mereka berdua tidak memiliki hubungan apapun. "Kau harus berlatih untuk menahan gerak wajahmu Be, karena perasaanmu nampak jelas dari wajahmu hingga lwan bisa saja dengan mudah menerobos dinding dan membac pikiranmu itu" ujar Alex Betsy memalingkan wajahnya kesal sambil menyilangkan tangan di daddanya "Aku tidak peduli, toh lawan kita lebih lemah dari pada diriku" balas Betsy dengan angkuh
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD