Mempelajari Ilmu Sihir

1024 Words
Anasthasia memejamkan matanya, ia menarik napas dan menghembuskannya berulang kali, memusatkan pikirannya pada satu hal yaitu energi alam. Sudah satu jam lamanya ia berdiam diri di padang rumput belakang rumah Nyonya Hudston, suasana sangat tenang, ia seakan bisa mendengarkan suara angin dan aliran darahnya. Nyonya Hudston memintanya untuk mendapatkan konsentrasi dan mencoba sihirnya pada sebongkah batu seukuran mobil paman Gothe yang menjadi pembatas ntara padang rumput dengan bukit yang ada di belakang rumah Nyonya Hudston. Pikiran Anasthasi menjadi kosong, ia tidak memikirkan apapun, begitupula dengan perasannya yang tidak merasakan apapun, kekecewaannya, ingatan tentang pamannya, semuanya menghilang begitu saja seolah semua itu tidak pernah ada. Saat itulah Anasthasia merasa yakin akan kekuatan yang ada pada dirinya sendiri, seolah energi baru masuk ke dalam dirinya dan mengendalikan pikirannya. Anasthasia membuka mata, dan menatap tajam bongkahan batu besar yang ada di depan "Perdere" gumam Anasthasia. BOOOOM! Seketika bongkahan batu itu pun hancur menjadi puing-puing kerikil yang berserakan ke segala arah. Para Vileta, yaitu sejenis burung pemakan permen berwarna biru muda berterbangan dari atas pohon Perkusi. Terkaget dengan suara ledakan yang muncul. Luke dan Nyonya Hudston berlari dari dalam rumah, mereka menghampiri Anasthasia yang sedang tersenyum puas melihat usahanya membuahkan hasil. Anasthasia membalikan badannya saat mendengar derap langkah kaki yang datang. "Kalian lihat itu!" Ujar Anasthasia sembari menunjuk ke arah tempat dimana bongkahan batu yang menjadi targetnya itu meledak. "Aku berhasil Luke! Aku berhasil meledakan batu itu dengan sihirku!" Ujar Anasthasia kegirangam, bola matanya nampak berbinar, ia berlari ke arah Luke dan Nyonya Hudston lalu memeluk mereka. "Aku sangat senang!" Ujar Anasthasia lagi. Nyonya Hudston menepuk punggung Anasthasia dengan lembut, ia ikut bahagia melihat kemajuan yang telah berhasil didapatkan oleh Anasthasia. "Aku ikut senang melihatnya Tuan Puteri. Namun, latihanmu masih panjang. Kau harus mempelajari mantra penyembuhan, perpindahan tempat, penyamaran, dan pengaturan cahaya, masih begitu banyak harus kau pelajari" ujar Nyonya Hudston. Anasthasia melepaskan pelukannya, perkataan Nyonya Hudston langsung membuatnya kembali lemas. Mempelajari satu sihir saja sudah sangat sulit, apalagi banyak, puluhan, atau bahkan ratusan! Mengingat ketebalan dari kitab sihir yang diberikan padanya saja sudah bisa membuat Anasthasia tahu tentang betapa banyaknya sihir yang harus ia kuasai sebagai calon pemimpin para penyihir di Negeri Valendis. "Terimakasih karena sudah mengingatkanku, Nyonya Hudston. Tapi, alangkah baiknya jika kita merayakan keberhasilanku sekarang!" Ujar Anasthasia. "Tidak. Ini terlalu awal untuk melakukan perayaan. Asal kau tahu saja, ilmu sihir yang baru sajq kau kuasai itu adalah ilmu dari sihir dasar yang sudah dikuasai oleh para balita di Valendis. Mana bisa kami merayakan keberhasilanmu dalam melakukan sihir sederhana seperti itu. Terlebih lagi, lihatlah!" Luke menunjuk sebatang pohon yang ambruk. "Kau menghancurkan pohon di sekitar batu, itu artinya sihirmu belum stabil. Jika ini adalah peperangan, maka kau bisa saja membahayakan kawanmu yang ada di dekat lawan," jelas Luke. Semangat Anasthasia langsung pudar begitu saja. Ucapan Luke yang selalu blak-blakan itu sungguh membuat harga diriny terluka, meskipun begitu ucapan Luke memanglah benar. Terlalu dini untuk merasa bangga dan merayakan pencapaiannya. "Sudahlah. Sudah! Lagipula Puteri Anasthasia sudah sangat bekerja keras, jadi sebaiknya kita beristirahat sebentar, kebetulan saja aku sudah membuatkan kue dari buah Astrougus, kau pasti akan suka, Puteri!" Ucap Anasthasia. "Buah Astrougus?" Tanya Anasthasia. Lagi-lagi ia mendengar istilah asing di telinganya, ia bahkan belum berhasil mengingat nama-nama hewan di Valendis, kini dia masih harus mengingat nama-nama buah dan tanamannya. Memikirkannya saja sudah membuat Anasthasia kelelahan. Anasthasia menghela napas, "Haaaah. Buah macam apa lagi itu?" Tanya Anasthasia. Nyonya Hudston tersenyum. Ia menggenggam tangan Anasthasia dan Luke "Relinquere" ucapnya. Seketika mereka bertiga sudah tiba di dapur rumah Nyonya Hudston. Wangi asam langsung tercium oleh hidungnya. Nyonya Hudston berjalan menghampiri meja makan, ia memotong sebuah kue dan membaginya pad beberapa piring kecil. Lalu ia menghampiri Luke dan Anasthasia lagi yang masih berdiri di ambang pintu. Nyonya Hudston menyerahkan piring berisikan potongan kue "Ini dia kue yang ku buat, makanlah! Kue ini bisa mengembalikan tenaga kalian yang telah hilang," ucap Nyonya Hudston. Anasthasia mendekatkan kue itu ke wajahnya, ia langsung mengernyit, bau asam itu ternyata berasal dari kue yang dibuat oleh Nyonya Hudston. Ansthasia langsung merasa mual dan tak berselera makan. "Aku tidak bisa memakannya" ucap Anasthasia. Nyonya Hudston nampak kecewa dengan ucapan Anasthasia "Mengapa? Apa Puteri Anasthasia tidak menyukai makanan buatanku? Dari kemarin nampaknya Puteri tidak menyentuh makanan yang ku buat sedikitpun," ujar Nyonya Hudston. "Dia hanya belum terbiasa dengan makanan disini. Jika dia lapar pun pasti akan langsung memakannya tanpa mempedulikan lagi perihal selera makan," timpal Luke sembari mengunyah kue buatan Nyonya Hudston dengan lahap. Anasthasia mengamati Luke. Bisa-bisanya Luke makan dengan lahap di saat dirinya sedang kelelahan. Batin Anasthasia. Meskipun begitu, Anasthasia berterimakasih pada Luke karena mau berbaik hati memberikan alasan yang masuk akal pada Nyonya Hudston. "Bernarkah begitu Puteri? Jika benar, maka ini adalah situasi yang gawat," ujar Nyonya Hudston. Anasthasia mengerutkan dahinya, "Apanya yang gawat?" Tanya Anasthasia. "Tenagamu akan terkuras habis saat menggunakan sihir, jika kau tidak makan, maka energimu akan terserap oleh sihir lalu seketika..." Nyonya Hudston terdiam, ia nampak ragu untuk meneruskan ucapannya. "Seketika kau akan mati, seperti ayahmu," timpal Luke. Nyonya Hudston mencubit Luke, membuatnya mengaduh kesakitan. "Aw, kenapa? Apa aku salah mengatakan kebenarannya?" Ujar Luke. Tak ada yang salah dari ucapan Luke, hanya saja timingnya tidaklah tepat. Sudah ada banyak hal yang dikhawatirkan oleh Anasthasia, dan sekarang ia harus mengkhawatirkan nyawanya lagi hanya karena selera makannya yang hilang selama di Valendis. Sungguh s**l! "Hm kau bisa menggunakan sihir untyk memunculkan makanan yang kau mau, jika kau tidak ingin mati hanya karena menahan lapar. Tapi sayangnya kau belum menguasai ilmu sihir itu. Haaah," ujar Luke. Mata Anasthasia melebar, ia seolah mendapatkan ide dari ucapan Luke barusan. " Hei, kau kan bisa menggunakan sihir itu untukku!" Balas Anasthasia. Luke menggelengkan kepalanya "Tidak. Untuk menggunakan sihir itu, aku harus bisa mengetahui bentuk dan rasa dari makanannya, dan ya kau tahu sendiri bahwa aku belum pernah mencicipi makanan yang ada di dunia manusia" balas Luke. Kali ini Anasthasia yang menghela napas. "Dengan terpaksa aku harus memakan makanan disini jika ingin tetap hidup ya," ujarnya dengan lemas. "Ya tentu saja. Aku sarankan kau mempelajari ilmu sihir penciptaan lebih awal, agar kau bisa menggunakan sihir untuk membuat makanan" balas Luke dengan seepihan kue yang menempel di sekitar mulutnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD