Dia Kekasihku!

1787 Words
Sekali berurusan dengan para mafia, maka selamanya pun akan berada dalam circle mereka. Lebih beruntung jika tak langsung dihabisi tanpa jejak. Itu pula yang Naraya alami saat ini. Baru saja dia lepas dari kandang serigala, kini ia harus masuk ke kandang hewan buas lainnya. Bahkan mungkin bisa jadi lebih mengerikan. Setiap pekan, Black Eagle selalu mengeksekusi 7 sampai belasan orang yang mereka anggap mengganggu. Dan itu pula yang dialami oleh mendiang ayah Naraya. Kini, Naraya sendiri yang terjebak di dalamnya. Marcus membawa Naraya ke markas karena dicurigai setelah kedapatan mengendap dari rumah Rayden. Padahal yang Marcus tahu, Rayden tak pernah mengizinkan orang asing masuk ke dalam kediamannya. Naraya pasrah. Dia yakin kalau hidupnya tak akan lama lagi. Dia terduduk lemas di ruang investigasi di salah satu sudut markas yang luas itu. "Jelaskan siapa dirimu! Jelaskan juga dari A sampai Z kenapa kau keluar mengendap dari rumah Rayden!" tuntut Marcus. Yang Naraya tahu, dia harus segera menjawab pertanyaan itu jika tak ingin dikuliti oleh Marcus. "A-aku ... namaku ...." "Ya! Namamu? Dan dari mana kau datang?" "Namaku Naraya, se-sekitar 1 minggu yang lalu ... aku ...." Naraya agak terbata karena ketegangan itu hampir membunuhnya. Sungguh, Naraya tak akan menyembunyikan identitasnya, tapi part dimana Rayden menjadikannya b***k seks, Naraya tidak yakin. "Ya! Lanjutkan!" "Aku datang ke-ke markas ini untuk ... mencari ayahku yang kabarnya di-diculik oleh beberapa anggota Black Eagle ...." Naraya menundukkan wajahnya tapi Marcus bisa mendengar kata-katanya cukup jelas. "Siapa ayahmu?" "Tora Martin ...." "Sebentar! Tora Martin? Preman Pasar yang membakar salah satu atribut Black Eagle di Pasar ikan beberapa waktu yang lalu?" "Aku tak tahu pastinya apa yang ia lakukan sampai membuat Black Eagle murka ...." GAP! Marcus menarik dagu Naraya dengan kasar dan seketika Naraya terbungkam. Tak ada satu kata pun lagi yang keluar dari bibirnya yang pucat itu. "Berurusan dengan kami, sama artinya dengan menggali kuburan sendiri!" ucap Marcus dengan suara yang tajam dan mengecam. Naraya hanya diam, menikmati setiap detik ketakutan dan ketegangan itu. Entah sampai kapan ini akan berlangsung?! Tahu begini, lebih baik jadi tawanan Rayden selamanya saja dan Naraya menyesali keputusannya untuk kabur. "Tapi ... lumayan juga kau ini! Parasmu cantik ... mungkin aku bisa mempekerjakanmu di Club Kasino milik kami!" Tapi tiba-tiba Marcus agak memuji. "Sepertinya aku tak akan membunuhmu!" lanjutnya dan setitik asa kembali Naraya rasakan walau yang akan terjadi nanti akan sama menyedihkannya. Dijual ke pria-pria penjudi dan pemabuk! Mungkin itu lah muara takdir yang akan Naraya temui setelah ini. "Sungguh aku tak akan membunuh gadis secantik dirimu! Tapi aku akan membaginya dengan beberapa kolega yang haus akan daun muda sepertimu! Ha ha ha!" Tawa jahat Marcus meledak di ruang 3x3 meter itu. Tok tok, Tak lama ada yang mengetuk pintu berlapis baja itu dan Naraya harap dia bisa bernafas untuk beberapa saat dari ruangan pengap yang membuatnya sesak. Marcus membukakan pintu dan seorang penjaga gerbang yang seminggu lalu mengusir Naraya dari depan gerbang markas ini muncul dengan sekantong makanan. Naraya harap itu makanan untuknya karena sungguh ia sangat kehausan dan kelaparan. "Pesanan, Bos!" kata pria itu, pria itu bernama Hardin. Hardin sesekali melirik pada Naraya dan masih ingat kalau Naraya adalah gadis naif yang dia ikat atas perintah Rayden satu minggu yang lalu. Hardin kira gadis itu sudah habis di tangan Rayden, ternyata masih hidup tapi keadaannya cukup menyedihkan. "Hardin! Kau berjaga di depan pintu ruangan ini malam ini! Jangan sampai b*****h kecil ini kabur!" perintah Marcus pada Hardin. "Baik, Bos." Braaak! Marcus agak melempar kantong kresek itu sehingga isinya berantakan di meja yang di hadapi oleh Naraya saat ini. Ada beberapa roti, snack dan juga minuman. "Makan lah! Isi tenagamu dengan itu!" kata Marcus, walau kejam tapi masih peduli pada Naraya. "Te-terima kasih, tuan ...." ucap Naraya cukup bersyukur. Berada di lingkungan para mafia seperti sedang bermain roller coaster. Dan sepertinya lama kelamaan Naraya akan semakin terbiasa. "Dan aku belum selesai menginterogasimu, Naraya! Besok pagi aku akan kembali! Aku harus pergi cepat-cepat dan kau telah membuang waktuku!" gerutu Marcus lalu dia beranjak. Masih banyak pertanyaan yang ingin Marcus tanyakan tapi dia sedang terburu-buru dan Naraya bersyukur. Tinggal lah dirinya dan Hardin saat ini. Hardin menatap Naraya dan mengawasinya. "Sudah ku bilang kan waktu itu?! Jangan berurusan dengan kami! Padahal waktu itu aku memberimu kesempatan untuk pergi!" ucap Hardin, dan Naraya pun menyesal karena tak mengikuti saran Hardin untuk pergi saat itu. "Bahkan aku kira kau sudah mati dibuang ke laut lepas oleh Bos Rayden!" tambah Hardin. Naraya diam saja. Merenungkan semua nasibnya yang sudah sampai pada titik ini. "Walaupun kau sedang ketakutan, kau juga pasti kelaparan, kan?! Makan lah!" tambah Hardin. Tampaknya Hardin tak akan sekejam Marcus atau Rayden. Pikir Naraya. "Lalu ... kira-kira apa yang akan terjadi padaku nanti?" Naraya mulai bersuara. "Sudalah! Makan saja dulu! Aku tak bisa lama-lama berinteraksi dengan tawanan! Makanlah! Jika ingin ke toilet, ketuk saja pintunya kuat-kuat! Agar aku bisa mendengarnya!" Hardin malah pergi meninggalkan Naraya sendiri di ruang isolasi itu. Naraya harus semakin membiasakan diri dengan momen-momen menegangkan ini. Dari pada mati kelaparan, Naraya pun mencoba melupakan ketakutannya dan menikmati makanan-makanan yang tiba-tiba terasa hambar. Tapi tak apa lah, yang penting perutnya terisi. 'Nikmati saja ini, Naraya ... percaya lah pada kuasa Tuhan ... Tuhan akan melindungimu ....' Hanya itu keyakinan yang Naraya pegang, berharap besok datang keajaiban untuknya. *** Rayden sudah sampai di kota J. Dia sudah mengantar Jessi ke kamar hotelnya dan setelahnya tentu lah ia kembali pulang ke rumahnya. Rayden belum tahu kalau tawanannya kini telah berpindah tangan pada Black Eagle. Entah bagaimana reaksi Rayden saat nanti tahu kalau Naraya sudah ada di ruang isolasi di markas besarnya. Saat Rayden masuk melewati gerbang, lalu melewati pintu, Rayden tak memiliki kecurigaan apa pun. Rayden menyangka jika Naraya masih ada di dalam rumahnya, tepatnya di kamar itu, kamar yang biasa Naraya tempati. Rayden menepikan lelahnya dengan duduk di sofa lalu menyandarkannya, nyaman sekali sampai dering telpon mengusiknya. Drrddd ... drrdd ... getaran ponselnya menggelitiki d**a bidangnya dan segera Rayden melihat siapa yang menghubunginya tengah malam ini. Marcus! Ya, dan itu artinya Rayden harus segera mengangkatnya. "Ya, Bos." "Kau sudah sampai di rumah?" tanya Marcus. "Ya, baru saja." "Bagaimana dengan Jessi?" "Aku sudah mengantarkannya ke kamar hotelnya, dua orang pengawal dari kelompok mr. Vallen berjaga di sana!" "Baguslah! Kerja bagus." Rayden tak menukas lagi, karena sungguh ia lelah dan begitu malas untuk sekedar berbasa-basi sekali pun. "Oh iya, Ray! Coba kau cek kamar di sebelah kamar utama di rumahmu!" kata Marcus seketika mengejutkan Rayden. Rayden yang bersandar santai sembari memejamkan mata seketika terlonjak mendengar ucapan Marcus. Kenapa Marcus meminta untuk memeriksa kamar itu? Apakah Marcus tahu sesuatu tentang tawanannya? Pikir Rayden. "Kenapa kau diam saja, Ray? Apa kau menyembunyikan sesuatu di kamar itu?" sindir Marcus dan Rayden sudah tak bisa bersantai lagi. "Tak ada apa-apa di sana, ada apa memangnya?" Rayden mencoba mengelak. "Ya! Sekarang memang sudah tak ada apa-apa! Penghuni kamar itu telah ada di markas besar sekarang!" tegas Marcus tanpa basa-basi lagi dan Rayden semakin terkaget. Rayden melempar manik matanya ke arah pintu kamar itu dan mulai ragu kalau Naraya masih ada di dalamnya. "Oke! Aku tahu kau lelah sekarang, Ray! Istirahat lah! Kita akan membahas lagi soal ini besok!" kata Marcus lalu dia menutup panggilan telponnya. Rayden bangkit dari duduknya lalu memeriksa sendiri isi kamar itu dan ya! Tak ada siapa-siapa di dalamnya! "Naraya!!!" Panggil Rayden dengan suara marah, masih berharap kalau Naraya bersembunyi di kamar mandi di sudut kamar, tapi tak ada yang menyahut. "Naraya!!!!" Rayden semakin emosi lalu berjalan lebih dekat ke pintu kamar mandi, Rayden membukakannya dan memang tak ada siapa-siapa di sana. "Damn!!!" rutuknya dan dia murka sekali! Rayden sangat marah dengan kenyataan bahwa tawanannya berani untuk kabur. Rahangnya mengeras dan hasrat untuk menyakiti muncul begitu saja di dalam hatinya. Dan yang semakin membuat Rayden marah adalah kenapa Marcus sampai tahu dan bahkan menawan Naraya di markas? Rayden merasa kecolongan dan dia bersumpah akan memberi pelajaran pada gadis malang itu. *** Tak menunggu lama, detik itu juga, Rayden meluncur ke markas. Dia tak kenal lelah dan tak sabar ingin menghakimi Naraya. Di jam malam, kegiatan di dalam markas memang tak terlalu aktif. Hanya ada beberapa orang berjaga. Dan Rayden langsung pergi ke ruang isolasi yang diyakini tempat Naraya dikurung oleh Marcus sekarang. "Bos ...." Hardin yang sigap berjaga di depan pintu ruangan itu sampai terkaget dengan kedatangan Rayden yang datang dengan kemarahan yang nyata. Rayden tak mempedulikan Hardin dan langsung saja masuk ke dalam ruangan itu. Dia mendapati Naraya sedang asyik makan makanan yang Hardin bawakan. Ukh ukh! Naraya nyaris tersedak saat Rayden datang dan menusuknya dengan tatapan kemarahan yang begitu tajam. "Tu-tuan ...." gumamnya gugup. Entah apa yang akan Rayden lakukan, tapi yang pasti hasrat untuk menyakiti tengah menguasainya saat ini. "Kau!" Rayden mendekat lalu setengah mencekik Naraya tapi tak terlalu kuat ... "Tu-tuan ...." Naraya sampai agak sesak. "Cukup, Rayden! Lepaskan dia!" Dan kemudian, Marcus juga diam-diam mengikuti Rayden dan datang bagai Hantu. Rayden menoleh dan kaget saat sang bos besar sudah berdiri di ambang pintu. "Aku sudah tahu kalau kau akan datang untuk gadis ini! Siapa sebenarnya gadis ini?! Apakah kau sudah menjadikannya sebagai kekasih?" tanya Marcus penuh curiga. Rayden seperti seorang tersangka yang baru saja ke-Gap melakukan kejahatan. Dia kaget dan merasa tak bisa berbohong lagi pada Marcus. "Apa ini sebab kau bersikap acuh pada Jessi?" tanya Marcus lagi, terasa semakin menekan. Rayden mengendurkan cengkraman tangannya di leher Naraya dan akhirnya Naraya bisa bernafas lega, walau tak benar-benar bernafas bebas. "Kalau itu benar, kau telah membuatku kecewa, Ray! Aku dan mr. Vallen sudah merencanakan perjodohan kalian! Kau dan Jessi! Tapi kau malah menyembunyikan perempuan ini di dalam rumahmu?" Marcus semakin dan semakin memojokkan Rayden. Aah, sial! Kenapa semuanya jadi seperti ini? Dan apa kata Marcus tadi?? Menjodohkannya dengan Jessi? No Way! pikir Rayden. Batinnya berperang. "Sekarang lepaskan dia! Aku akan menjualnya di Club Diamond! Persiapkan dirimu untuk Jessi!" titah Marcus. Rayden terdiam sejenak lalu menatap Naraya dengan tatapan yang semakin tajam. Naraya tak mampu menatap balik pada Rayden, itu terlalu menakutkan. Rayden menatapnya lagi dan mengingat betapa Naraya selalu memuaskannya. Rayden bahkan merasa tak akan menemukan lagi kepuasan dan kenikmatan seperti itu pada perempuan lain. Rayden merasa kalau Naraya bisa memenuhi kebutuhan biologisnya. "Hardin! Hubungi Jake! Bilang kalau club akan kedatangan night club ladies baru, dan katakan padanya, buanglah mereka yang sudah tak laku lagi!" perintah Marcus pada Hardin. "Baik, Bos." "Tahan dulu, Hardin!" Tapi Rayden mencegah Hardin untuk melaksanakan perintah Marcus. "Kenapa, Ray? Kau ingin menginterupsi?" tanya Marcus dengan sinis. "Ya! Dia tak akan dijual kepada siapa pun! Aku tak akan melepaskannya! Dia adalah kekasihku!" Naraya makin sesak! Marcus marah dan Hardin terbelalak tak kala Rayden mengatakan kalimat tadi! Rayden malah mengakui Naraya sebagai kekasihnya! Bagaimana petualangan menegangkan yang akan Naraya alami selanjutnya setelah pengakuan mengejutkan itu?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD