Mencekam

1776 Words
Naraya nekat. Dia mengemasi barang-barang pemberian Rayden ke dalam satu paper bag yang cukup besar. Sungguh ia ingin segera bebas. Hatinya memang menarik ulur, dia tahu resiko kabur itu sangat lah besar. Jika suatu hari nanti Rayden menemukannya kembali, sudah pasti Rayden akan membunuhnya tanpa kompromi lagi. "Tapi aku tak bisa jadi budaknya terus seperti ini! Aku harus memperjuangkan harapan hidupku sendiri! Toh, saat nanti dia bosan, ujung-ujungnya aku akan dibunuh juga ...." pikir Naraya. Saat ini dia sudah siap berdiri di depan pintu utama rumah yang lebih mirip bunker itu. Naraya menghela nafas dalam lalu mengembuskannya secara teratur .... "Ya! Aku sudah yakin!" serunya penuh semangat. 000111, Naraya sudah memencet angka-angka itu. Angka-angka yang dia contek saat Rayden pergi kemarin pagi. Ya! Pintunya terbuka! Ini dia ... akses kebebasan sudah terbuka lebar. Apalagi yang harus dipertimbangkan? Naraya melangkahkan kakinya melewati pintu dan tinggal satu lagi yang dia hadapi. Yaitu pintu pagar tinggi yang ada di samping pintu gerbang utama. Naraya berharap kalau password pintu pagar itu juga sama dengan password sebelumnya. Apakah Naraya akan berhasil? *** "Tetap di tempat kalian!" seru pria tinggi besar yang telah berhasil membajak acara fancy malam ini. Acara yang berlangsung elegan kini berubah menjadi sangat chaos, benar-benar chaos. Orang-orang masih panik dan ada yang masih berlarian panik, dan Rayden sekuat tenaga melindungi Jessi yang ketakutan luar biasa dalam dekapan Rayden. Ya! Walau Rayden tak menyukai Jessi, tapi dia sangat bertanggung jawab dan berusaha melindungi Jessi dengan seluruh kemampuannya. Karena Rayden tahu betul jika tujuan orang-orang pengacau itu adalah untuk menculik Jessi. "Aku takut, aku sangat takut, Ray!" gumam Jessi dalam pelukan Rayden, tubuhnya sampai gemetar. Rayden mencoba untuk tidak dominan, dia ikut merunduk seperti orang-orang. "Tenanglah, jangan terlihat mencolok, mereka sedang mencarimu!" bisik Rayden. "Apa mereka orang-orang Klan Naga?" tanya Jessi dalam ketakutannya. "Ya!" Jessi sedikit lebih tenang dalam dekapan Rayden, dia sangat ketakutan tapi sepertinya sikap Rayden yang sigap membuatnya sedikit kehilangan rasa paranoidnya itu. Suasana masih sangat mencekam. Apa lagi sudah ada korban tewas, dan pihak kepolisian belum bisa dihubungi karena semua orang terpaku dan terpenjara dalam ketakutan. "Jessica Rose! Serahkan dirimu!" teriak salah satu dari pengacau itu, dan yang lainnya memeriksa satu persatu wanita dengan kasar, berharap mendapatkan wajah yang sama dengan potret yang mereka pegang. Rayden berpikir keras, dia melihat celah kecil di belakang panggung di ujung utara ruang, dia pikir dia bisa menyuruh Jessi untuk tiarap dan merangkak ke arah celah itu secara perlahan. "Jessi, dengar! Tenanglah, jangan panik!" kata Rayden, Jessi mendongakkan kepalanya. "Mereka benar-benar sedang mencariku, Ray ...." "Tenanglah! Merangkak perlahan ke arah utara, lihat celah itu? Pergilah ke sana! Tunggu aku di sana!" bisik Rayden, Jessi terlihat tak yakin tapi sorot mata Rayden meyakinkannya. "Go!" dorong Rayden, dan Jessi mulai melakukannya. Dalam ketakutan yang hebat dia merangkak perlahan ke arah celah yang Rayden maksud, jaraknya cukup lebar, sekitar 15 meter. "Dont move! Tetap di tempat kalian!" teriak pimpinan kekacauan ini lagi, mungkin pria itu melihat pergerakan Jessi. Dan Rayden .... BRUK, saat salah satu mafia itu memeriksa gadis di dekat Rayden, saat itu Rayden sigap melumpuhkan pria itu dengan kakinya lalu tangannya berhasil merebut senjatanya. DUAAARR, untuk membuat kekacauan yang lebih hebat dan mengalihkan fokus para mafia itu, Rayden menembak pria yang dilumpuhkannya itu tepat di tengah kerumunan massa sampai membuat suasana kembali gaduh. ARGGGHHHH, sebagian kembali berlarian, dan ini adalah kesempatan Rayden untuk pergi mengikuti Jessi yang sudah hampir sampai di celah itu. Di antara orang-orang yang berlarian Rayden berhasil lolos dari perhatian para mafia itu, Rayden memang mafia yang cerdas. BANG! BANG! Para mafia kejam itu kembali menembaki para sipil yang berlarian ketakutan, mungkin komplotan itu kesal karena ada yang berhasil melawan dan membuat situasi kembali kacau dan menyulitkan mereka. "Shiiit!" rutuk pimpinan agresi itu karena kehilangan jejak Jessi yang mereka cari-cari. Sementara itu, Rayden sudah mendekat ke arah Jessi yang masih ketakutan. Letusan senjata api membuatnya gentar. "Kita cari jalan keluar, ayo!" Rayden menarik tangan Jessi dan mengajaknya berlari mencari akses jalan keluar, mungkin jalur evakuasi adalah cara teraman. "Apa mereka benar-benar mencariku, Ray? Mereka sangat sadis! Setidaknya itu yang aku tahu!" tanya Jessi saat dia berlari dengan kesulitan karena high heelsnya. "Ya!" jawab Max tegas dan tangannya tak melepaskan pergelangan tangan Jessi. "Aww!" pekik Jessi, mungkin dia terkilir, memang sulit berlari kencang dengan sebuah sandal bertumit tinggi seperti itu. "Lepaskan! Lepaskan high heelsmu!" perintah Rayden, dan Jessi menurut saja, tak peduli walau akhirnya dia harus bertelanjang kaki, mungkin itu jalan yang terbaik untuknya saat ini. "Aaw, kakiku Ray, sakiit ... sakit sekali ...." keluh Jessi sembari memijat pergelangan kakinya, mungkin benar kalau ia telah terkilir. Dengan sangat terpaksa Rayden menggendong Jessi dengan sigap, hal itu tentu saja membuat Jessi senang dan tersanjung. Di sela-sela rasa takutnya, dia sepertinya masih sempat menyempatkan diri terbawa perasaan oleh tindakan heroik seorang Rayden Xavier. Kapan lagi digendong olehnya? Pikir Jessi. "Thanks, Ray!" ucapnya. "Simpan itu! Kita belum aman!" sahut Rayden dan dia masih setengah berlari sembari menggendong Jessi mencari jalan keluar di lorong jalur evakuasi itu. "Hey! Berhenti di sana!" BANG, salah satu anggota Klan Naga menemukan pergerakan Rayden, tapi Rayden memang sudah berhasil menemukan pintu darurat. Dia menurunkan Jessi. "Lari, cari taksi! Pergi ke hotel! Tunggu aku di sana!" kata Rayden tergesa. "Tapi ...." "Cepat!" bentak Rayden dan akhirnya Jessi mau menurut, Jessi berlari setengah terpincang mencari taksi dan Rayden tengah mempertaruhkan nyawanya mengahadapi sisa anggota Klan Naga yang jumlahnya tak seimbang dengannya saat ini. CKLEK, Rayden menarik pelatuk pistol rampasannya lalu .... Tap tap tap, Rayden mendengar langkah dan itu pasti musuh, Rayden menyembunyikan tubuh jangkungnya di dinding di dekat pintu darurat itu. Setidaknya Rayden sudah berhasil membebaskan Jessi, sisanya biar dia atasi sendiri. "Keluar kau! Jangan main kucing-kucingan begini, k*****t!" ujar orang itu dan suaranya semakin dekat. Dan saat Rayden yakin .... BANG! Dengan cekatan Rayden menghadiahi orang itu dengan tembakan tepat di d**a kiri, tembakan yang jitu. "Hey! Tetap di sana!" Ternyata masih ada yang mengejarnya, sekali lagi ... BANG! Rayden melempar tembakannya tapi kali ini meleset, gun shootnya hanya mengenai lengan orang itu tapi itu berhasil membuat senjata orang itu jatuh. "Sial! Siapa kau?!" rutuk orang itu terdengar membahana di lorong sepi itu, Rayden muncul dari balik dinding, dan dia tersenyum puas melihat lawannya terdesak. "Klan Naga ...." sapa Rayden dengan wajah liciknya. Saat ini Rayden menguasai situasi, asal jangan ada lagi anggota Klan Naga lainnya yang mengendus keberadaannya sekarang, maka Rayden yakin dia akan memenangkan duel yang tak seimbang itu. "Heh, Rayden Xavier!" desis pria yang tengah terluka itu. Pria itu tahu betul dengan sosok Rayden dan .... BANG! Kali ini Rayden berhasil melempar proyektilnya tepat di kepala pria itu sampai dia tumbang seketika. Ya! Rayden to the point saja tanpa banyak basa-basi lagi, dia memang pria cerdik dengan sejuta strategi, tak salah kalau dia dijuluki sebagai Good Shooter. Total sudah ada tiga orang yang dia habisi malam ini saja. Itu lah sebabnya ia disegani, dia terlihat santai namun caranya menghindari musuh dan menyerang balik mereka sungguh mematikan. Tanpa menunggu lama Rayden segera pergi dari sana. Setidaknya dia merasa lebih aman sekarang karena dia pikir hanya tinggal dua anggota Klan Naga lagi yang tersisa di dalam ballroom. Sungguh permainan yang menguras tenaga. Rayden tak tahu pasti ada berapa warga sipil yang terbunuh di dalam ballroom tapi dia tak begitu peduli, dia hanya ingin segera pergi dan mengamankan Jessi sebagai tanda rasa tanggung jawabnya akan amanat yang diberikan oleh Mr. Vallen dan Marcus. Ninuninuninu ... sepeninggal Rayden, barulah pihak kepolisian datang segera mengamankan lokasi dan segera melakukan penelusuran. Tapi yang pasti Rayden sudah bebas dan tak akan tersentuh oleh hukum. *** Rayden berhasil dan kembali ke hotel. Dia mendapati Jessi yang terduduk lesu dengan sisa-sisa ketakutannya. Pasti Jessi mengalami guncangan dan trauma. "Kita harus segera pergi! Pasti Polisi akan segera mencari keberadaanku!" kata Rayden lalu mengenakan kembali coatnya. "Aku takut ...." gumam Jessi, Rayden tahu betul kalau Jessi masih sangat ketakutan sekarang ini. "Jangan takut!" "Klan Naga, sudah belasan kali berusaha menculikku!" ungkap Jessi dengan derai air mata penuh tekanan. "Aku akan pastikan kamu aman! Cepat, kemasi barang-barangmu, kita akan pergi malam ini juga!" kata Rayden tegas. Rayden mengangguk lalu segera mengemasi barang-barangnya. Jessi trauma, sebagai puteri dari seorang mafia besar, hal seperti ini bukan yang pertama untuknya, beruntung dia selalu terlindungi oleh belasan body guard dan malam ini, cukup satu Rayden saja yang berhasil melindungnya dari 5 mafia yang tengah mengejarnya. "Thanks, Ray!" ucapnya, dan sudah pasti, aksi heroik Rayden malam ini akan menambah kadar rasa kagum dan cinta Jessi terhadap Rayden, itu tergambar jelas dari sorot matanya, jelas sekali. "Bawa helikopternya ke helipad di rooftop gedung di sebelah barat hotel tempat kami menginap! Ya! Kami akan segera pulang! Keamanan di sini sangat tidak aman! Oke, 15 menit lagi kami akan sampai di sana! Oke!" Rayden sudah menelphone pilotnya dan memberi arahan untuk segera siap sedia. "Kakimu masih sakit?" tanya Rayden agak perhatian. "Sedikit, tapi aku masih bisa berjalan!" jawab Jessi, matanya tak lepas memandangi Rayden dengan lekat dan pekat, seakan Jessi tak ingin melepaskan pandangannya itu. "Oke! Kita pergi sekarang!" Dengan terpaksa pula Rayden harus memapah langkah Jessi yang masih tertatih karena kakinya masih terasa sangat sakit. Dan Jessi memanfaatkan momen ini sebaik-baiknya. Walau saat ini keamanannya sangat terancam, tapi setidaknya dia bisa memancing perhatian Rayden. *** Naraya tak punya uang .... Setiap detik dalam hidupnya kini terasa begitu mencekam. Dia hanya memiliki pakaian-pakaian yang ada di dalam paperbag yang ia jinjing sedari tadi. Naraya tak mungkin kembali pulang ke rumah lamanya, karena nanti saat Rayden sudah kembali ke kota J, pasti dia akan mengendus keberadaannya. "Kemana aku harus pergi?" gumamnya kebingungan. Dia belum tahu kemana lagi kakinya harus melangkah .... Tidiiiit .... Dari belakang sana, ada sorot lampu mobil dan suara klakson mengikuti langkah Naraya di jalanan yang sepi itu. Naraya kembali ketakutan .... "Jangan menoleh! Teruslah berjalan!" pikirnya dan Naraya terus berjalan mencari gang sempit agar supaya mobil itu tak bisa mengikuti lagi. "Hey, Nona! Tetap di tempatmu!" Suara berseru kepadanya dan Naraya pun menghentikan langkahnya. Perlahan Naraya memberanikan diri untuk berbalik dan menoleh. Samar ia melihat pria dengan topi Vedora dan stelan jas rapi berdiri di dekat mobil itu. Siapa lelaki itu? Dan mau apa? Ada urusan apa dengan Naraya? 'Siapa dia???' batin Naraya dan horor dalam hidupnya belum berakhir apa lagi lelaki itu berjalan mendekat ... Tap tap tap .... Marcus! Ya! Marcus lah yang muncul dan Naraya tak begitu mengenalinya. "Siapa kau, Nona? Kenapa kau keluar dari dalam rumah Rayden Xavier?!" tanya Marcus. Ternyata Marcus tahu kalau Naraya baru saja melarikan diri dari rumah Rayden. Marcus pun sama sekali tak mengenali Naraya, dan dia amat sangat penasaran. Apa yang akan Naraya jelaskan? Dan apa yang akan Marcus lakukan pada Naraya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD