Rayden mengetuk pintu kamar hotel Jessi dengan perasaan kesal. Atas nama loyalitas terhadap Black Eagle, dia amat sangat terpaksa harus mengenyampingkan egonya seperti ini. Padahal Rayden biasanya mementingkan Ego di atas segalanya.
Ckttt, tak lama pintu terbuka dan Jessi bersikap sok cuek padahal dalam hati dia amat sangat senang dengan kedatangan Rayden.
Saat ini Jessi hanya mengenakan pakaian tidur tipis yang nyaris memperlihatkan setiap lekuk keindahannya tapi Rayden sama sekali tak tergoda. Benar-benar tak akan mudah meruntuhkan sang bos Mafia, tapi anehnya, Rayden malah tak tahan setiap kali melihat tawanannya.
"Ada apa ganggu orang malam-malam begini? Sebaiknya kau punya alasan yang bagus!" tanya Jessi dengan sikap sok jual mahalnya.
"Aku ingin meminta maaf!" tukas Rayden to the point tanpa banyak basa-basi.
"Untuk apa?"
"Karena membuatmu kesal sampai mengadu pada mr. Vallen!" jawab Rayden lagi kali ini dengan sedikit sindiran. Jessi pun cukup tersentil karena ketahuan telah mengadu pada Papanya.
"Oh, jadi papaku mengadu juga padamu?"
"Lebih tepatnya pada bos besarku!"
Rayden masih menunjukkan ketidaksukaannya tapi Jessi bersikap sangat innocent seolah dirinya tak pernah dan tak akan pernah salah.
"Oke! Dimaafkan! Dan aku harap kau memperbaiki sikap! Jangan buat aku seperti seorang pengemis! Jangan buat aku seperti seorang perempuan murahan!"
'Kau memang murahan!' rutuk Rayden tapi hanya dalam hati saja karena sungguh ia tak ingin cari gara-gara dengan mr. Vallen.
"Sudah selesai?" tanya Rayden.
"Not yet! Masuklah ke dalam!" Jessi malah meminta Rayden untuk masuk ke dalam kamar hotelnya.
Ah, sialan! Rupanya Jessi malah memanfaatkan momen permintaan maaf Rayden dengan hal-hal lainnya. Tapi Rayden tak akan mudah diperbudak begitu saja. Dia sedang mencari alasan agar tak sampai melewati pintu itu. Karena jika dia masuk dan Jessi mengunci pintu, sudah pasti Jessi akan merengek untuk minta dilayani. Jessi memang sungguh sangat agresif terhadap Rayden.
"Ini sudah lewat tengah malam! Besok kau harus bangun pagi untuk acara utama yang akan kau hadiri! Istirahat lah!" dalih Rayden untuk menolak ajakan Jessi.
"Aku ingin kau tidur di kamarku malam ini, Ray! Aku takut! Kabarnya orang-orang suruhan musuh terbesar papaku sedang mencoba menculikku! Tugasmu adalah melindungi aku, right? So, Masuk lah! Aku ingin jaminan keamanan!" Tapi Jessi juga pintar mencari alasan agar supaya Rayden tak menolak.
Rayden semakin dan semakin kesal. Ada ada saja akal-akalan perempuan licik itu. Cantik memang cantik, seksi memang seksi tapi itu tak cukup untuk meruntuhkan hati Rayden.
"Come in, Ray! Aku adalah klien pengawalanmu saat ini, so aku bebaskan meminta apa saja padamu!" Bahkan Jessi dengan lancangnya menarik tangan Rayden untuk masuk melewati ambang pintu.
Sial sekali! Rayden tak punya alasan lagi untuk menolak. Tapi baiklah, Rayden coba terima saja, dan dia akan berusaha agar tak sampai melayani birahi Jessi yang selalu dan selalu bersikap gatal di depannya.
Setelah masuk, Rayden memutuskan untuk menepi ke sofa yang ada di tengah ruang kamar hotel classy itu. Jangan sampai Jessi mendominasi dan memerintahnya untuk ikut naik ke atas tempat tidur juga. Pikir Rayden.
"Aku tak akan minta yang aneh-aneh, jangan berpikir yang tidak-tidak tentangku, Ray!" Dan Jessi seolah tahu apa yang Rayden pikirkan saat ini, tapi never mind lah!
"Aku hanya butuh perlindunganmu! Itu saja!" tegas Jessi lagi, labil sekali dia hari ini.
"Oke! Aku mengerti!" sahut Rayden.
Jessi pun naik ke atas ranjangnya dan merasa aman tak kala Rayden ada di dalam kamar hotelnya seperti sekarang ini. Ya walaupun jujur saja sebenarnya Jessi juga sangat ingin mendapat sentuhan dari Rayden, tapi dia mencoba menahan diri agar tak membuat Rayden semakin illfeel.
Terlahir sebagai putri dari seorang mafia besar memang bukan hal mudah. Setiap waktu selalu saja dihantui dengan kekhawatiran karena musuh-musuh sang papa akan ikut mengincarnya. Itu lah yang dirasakan oleh Jessi saat ini.
Rayden harap tak akan ada hal-hal yang tak diinginkan. Dia pun melepas lelah dengan bersandar pada sofa itu. Semoga Jessi tak berbuat yang aneh-aneh, harap Rayden.
***
Di sebuah Ballroom hotel mewah di kota T. Sedang diadakan acara fashion week international yang dihadiri oleh para expert fashion dari seluruh dunia.
Termasuk Jessi. Jessica rose adalah salah satu fashionista dari negara S yang cukup diperhitungkan. Oleh sebab itu ia diundang dalam acara itu.
Dia datang dikawal oleh pria tinggi gagah yang bersikap dingin namun sosoknya sungguh sangat mencuri perhatian banyak orang. Siapa lagi kalau bukan Rayden?!
"Halo sweety, how are you?"
Begitu banyak yang menyapa Jessi, mulai dari kalangan fashionista hingga para designer terkenal.
Dan saat mereka menyapa Jessi, mata mereka langsung tertuju pada sosok Rayden yang siap siaga bagai kekasih Jessi.
"Siapa yang ada di sampingmu ini, Jess? Dia tampan sekali!" bisik Marina, teman lama Jessi, matanya tak lepas memandangi Rayden yang tampil dengan t-shirt putih tanpa balutan jaket atau coat lagi, dia memperlihatkan tubuhnya yang profosional dan hal itu berhasil mengundang atensi orang-orang.
"Ini Ray, Rayden Xavier! Rekan bisnis Papa-ku!" perkenalkan Jessi dengan sangat bangga.
"Oh, sangat menarik! Aku kira dia salah satu model yang akan tampil malam ini!" goda Marina, dan lagi lagi, hal itu membuat Rayden semakin tidak nyaman, sangat tidak nyaman.
"He look likes model, isnt he?"
"Ya, look so perfect! Aku yakin, beberapa agensi akan tertarik dengan pengawal pribadimu ini, Jessi!"
Rayden mendengar perbincangan itu dan dia sangat kesal! 's**t! Sial mereka menganggapku seperti itu!' batin Rayden menggerutu, dia benci hiruk pikuk ini apalagi dengan pandangan orang-orang terhadapnya.
Bukan tanpa alasan orang-orang begitu terkagum dan terpana dengan kedatangan seorang Rayden Xavier.
Rayden memiliki postur tubuh ideal. Kulitnya yang putih mulus berhias rajaman dengan ukiran indah semakin menambah kesan macho yang membuat wanita manapun akan sangat ingin disentuhnya. Dan masalah paras? Jangan ditanya lagi, wajahnya yang presisi dengan rahang yang tegas dan orang-orang sepemikiran kalau malam ini Rayden adalah 'Man of the day!', dia sangat menarik kalangan fashionista. Ya, walau hanya memakai jelana jeans robek di bagian lututnya dan kaos oblong putih tapi itu tak mengurangi kesan orang-orang.
'He so f*****g perfect!' ungkap siapapun yang berpapasan dengannya. Orang-orang hanya belum tahu profesi asli si pria tampan itu, mungkin orang-orang akan lebih tertarik begitu tahu kalau Rayden adalah mafia kejam yang telah menghilangkan banyak nyawa sepanjang hidupnya.
"Ray, semua orang memperhatikanmu!" bisik Jessi, dengan sangat percaya diri dia menggandeng Rayden.
Rayden diam saja dan tak menjawab.
"Kamu tahu? Semua orang menganggapmu sebagai model, hehe ... look at you! Walau tampak nyeleneh, but you so gorgeous tonight!"
"Semoga malam ini cepat berlalu!" gumam Rayden kesal.
"What? Haha, aku tahu kamu tidak nyaman! Tapi bertahanlah sampai 2 jam ke depan!" goda Jessi merasa sangat bahagia malam ini, Rayden tersenyum masam tapi wajah sinisnya malah menarik beberapa mata kamera untuk menyorot dan mengambil potretnya secara candid.
"Hai Jessica Rose, welcome to the show! Sebuah kehormatan kedatangan orang penting sepertimu!" sapa seorang pria 40 tahunan dengan gaya serba nyentrik. Ia pasti seorang designer, mungkin designer yang menyelenggarakan even besar ini.
"Thanks, ini akan jadi malam yang menyenangkan! Tak sabar melihat koleksi terbarumu, Bung!" sahut Jessi, dan kala Jessi menjawab, mata pria itu tak lepas memperhatikan Rayden, lagi dan lagi membuat Rayden sangat tidak nyaman.
Ingin rasanya menarik pelatuk revolvernya dan menembak orang-orang yang memandang kagum kepadanya malam ini. Sayang sekali Rayden tak bisa melakukan hal se-bar-bar itu di acara seperti ini, lagi pula dia meninggalkan revolvernya itu di dalam saku coat yang tertinggal di kamar hotel.
"Apakah dia pacarmu? Apa dia model baru?"
"No, dia rekan kerja Papa-ku!"
"Oh, aku kira dia model! Dia sangat sempurna! Lihat tubuhnya ini, uuuuh, sempurna! Dan lihat wajahnya yang tegas namun tak meninggalkan kesan cute, siapa namamu tampan?" goda orang itu, cuiih, hampir saja Rayden membuang salivanya pada pria genit itu.
Jessi sampai tertawa terkekeh melihat magnet dalam diri Rayden yang sudah menarik banyak atensi orang-orang malam ini.
"Dia Rayden Xavier Bung, panggil saja dia Ray! Dia sexy but cute too, setuju?"
"Sangat! Sangat setuju!"
'b*****t! Apa harus aku bunuh satu persatu orang di sini?!' gerutu Rayden yang sudah mulai mengeluarkan sisi sadismenya lagi walau masih terbungkus rapi dalam jiwa yang ingin segera memberontak itu.
"Oke, silahkan tempati seat kalian! Selamat menikmati acara malam ini ya!"
Jessi dan Rayden melanjutkan langkah mereka menuju kursi yang tersedia di pinggir-pinggir runaway yang sebentar lagi akan dilewati oleh para super model yang melenggak lenggok memperagakan koleksi terbaru para designer ternama.
"Semoga kamu menyukai acara ini Ray, so, suatu hari nanti kamu akan menemaniku lagi seperti sekarang! Bahkan mungkin nanti kita akan terbang ke kota Fashion dunia!" kata Jessi di antara derap musik yang membahana di ruang besar itu.
'Jangan harap! Ini acara pertama dan terakhir yang akan aku hadiri! Huh, sialnya hidupku berada di sini! s**t!' Rayden menjawab dalam hatinya.
Kerena sangat bosan, Rayden malah mengeluarkan rokok dan kriket dari dalam saku celananya tapi tentu saja Jessi mencegahnya.
"Hey Ray, ini tempat umum, mana bisa kamu merokok di sini?" cegah Jessi dan Rayden baru sadar.
"Sorry! Aku lupa!" sahutnya enteng.
Acaranya akan segera dimulai. Dimulai dengan sambutan membosankan dari penyelenggara sampai akhirnya muncul satu persatu boneka hidup itu dan berjalan menyilangkan kaki jenjang mereka sengan sempurna di atas catwalk.
Jepret jepret, orang-orang sibuk mengambil gambar para model yang beraksi. Jessi pun tak ingin melewatkan kesempatan untuk mengabadikan momen berharganya ini.
"Wah, Jasmine Moore, lihat dia Ray! Cantik bukan? Lihat kakinya yang indah!" bisik Jessi pada Rayden saat seorang model bule melintas di depannya, Rayden tak menjawab, tak ada yang benar-benar cantik dan sempurna di mata seorang Rayden Xavier.
"Aku akan ke toilet sebentar!" izin Rayden beberapa menit kemudian, dia sangat bosan dan toilet mungkin bisa membuatnya lebih relax.
"Oh okay! Jangan lama ya, Ray!"
"Heum!"
Rayden pamit, dia ingin pergi dari hiruk pikuk itu dan pergi ke toilet di ujung ballroom ini. Bahkan dia menyempatkan diri untuk menghabiskan sebatang rokok di depan cermin di wastafel memanjang itu.
'Sial!' rutuknya berkali-kali.
Beberapa menit kemudian tiba-tiba ada seseorang berjas rapi keluar dari dalam toilet. Pria itu berdandan rapi dengan stelan jas dan ear piece terpasang di telinganya, seperti seorang keamanan, mungkin keamanan rahasia. Aaah Rayden tak peduli dengan siapapun tapi kemudian ada hal yang membuatnya sangat tertarik.
'Cincin itu ....' pikirnya. Ya, tak sengaja Rayden menangkap penampakan di pantulan cermin, cincin pria dengan kaca mata hitam itu. Cincin dengan ornamen kepala naga sebagai matanya.
Sungguh menelisik pikiran Rayden. Rayden mencoba mengingat lambang kepala naga itu. Ya, itu adalah salah satu trademark sebuah kelompok besar mafia di negara P.
Mungkin saja pria itu adalah salah satu penyusup yang merupakan anggota kelompok mafia Klan naga. Kelompok yang selama ini mengancam keselamatan Mr. Vallen dan kelompoknya.
'Tahan! Jangan gegabah! Saat ini aku datang dengan tangan kosong!' batin Rayden, hampir saja Rayden menyerang orang itu tapi dia sadar kalau orang itu pasti berkomplot dan bersenjata lengkap.
Rayden curiga kalau anggota mafia itu akan menculik dan mencelakai Jessi dan mengacaukan malam ini. Dia segera tandaskan puntung rokoknya.
Rayden kembali ke dalam acara fashion show itu dan menghampiri Jessi lalu segera mengamankannya.
"Kita harus pergi!" kata Rayden tergesa-gesa membuat Jessi heran.
"Ada apa, Ray? Acaranya kan baru saja dimulai!"
"Kita harus pergi dari sini! Kamu tidak aman saat ini!" ungkap Rayden, Jessi mengerutkan dahinya, dia belum mengerti apa maksud Rayden. Jessi sepertinya ingin tetap di tempat duduknya sampai acaranya selesai nanti.
"Tunggu satu jam lagi, oke!" pinta Jessi.
"Please Nona, ini urgent!" tegas Rayden yang terus melirik ke arah pintu masuk, berjaga kalau-kalau ada pria mencurigakan masuk.
"Ada apa sih? Aku tak mengerti maksudmu!"
Dan itu dia! Itu pria yang Rayden temui di toilet tadi, Rayden yakin dengan gerakan tangannya yang menyusup ke dalam saku dalam jasnya, bahkan ada 4 orang lainnya yang masuk.
"Menunduk!" teriak Rayden.
BAAANG, satu tembakan terlontar di udara.
ARRRRRRGGGGGHHHHHH, acara terhenti dan seluruh massa menunduk ketakutan bahkan ada yang panik dan berlarian berhamburan dari tempat duduk mereka.
DUAAAARRR, satu tembakan kembali terlontar dan membunuh seorang security yang mencoba mengamankan para mafia penyusup itu.
Situasi fashion show yang fancy dan mahal itu seketika menjadi sangat kacau.
Karena Rayden merasa sangat bertanggung jawab atas Jessi saat ini, maka Rayden pun dengan sigap melindunginya. Apakah Rayden akan mampu mengamankan Jessi dari serangan musuh yang datang berkomplot itu?