Sial memang! Hari ini Rayden harus memenuhi tugas untuk mengawal Jessi ke sebuah acara pagelaran busana internasional di kota T.
Jika bukan Marcus yang memintanya, sungguh Rayden tak sudi. Itu sama sekali tak sesuai dengan porsinya sebagai seorang Bos Mafia. Tapi Jessi adalah putri kesayangan tuan Vallent, maka Marcus mau pun Rayden tak mampu menolaknya.
Sebelum pergi, Rayden menyempatkan diri untuk mencari tahu keadaan tawanannya yang semalam melayaninya dengan baik, seperti biasa.
Kamar yang Naraya tempati saat ini dilengkapi dengan fasilitas kamar mandi sehingga Naraya bisa memanjakan diri saat ia merasa bosan dengan merawat diri.
Rayden masuk ke dalam kamar itu tanpa permisi dan mendapati Naraya baru selesai mandi dan hanya mengenakkan handuk saja. Naraya terkaget tapi dia benar-benar harus terbiasa.
"Eh, tuan ... ada apa? Ada yang bisa aku bantu?" sapa Naraya dengan sikap patuhnya. Sungguh Naraya sudah semakin terbiasa.
"Aku akan pergi ke luar kota! 2 atau 3 hari lamanya!"
"Oh, lalu?"
"Jangan berpikir untuk mencari cara agar bisa kabur! Kau akan tetap di sini meskipun aku pergi ke luar kota!"
"Bagaimana bisa aku kabur sementara pintumu itu tak mampu didobrak dengan tubuh lemahku ini, tuan?"
"Baguslah kalau kau sadar diri!"
"Oke."
"Kemari lah! Mendekat!" pinta Rayden yang hanya berdiri di ambang pintu. Naraya menurut saja dan mengencangkan lipatan handuknya. Naraya merasa kalau Rayden menginginkan sesuatu dari tubuhnya.
Setelah dekat dan hanya berjarak beberapa inci saja, "Ada apa? Apa kau akan pergi sekarang?"
"Ya!"
"Baiklah, hati-hati di jalan!"
Rayden menatap wajah Naraya dengan tatapannya yang tajam dan Naraya jadi agak risih. Naraya merasa kalau Rayden sepertinya ingin lagi, tapi dia sudah ditunggu oleh tugas di luar sana.
"Siapa kau ini, huh? Kenapa membuatku ingin dan ingin terus!" Rayden membungkukkan sedikit badannya dan menarik tengkuk Naraya dan melancarkan sebuah french kiss panas.
'Huh, kau benar-benar kecanduan yaa?! Aku pastikan kalau tak lama lagi kau akan kehilangan aku, jerk!' batin Naraya agak kesal.
Meskipun Naraya mulai menikmati sentuhan Rayden, tapi jika ada kesempatan untuk kabur, tentu lah Naraya akan kabur saja.
Rayden masih memagut bibir Naraya sampai sebuah dering telpon mengusiknya. Drrddd ... drrddd ....
"Aaah, sial!" rutuknya karena merasa diganggu. Dia pun dengan terpaksa harus melepaskan ciuman panas itu dan menganggkat panggilan telponnya. Ternyata memang dari Marcus. Mana mungkin Rayden bisa menolak.
"Ya, aku akan segera ke sana!" Hanya itu yang Rayden katakan. Dia terlihat sangat tidak senang.
Naraya malah memiliki sedikit ide dan memanfaatkan situasi ini. 'Bagaimana kalau aku mencoba bersikap manis untuk mengantarnya sampai ke depan pintu dan melihat password yang nanti dia masukan?!' pikir Naraya.
"Aku harus pergi sekarang! Semoga kau tak mati kepalaran!" pamit Rayden.
"Aku masih menyimpan roti-roti itu, tuan! Aku tak akan mati kelaparan!" tukas Naraya optimis.
Rayden melengos pergi menuju pintu utama rumah dan langkah Naraya terdorong untuk menjalankan rencananya. Sejak semalam dia memang sudah mencoba bangkit lagi.
Sugesti positif yang ia ciptakan telah membuatnya merasa lebih baik. Padahal kemarin sore Naraya masih tampak frustrasi dan putus asa. Tapi setelahnya Naraya mencoba menetralkan hati dan pikirannya sehingga sekarang dia terlihat lebih baik.
"Izinkan aku mengantarmu sampai ke depan pintu, tuan!" ucap Naraya saat sudah hampir sampai di dekat pintu.
"Tak perlu! Kembali lah ke kamarmu!" tegur Rayden.
"Heum ... ayolah! Aku akan merindukanmu selama kamu pergi nanti ...." Naraya melakukan trik lainnya. Dia bersikap manja berharap Rayden akan melunak.
Rayden menghentikan langkahnya lalu membalik badan dan menatap aneh pada Naraya yang bersikap manja tak seperti biasanya. Biasanya Naraya terlihat stress dan ketakutan.
"Apa kau stress?" tanya Rayden demikian.
"Stress?"
"Sikapmu aneh!"
"Oh ... heum aku ...."
"Dan menjijikan!" pungkas Rayden seketika membungkam Naraya.
Tak tahu harus bilang apa?! Apa sebenarnya yang benar-benar diinginkan oleh si bos Mafia angkuh ini?! Apakah selamanya Naraya harus menunjukkan rasa takutnya? Minta dilayani terus tapi sepertinya Naraya tak diperkenankan untuk menunjukkan sisi manjanya.
'Benar-benar membingungkan! Dasar bos Mafia absurd!' rutuk Naraya dalam hati.
Rayden melanjutkan langkahnya yang hanya tinggal 3 langkah lagi ke dekat pintu. Diam-diam Naraya beringsut dan tak ingin melewatkan kesempatan. Dengan ujung matanya, Naraya melihat pergerakan jari Rayden dan ... 000111, kombinasi 6 angka sebagai kunci pintu rumah itu.
000111? Ternyata semudah itu? Oke! Aku akan mengingatnya dan beberapa jam kemudian aku akan segera bebas dari sini! Pikir Naraya.
Sungguh Naraya tak menyangka kalau dia bisa menangkap bagaimana jari-jari Rayden bergerak saat membuka pintu itu.
Saat Rayden berlalu dan mengunci kembali pintunya, Naraya pura-pura tak melihat. Naraya tak ingin membuat Rayden curiga sedikit pun.
"Baiklah! Ayo kita susun strategi lagi! Pelarianku ini harus direncanakan secara matang! Jangan sampai aku tertangkap dan tentu saja aku akan terbunuh kemudian!" gumam Naraya lalu lekas masuk lagi ke dalam kamarnya untuk mengenakkan pakaian dan menyusun rencana lagi.
Apakah Naraya akan mampu melarikan diri dari penjara sang bos Mafia?
***
Sebuah Helikopter menunggu siap terbang di helipad di rooftop sebuah gedung. Rayden baru tiba dan segera masuk ke dalam helikopter itu. Ternyata di dalam sana sudah ada Jessi dengan penampilan casual yang tetap memukau. Tapi walaupun begitu, Rayden tetap tak tertarik.
"Hai, Ray ... akhirnya kau datang juga!" sapanya dengan wajah sumringah.
"Kita bisa berangkat sekarang!" seru Rayden ke arah pilot helikopter itu. Rayden tak terlalu merespon sapaan Jessi dan Jessi sangat kesal.
Suara mesin dan baling-baling yang berputar kencang begitu memekakan telinga, tapi Rayden malah senang karena dengan begitu ia jadi punya alasan untuk pura-pura tak mendengar setiap kata-kata Jessi.
"You look so gergous, Ray! Walaupun outfitmu ini monotone, tapi tetap keren jika kau yang mengenakkannya!" kata Jessi dan dengan santainya Jessi menepuk-nepuk blazer hitam yang sedang Rayden pakai saat ini.
Jessi bersikap seperti seorang kekasih yang sedang merapikan pakaian pasangannya dan Rayden sungguh sangat tidak nyaman dengan itu.
"Aku hanya pengawalmu, Nona! Tolong jaga jarak di antara kita!" ucap Rayden lalu beringsut sedikit untuk mengantisipasi agresifnya Jessi.
"I know! Kau adalah pengawalku, Ray! Lantas, apakah aku tak boleh sedikit merapikan penampilanmu?"
"No, thanks! Kau tak perlu melakukannya!"
Jessi agak kesal, tapi dia tak bisa lama-lama marah pada sosok Rayden. Jessi sudah menaruh harapan besar dan benar-benar berharap kalau suatu hari nanti mr. Vallent akan menjodohkannya dengan Rayden.
"Why? I care to you! Kamu membuatku tersinggung karena telah menolak maksud baikku! Apa aku se-annoying itu?" protes Jessi, dia merajuk dan merasa tak berguna.
"Maaf, tapi aku tak ada maksud untuk menyinggungmu!"
"Apa ada perempuan lain? Apa kamu sedang mencoba menjaga hati perempuan lain?"
Aah, belum apa-apa saja Jessi sudah bersikap posessif seperti ini. Sejak awal Rayden sudah tak nyaman karena sudah tahu karakter dan watak Jesi dari awal mereka bertemu di acara makan malam tempo hari.
Rayden mencoba abai. Jangan sampai ia terpancing untuk berkata-kata kasar pada Jessi karena jika itu terjadi, hubungan baik antara Black Eagle dan mr. Vallent akan menjadi taruhannya.
Jessi tak mampu untuk tak memperhatikan Rayden. Sungguh dia merasa tak ingin melewatkan Rayden sedikit pun, tapi sayangnya memang Rayden sama sekali tak merasakan hal yang sama. Padahal secara kasat mata, Jessi adalah gadis cantik yang amat sangat menarik mata dan hati. Tapi sungguh itu tak berlaku bagi Rayden.
"Oke, kamu diam berarti itu benar! How lucky she is! Sungguh aku sangat iri pada perempuan yang ada di dalam pikiranmu itu, Ray!" Jessi benar-benar merajuk.
"Itu bagian bari privasiku, aku harap kau menghargai itu!" tegas Rayden.
"Oke, terserah padamu!" Jessi pun terlanjur kecewa dan mulai menjaga sikap. Jessi tak annoying lagi dan mencoba bersikap sebiasa mungkin walau hatinya carut marut membayangkan perempuan secantik apa yang mampu menggoyahkan sosok Rayden Xavier dan mengalahkan eksistensinya.
Jessi begitu percaya diri bahwa tak ada perempuan lain yang layak untuk bersanding dengan Rayden. Jessi sangat meradang.
Perjalanan menuju kota T pun terasa hampa dan hambar karena tak ada interaksi di antara keduanya. Tapi itu malah bagus bagi Rayden. Dengan begitu ia merasa tak perlu repot menanggapi sikap Jessi.
Sampai mereka tiba di kota itu, tak ada lagi interaksi di antara mereka. Rayden hanya tak tahu saja jika sesampainya di hotel tempat mereka menginap, Jessi langsung mengadu pada ayahnya dan mr. Vallent juga langsung mengadu pada Marcus.
Mr. Vallent benar-benar tak akan membiarkan siapa pun melukai dan membuat putri kesayangannya kecewa. Entah ultimatum seperti apa yang akan Rayden terima, tapi yang pasti, berurusan dengan orang-orang seperti mr. Vallent adalah hal yang sangat tidak baik.
***
Bagaimana dengan keadaan Naraya sekarang?
Dia sudah berpakaian rapi. Dia memakai celana jeans dan atasan berupa t-shirt berwarna gelap. Dia casual dan nyaman.
Kemarin malam, Rayden memberikannya 3 paperbag berisi pakaian-pakaian dan kebutuhan lainnya. Dan Naraya pun merasa jauh lebih baik.
"Kabur jangan kabur jangan kabur jangan ...." Dia sedang mengundi keputusannya dengan menghitung jarinya.
Naraya duduk di ujung tempat tidurnya dan masih mencoba memikirkan keputusannya matang-matang. Naraya ingin enyah dari penjaranya tapi kemudian dia memikirkan resiko yang akan mungkin terjadi nanti.
"Heum ... dia kan bos yang cukup sibuk! Dia hanya memiliki waktu santai di malam hari saja! Andai kata aku kabur, pasti dia tak akan sempat untuk mencariku lagi!" pikir Naraya.
"Tapi ... dia kan bos ... mungkin saja dia bisa memerintahkan anak buahnya untuk mencariku! Aaah, gimana ini? Kabur jangan yaa?" Tapi Naraya benar-benar masih galau.
"Berapa lama lagi aku ada di sini? Menjadi budaknya? Dan setelah dia bosan, dia akan membunuhku!"
Hati Naraya benar-benar bimbang. Kini ia telah mengetahui password pintu utama rumah ini, dan Naraya yakin kalau password pintung pagar tinggi menjulang di luar sana juga memakai angka-angka yang sama.
Kesempatan untuk melarikan diri amat sangat terbuka lebar. Tapi masih ada beberapa pertimbangan. Naraya takut jika suatu hari nanti Rayden menemukannya dan menembak kepalanya tanpa ampun. Itu ngeri sekali.
Apakah yang akan Naraya putuskan? Kabur atau tetap stay sebagai pemuas birahi sang bos Mafia?
***
Benar saja!
Baru beberapa saat menepikan lelah di kamar hotel, Rayden langsung mendapat telpon dari Marcus ....
"Ingat, Ray! Mr. Vallent adalah orang penting bagi Black Eagle! Jangan pernah mencoba untuk membuat dia kecewa!" peringatkan Marcus. Rayden malas sekali menanggapi ultimatumnya itu.
"Apa kau tahu? Jessi menangis mengadukan sikapmu pada mr. Vallent! Sekarang, bergegaslah mengetuk pintu kamar hotelnya dan meminta maaf!" perintah Marcus.
Rayden ingin berontak tapi Marcus adalah salah satu orang yang Rayden segani di dunia ini. Dia pun tak akan pernah mampu membantah. Tapi urusan Jessi ini sungguh sangat di luar trek peran dan porsinya sebagai seorang gangster. Sial memang.
"Ray! Kenapa kau diam saja! Apa kau mendengarkan kata-kataku?" gretak Marcus.
"Kau bisa memerintahkan aku untuk membunuh belasan atau puluhan orang terget dalam semalam, tapi tolong jangan minta aku untuk menjadi boneka seperti ini!" Tapi kali ini Rayden cukup berani untuk mengajukan protes.
"Boneka? Siapa yang menjadikanmu boneka? Bukankah harusnya kau senang karena ditaksir oleh putri seorang mafia besar seperti Jessi? Dia sangat cantik dan menarik! Kau taruh di mana mata itu, Ray!" Marcus marah dan kecewa.
Kalau sudah begini, Rayden pun tak mampu membantah, kecuali jika ia sudah bosan hidup dan menyerahkan nyawanya pada Marcus.
Pada akhirnya, dengan amat sangat terpaksa Rayden pun melaksanakan perintah Marcus untuk meminta maaf kemudian bersikap sedikit lebih baik pada Jessi.
Damn! Rutuk Rayden kesal. Dia benar-benar tak suka dengan situasi ini.