His Slave

1645 Words
Rayden tak main-main dengan kata-katanya. Dia masih memenjara Naraya di hari-hari berikutnya. Entahlah! Entah bagaimana nasibnya sekarang. Yang pasti, rekan-rekan dan tetangga di sekitar rumah Naraya tak ada yang mengetahui keberadaannya sekarang. Kepala toko dan rekan kerja Naraya datang ke rumahnya yang terletak di gang sempit itu. Mereka sangat penasaran karena Naraya mangkir kerja 3 hari tanpa keterangan apa pun. Bahkan nomor telponnya juga sudah tak bisa dihubungi sejak 3 hari yang lalu. "Sudah lama kami juga tak melihat Naraya! Ayahnya juga menghilang bak ditelan bumi!" kata salah satu tetangga pada kepala toko tempat Naraya bekerja. Namanya Ario, dan rekan kasir Naraya yang bernama Shanti juga terlihat sangat cemas. "Kamu dimana sih, Nar?" gumamnya penuh dengan rasa khawatir. "Apa Naraya punya kerabat? Misalnya bibi atau paman? Mungkin Ibu tahu soal itu ...." tanya Ario lagi pada tetangga Naraya. "Setahu saya, Naraya dan ayahnya tak pernah dikunjungi oleh kerabat! Tapi saya kurang tahu juga sih! Tapi selentingan kabar ada yang bilang kalau ayahnya dicokok oleh beberapa orang dari Black Eagle!" Ario agak mengelus d**a. Ario maupun Shanti dan seluruh warga di wilayah pesisir kota J itu sudah pada tahu kalau Black Eagle adalah kelompok mafia paling berpengaruh di kota itu. Bahkan kelompok Black Eagle berafiliasi dengan beberapa kelompok Mafia di negara lain. "Kalau urusannya sudah sama Black Eagle, ya udah gak ada harapan apa-apa lagi ...." dengkus Shanti. Dia terlihat pasrah. "Kalau sudah begini, kita juga tak bisa lapor polisi untuk melaporkan kehilangan Naraya dan ayahnya!" ucap Ario pasrah. "Ya! Kalau kita melapor, itu sama artinya dengan bunuh diri! Tapi, gimana nasib Naraya sekarang yaa ... Ya Tuhan, tolong lindungi dia dari kekejaman Black Eagle ...." harap Shanti. "Mau bagaimana lagi? Kita gak mungkin melawan. Satu-satunya hal yang paling bisa kita lakukan sekarang hanyalah berdoa! Mendoakan yang terbaik buat dia!" kata Ario lagi dan dia semakin pasrah. Ario mau pun Shanti akan menganggap Naraya sudah mati. Karena yang mereka tahu, jika sudah berurusan dengan Black Eagle, maka kemungkinannya hanya satu, yaitu tamat! "Semoga kamu baik-baik saja, Naraya ...." harap Shanti. *** Lantas bagaimana kondisi Naraya saat ini? Sudah 3 hari dia terkurung di kediaman Rayden yang dilengkapi dengan sistem keamanan mumpuni. Setiap pintu keluar di rumah itu adalah smart door yang hanya bisa diakses dengan kombinasi angka password yang hanya diketahui oleh Rayden seorang. Naraya duduk di pojok kamar. Bukan kamar utama Rayden. Tapi kamar kosong yang ada di samping kamar utama. Di hadapannya ada beberapa makanan. Roti-roti dan minuman. Naraya hanya memakannya sedikit saat ia benar-benar terlilit rasa lapar saja. Naraya hanya ingin bebas dari sana. Hanya itu yang Naraya inginkan saat ini tapi sungguh harapan itu adalah harapan yang sulit untuk terwujud untuk saat ini. "Apa aku akan mati membusuk di rumah ini???" gumamnya berulang kali. Keadaannya menyedihkan sekali. Naraya hanya mengenakkan sebuah t-shirt extra large milik Rayden. Dia tak ganti pakaian, bahkan tak memakai pakaian dalam karena memang tak memiliki ganti. Naraya amat sangat menderita. Dan yang lebih menyedihkan lagi, sejak hari itu, Naraya sudah beberapa kali melayani birahi Rayden. Sungguh sangat mencabik nurani. Tapi mau bagaimana lagi? Naraya masih ingin tetap hidup. Ckttt .... Tak lama ada yang membukakan pintu kamar. Wajah frustrasi Naraya semakin tampak saat Rayden muncul dari balik pintu. BRAAAK! Rayden melempar beberapa paper bag ke arah Naraya yang terduduk kaku di pojok kamar yang dingin itu. "Itu beberapa kebutuhanmu!" ujar Rayden setelah melempar paper bag-paper bag itu. Naraya melihat beberapa pakaian dari dalam paperbag itu. Apakah Rayden membelikannya pakaian? Naraya harap ada beberapa set bra dan baju dalam karena Naraya sangat tidak nyaman dengan kondisinya saat ini. "Jangan seperti orang sakit! Bersihkan dirimu dan ganti pakaian!" kata Rayden memerintah. Naraya memunguti paper bag itu dan isinya menang lengkap. Ada beberapa potong pakaian dan beberapa set baju dalam seperti yang ia harapkan. Bahkan ada satu set perawatan tubuh dan wajah. 'Apa dia benar-benar ingin aku tetap di sini? Bersamanya? Sampai kapan? Sampai dia bosan?' batin Naraya sembari memandangi isi paperbag-paperbag itu. "Apa aku perlu membenturkan lagi kepalamu ke dinding agar supaya kau cepat tanggap saat aku memerintah, huh?" hardik Rayden yang kembali kesal karena Naraya memang lebih banyak bengong. "Jangan, tuan." Naraya hanya menunduk lugu. "Lalu kenapa kau masih diam saja? Sungguh kau sudah membuatku marah berkali-kali!" gerutunya kesal. "Berapa lama lagi aku akan berada di sini sebagai tawananmu, tuan?" "Sampai aku bosan! Setelah aku bosan, aku akan membunuhmu!" Oke! Naraya pun hanya bisa menerimanya. Satu-satunya jalan agar ia bisa tetap hidup adalah tetaplah menjadi pemuas nafsunya! Jangan pikirkan apa-apa! Rebutlah hatinya! Pikir Naraya. "Aku tunggu di kamarku! Waktumu untuk bersiap hanya 15 menit!" kata Rayden lalu dia melengos pergi meninggalkan Naraya sendirian lagi di kamar itu. BRAK! Rayden juga membanting pintu dengan keras, tapi Naraya sudah mulai terbiasa. Sepeninggal Rayden, Naraya memeriksa kembali satu persatu dari paperbag-paperbag itu dan setidaknya dia memiliki beberapa potong pakaian dan serangkaian skincare dan bodycare yang mahal. Mungkin benar jika Rayden memang ingin Naraya menjadi tawanan yang akan selalu memuaskannya. Baiklah! Sekarang ini memang sudah tak ada jalan lain lagi! Bangkit! Semangat! Ikuti arus! Dan saat ada kesempatan untuk melarikan diri, maka kabur lah! Itu lah yang ada di dalam pikiran Naraya saat ini. *** Marcus dan beberapa petinggi Black Eagle kecuali Rayden sedang duduk di ruang pertemuan di salah satu sudut markas besar itu. Ada Sapta dan Jerry. Keduanya adalah orang-orang kepercayaan Marcus selain Rayden. Mereka ada di bawah kepemimpinan Rayden, sementara yang menempati kursi tertinggi adalah Marcus. "Ada yang aneh dengan gelagat si Ray!" kata Jerry memulai obrolan. "Ya! Dia jadi lebih sering pulang lebih awal! Padahal biasanya dia selalu semangat untuk lembur mengurusi urusan Black Eagle!" timpali Sapta. "Tapi dia selalu pulang ke rumahnya! Setelah itu tak pernah sekali pun dia keluyuran di luar jam kerja!" kata Marcus masih santai, tak menaruh rasa curiga sedikit pun seperti Sapta dan Jerry. "Mungkin benar! Tapi apa mungkin dia menyembunyikan sesuatu di rumahnya?" curigai Jerry lagi. "Sudah lah! Simpan prasangka kalian! Besok dia harus mengawal keberangkatan Nona Jessi ke kota T untuk sebuah acara fashion show!" kata Marcus. "Bukannya acara itu sudah berlangsung beberapa hari yang lalu?" tanya Sapta. "Acaranya diundur!" "Kenapa Nona Jessi tak memilihku saja ya?! Memang ya, si Ray selalu unggul dalam segala hal dari pada kita!" keluh Sapta. "Hey, Sapta! Jangan bandingkan dirimu dengan Rayden! He is in another level than you! Ingat itu!" peringatkan Marcus. Di sini sangat jelas terlihat jika Marcus sangat condong pada Rayden dibanding kepada anak buahnya yang lain. Sapta diam saja. Walau agak sedikit kesal karena ditegur oleh Marcus. Marcus tak akan mampu dibantah. "Pulang lah ke rumah kalian masing-masing! Besok kita harus bekerja keras lagi!" kata Marcus lalu dia beranjak dari ruangan itu meninggalkan Jerry dan Sapta di sana. "Sepertinya si Ray punya barang baru! Dia menikmatinya sendirian di rumahnya!" duga Sapta kesal. "Sepertinya dugaanmu itu akan meleset! Yang aku tahu, sejak 5 Tahun lalu, si Ray sudah tak pernah memakai obat-obatan itu lagi!" tanggapi Jerry. "Lalu kenapa dia seperti membatasi diri lagi dari kita semua?" "Dia memang seperti itu, kan? Apa lagi yang kau herankan?!" Jerry kemudian bangkit menyusul Marcus untuk enyah dari ruangan itu. Sapta pun hanya bisa menaruh curiga saja karena gak bisa menggali informasi tentang Rayden lagi. Sapta pikir urusan pribadi Rayden bukan lah urusannya. "Aah sialan! Kenapa aku selalu penasaran dengan hidup si Ray?! Sialan!" Berkali-kali Sapta mencoba menyangkal dan hatinya masih tetap penasaran. Padahal, saat ini Rayden memang memiliki rahasia yang tak diketahui oleh siapa pun. Rayden memiliki tawanan yang ia jadikan sebagai penghangat ranjangnya yang dingin selama bertahun-tahun ini. *** "Lebih cepat! Lebih cepat, tuan ...." Setelah beberapa kali melayani, pada akhirnya sang tawanan pun menikmati permainan gila si bos mafia. Sekarang tak ada pilihan lain selain menurut. Sungguh Naraya belum siap untuk mati karena masih banyak yang ingin ia nikmati dalam kehidupannya ini. "Lebih cepaaat ...." "Kau menikmatinya juga, huh?" sentil Rayden. "Lagii ...." Mendengar racauan lawan mainnya membuat Rayden berpacu lebih keras dan semuanya berakhir dengan sebuah kenikmatan yang tiada tara itu. Cairan lengket menyeruak membasahi seluruh bagian Naraya. Dia tak sadar kalau hal itu akan menyebabkan kehamilan. Permainan yang berlangsung beberapa kali tanpa pengaman dan tentu saja akan mempertemukan sperm dan sel telur milik sang tawanan. 'Tak sia-sia aku menawannya! Dia memberikan kenikmatan lain yang tak aku temukan pada perempuan lain!' batin Rayden. Diam-diam dia mengagumi dan benar-benar menikmati tubuh Naraya. Tapi Rayden tak pernah mengakui hal itu secara langsung. Dia tetap angkuh dan menganggap Naraya sebagai tawanan yang suatu hari nanti akan menjadi membosankan. "Sudah cukup kan untuk malam ini, tuan? Aku lelah ...." ucap Naraya yang masih telentang terengah kecapean. Bagaimana tidak lelah? Sudah 3 ronde malam ini berlangsung. "Pergi lah ke kamarmu!" perintah Rayden. "Baik, tuan! Sepraimu, biar besok aku yang mencucinya!" kata Naraya lalu memunguti satu persatu pakaian yang tercecer di atas kasur. Rayden tak menjawab karena dia juga sangat kelelahan. Naraya pergi begitu saja dan dia pun tak kuasa ingin segera menepikan rasa lelahnya. Sembari mencari cara untuk bisa kabur suatu hari nanti. Karena sungguh ia tak ingin terus-terusan menjadi b***k s*x seperti ini. Naraya ingin lepas dari belenggu si Bos Mafia. Naraya ingin membersihkan diri dan bertaubat pada Tuhan dan menjalankan lagi hari-harinya dengan normal seperti dulu. 'Aku mungkin adalah pecundang yang menggadaikan harga diri demi keselamatan diriku sendiri, tapi sungguh aku tak ingin mati di tangan mafia kejam itu!' batin Naraya perih sembari terus berjalan menuju ke kamarnya. Menikmati kesendirian dan meratapi nasib. Entah sampai kapan Naraya akan tetap ada di sana. Sampai Rayden merasa bosan? Entah kapan pula ia akan merasa bosan. Sungguh menyedihkan apa yang Naraya alami. Kini ia hidup sebatang kara, kehilangan segala hal berharga yang ada di dalam hidupnya. Ayahnya mati di tangan Black Eagle, dan kesuciannya juga direnggut oleh salah satu petingginya. Andai saja mudah, maka Naraya akan melancarkan pembalasan suatu hari nanti, tapi dia sendiri sadar kalau itu sangat lah naif. Bagaimana bisa Naraya membalas orang-orang kejam tak berprikemanusiaan itu?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD