Jadi Tawanan Selamanya

1256 Words
Naraya tercekat! Si Mafia kejam memintanya untuk memanaskan ranjangnya dan akan membayarnya dengan sebuah kebebasan besok pagi. Ambil? Atau melawan? Tapi mau bagaimana lagi? Sungguh Naraya tak ingin mati sia-sia di tangan Rayden. Tapi di satu sisi, Naraya juga tak ingin menyerahkan tubuhnya pada sang mafia. "Kenapa diam saja? Apa kata-kataku barusan kurang jelas?!" tanya Rayden dengan suara parau dan rendah ciri khasnya. "Je-jelas, tuan!" jawab Naraya dengan gugup. "Tunggu apa lagi? Naik lah ke atas ranjang!" perintahnya. Naraya masih diam. Fantasi liar dan upaya untuk tetap mempertahankan harga diri saling tarik menarik membuatnya bimbang. Jujur saja, sebagai gadis biasa, Naraya sangat mendambakan sentuhan dari pria istimewa seperti Rayden. Mata Naraya masih normal, dia melihat keindahan surgawi pada wajah dan raga Rayden, seluruh kota pun mengakuinya. Tapi, di satu sisi lain hatinya ia pun masih ingin mempertahankan harga diri dan moralnya. Naraya adalah gadis perawan yang tak pernah sekali pun membiarkan tangan lelaki menyentuh bagian-bagian sensitif di tubuh ranumnya. "Oke! Karena kau diam saja, aku anggap kalau kau menolak perintahku! Kau tinggal pilih saja, mau mati secara perlahan atau mati cepat dengan satu tembakan di kepala?" ancam Rayden. Hati Naraya bergetar dan ketakutan .... "Jangan, tuan! Saya mohon ... saya masih ingin hidup di dunia ini!" Naraya memohon, mengatupkan kedua tangannya di hadapan Rayden yang malam ini benar-benar tak seperti biasanya. Biasanya Rayden menolak ajakan bercinta dari para wanita di luar sana, tapi entah kenapa malam ini dia malah merasa ditantang oleh tawanannya yang sedang ketakutan itu. Ketakutan Naraya seperti sebuah ajakan untuk bermain-main di atas ranjang. "Pilihanmu hanya dua! Mati atau naik ke atas ranjang!" gretak Rayden. Dengan hati pasrah, akhirnya Naraya menuruti titah Rayden. Dengan tubuh yang sudah tak terlindung oleh sehelai benang pun, Naraya menuruti keinginan Rayden. 'Kenapa aku tertarik dengan perempuan ini? Sialan!' Bahkan Rayden pun merasa heran dengan keinginannya saat ini. "Lantas, apa lagi yang bisa saya lakukan untukmu, tuan?" tanya Naraya yang hanya duduk di atas ranjang luas itu. Rayden belum menjawab, dia menatap wajah Naraya dengan tatapan ingin. Ingin menyerang dengan serbuah birahi yang telah berdesakkan di dalam dadanya. "Coba ulangi ... siapa namamu tadi?" tanya Rayden malah melakukan interview singkat lagi. "Na-Naraya ...." "Umur?" "23 ...." "Masih perawan?" "Iya." "Jadi kau adalah anak dari preman pasar pembuat onar itu?" "Ayahku bukan preman, dia hanya bekerja dan mengais rezeki di pasar itu! Kenapa kau tega menghabisinya, tuan?" Naraya memberanikan diri untuk kembali melancarkan protes. "Begitu menurutmu?" "Iya, yang aku tahu ... ayahku adalah orang baik." "Bagaimana bisa kau berpikir demikian?! Dan bagaimana bisa pria sejelek dia memiliki anak perempuan yang lumayan sepertimu?" Andai saja yang bicara bukan Rayden, sudah Naraya daratkan tamparan di wajahnya karena kesal. Mana boleh menghina orang yang sudah meninggal? Aaah, percuma saja Naraya protes. Rayden adalah lelaki yang tak akan mampu dikonfrontasi. Rayden beringsut, dia bergerak mendekat pada tawanannya yang hanya duduk dengan tubuh telanjang. Rayden mendekatkan wajahnya pada wajah Naraya, dan hati Naraya kian jedag jedug tak karuan. "Aku hanya minum liquor sedikit ... sedikit saja! Tapi kenapa aku bisa semabuk ini?" ucap Rayden, aroma liquor menguar dari mulutnya. Ya! Rayden memang sedang mabuk. Dia ada di bawah pengaruh alkohol, itu lah sebabnya dia bersikap sangat binal malam ini. Padahal semua orang mengenalnya sebagai pria yang dingin, cuek dan angkuh. "Lakukan saja, tuan! Tapi tolong bebaskan aku besok pagi!" ucap Naraya sembari memejamkan matanya kuat-kuat. Dia tak kuasa dipandangi dari jarak dekat oleh Rayden seperti itu. "Tapi, kalau kau tak bisa memuaskan aku! Terpaksa aku harus menghabisimu!" Naraya membuka kembali matanya, agak melotot. Naraya mulai kesal, karena merasa sedang dipermainkan. "Apa maksudnya? Kalau seperti itu, apa bedanya dengan membunuhku sekarang atau nanti? Pada akhirnya kau akan membunuhku juga, kan?" Naraya menaikan intonasi bicaranya, dia merasa sangat dipermainkan. Nafsu dan amarah mendorongnya untuk berani melancarkan protes keras pada Rayden. Rayden cukup berdecak dengan sikap Naraya. GAP! Rayden menangkap rahang Naraya lalu menekan dan menariknya dengan kasar. Naraya semakin jelas melihat wajah rupawan yang sedang menyeringai itu. "Aku akan membunuhmu setelah malam ini!" ancamnya tapi kemudian, Kiss! Rayden mulai beraksi. Dia merebut bibir ranum Naraya dengan liar. Naraya hanya diam dan pasrah. Hatinya seakan meledak! Hari ini adalah hari yang tak akan pernah Naraya lupakan untuk seumur hidupnya! Tak akan pernah! Maksud hati ingin mencari keberadaan ayahnya, Naraya malah terjebak dengan mafia kejam yang tak memberinya kesempatan untuk bernafas lega sepanjang hari ini. 'Apakah ini hari terakhirku untuk hidup, Tuhan! Apa setragis ini akhir hidupku? Tolong sedikit lunakan hati pria kejam ini, aku mohon, Tuhan!' Hanya mampu memanjatkan do'a dalam hatinya dan sisanya hanya bisa pasrah. Tanpa melepaskan pagutan bibirnya, Rayden kemudian membuka satu persatu kancing kemejanya. Sungguh ia ingin kulitnya bersentuhan langsung dengan kulit si gadis tawanan. Dalam sekejap, Rayden pun terjebak dalam erotisme yang Naraya tawarkan kendatipun Naraya hanya diam dan tak menggoda sedikit pun. Aktifitas liar itu berlangsung sepanjang malam. Rayden benar-benar menikmati setiap inci dari tubuh Naraya. Menyentuhnya, mengendusnya, menjilatinya dan sesekali meremas bagian-bagian tertentu sehingga sang gadis hanya mampu menggeliat dan mendesah-desah tak karuan. Pada akhirnya, Naraya pun ikut menikmati meski dalam ketakutan yang tak jua berakhir itu. "Aku sudah tak tahan, aku akan melakukannya sekarang!" bisik Rayden sembari sesekali meraup telinga Naraya dengan bibir tipisnya sehingga Naraya merasa sangat geli. "Lakukan saja! Dan bebaskan aku besok pagi!" desah Naraya. Dia tenggelam dalam deburan nafsu tapi kemudian masih ingat kalau besok pagi dia harus segera pergi dari belenggu sang Bos Mafia. "Oke, lets see! Sejauh apa kau bisa memuaskan aku!" Rayden melucuti sabuk serta celananya. Dia mendorong tubuh Farasha untuk terbaring di bawah tubuhnya yang gagah. Tubuh atletis impian ribuan wanita di luar sana. Setelah puas melakukan pemanasan, Rayden pun mulai melancarkan aksinya lagi dengan mempertemukan miliknya dengan milik sang gadis yang merengek kesakitan. Krrrkkk ... momen dimana miliknya robek terkoyak oleh aksi bar-bar Rayden begitu menyakitkan. "Sakiit ... sakit sekali ...." ratapnya dan hanya bisa menangis. Untuk menahan sakit, Naraya hanya berpegangan pada seprai sampai seprai itu menjadi berantakan. "Diam saja! Dan teruslah mengerang, sayang!" ucap Rayden dan dengan gagahnya dia menghentakkan miliknya sampai dia merasakan sensasi itu .... "Lord! Kenapa ini nikmat sekali!" racaunya liar dan terus bekerja sampai dia merasakan puncak kenikmatan itu .... Naraya hanya mampu menangisi semuanya. Pria yang merenggut kesuciannya adalah seorang mafia. Bukannya pria yang menikahinya. Naraya sungguh sangat menyesalkan hal itu. 'Maafkan aku, Tuhan ... aku tak bisa mempertahankan kesucianku! Semoga Engkau mengampuni kesalahanku ini ....' batinnya dan Naraya tetap menangis kala Rayden menikmati puncaknya itu. Apakah Naraya akan dibebaskan? Atau malah akan dijadikan tawanan abadi oleh Rayden? *** Pagi tiba .... Semalaman Naraya tak bisa tidur. Dia menangis perih dalam diamnya. Dia hanya bisa menikmati isak perih yang terasa menusuk-nusuk hati. Rayden mendekapnya setelah permainan panas semalam. Naraya tak bisa melepaskan diri. 'Aku sudah hancur!' ucapnya berulang kali di dalam hati. Dan saat Naraya tahu pagi sudah datang, Naraya menaruh harapan terakhirnya pada sang pagi yang katanya akan menjadi waktu kebebasannya. "Tuan ... bangun lah! Ini sudah pagi!" ucap Naraya berharap Rayden mendengarnya. "Tuan ... semalam aku membuatmu puas, kan? Maka lepaskan lah aku! Aku mohon! Aku harus kembali ke tempat kerjaku pagi ini!" ucap Naraya lagi tanpa bisa bergerak karena Rayden benar-benar mendekapnya seperti seorang kekasih yang tak ingin kehilangan pasangannya. "Tuan ...." "Diamlah!" sambar suara rendah dan dalam di belakang telinga Naraya. Ternyata Rayden memang sudah bangun. Naraya kembali menahan nafasnya. "Dengar ini, Naraya! Kau tak akan pernah bebas!" bisik Rayden kemudian. "Ma-maksudnya???" Ketegangan belum berakhir. Hati Naraya tambah ketakutan lagi. "Kau akan jadi tawananku selamanya!" Untuk ke sekian kalinya Naraya tersentak. What? Jadi tawanan untuk selamanya? Yang benar saja?!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD