Rayden lelah ....
Dia kembali ke kediamannya yang sunyi, dingin dan gelap. Rayden bisa saja menyalakan penghangat ruangan, tapi bukan hanya hawa di sekitarnya yang dingin, melainkan hatinya juga lebih dingin lagi.
BUK BUK BUK
"Tuan! Tuan! Izinkan aku keluar!"
Baru saja Rayden duduk beberapa detik, dia harus terusik oleh teriakan di kamar di pojok ruangan yang dia kunci sejak 2 jam yang lalu. Rayden baru ingat kalau dirinya mengunci seorang gadis setengah telanjang di kamar itu.
Rayden bangkit, berjalan ke arah ruangan itu dan membukakan kuncinya. Ya! Itu dia, gadis yang tadi petang mencari gara-gara di depan gerbang Black Eagle. Saat pintu terbuka, gadis itu segera melindungi tubuhnya yang tak terlindungi oleh sehelai benang pun dengan kedua tangannya yang menyilang.
Rayden menatapnya, menatap ketakutan yang tak jua enyah dari wajah gadis itu. Rayden juga mendapati sebelah pipinya yang memerah, pasti itu bekas tamparan telak yang tadi ia daratkan.
"Beri aku kesempatan, Tuan!" ratap gadis itu dengan air mata yang hampir tumpah, lagi dan lagi.
"Dalam kamus Black Eagle, kesempatan berarti hutang!" kata Rayden terlihat agak diplomatis.
"Aku akan membayarnya! Dengan apa pun itu!" tegas Naraya, dia mengerahkan seluruh kemampuan memelasnya di depan seorang Rayden Xavier.
"Barang berharga apa yang kau punya untuk membayarnya, huh?" tanya Rayden, nada bicaranya semakin sarkastik.
Gadis itu sejenak berpikir, ia kebingungan, hampir serupa orang linlung yang putus asa. Dan memang hal itu lah yang Rayden Xavier suka. Keputus asaan para korbannya adalah seperti tambahan energi untuknya.
"Kau tak punya apa-apa?" desak Rayden, Naraya seperti sedang berdebat di dalam dirinya sendiri. Jelas sekali saat ini dia ingin tetap hidup, Rayden bisa melihat hal itu.
"Apa pun yang kau inginkan, Tuan! Aku akan menyerahkan apa pun yang kau inginkan!"
Rayden kembali tatap tubuh molek gadis itu. Malam ini sepertinya Rayden ingin menghabiskan malamnya dengan sebuah kegiatan di atas ranjang. Lagi pula, sejak tadi Naraya memang sudah menggoda dan mengusik gairah seksualnya yang jarang-jarang terpancing itu. Entah kenapa, saat melihat Naraya topless, Rayden malah tergelitik untuk mencicipinya.
"Kalau begitu pergi ke kamar mandi dan bersihkan dirimu!" titahnya, Naraya malah bengong.
"Ha?"
"Cepat!" hardikannya begitu menggelegar membuat Naraya terkesiap dan sigap berlari ke arah kamar mandi. Walau belum tahu dimana letak kamar mandinya, Naraya terlihat kelimpungan karena sungguh gentar dengan sikap dan bentakan-bentakan dari Rayden.
Rayden menarik tangan Naraya dan menyeretnya ke dalam kamar utamanya. Naraya semakin ketakutan, bahkan Rayden menggusurnya sampai ke area kamar mandi di dalam kamarnya itu. Kamar mandinya cukup luas dengan sebuah bath up di salah satu sudutnya.
"Bersihkan dirimu!"
BRAK, lagi-lagi Rayden membanting pintu kuat-kuat, meninggalkan gadis malang itu di dalamnya. Rayden hanya menunggu, menunggu sembari berbaring manja di atas tempat tidurnya.
KRIIING, ponselnya kembali berdering dan lagi-lagi yang menelponennya saat ini adalah Marcus.
"Ada apa, Bos?" Tanya Rayden begitu sambungan teleponnya terhubung.
"Bangun pagi! Temani Jessi ke acara fashion show di kota T! Kalian akan pergi dengan heli, kamu juga harus terlihat fresh, Ray! Jangan permalukan Jessi!"
's**t! Apa lagi ini?' batinnya menyahut, Rayden kesal bukan main.
Kenapa saat ini dirinya terkesan seperti kacung-nya Jessi! Tapi mau bagaimana lagi? Perkataan Marcus adalah perintah mutlak untuknya walau kadang sesekali ia melontarkan protes.
"Ray! Kamu dengar kata-kataku?" Suara Marcus dari dalam telepon menyadarkan Rayden yang hanya mampu menggerutu dalam hati.
"Tapi, Bos! Besok ada barang baru yang masuk dari Negara tetangga! Aku harus mengurusnya!" dalih Rayden mencoba mencari alibi.
"Itu biar aku sendiri yang mengurus! Temani saja Jessica! Dia butuh pengawalan khusus dan ia menginginkan dirimu untuk menjadi pengawalnya!"
"Heum!"
Damn! Ingin rasanya Rayden membanting ponselnya. Benar dugaannya kalau Jessi akan membuatnya seperti boneka mainan. Kalau saja Jessi bukan puteri dari Bos Mafia besar seperti Mr. Vallent, mungkin Rayden akan mencekiknya sampai collaps besok pagi. Sayangnya Mr. Vallent adalah partner penting untuk Black Eagle. Maka Rayden pun harus sedikit mengenyampingkan egonya demi kepentingan Black Eagle.
BRUK! Dia lemparkan jasnya ke sembarang tempat, dia juga menarik dasinya sampai tertanggal. Situasi kamarnya yang biasanya dingin kini mulai membuat gerah setelah Rayden mendengar tugasnya besok hari.
Yang benar saja, menemani seorang wanita ke acara fashion show di luar kota? Mau disimpan dimana martabatnya sebagai seorang Mafia? Pikir Rayden.
Ya, walau banyak orang yang masih tabu dengan profesi sebagai seorang mafia, tapi kehidupan mereka memang ada dan menjamur namun masih dibungkus dengan kamuflase yang cukup rapi.
CKTT, pintu kamar mandi terbuka. Badan Rayden sedikit lebih gerah lagi melihat sosok yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Gadis berbalut handuk dengan rambut setengah basah, penampakan natural yang entah kenapa menggoda Rayden sejak beberapa jam lalu.
Mungkin Rayden merasa gadis yang tadi hanya berseragam sebagai pegawai sebuah mini market itu memiliki magnet tersendiri. Padahal jarang sekali Ray bernafsu untuk menyentuh wanita manapun, wanita se-seksi apapun bahkan dia tak tertarik dengan sosok Jessica Rose yang jika di lihat secara kasat mata, ia memiliki kesempurnaan ragawi yang memukau mata, tapi tidak dengan mata dan hati seorang Rayden Xavier.
"Mendekat!" Rayden berseru.
Rayden menunggu Naraya memacu langkah lambannya, langkah gadis itu begitu lamban, masih jelas terlihat kalau ia begitu ketakutan. Dan setelah sampai, gadis itu hanya berdiri mematung sembari memegangi lipatan handuknya. Dia juga agak menggigil karena ketakutan, terlebih Rayden terus menatapnya sejak tadi.
"Dingin?" tanya Rayden, Naraya hanya mengangguk.
"Aku akan menghangatkan tubuhmu!" dalih Rayden lalu ia setengah bangkit dari posisi berbaringnya tadi.
Rayden duduk di tepi ranjang dan berhadapan langsung dengan Naraya yang masih berdiri dengan gemetar di hadapannya.
'Kenapa aku menginginkan tubuh gadis ini? Come on, Ray! Dia hanya gadis biasa! Tapi kenapa ketakutannya begitu membuat aku b*******h!' batin Rayden, dia pribadi merasa heran kenapa dia begitu tergoda dengan gadis yang sepanjang hari ini memperlihatkan ketakutannya itu.
"Tanggalkan handukmu!" perintah Rayden, perlahan Naraya membuka lipatan handuknya dan menanggalkannya. Ya! Ini dia, saat ini penampakannya begitu sempurna. Tak ada sehelai benang pun yang menghalangi pandangan Rayden. Ranum dan mulus sempurna.
Rambut setengah basah yang tergerai indah, wajah polos namun manis yang ketakuatan, pundak yang tak begitu lebar yang seperti menyimpan magis tersendiri, d**a yang bulat dan penuh walau bukan ukuran J seperti para w*************a lain.
Tapi penampakan dua buah keindahan dunia yang Naraya miliki itu memacu libido Rayden naik dengan cepat, cepat maksimal.
Lagi, perutnya yang rata, pinggul yang sedikit lebih lebar dari ukuran pinggangnya, aaah ... gadis ini memiliki hourglass shape yang luar biasa indah, pikir Rayden. Bahkan Rayden bisa melihat penampakan itu, penampakan surga dunia itu.
Suhu tubuh Rayden naik, dia lepaskan beberapa kancingnya lagi. Dia begitu kehausan dan tak sabar rasanya ingin mereguk tubuh segar di depan matanya saat ini.
"Baiklah! Aku akan memberimu kesempatan! Dan kamu harus membayarnya dengan tubuhmu ini! Hangatkan ranjangku! Maka esok pagi aku akan membebaskanmu dalam keadaan hidup!"