Perempuan Agresif

1210 Words
BRUK!!! "Kita lanjutkan nanti setelah urusanku selesai!" Rayden menghempas tubuh Naraya ke sebuah ruang kamar kosong lalu menguncinya. Rayden tampak kesal. Baru saja ia akan menuntaskan hasratnya pada tawanan perawannya itu, tapi Marcus menelphone-nya dan mengganggu momen erotis itu. Marcus adalah pimpinan tertinggi Black Eagle. Ia adalah satu-satunya orang yang tak pernah Rayden bantah, ia adalah satu-satunya orang yang Rayden takuti di dalam organisasi Black Eagle. Ya! Sesuai jadwal, malam ini ada jamuan makan malam dari Mr. Vallen, salah satu relasi penting dari negara S. Sejujurnya, Rayden sangat malas menghadiri acara yang cukup formal ini, hanya saja Marcus sendiri yang memintanya untuk hadir, jadilah ia tak bisa menolaknya. *** Marcus sudah menunggu di lobi hotel. Dia menunggu kehadiran Rayden. Pria berusia setengah abad itu sudah memakai coat warna hitam dengan topi vedora dan tongkat kayu dengan ukiran kepala elang di pangkalnya. Gayanya memang sudah menggambarkan sebagai seorang bos mafia besar. Begitu sampai, Rayden sedikit membungkukan tubuhnya pada Marcus sebagai tanda hormat. Rayden adalah salah satu orang kesayangan yang paling Marcus andalkan dan Rayden sendiri sudah menganggap Marcus sebagai Ayahnya sendiri. "Terlambat 15 menit!" kata Marcus dengan tatapan menghakimi. "Sorry Bos," ucap Rayden penuh rasa hormat, sungguh hanya pada Marcus saja Rayden bersikap seperti ini. "Ayo masuk, jangan biarkan Mr. Vallen dan putrinya menunggu lama!" Rayden ikuti langkah Marcus dari belakang menuju ball room luas yang sudah terbooking itu. Ada beberapa orang yang sudah duduk stand by disana, dan di antara jajaran pria-pria berjas hitam, ada sesosok gadis cantik berpenampilan elegan berdiri di samping Mr. Vallent. Tapi sepertinya itu bukan faktor x yang bisa menarik atensi seorang Rayden Xavier. "Selamat datang Mr. Marcus ...." sambut pria tua berwajah oriental itu. "Harusnya kami yang menyambut dan mengundangmu seperti ini Mr. Vallen," sahut Marcus, lalu mereka saling menyapa dengan saling berjabatan tangan. "Its okay, lagi pula, separuh saham krusial hotel ini sudah aku akuisisi!" "Waw, luar biasa! Selamat!" Rayden masih diam berdiri di samping Marcus yang masih saling menyapa dengan Mr. Vallen sementara dirinya tak memperhatikan apa pun. Rayden masih menyayangkan momennya bersama tawanan perawannya terganggu karena makan malam ini. Rayden tak sadar kalau putri cantik Mr. Vallen sedari tadi memperhatikannya, Rayden sama sekali tak menyadari dan tak mempedulikannya. "Siapa gadis cantik di sampingmu ini, Mr. Vallen?" Kali ini terdengar sapaan menggoda dari Marcus kepada gadis tinggi semampai itu. "Jessica Rose, uncle! Just call me Jessi!" jawab gadis itu lugas, Marcus segera meraih jari-jarinya yang lentik dan berhias kutek merah itu lalu mencium punggung tangannya tanda hormat. Jessi, begitulah panggilan sayang gadis itu kemudian menyodorkan tangannya pada Rayden tapi Rayden masih diam, diam hingga beberapa detik sampai akhirnya Marcus menggretaknya, "Hmm!". Barulah Rayden sudi, dengan berat hati ia raih tangan dengan wangi semerbak itu lalu menciumnya tak sampai 2 detik lamanya. Jessi tampak semakin penasaran dengan Rayden yang bersikap dingin, Jessi tampaknya tertantang untuk menaklukan hati mafia tampan bernama Rayden Xavier itu. "Ini Ray! Rayden Xavier! Tangan kananku yang sudah aku anggap sebagai putera sendiri!" kata Marcus dengan bangga, Rayden diperkenalkan dengan bangga dan hal itu memang sudah memikat hati gadis berambut pirang itu sejak awal bahkan sebelum Marcus memperkenalkan namanya di hadapan orang penting di dunia perkartelan asal negara S. "Oh, ini dia Rayden Xavier! Namamu sohor di beberapa club dan kasino di Marina Bay! Para wanita selalu ramai membicarakan sosokmu!" ungkap Mr. Vallen, Rayden sama sekali tak tersanjung, dia malah ingin mengakhiri cepat-cepat makan malam ini. "Wah, benarkah?" "Yes! Oke, take a seat please," Akhirnya Mr. Vallen mempersilakan Marcus dan Rayden untuk duduk. Selama 45 menit berjalan, Rayden tak banyak bicara, dia hanya menjawab saat Mr. Vallen bertanya sesuatu yang penting saja, dan jika pertanyaan tak begitu penting ia hanya menukas dengan senyum dan anggukan malas. 'Aaah sial!' Itulah umpatan dalam hati Rayden yang terlontar sejak tadi, sungguh acara yang membosankan. Tak peduli ada gadis super cantik yang sejak tadi flirting ke arahnya, Rayden benar-benar tidak peduli. Dan ketika acara makan malam yang super boring itu berakhir, Mr. Vallen dan Marcus malah meminta Rayden untuk menemani putrinya naik ke lantai dimana kamarnya terletak. "Antar dia sampai ke ambang pintu kamar hotelnya, Ray!" kata Marcus memerintah. Lagi dan lagi momen tak menyenangkan harus dia laksanakan. Sebenarnya Rayden lebih suka disuruh mematahkan lengan seseorang dari pada harus melaksanakan tugas di luar profesinya seperti sekarang ini. Tapi mau bagaimana lagi? Ray tak bisa menolak permintaan formal itu. "Lihat mereka! Aku merasa Ray bisa melindungi Jessi dengan baik!" kata Mr. Vallen dan Rayden bisa mendengarnya, terbesit dugaan dalam benaknya kalau Marcus dan Mr. Vallen hendak menjodohkannya dengan gadis cantik yang kini menautkan tangannya di tangan berototnya itu. Mereka berjalan bersama menuju kamar hotel Jessi yang ada di lantai paling atas hotel bintang 5 itu. "Senang bertemu denganmu, Ray!" kata Jessi, Rayden tak menyahut atau sekedar menanggapinya dengan ekspresi, wajahnya tetap datar. Dan saat di dalam lift pun, Rayden tak berusaha untuk memulai obrolan. Rayden tetap diam dan hal itu tampaknya membuat Jessi semakin penasaran dan semakin tertarik. Ya! Pria berkepribarian dingin seperti Rayden memang selalu memancarkan aura berbeda, sungguh magnetik. Banyak orang berpendapat 'Tak perlu tampan, bersikaplah kalem maka kamu akan terlihat keren!' setidaknya kalimat itu mewakili kepribadian Rayden saat ini. Ditambah lagi Rayden memang memiliki kesempurnaan ragawi yang jika dinilai dengan angka, dia ada di angka 9 dari total nilai 10, nyaris sempurna tanpa cela. Hanya saja, sikap dinginnya juga kadang membuat banyak gadis menyerah, karena sejauh ini hanya beberapa hal saja yang berhasil membuat Rayden bereaksi. "Ray ...." panggil Jessi, Rayden hanya menoleh dan hanya dengan seperti itu saja Jessi langsung kembali terpanah asmara. "Aku berharap, suatu hati nanti kita bisa memiliki waktu untuk menghabiskan satu hari di pulau yang indah!" harap Jessi, terdengar seperti kejujuran dalam hatinya. "Aku sibuk!" sahutnya singkat, padat dan jelas. "Mungkin kamu bisa menyerahkan pekerjaanmu pada orang-orangmu! Just one day, Ray!" Jessi masih berusaha membujuk Rayden, dia mengencangkan dekapan tangannya. Rayden kesal, kalau saja Jessi bukan putri kesayangan Mr. Vallen, mungkin sejak tadi Rayden sudah meludahi wajah cantiknya. Meski cantik menawan tapi itu tak cukup memantik rasa suka seorang Rayden Xavier. 'Sial! Kenapa aku malah jadi seperti boneka yang bisa perempuan sialan ini kendalikan! Damn!' batin Rayden kesal. Sial memang, dia lemah di hadapan Marcus dan Mr. Vallen. Jika bukan mereka yang memintanya, tak mungkin Rayden sudi ada di bawah kendali orang lain seperti sekarang ini, terlebih dia merasa Jessi sudah memanfaatkan kedigdayaan Mr. Vallen. Sudah sampai di depan kamar hotel Jessi, Rayden lega karena dia harap tugasnya mengantar Jessi selesai sampai di depan pintu saja. "Bolehkah aku memelukmu sebentar? I love your smell," pinta Jessi, lancang bukan main tapi Rayden tak bisa menolak, dia pun membiarkan Jessi memeluknya dan mengendus wangi tubuhnya yang malah membuat Jessi semakin larut. Itu sangat tergambar jelas, Jessi tak bisa berbohong lagi, pasti Jessi sudah jatuh cinta dengan Rayden. "Cukup, aku harus kembali!" kata Rayden, Jessi mengangkat wajahnya, lalu menatap Rayden lekat membuat Rayden kurang nyaman. "See you next time!" Kiss, Jessi semakin dan semakin lancang, di ujung kalimat yang terlontar dari bibir manisnya, Jessi berhasil merebut bibir Rayden dan mengecupnya. Walau dia harus berjinjit kaki tapi Rayden melihat betapa bahagianya Jessi saat berhasil meraih bibirnya. Rayden benci hal itu. Saat Jessi berlalu masuk melewati pintu kamarnya, barulah Rayden mengeluarkan lagi kata-kata umpatannya, 's**t!'. Dia pergi meninggalkan lorong itu sembari mengusap bibirnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD