Saka menoleh ke sampingnya. Pada gadis yang tertidur pulas di sampingnya. Matanya menatap setiap fitur di wajah itu. Matanya yang tertutup dengan bulu mata yang lentik, hidungnya yang tidak terlalu mancung tapi mungil menggemaskan, pada bibirnya yang kemarin baru saja ia cium. Bibir yang kembali menggodanya malam ini.
Ala cantik. Tapi gadis itu tidak menyadarinya. Gadis itu hanya fokus pada mencari uang.
Tapi Saka tahu kalau ucapannya tadi itu sungguh-sungguh. Ala mencari uang untuk mama tirinya yang menjaga kedua makam orang tuanya. Ala mencari uang bukan untuk dihamburkan. Ala mencari uang untuk hal yang paling berharga untuknya.
Gadis ini tidak punya apa-apa lagi selain pusara kedua orang tuanya.
Apa yang bisa ia lakukan untuknya?
Saka melepaskan sabuk pengamannya, menyandarkan sisi kepalanya pada sandaran, menatap Ala yang tenggelam dalam jaketnya di luar dress mini yang ia berikan sore tadi. Mungil sekali gadis ini. Apa dia kekurangan gizi? Hm, Saka melihat dadanya yang berisi. Tidak, Ala tidak kekurangan gizi. Ia sehat.
“Keras kepala, apa yang membuat kamu kukuh begitu tidak mau menerima apa yang aku tawarkan? Kamu mau lebih banyak? Atau kamu benar-benar tidak mau melakukannya demi uang?”
Saka tidak mengerti. Kenapa seorang Alara Fahira bisa menolaknya? Ia juga belum bertanya kenapa dengan ciumannya?
Argh! Apa ia harus coba menciumnya lagi?
Dan bertanya tentang ciuman keduanya?
Ada gila-gilanya lu, Sakala! Erangnya dalam kepala.
Dering ponsel menyadarkan Saka yang sudah menunduk mendekati bibir Ala. Ia berkedip. Matanya melirik mata Ala yang masih tertutup. Gadis ini sepertinya benar-benar tertidur pulas. Ponselnya bersuara dan ia tidak bangun.
Jadi tangan Saka meraih tas yang dipakai Ala hari ini, membukanya dan meraih ponsel gadis itu.
Mama Arum Calling …
“Ini mama tirinya?” gumam Saka yang menyimpan kembali tas Ala di samping paha gadis itu.
Matanya menyipit melihat notifikasi di atasnya. Beberapa pesan yang baru sampai beberapa menit yang lalu. Saka menebaknya kalau telepon ini datang setelah pesan-pesan itu tidak terbuka. Jari Saka menggulir ikon terima, membawa ponsel itu ke telinga kirinya.
“Bagus banget, Ala! Kamu ke klub malem? Mabok? Ngasih contoh gak bagus ya kamu ke adik kamu ini?!”
“Terus apalagi? Pamit mau kerja ternyata jadi simpanan? Gimana mama bilang sama ayah dan mama kamu kalau mama udah mati nanti? Kamu gak memikirkan tanggung jawab yang mama bawa?”
“Siapa? Kamu dijadiin simpenan sama siapa? Pejabat? Artis? Mama gak mau ya makan uang haram.”
“Ala?”
“Kamu denger mama gak?”
“Jangan durhaka ya, Ala! Jawab kalau dipanggil orang tua!”
Saka menghela napas, “Ala sedang tidur.”
Hening.
“Dan menurut saya, Ala gak durhaka, Mama Arum. Dia selalu mengutamakan mamanya, jangan membuatnya bingung dengan konsep durhaka. Kalau anda menyayanginya, cukup katakan anda menyayanginya. Ala akan lebih berusaha memberikan semua yang terbaik untuk anda.”
“Siapa ini? Kamu yang menjadikan anak saya jadi simpanan? Kamu orangnya? Ala tidur? Apa yang sudah kalian lakukan?! Jawab?!”
Saka terkekeh pelan, ucapannya benar-benar penuh gaslighting. Ala pasti sudah terkena semua ucapan penuh penggiringan ini.
“Saya hanya orang yang sudah ditolak anak anda. Jangan percaya pada satu ucapan. Kalau anda belum mendengar dari anaknya langsung,” jawab Saka.
“Mana ada maling mau ngaku. Kalau ada apa-apa pada Ala. Saya akan tuntut kamu, ya!”
“Silakan. Sebelum itu, saya akan pastikan anda tidak akan lagi menerima sepeser pun dari Ala.”
“Kamu mengancam saya?”
“Anda yang menancam saya lebih dulu!” dingin Saka mengatakannya.
Tut!
Sambungan telepon berakhir begitu saja. Saka memandang ponsel yang sudah gelap itu. Lalu melirik Ala yang masih pulas. Seringai di bibirnya menghilang. Suara mamanya Ala terasa benar-benar mendayu merayu. Tapi ucapannya menusuk dan menyalakan api kecemasan.
Saka tidak bisa membayangkan berapa banyak Ala menerima ucapan-ucapan itu? Sejak kapan itu terjadi? Ala SMA? Sampai gadis ini jadi bodoh begini?
Hah!
Bagaimana menyadarkannya kalau usahanya untuk memenuhi kebutuhan mama dan adik tirinya itu sia-sia saja?
Saka meraih ponselnya, tangannya mencari nomor Dimas.
Dimas menjawabnya tepat di dering kedua, “Iya, Pak Saka?”
“Cari tahu tentang keuarga Ala. Darimana mereka punya uang dan coba cari darimana biaya Ala kuliah dulu.”
Perintah Saka langsung diangguki Dimas, ia berterima kasih dan menutup sambungan telepon. Matanya kembali menatap Ala yang terpejam. Sama seperti berhari yang lalu saat Ala masuk ke kamarnya dan tidur seperti bayi, menggumam sakit tenggorokan, mendesah-desah yang membuat bulu kuduknya meremang.
Apa tidurnya memang seperti ini? Lucu sekali.
“Gimana kamu bisa tidur kayak bayi saat aku curiga dengan hidup kamu, Alara?” tanya Saka dengan seringai kecil di ujung bibirnya.
-o0o-
Tangan Ala terangkat, meregangkan diri. Ia menguap sekali lagi sebelum membuka matanya dengan benar. Bangun, duduk di atas kasur, dan mengucek mata. Ia menarik napas pelan. Lalu kesadarannya pulih.
“Hm-“
Pandangannya menyapu kamarnya sendiri. Kamarnya di rumah Sakala. Kepalanya menoleh kanan dan kiri, melihat apakah ada yang aneh. Meraba bajunya sendiri, dress mini yang dipakainya tadi malam masih dengan jaket yang Saka beri padanya untuk dipakai. Saat mereka keluar dari The Six, angin malam Bandung benar-benar membuat Ala merasa membeku.
Jadi Saka memberikan jaketnya, memintanya untuk memakainya terus. Ala sudah tidak punya tenaga untuk berdebat, jadi ia menuruti perintah Saka dan memakainya. Ala tidak sadar ia sudah terlelap tidur. Ia juga tidak sadar sudah sampai. Ia juga tidak ingat berjalan dan naik ke kamarnya.
“Gimana gue bisa nyampe kamar?” tanyanya bingung.
Ia melirik jam di dinding kamar, sudah pukul empat. Kapan mereka sampai? Ala tidak mengingatnya. Apa ia tidur sambil berjalan?
Kepalanya mengeleng-geleng. Ia selamat sehat dan dalam keadaan baik-baik saja, juga di kamarnya sendiri. Tidak ada yang perlu dicemaskan. Sekarang ia hanya harus bangun dan membereskan apa yang sudah dilakukan bosnya kemarin.
Benar!
Membereskan taburan bunga di sepanjang lorong lantai dua dan di lantai satu. Yang katanya biar ucapan maafnya bermakna ganda. Biar romantis. Benar-benar pemikiran orang kaya, ia yang repot dengan kelopak-kelopak yang Ala yakin subuh ini sudah layu dan berwarna coklat.
Ala bergegas melepas jaket Saka, mengganti dress mininya dengan kaus dan celana pendek seperti biasa. Tangannya membereskan rambutnya yang berantakan. Ia merasa gatal di wajahnya, dan tidak bisa protes karena ia yang salah langsung tidur begitu sampai. Untung saja kulit wajahnya sekuat dirinya, jerawat hanya datang sebelum hari datang bulannya. Selebihnya ia akan baik-baik saja.
Tangan Ala meraih pegangan pintu, membukanya dan sekali lagi merasa tercengang.
Lorong sudah bersih.
Ala bergegas berjalan ke railing tangga, mengintip ke lantai bawah.
Bersih! Kinclong.
“Wah!” takjubnya sambil menutup mulutnya. Matanya menatap tak percaya pada apa yang ada di depannya.
Semuanya sudah kembali seperti biasa. Sudah bersih, sama sekali tidak terlihat bekas dari taburan-taburan bunga yang kemarin memenuhi lantai.
Ala melirik pada pintu kamar Sakala. Memandang pintu itu seakan Saka berdiri di sana, “Makasih, Pak Saka,” gumamnya dengan senyum mengembang lebar di bibirnya.
-o0o-
Vespa Primavera yang menjadi hadiah tenis selumbari lalu ada di depan rumah. Di carport yang biasanya terparkir mobil Sakala.
“Buat kamu,” suara Saka terdengar di belakangnya.
Ala menoleh dan melihat Saka yang sudah rapi dengan setelan suit and tie seperti biasa. Ia terpana sekali lagi. Benar-benar, gaya tidak bisa dibeli dengan apapun. Karena lelaki yang berdiri di depannya ini benar-benar cocok dengan apapun yang dipakainya. Mau itu setelan bekerjanya yang ini, yang memakai vest di dalam jasnya, yang casual santai seperti tadi malam, yang sporty seperti tempo hari, atau bahkan saat ia berantakan dengan baju tidurnya.
Sakala selalu terlihat memesona.
“Buat kamu aja, kita memenangkan pertandingannya bersama.”
Mata Ala berkedip, “Tapi, Pak, ini-“ Ala menggeleng, “saya cuma bagian pengacau.”
“Pengacau yang membuat saya menang, Ala,” jawab Saka yang kini menunduk melihat Ala. Yang dengan setelan kerjanya seperti biasa. Celana panjang dan kemeja sederhana. Rambutnya hari ini dicepol dan menyisakan poni depan dan anak-anak rambut yang menjuntai di sisi kiri dan kanan wajahnya. Wajahnya yang bersih dengan sapuan make up tipis.
Cantik.
Gadis sederhana ini cantik sekali.
Dan Saka kembali tergoda dengan bibirnya yang hari ini berwarna pink mengkilap.
Ah, kenapa ia bisa tergoda bibir yang terlihat juicy itu? Saka menggeleng.
“Saya pake mobil,” jawab Saka sekenanya, ia lalu menyerahkan kunci pada gadis di depannya itu, “kamu bisa naik motor, kan?”
Kepala Ala mengangguk-angguk. “Motor saya dulu dijual Mama Arum buat daftar kuliah Gina.”
Entah kenapa mendengarnya membuat Saka kembali menggeram ingin marah. Ia menoleh pada Ala lagi. bertanya-tanya apakah apa yang dikatakan mamanya di pesan itu tidak memengaruhinya sama sekali?
Tapi gadis itu tersenyum cerah sekali.
“Makasih banyak, Pak Saka,” ucapnya dengan senyum terang.
Saka mematung, senyum itu, membuatnya menahan diri untuk tidak melangkah dan meraih Ala dalam ciumannya.
-o0o-