Syarat Baru

1486 Words
Tangan kanan Ala ditarik, langkahnya langsung berhenti seketika, dan ia berbalik langsung menabrak d**a Saka di belakangnya. “Kenapa buru-buru?” tanya Saka dengan suaranya yang tenang. “Lepasin, Pak Saka,” pinta Ala dengan suara bergetar. “Kamu mau kemana?” “Kemana aja!” ketusnya. “Dih, ngambek. Jangan ngambek dong, Bebe,” Saka merajuk dengan tangan menggoyang-goyangkan tangan Ala. Ala bukan ngambek. Ia malu. Suaranya didengar semua orang dan kata-katanya terasa tidak seharusnya dikatakan seperti itu. Ia cuma marah pada diri sendiri yang dengan mudahnya terpancing oleh ucapan Gina yang bilang kalau ia menjual diri. Kalau laku mahal sih oke. Ini apa? Ia yang harusnya bekerja mati-matian untuk dapat jadi pegawai tetap malah mengharapkan lewat jalur lain. Ini memang sudah salahnya. Tapi Saka juga yang gila, bukan berarti ia yang gila sendirian. “Itu adik tiri kamu?” tanya Saka. Wajah Ala mendongak menatap Saka dengan pandangan curiga. “Kita pernah ngobrol tentang keluarga kamu, seminggu setelah kamu pindah, kita lagi makan malam dan kamu cerita kalau kamu cuma tinggal punya ibu dan adik tiri,” jelas Saka dengan luwesnya. Ala ingat, cerita itu mengalir begitu saja saat makan malam yang ia buat adalah tumis buncis dan semur ayam. Malam minggu itu Saka tidak pergi kemana-mana, ada luka di lengan kirinya dan pundaknya juga masih memar biru. Beberapa kali Ala membantunya mengoleskan salep anti memar. Jadi sebenarnya, pagi itu bukan pertama kali ia melihat tubuh Saka. Hanya saja, itu pertama kalinya ia melihatnya dengan terang-terangan. Beberapa kali makan malam bersama juga membuat Ala yang merasa punya teman ngobrol. Ia jadi oversharing tentang keluarganya, tentang Mama Arum, tentang Gina, tentang Hilya, temannya yang menghilang setelah menggelapkan uang kosannya. Tentang keinginannya untuk memperpanjang kontrak agar ia bisa tetap mengirim uang pada Mama Arum yang menjaga usaha ayah juga pusara kedua orang tuanya. Mengingat semua obrolan dengan Saka, ia juga ingat kalau janji traktirnya diucapkan saat itu. “Ah, ternyata saya terlalu terbuka sama orang yang baru dikenal,” Ala berdecak mengatai diri sendiri. Ujung bibir Saka kembali naik. “Dia bilang apa sampai kamu marah begini?” tanya Saka lagi. Sepanjang yang ia ingat, yang ia lihat selama mengenal Ala dua minggu di rumahnya. Gadis itu memang selalu terbuka untuk segala macam obrolan. Bahkan saat ia meminta untuk datang dengannya, Ala menolaknya namun tetap menerima tawarannya. Tentu dengan ancaman kalau malam sebelumnya mereka melewatinya dengan ‘panas’. Meski tidak ada yang terjadi. “Bukan apa-apa,” jawab Ala sambil menarik diri, melepaskan dirinya dari pegangan tangan Saka yang kini dengan luwesnya selalu menyimpan tangan di pinggangnya. Kali ini tidak sulit, Saka melepaskannya begitu saja. Mungkin ia takut Ala akan tambah marah jika terus digoda seperti itu. Ala berdiri, matanya melirik Saka ragu-ragu, “Saya gak jual diri, Pak Saka.” “Saya gak membeli kamu, Ala.” Tegas Saka menjawabnya. “Saya melakukan ini karena Pak Saka yang meminta. Hanya sebulan, kan? Lalu kita tidak ada hubungan apa-apa lagi selain menjadi atasan dan bawahan?” tanya Ala. “Bisa kita bicarakan ini lebih serius, Pak Saka?” tambahnya. “Kita bisa lihat nan—“ “Saya butuh kejelasan, Pak Saka. Dilihat dari sudut manapun, saya tidak pantas berada di sisi Pak Saka. Di sisi saya, Pak Saka terlalu luar biasa untuk dijangkau seorang yang biasa-biasa saja seperti saya. Dari siri Pak Saka, saya terlalu murah untuk bisa anda bayar,” terang Ala pelan, “dari sisi manapun, Pak Saka lebih diuntungkan dan saya hanya kebagian jadi orang yang memanfaatkan keadaan.” “Silakan Pak Saka lanjutkan acaranya, saya tunggu di sini saja. Setelah itu kita bisa bicarakan apa yang harus saya lakukan.” Ala mundur dan menunduk pelan, tapi saat ia berbalik, lagi-lagi tangan Saka menahannya. “Kamu di sini sebagai pacar saya, Ala. Bisakah kita meninggalkan semua status kita di kantor dan menjalani ini dengan senang-senang?” “Senang untuk anda, Pak Saka,” tandas Ala. Saka terkekeh pelan, “Kenapa kamu gak bisa diajak senang-senang?” “Karena setiap kali kesenangan saya rasakan, akan ada kemalangan yang saya terima, Pak Saka. Saya mau hidup biasa-biasa aja.” Mata Saka menyipit, menatap mata Ala yang tidak mau melihat kepadanya, “Baiklah kalau kamu mau begitu. Ayo kita pamit dan pergi,” ajaknya. Ala menoleh, menatap Saka tidak terima, “Pak Saka kok ikut pergi juga?” “Aku kan pacar yang baik,” Saka tersenyum. “Mana bisa gitu! Ini pestanya temen Pak Saka, masa kita pergi gitu aja?” “Masa aku masuk tanpa pacar aku?” Ala merasa kalah. Ia menarik napas pelan lalu menghembuskannya, “Ayo kita masuk.” Kepala Saka memiring, menatap Ala dengan kuluman senyumnya, “Ih, Bebe, gak apa-apa kita pulang aja.” “Jangan menyia-nyiakan dua jam di jalan. Ayo masuk, ikuti pestanya, dan selelsai. Kita pulang.” Tangan Saka terulur, “Ayo, Bebe,” ajaknya pelan. Ala menatap tangan itu, mendongak menatap wajah tersenyum Saka, lalu menerima uluran tangan itu. Tangan Saka seperti biasa merangkul pinggang Ala, menariknya mendekat. “Kamu pacar aku, Alara. Tidak ada transaksi apapun. Aku akan batalkan semuanya. Sebulan saja, jadi orang yang ada di sampingku, dan setelah itu, kamu bisa minta apa aja yang kamu mau. Aku juga gak akan ikut campur urusan kamu di kantor. Gimana? Cukup adil?” bisik Saka ketika mereka kembali masuk ke dalam ruangan dengan suara berdentum-dentum itu. “Kenapa harus saya?” bisik Ala, bertanya dengan kaki berjinjit agar bibirnya berada di dekat cuping telinga Saka, agar lelaki itu bisa mendengar lebih jelas suaranya. Langkah Saka membawa Ala ke lantai dansa, berdiri di sana dan memutar tubuhnya jadi di hadapan Ala. Tangannya tetap di pinggang Ala, malah menarik pinggang ramping itu mendekat padanya, senyumnya naik saat melihat Ala yang mengerjap karena ulahnya. “Aku udah jawab itu, Bebe. Kamu yang paling tau aku di rumah, kamu yang udah kenal aku. Bukan sebagai Sakala Rangga tapi sebagai Mas Saka,” jawabnya sambil menundukan kepala, mendekat pada cuping telinga Ala. Ala berjengit pelan, melirik Saka yang berada di samping wajahnya. Ala merasa pipinya panas seketika. “Gimana kalau kita kasih lihat adik tiri kamu kalau kamu gak kayak yang dia tuduhkan?” bisik Saka sekali lagi. “Gimana caranya? Dia kalau lihat saya di pegang-pegang gini pasti imajinasinya udah liar banget!” Ala berdecih pelan. Mengingat bagaimana Gina yang pikirannya selalu di luar nalar Ala. Termasuk tuduhannya tadi. Jelas-jelas ia bekerja di kantornya Wise corp, tuduhannya malah ke ia bekerja di kamar hotelnya. Dasar bocil! “Saya juga udah bilang kalau saya lagi kerja,” tambah Ala dengan kerlingan di sudut matanya. “Saya gak pegang-pegang sembarangan, saya cuma pegang apa yang jadi milik saya, Alara Fahira.” Jawaban Saka dan suaranya yang dekat dengan telinganya membuat Ala merasa panas. Apa sih, siapa yang jadi milik siapa? Ia tidak merasa sudah memberi izin untuk itu. “Saya masih jadi milik diri saya sendiri, Bebe,” jawab Ala dengan tambahan panggilan ala-ala mereka. Tangannya naik ke pundak Saka ketika musik jedag-jedug itu membawanya bergerak seirama Saka bergerak. “Kamu punya saya sebulan ini, Ala,” klaim Saka seenaknya. Ala terkekeh pelan, “Boleh saya minta sesuatu selama sebulan ini?” “Hm?” sebelah alis Saka naik. “Selama sebulan ini, saya gak mau lagi tiba-tiba pergi kayak gini, Bebe. Saya punya banyak kerjaan, acara tiba-tiba gak cocok sama saya,” pinta Ala sungguh-sungguh. Benar. Ia tidak cocok dengan acara tanpa persiapan apapun. Meski semua hal sudah disiapkan seperti hari ini, seperti kemarin juga, tapi tetap saja ia tidak bisa mempersiapkan diri dengan baik. “Jadi kamu akan siap kalau saya kasih jadwal?” Ala mengangguk saja. Toh hanya sebulan, sebanyak apa mereka punya jadwal pesta? “Baiklah, jadwal saya akan dikirim begitu kita kembali ke rumah,” jawab Saka. Kepala Ala mengangguk lagi. Ia tertawa saat Saka menggelitik pinggangnya. “Bebe!” serunya pelan. “Kamu gak tau aja adik tiri kamu lagi liatin kita,” bisik Saka sekali lagi. “Oh, ya?” Ala mencegah diri sendiri untuk mencari tahu. “Gimana reaksinya?” “Iri,” Saka memperlihatkan wajah bangganya seperti biasa, “karena liat kamu lagi dansa sama cowok seganteng dan sekeren aku, Bebe,” jawab Saka yang membuat Ala semakin tertawa. “Ah, sayang banget aku gak bisa menyangkalnya,” ucap Ala menghela napas sebal. Lalu tertawa lagi saat Saka mengangguk-angguk setuju. -o0o- Arum menatap putrinya yang datang dengan baju minim dan bau alkohol. “Mama, ih, aku mau cepet gede juga biar bisa kayak Kak Ala yang punya pacar orang kaya.” Gina yang mengigau di depannya membuat Arum mengeryitkan keningnya. “Kak Ala?” gumamnya. “Mamaaa, aku gak boleh bilang ke mama kalau liat Kak Ala sama pacarnya. Dia gak kerja, Mama! Dia jadi simpenan orang kaya!” seru Gina lalu berbalik dan tertidur. Dengan picingan matanya, Arum mencari tas tangan yang Gina pakai. Ia mencari ponsel Gina, mengingat anaknya suka sekali memfoto segala hal, ia akan mencari. -o0o-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD