Mata Ala melirik sekali lagi perempuan yang berdiri di lantai satu. Ia sudah berniat menyapa, bukan menyapa terlalu halus. Tapi menegurnya. Namun Saka belum melepaskan tangannya, dan membawanya ke lantai dua. Ala juga berakhir menjadi orang yang berada di antara obrolan canggung dengan teman-teman Saka. Melingkar duduk di sofa bulat yang menghadap ke meja bulat di tengah-tengahnya.
Yang mana Ala tahu sendiri kalau orang-orang itu bukan sembarang manusia. Manusia-manusia yang tawanya terdengar suara uang. Manusia-manusia yang punya akses pada hal-hal yang tidak bisa Ala bayangkan. Jika Sakala Rangga ada di dalam lingkungan hospitality dan wisata, di lingkaran yang terbentuk itu ada juga Braja Krisna yang punya Production House bernama Starsun. Ala sudah bertemu dengannya kemarin .
Di lingkaran itu juga ada Raja, pacarnya Adinda Winata yang sedang berulang tahun. Raja adalah pewaris Jaya Group yang bergerak di manufaktur. Ada seorang yang memperkenalkan dirinya dengan nama Mahatama, direktur Djati Media. Seorang lagi bernama Lintang, Saka memperkenalkannya sebagai orang dari Hada Farma. Baru berempat dan semuanya membuat Ala merasa ciut.
Ia bukan siapa-siapa diantara orang-orang ini.
Ia juga merasa tidak bisa masuk di antara obrolan perempuan-perempuan cantik yang mendampingi lelaki-lelaki itu. Levelnya jauh berada di bawah semua orang. Ia hanya bertukar senyum dengan dua diantaranya sebelum memutuskan untuk bilang ia akan mencari toilet pada Saka. Ruangan dingin dan pakaiannya yang minim, juga seteguk jus jeruk yang diminumnya membuatnya tidak nyaman.
“Kamu bisa cari sendiri, Bebe?” bisik Saka. Ada nada khawatir yang didengar Ala di sana.
Mata gadis itu berkedip dan ia mengangguk cepat-cepat, “Aku bisa cari sendiri,” katanya tegas.
Tangan Saka melepaskan pinggang Ala dan mengangguk, “Kalau gak ketemu, kamu bisa tanya sama petugas yang pake dasi kupu-kupu merah,” katanya menginfokan.
Ala mengangguk mengerti dan bangun dari sofa tepat saat Tama mengajak semua temannya untuk memulai latihan band mereka.
“Nanti kalian perform lah di nikahan gue sama Tiara,” jawab Braja menjawab ide Tama sambil mengerling centil pada Tiara yang duduk di sampingnya.
“Kayak lu punya waktu buat band aja, Tam, Nesa aja lu tinggal-tinggalin terus!”
Sanggahan Saka dan tawa lainnya sempat Ala dengar sebelum ia turun di tangga yang membentuk setengah lingkaran menuju lantai satu. Pandangannya menyisir lantai dansa dan tidak melihat seorang yang sejak tadi ingin didatanginya. Meski temaram ia masih bisa mengenali wajah itu. Tidak mungkin ia salah mengenali adik tirinya.
Gina.
Jadi ia memutuskan untuk tetap pada tujuannya, mencari toilet. Ia berjalan ke arah lorong yang menuju ke toilet, melewati bagian belakang kursi-kursi yang menghadap panggung di ujung ruangan kotak itu. Panggung dengan layar besar, yang menampilkan wajah Dinda yang cantik. Di atas panggung sudah ada kue tart yang bertumpuk juga kado-kado yang diterima Dinda di sana.
Ala melewati orang-orang yang masih sibuk dengan diri mereka masing-masing. Lalu masuk ke dalam toilet bernuansa hijau emerald itu. Ada beberapa bilik yang tertutup sisanya masih terbuka. Ala masuk ke salah satunya. Ia menyelesaikan urusannya dengan santai, mengulur waktu sebanyak mungkin agar tidak harus kembali duduk dengan canggung di antara para pewaris itu.
Tapi kalau terlalu lama, Saka pasti akan mencarinya. Jadi Ala keluar dari biliknya, menenteng Lady Dior yang diberikan Saka sebelum berangkat tadi. Ia menyimpan tas di samping wastafel lalu mencuci tangannya.
“Lu jual diri atau alih profesi jadi ani-ani, Kak?”
Suara itu membuat Ala mengangkat kepalanya, menatap pantulan Gina di cermin di depannya. Matanya menyipit lalu mengerling pelan.
“Kerjaan lu sebenernya apa? Kantornya hotel? Atau di dalem kamar hotel?”
“Jangan sok tau bocil,” jawab Ala dengan decakan pelan. Ala memutar tubuhnya, menghadap Gina yang memakai salah satu dress miliknya dulu.
Cewek yang sama sekali tidak mirip dengannya itu berdiri dengan tangan bersedekap. Rambutnya ikal-ikal manja berwarna cokelat gelap. Wajahnya bulat imut, matanya yang berbingkai eye liner dan eye lash extension itu menatap Ala dengan jengah.
“Kalau enggak gimana bisa lu ada di sini, Kak? Simpenan siapa lo?” tanya Gina lagi, suara cemprengnya menuduh terus menerus. “Sampe lu bisa bawa tas mahal itu juga! Mama juga kayaknya mau satu kalau gue kasih tau!”
Langkah kaki Ala mendekat pada Gina yang masih tidak menurunkan tangan bersedekapnya. “Gue punya kerjaan di sini. Gue juga udah dewasa. Gue bisa datang ke mana aja yang gue bisa. Lu sendiri lagi apa di sini? Lu dua puluh aja belum, ya! Minum apa sampe bau kayak gini? Hah?”
Tangan Gina naik menutup mulutnya. Matanya memicing pada Ala yang sama sekali tidak gentar di depannya meskipun ia sudah membawa nama mamanya. Ada kedip sebal bercampur jengah di sana. Niatnya bukan untuk dibalas langsung, tapi Ala sepertinya berani jika tidak di depan mama mereka.
“Bukan urusan lu!”
“Begitu juga urusan gue bukan urusan lu!”
Gina berdecak dan bertolak pinggang, “Tunggu sampai mama tau dan urusan lu akan selesai.”
“Gitu?” Ala memiringkan kepalanya, “Lu pikir lu akan selamat kalau mama tau gue ada dimana?”
“Nyebelin lu!”
Kini Ala yang besedekap di depan Gina, “Kalau mama tau gue ada di sini, mama juga akan tau kalau lu ada di sini. Dan dengerin gue ya, Dek-“
“-jangan panggil gue dek!”
Ala tidak mengacuhkan protes Gina, “-minuman yang lu minum itu gak enak! Besok pagi lu sakit perut. Percaya deh sama gue!”
Mata Gina melebar, “Itu artinya lu cupu, Kak!”
“Gue ngasih tau juga,” Ala berdecak dengan bibir mengeriting dan mata mendelik sebal.
“Jadi lu juga minum?” tanya Gina kemudian.
“Gak sengaja,” jawab Ala datar.
Gina mendengkus, “Udah gue bilang lu cupu. Segitu doang kobam? Lu kobam sama siapa? Sama g***n lo?”
Seorang perempuan masuk ke toilet, melewati keduanya tanpa melirik Ala dan Gina.
Ala mendekatkan diri, menurunkan suaranya, “Gue udah bilang gue lagi kerja. Bocil gak usah banyak tanya!” tandasnya sebelum berbalik dan kembali ke depan wastafel. Tangannya meraih kembali tas yang dibawanya, menggenggamnya erat dan menjaganya tidak terkena air.
“Kerjaan apa lu?” bisik Gina lagi setelah Ala kembali berbalik menuju pintu.
“Bocil gak usah mau tau,” ledek Ala pelan.
Gadis lima tahun lebih muda dari Ala itu memutar bola mata, jengah dengan jawaban kakak tirinya itu. “Lu tuh selalu ngeselin gini nih, Kak. Ini yang gak disukain mama! Ini yang buat Mama gak suka sama lu!” cecar Gina mengikuti langkah kaki Ala keluar toilet.
Suara jedag-jedug dari lagu yang dimainkan Dj di atas panggung membuat Ala harus kembali berbalik. Ia berdiri di depan Gna lagi. Suaranya naik.
“Hei, gue udah menghormati kalian sebagai keluarga baru gue, ya. Gue tetep menjalankan kewajiban gue sebagai anak meskipun Ayah udah gak ada. Gue memikirkan kalian di urutan pertama. Jadi, biarin gue napas bebas selama semua kebutuhan kalian jadi tanggung jawab gue!” jawab Ala dengan suara lebih tinggi. Mengimbangi suara musik yang memantul-mantul di dinding.
“Yang penting kalian senang, happy. Dan yang penting gue gak jual diri!”
Mata Ala berkedip. Pada kalimat terakhirnya, ia bisa mendengar jeritannya sendiri. Suaranya melengking di seluruh ruangan yang tiba-tiba hening. Sepi. Musik berhenti.
Lorong menuju ruang utama tidak terlalu jauh, jadi Ala yakin suaranya akan terdengar oleh siapapun yang telinganya baik-baik saja. Ia menarik napas, menenangkan diri. Menghindari beberapa pasang mata yang terang-terangan menoleh padanya.
Suara musik terdengar lagi. Hening tadi terasa canggung sekali karena teriakannya.
Ala menatap Gina sekali lagi, “Gue gak bercanda, kalau mama tau gue di sini, mama juga tau lu ada di sini.”
Gina juga masih terperangkap dalam kekagetannya. Matanya menatap Ala yang sedang menatapnya dengan sungguh-sungguh.
“Jawab gue!”
“I-iya, Kak.”
Ala menatap Gina yang ternyata masih menyimpan sedikit hormat pada kakaknya itu. Mata Ala tertutup pelan, sebentar, mencari ketenangan dan keberaniannya lagi untuk kembali ke dalam lingkaran para pangeran mahkota.
Tubuh Ala berbalik, matanya terbuka, dan ia kembali mematung. Di ujung lorong toilet, Saka berdiri dengan santai. Tangannya masuk ke dalam saku celananya, masih memakai jaket truckernya di luar kaus polos itu. Tatapannya lurus pada Ala yang kini berdiri canggung.
Bagaimana tidak canggung, jika tatapan Saka padanya kali ini terlihat marah. Ala yakin setelah ini ia akan dipecat.
-o0o-