Lantai Tujuh Belas

1353 Words
“Kenapa?” Ala menatap mejanya yang kosong. “Meja lu pindah, Al,” Lisa melirik dengan picingan mata yang membuat Ala semakin tidak mengerti. “Pindah kemana?” tanya Ala lagi. “Ke deket pacar lu mungkin,” jawab Lisa lagi. “Pacar gue?” Lisa memutar kursinya, berdiri dan membuat semua orang di ruangan itu melirik ke arah mereka berdua. “Pacar lo, Ala,” katanya lebih sinis. “Lo gak ada mau ngasih tau gue kalau kalian udah pacaran? Kok lo jahat sih nyembunyiin ini dari gue,” rengeknya kemudian. Mata Ala berkedip-kedip tak mengerti. “Udah sana ke lantai tujuh belas, lu akan nemuin meja lu di sana,” Lisa mengamit lengan Ala sambil menariknya keluar ruangan. Kaki Ala melangkah mengikuti, sambil kepalanya menoleh kanan kiri dan mendapati beberapa orang yang meliriknya dengan terang-terangan. “Kenapa gue kayak asing banget disini?” tanya Ala begitu Lisa melepaskan tangannya. “Lu udah heboh, Ala, masa lu gak tau?” tanya Lisa sambil menghela napas pelan. Tatapannya berubah kali ini, melihat Ala dengan lebih kasihan. “Lu ngapain Pak Saka sih, Al?” tanya Lisa lagi. Pertanyaannya saja belum terjawab, Lisa sudah berkata lagi. “Pak Saka kayaknya kali ini gak biarin siapapun deketin lu, deh, jadinya dia bawa lu yang mendekat ke sana,” katanya dengan jari telunjuk mengetuk-ngetuk dagunya. “Kali ini?” tanya Ala. Sebagai tipe sosial butterfly, Lisa selalu bisa masuk cyrcle manapun yang ada di Wise Corp, Lisa lebih tahu beberapa hal yang tidak Ala ketahui. “Dulu Pak Saka pernah pacaran sama anak kantor juga, tapi lu tau apa yang terjadi sama orang itu? Dia sekarang ditugaskan di Wise Resort India.” Ala berkedip dengan mulut terbuka, “Ada kayak gitu?” kagetnya. “Gue rasa, kali ini Pak Saka berusaha bikin lu tetap deket biar gak tiba-tiba dipindahkan gitu aja.” Jantung Ala berdebar, sebenarnya ia dianggap apa sih ini? “Gue mau dipindahin juga?” “Belum. Setidaknya sampai Komisaris tau kayaknya,” jawab Lisa. Komisaris itu bukannya kakeknya Saka? Ala terperangah. Ia sudah memperkenalkan diri padanya secara langsung, live. Bertemu dan bertatap muka dengan orang yang katanya mengirim seorang yang dekat dengan Saka ke tempat jauh. Ala menelan ludah, “Gue mati besok kayaknya, Lis,” gumamnya tanpa tenaga. “Enggak, lu gak akan mati besok. Pak Saka kalau beneran suka sama lu kayaknya akan mempertahankan lu deh,” jawab Lisa. “Enggak besok, kayaknya sebulan lagi,” jawab Ala masih dengan tanpa tenaga. “Gue harus nyari kejelasan kalau kayak gitu. Bye, meja kita gak sebelahan lagi,” Ala mundur kembali ke lift dengan tangannya yang mengapit tote bag andalanya. Satu-satunya. Lisa melambaikan tangannya dan masih memerhatikan Ala yang berjalan menjauh. -o0o- “Di sini, Bu Ala,” Dimas menunjukan meja Ala yang semua penempatannya sama seperti yang ia tinggalkan hari sabtu lalu. Kepala Ala mengangguk. Ia menunduk pada Dimas yang mundur mempersilakan dirinya untuk duduk. “Kenapa meja saya dipidahin, Pak Dimas?” tanya Ala sambil menarik kursinya. “Pak Saka yang meminta, Bu,” jawab Dimas Ala menoleh pada Dimas, menatap lelaki tinggi dengan setelan kemeja dan celana bahan panjang itu, “Bisa apa lagi kalau Pak Saka yang bilang,” gumamnya dengan anggukan pelan. “Makasih, Pak Dimas,” ucap Ala lalu duduk di kursinya. Dimas mengangguk sebelum berbalik dan meninggalkan Ala di mejanya. Kembali ke mejanya sendiri yang berada tidak jauh darinya. Lantai tujuh belas memang menjadi lantai eksklusif yang setengahnya adalah kantor pribadi milik petinggi Wise Corp. Ruangan Saka berada tepat di depan meja-meja yang tersusun di sana. Kebanyakan orang yang bekerja di sana tidak memedulikan Ala yang baru datang. Jadi, ia hanya mengangguk dan tersenyum menyapa beberapa orang yang menoleh padanya. Ala lebih fokus pada apa yang sedang ia kerjakan sebelum ini. Masih dengan proyek yang sama. Ala masih makan siang bersama dengan Lisa yang mengirim chat sebelum jam makan siang. “Gimana di lantai tujuh belas?” “Serem,” Ala jujur. “Orang-orangnya fokus banget. Apa karena selantai sama Pak Saka kali ya,” jawabnya sambil mengunyah ayam teriyaki, menu hari ini. Kepala Lisa mengangguk-angguk, “Siapa juga sih yang bisa santai-santai di depan Pak Saka yang segala hal harus selesai sebelum jam tiga?” Ala berhenti mengunyah, kepalanya menoleh pada Lisa, “Gue juga dong?” tanyanya. “Kayaknya termasuk lu juga,” jawab Lisa dengan picingan matanya. “Itu bagus, lu gak usah lembur-lembur lagi, kan?” Senyum Ala mengembang, kepalanya sekarang mengangguk-angguk setuju. “Akhirnya ada keuntungan dari pindah meja!” serunya. -o0o- Tidak lagi. Ala duduk dengan kedua tangan saling meremat di atas pangkuannya. Sabuk pengaman sudah dipakainya. Bajunya sudah ganti, bukan lagi celana panjang dan kemeja, tapi dress selutut berwarna pink blush. Sepatunya hak tinggi berwarna putih. Ala juga dibekali dengan tas tangan yang sering ia lihat dipakai oleh artis-artis. Benar, tadi ia sempat senang karena tidak harus lagi ada lembur-lembur. Tapi sebagai gantinya, ia harus ikut acara yang tidak pernah ia tahu kalau itu benar-benar diadakan. Pesta yang hanya diikuti oleh orang-orang kaya. Pestanya orang-orang kaya. “Pak Saka, saya kayaknya cuma malu-maluin aja kalau dibawa,” Ala mengungkapkan apa yang ada di dalam kepalanya sejak tadi. Bagaimana ia bisa berbaur dan berada di sana? “Ini bukan pesta besar,” jawab Saka yang masih fokus dengan jalanan di depannya. Memacu Ferrari dengan tenang, “cuma acara ulang tahun doang.” “Saya harus jadi gimana?” tanya Ala ragu. Ini bukan acara keluarga dan bukan acara kantor, kan? Apa mereka harus menjadi pacar juga di sana? “Jadi Bebe-nya aku,” Saka menjawabnya dengan tambahan seringai kecil di ujung bibirnya. Ala tidak jadi mendengkus, sebagai gantinya, ia menarik napas sebanyak-banyaknya untuk menenangkan perasaannya yang terasa seperti sedang dipermainkan, dijebak dalam drama kolosal dengan seorang pangeran putra mahkota. Seorang Sakala Rangga bisa disebut begitu, kan? Meski ayah dari bosnya ini secara halus ‘dibuang’ untuk mengurus Wise Cabang New York karena konflik keluarga, tapi siapa yang bisa menolak pesona penguasa dalam diri Sakala Rangga? Lelaki itu punya segalanya dan bisa melakukan apa saja. Kekayaan dan kharisma, semua yang ada di tubuhnya juga apa yang ada dalam kepalanya, itu yang membuat semua hal begitu mudah untuk Sakala. Sebagai orang yang hanya ingin hidup dengan baik dan biasa-biasa saja, Ala merasa kalau ia tidak boleh terlalu kaku. Sebulan ini dengan bayaran seumur hidup. Setidaknya sampai ia pensiun atau sampai Mama Arum tidak terlalu butuh banyak biaya untuk Gina. “Oke, Bebe,” jawab Ala setelah merasa kalau hatinya bisa melewati ini dengan baik. Senyum Saka terlihat dari ujung mata Ala yang memakai softlens berwarna cokelat. Gadis itu memutuskan untuk tetap tenang. Tapi matanya tetap mengikuti setiap marka jalan yang memperlihatkan kemana mereka akan pergi. Bandung. Ala yakin dari apa yang dilihatnya di pertunjuk jalan. -o0o- Meski Saka bilang ini bukan pesta besar, tapi acara ulang tahun ini adalah pestanya Adinda Winata! Siapa yang tidak kenal seleb sosmed satu itu? Pacarnya adalah petinggi Jaya Group itu juga ternyata adalah anak dari pemilik SSmart. Toko serba ada yang tersebar di seluruh Tanan Air. Ala merasa kalau pekerjaannya jadi influencer itu hanya mengisi waktu luang sebagai anak konglomerat. Suara jedag-jedug menyapa telinga ala saat mereka memasuki sebuah gedung kotak dengan papan nama minimalis, The Six. Ala tahu kalau ini bukan gedung biasa saat masuk ke dalamnya, ruangan dingin dengan penerangan minim. Ala mengerti kenapa ia memakai baju minimalis begini, karena semua tamu undangan juga memakai baju yang minim. Dress-dress yang mencetak lekukan tubuh dan hanya sebatas paha. Ini pesta khusus yang hanya orang-orang khusus yang bisa masuk. Terbukti dengan pengamanan di luar yang ketat, Ala bisa masuk karena Saka membawanya. Undangan tadi adalah buktinya. Seperti kemarin, hari ini juga Saka dengan ringannya meraih pinggangnya dan menahan Ala di sampingnya. Ala membiarkannya dan tersenyum dengan lebih ringan, masuk ke dalam perannya sebagai Bebe-nya Sakala. “Kita ucapin dulu selamat, yuk, Bebe,” ajak Saka dengan tangan yang menggenggam paperbag Chanel untuk kadonya. Ala mengangguk setuju dan ia berjalan dengan percaya diri. Sampai matanya menatap seorang yang ia kenal di sana. Sampai matanya beradu pandang dengan seorang yang berdiri di tengah kerumunan itu. -o0o-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD