Biar Romantis

1330 Words
Langkah kaki Ala berhenti di ambang pintu kamarnya. Matanya menatap hamparan kelopak bunga di depan mata. Sepanjang lorong yang menuju ke tangga. Kelopak mawar putih itu menjadi semacam karpet. Mawar merah disusun per tangkai di sisi-sisi kelopak mawar yang bertaburan. Tangannya terangkat menutup mulutnya yang membuka. “Ini apa?” gumamnya bingung. Tapi entah kenapa ada buncah haru dalam hatinya. Matanya menatap satu kertas yang berada di buket besar mawar merah. Satu daintara tangkai-tangkai yang menjadi jalur jalannya. Ala berjongkok, mengambil buket besar itu, kembali berdiri, dan membuka kertasnya. Maaf. Hanya satu kata. Tapi Ala merasa kalau itu sudah cukup memperlihatkan siapa yang mengirimya. Siapa lagi kalau bukan bosnya? Pacar gadungannya itu. Orang yang sudah menciumnya begitu aja tadi malam. Siapa lagi kalau bukan Sakala Rangga. Hanya satu orang itu yang membuatnya merasa terjun turun dari lantai tujuh belas. Kakinya melangkah menuju tangga, tangannya masih memeluk buket bunganya, menyelipkan kembali kertas tadi ke tempatnya. Ia masih tersenyum. Tapi senyumnya hilang saat melihat ke bawah, ke lantai bawah yang sama penuhnya dengan di lorong lantai dua. Ala menekan pelipisnya yang berdenyut. Pe-er sekali membereskan semua ini nantinya. Kenapa Sakala Rangga selalu punya cara untuk membuatnya kaget seperti ini, sih?! Tapi Ala menghela napas, percuma mengeluh. Sakala punya segalanya dan bisa melakukan apa saja. Apa yang bisa ia lakukan sebagai orang tidak bisa apa-apa adalah dengan diam dan melakukan tugasnya saja. Langkahnya membawa Ala turun menapaki satu per satu tangga. Saat sampai di lantai bawah, Ala baru sadar kalau meja makan sudah ada makanan dan disusul kemunculan Saka yang membuatnya menahan napas. Karena lelaki itu berdiri dengan setelan suit and tie, lengkap dengan vest di balik jasnya. Rambutnya ditata dengan rapi, wajahnya yang tampan sudah tidak usah ditanya lagi. Ala mematung di tempatnya berdiri. Sakala yang biasanya urakan dengan rambut acak-acakan, setelan baju tidur yang kusut, kini berdiri selayaknya dirinya. Saat begini, Saka terlihat seperti seharusnya CEO terlihat. Dan itu memberikan aura yang berbeda dengan Saka urakan yang biasanya. Ala seketika merasa segan. Ini Sakala Rangga yang banyak dibicarakan orang-orang. “Pak-“ “Bebe, aku minta maaf.” Ucapan Saka membuat haru dan keterpanaan Ala menguap seketika. Wajah terpananya berubah dengan tatapan tak percaya. “Kita pacaran sebulan, kan? Aku masih bisa panggil kamu bebe dimana aja, kan?” tanya Saka dengan suara manja yang berbanding terbalik dengan bagaimana ia terlihat. “Sembarangan aja, Pak Saka,” Ala berdecak pelan. Meski ada rasa segan dengan tembok tinggi kokoh yang berada diantaranya dan Saka. Tapi mendengar suara manja Saka membuat Ala merasa tembok itu terlihat transparan. Meski tetap kokoh dan tebal. “Sembarangan apa, sih,” Saka menghampiri Ala yang sedang menyimpan buketnya di atas meja makan. “Ya, Pak Saka, sembarangan bilang ‘bebe’, sembarangan bilang kalau kita pacaran. Saya baru dikasih offer ya, Pak. Belum tentu saya acc atau enggak. Tapi Pak Saka udah main klaim hak milik aja,” cerewet Ala mengatakannya. Ia menoleh dan langsung mematung. Saka berdiri di sampingnya, dengan wangi semerbak yang sering Ala hidu tapi tidak menyangka kalau itu adalah wangi Sakala. Mata Ala terpaku. Menatap wajah Saka yang sangat dengan wajahnya. Membuat Ala mengingat apa yang terjadi tadi malam. Saat wajah itu mendengat dan memagut bibirnya begitu saja. Ala merasakan wajahnya memanas. Karena itu reflek kaki Ala mundur. Namun tangan Saka lebih cepat dari yang Ala kira. Saka yang menahan dirinya tetap didekatnya, meraih pinggang Ala, meremasnya pelan, dan membuat Ala menahan napasnya. “Pak-“ “Sshhh,” Saka berdesis pelan. Ala sontak menutup mulutnya. Tangannya menahan diri di depan tubuhnya, menolak Saka untuk mendekat padanya lebih dari yang ini. “Saya minta maaf karena mengambil ciuman pertama kamu.” Suara Saka yang pelan, lembut, dan terasa berat itu membuat Ala menelan ludahnya sendiri. Seksi. Tapi Ala menggeleng, mengenyahkan pikiran kotor dalam kepalanya. “Kamu gak mau maafin aku, Bebe?” Dih, padahal tadi sudah seseksi itu. Kenapa jadi cringe lagi sih? Ala mengeluh dengan cepat. “Pak Saka, bisakah kita ngobrol sambil duduk yang normal, yang biasa aja, yang kayak biasanya,” pinta Ala sambil mendorong d**a Saka yang berada di depan kepalan tangannya. “Aku gak mau lepasin kalau kamu gak maafin aku, Bebe. Sumpah, tadi malem ada yang ikutin kita. Aku yakin banget itu suruhannya kakek. Tau gak kamu kalau kakek udah penasaran sama satu hal, dia bakal ikutin kita terus kemana-mana,” jelas Saka dengan nada manja itu lagi. Sama sekali tidak bergerak dengan dorongan yang diberikan Ala padanya. Ia menyerah, tidak lagi mendorong Saka yang ia sadari betul lebih kuat dari dirinya. Ala menarik napas, menahan diri untuk tidak berkomentar tentang bagaimana geli telinganya saat mendengar panggilan ‘bebe’ itu. Ia mengikuti permainan Saka kemarin karena ia sudah berjanji akan melakukannya. Itu juga karena janji yang Saka tawarkan padanya. Tapi di rumah, saat tidak ada siapapun yang melihat mereka, saat tidak ada siapapun yang mendengar dan tahu tentang perjanjian mereka, hal itu tidak perlu, bukan? “Karena kita udah keliatan bersama kemarin, aku yakin kakek juga akan bikin semua mata yang melihat kita di kantor jadi cctv gratisnya. Jadi aku harus kasih tau ini sama kamu, Bebe. Bahwa kita juga harus kayak gini di kantor.” Saka tersenyum kecil, menatap Ala yang membelalakan mata. “Pak? Yang bener aja? Sekarang aja saya rasanya mau gumoh denger kata bebe itu terus-terusan,” aku Ala dengan wajah menahan mual. “Mm, kamu harus terbiasa mulai sekarang. Inget sama reward yang kamu dapat kalau kita berhasil melewati ini,” timpal Saka yang kini merambatkan kedua tangannya di pinggang Ala. Reward. Bayarannya. Ala mendengkus, benar, itulah yang membuatnya bisa menahan diri sejauh ini. “Tapi jangan kebanyakan Bebe dan ini,” protes Ala dengan tangan menunjuk tangan Saka yang masih ada di pinggangnya. Menunduk menatap tangannya, mau tidak mau sudut bibirnya menyeringai tipis. Kepalanya menggeleng kemudian. “Gak bisa, Be- Ala,” Saka nyengir saat melihat Ala yang manyun, lalu menarik tubuh Ala yang masih terus berusahamenjauhkan diri. Tubuh Ala menabrak Saka tanpa bisa ia hindari lagi. “Ini cara saya memberi tahu dunia kalau kamu punya saya.” Tidak ada nada manja yang cringe, tidak ada cengiran yang terlihat jahil, tidak ada tatapan main-main yang diperlihatkannya seperti tadi, Kali ini tatapan Saka padanya serius, nada suara yang dalam dan tenang, juga wajah tampan yang membuat Ala tidak bisa berpaing darinya. Semuanya terasa seperti sungguhan. Padahal ini hanya tawaran pekerjaan. Ia melakukannya demi pekerjaan. “Saya bukan milik kamu,” jawab Ala entah dengan keberanian dari mana. “Maukah kamu jadi pacar saya, Alara Fahira?” Belum reda kekagetannya dengan dirinya sendiri, Ala kembali membelalak. “Dan saya akan pastikan kamu mendapatkan segala yang kamu inginkan.” “Pak?” Ala menggeleng. Serem banget ini. Ponsel Saka berdering pelan dan lelaki itu mengambil ponselnya dengan tangan kanan, tanpa melepas tangan kiri di pinggang Ala. Matanya beralih dari menatap Ala ke layar ponselnya, mengusap layarnya pelan dan mengangkatnya ke dekat telinga. “Kamu sudah lakukan apa yang saya minta?” tanya Saka. “Sudah, Pak,” Dimas menjawab dengan suaranya yang biasa tegas. “Meja Bu Alara sudah kami siapkan di lantai tujuh belas,” tambah Dimas. Saka mengangguk, melirik Ala yang mengerutkan alisnya. “Oke, Dim, terima kasih,” ucapnya pelan. Ia memutuskan sambungan dan mengembalikan ponsel ke dalam saku jas dalamnya. Sebelum kembali menoleh pada Ala yang sekarang menatapnya dengan alis yang benar-benar bertautan sekarang. “Apa yang mau kamu tanyakan?” Saka menebaknya langsung. “Pak Saka, kalau saya terima jadi pacar selama sebulan ini, itu gak berarti pekerjaan saya di rumah ini bertambah, kan?” Saka mendengkus, “Dibanding dengan betapa kamu akan beruntung punya pacar kayak saya, kamu lebih memikirkan tentang pekerjaan kamu?” Ala mendelik, “Apa Pak Saka gak mikir dulu sebelum menaburkan semua ini? Subuh tadi saya udah ngepel, loh, Pak” keluhnya dengan tangan merentang. Mata Saka melirik ke kanan dan kiri. Cengirannya naik, “Ini kan biar romantis,” jawabnya. Jawaban yang membuat Ala seketika ingin mengkrawuk wajah tampan di depannya ini. -o0o-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD