Basah, panas, dan mendebarkan.
Ala tahu ini salah. Ala tahu ini harusnya tidak terjadi. Ala sadar ia harusnya menolak. Tapi pagutan bibir Saka membuatnya terlena, membuatnya tidak bisa menghindar. Bibir Saka tidak menuntutnya, bibir Saka hanya bergerak dengan lembut, melumat dengan hati-hati. Membawa Ala pada satu perasaan aneh, membuat perutnya geli, dan debaran jantungnya yang menggila.
Saka melakukannya seperti seorang yang sudah terbiasa.
Pelan.
Tidak terburu.
Tidak menuntut.
Tapi membuat Ala tidak bisa menolak.
Dan yang bisa ia lakukan hanya membelalak dengan bibir terbuka yang dilahap Saka, dengan rengkuhan tangan kiri Saka di tengkuknya, dengan remasan tangan kiri Saka pinggangnya. Ala hanya bisa mematung dan diam, kedua tangannya mengepal sampai ia tidak sadar sudah meremas buket bunganya.
Ciuman itu selesai.
Begitu saja. Diakhiri dengan Saka yang berhenti memagut, dan memberi jarak dari bibirnya.
Ala berkedip.
Pandangan mata mereka bertemu saat Saka membuka matanya. Tersenyum di dekat bibir Ala, Saka mengangkat sebelah alisnya. Merasa bingung dengan reaksi yang diberikan Ala padanya.
“Jangan bereaksi seperti ini ciuman pertama kamu, Ala.”
Napas Ala kembali, kesadarannya juga, dan ia merasa pusing. Bahunya naik turun dengan cepat, ia memutuskan pandangan dari mata Saka yang menatapnya dengan bingung.
“Ala?”
“Itu memang ciuman pertama saya, Pak Saka,” dingin Ala.
Kini giliran mata Saka yang membelalak.
"Jadi saya tidak tahu reaksi apa yang harus saya berikan setelah ciuman," kata Ala datar.
“Itu-“ Saka tidak bisa berkata-kata. Kebingungan melandanya juga. Di usia Ala yang sudah seperempat abad, perempuan itu belum pernah ciuman?
Bahkan Ala bilang kalau bunga yang ia terima juga adalah bunga pertamanya.
Tangan Saka naik, menyugar rambutnya yang harum. Hidup seperti apa yang Ala jalani sebenarnya? Kepalanya kembali menoleh, melihat Ala yang menunduk, mengepalkan tangan, dan pelan, Saka bisa mendengar Ala yang menarik dan mengebuskan napasnya pelan. Mendengar Ala menahan isakannya.
Apa ciumannya semengerikan itu? pikir Saka tak mengerti.
-o0o-
Ala menatap langit-langit kamarnya yang tinggi. Kamar yang lega, luas, dengan Ac, dan sepi. Semua ini didapatkannya dengan mudah, seperti mendapatkan lotre. Seperti ia mendapat reward dari semua kesulitan yang ia terima selama ini. Tapi semua keculitan itu membuatnya hidup, membuatnya ingin terus ada dan hidup di dunia ini.
Meski semua hal seakan mengejeknya di depan mata.
Saat tidak punya harta, ia masih punya mama dan ayah. Saat ayah mulai punya uang, mulai menghasilkan dari usaha peternakan ayam yang ayah kelola, mama meninggal. Lalu hari-harinya yang hidup tenang dengan ayah tiba-tiba harus kembali beradaptasi dengan kedatangan Mama Arum.
Juga dengan bagaimana ia jadi punya adik perempuan juga membuatnya yang terbiasa sendiri harus mulai mengalah. Sampai sekarang, setelah ayah pergi, ia masih harus beradaptasi dengan ketiadaan yang ada itu. Karena setelah ayah tidak ada, usaha ayah hanya bertahan setengahnya. Mama arum mengelolanya dan selalu bilang kalau usaha yang ditinggalkan ayah hampir bangkrut.
Itu sebabnya Ala jadi lebih sering mengirim uang untuk Mama Arum. Karena Mama Arum bilang ia mungkin akan menjual rumah peninggalan ayah juga jika usahanya bangkrut. Mana bisa begitu, Ala tidak akan membiarkan Mama Arum menjualnya dan menghilangkan semua kenangan yang ada dengan mama dan ayah.
Sekarang, apa keputusannya benar? Apa ia mempertahankan semua ini hanya untuk sebuah bentuk kenangan? Apa ia harus menjual dirinya seperti ini untuk menahan Mama Arum menjual kenangannya? Demi sebuah kontrak kerja, demi perpanjangan pekerjaan, demi masih berlangsungnya pekerjaan yang memberikan uang untuknya, untuk ia kirimkan pada Mama Arum.
Ala mendengkus.
Uang itu bahkan bukan untuk dirinya sendiri. Hidupnya perih, ia hanya hidup dari sisa semua uang yang dipakai untuk Mama Arum dan untuk memenuhi hidup berkecukupannya Gina.
“Tapi Mama Arum yang biayain kamu sampai lulus kuliah, loh, Ala.”
Ucapan itu terngiang di telinganya lagi.
“Kalau bukan dengan Mama Arum, kamu mau pulang ke siapa lagi?”
Satu lagi.
“Mama Arum yang mengurus ayah kamu sampai tiada. Kamu masih ingat dengan pesan terakhir beliau pada Mama Arum, bukan?”
“Ayah kamu minta Mama Arum untuk terus temenin kamu. Karena kamu udah gak punya siapa-siapa.”
Dua kalimat itu juga.
“Kakak harusnya bersyukur karena Mama Arum mau bau-bau ngurusin usahanya Ayah.”
Juga ucapan Gina.
Ala menutup telinganya. Telinganya yang berisik dengan ucapan-ucapan penuduhan yang tidak bisa ia jawab. Semua itu benar. Semua itu memang kenyataan yang terjadi. Setelah ayah meninggal, ia tidak punya lagi siapa-siapa.
Jika tidak ada Mama Arum, ia hanya sebatang kara.
“Bersyukur masih ada yang mau ngurus, Kak!”
Mata Ala terpejam. Membuat butiran air mata jatuh ke pelipisnya, turun membasahi helaian rambutnya. “Ala kangen Mama dan Ayah,” lirihnya pelan. “Ala kangen,” ulangnya sambil mengubah posisi jadi menelungkup memeluk bantalnya, membiarkan dirinya menangis untuk hal yang sungguh tidak bisa Ala tahan lagi.
-o0o-
Tidak ada yang pernah menangis setelah ia cium.
Tidak ada!
Saka mengingat semua ciumannya dengan gadis-gadis yang dekat dengannya. Sejak SMA sebelum menjadi Plt Ceo untuk Kakek, pekerjaan utamanya adalah ganti-ganti pacar. Sebagai cucu dari salah satu konglomerat di tanah air, pancaran pesonanya tidak bisa ia sembunyikan sia-sia.
Misi hidupnya adalah untuk tidak menyia-nyiakan apa yang sudah ia dapatkan.
Kali ini, bahkan setelah memenangkan juara kedua dari pertandingan yang diselenggarakan kakeknya, setelah tidak merasa mempercundangi dirinya di depan Braja Krisna, dan mengalah untuk Amara yang bilang kalau ia menyerahkannya padanya.
Ia merasa jadi pecundang sekarang.
Tangannya melepaskan dualsense wireless controler dari tangannya.
“Woy! Jangan diem aja lu, Nyet! Mati lu!” suara dari dalam headphone yang dipakainya sama sekali tidak dipedulikannya, ia melepaskannya juga.
Saka sudah tidak mood main. Gantinya, ia meraih kotak rokoknya, lalu berjalan keluar dari ruang game. Tangannya menutup kembali pintu sambil melirik pintu di ujung lorong lantai dua. Pintu itu tertutup sejak perempuan itu masuk ke dalamnya. Saka berbalik, ia melangkah ke tangga menuju rooftop di lantai tiga.
Duduk di salah satu sofa di bawah atap bening yang menampilkan langit hitam yang tidak berbintang. Ia membakar rokoknya, menghirup dan mengembuskan. Memikirkan apa ciumannya seburuk itu? Apa karena itu ciuman pertamanya? Apa karena ia melakukannya di dalam mobil?
Bukankah itu tidak memperngaruhi apapun?
Apa yang sebenarnya Ala pikirkan?
Saka pikir ia akan dengan mudah membuat gadis itu masuk ke dalam permainannya. Tapi ternyata, gadis yang tidak punya apa-apa itu masih punya harga diri yang tinggi.
Ponsel Saka dalam sakunya berdering. Ia meletakkan rokok di atas asbak kristal yang kosong. Pekerjaan Ala memang tidak main-main. Sampai asbak yang biasanya penuh itu juga kosong dan bersih. Saka tersenyum.
Tangannya merogoh saku celana pendeknya dan melihat nama Pak Zam di sana.
“Malam, Pak,” sapa Saka pada lelaki yang menjadi asisten pribadi kakeknya sejak jaman mereka masih muda itu.
“Alara Fahira tidak seperti yang kamu pikirkan, Sakala,” ucap Pak Zam tanpa basa basi. “Dia gak punya apa-apa. Jangan pancing mamamu.”
Ujung bibir Saka yang tidak sampai satu jam yang lalu mencium Ala itu naik, tersenyum kecil. “Apa yang akan mama lakukan?”
“Saya yakin kamu tidak mau tahu.”
Saka mencibir pelan, “Pak Zam sudah dapat data apa saja? Kirimkan ke saya juga ya, Pak,” pintanya tidak tahu malu.
“Kamu CEO di perusahaan dia bekerja, kenapa mau memakai data saya?”
Ini yang membuat Saka menghormati lelaki tua dengan rambut panjang hampir putih semua yang diikat satu ke belakang itu. Pak Zam selalu menjaga rahasia apapun yang berkaitan dengan perintah kakeknya.
“Tanpa Pak Zam juga aku bisa cari sendiri,” Saka jumawa dengan kemampuan dirinya sendiri.
“Jangan mempermainkan Alara. Dia tidak punya apapun selain dirinya sendiri.”
“Dia punya aku, Pak Zam,” jawab Saka dengan percaya diri yang tinggi sekali itu.
“Yang penting saya sudah memperingatkan kamu, Sakala.”
Kepala Saka mengangguk lalu memutuskan sambungan telepon. Ia menyimpan kembali ponsel di atas meja, di samping asbak kristal. Tangannya baru saja membuka kotak rokoknya, lalu ia berhenti.
Alara yang tidak punya apapun.
Sakala yang punya segalanya.
Sepertinya akan cocok.
Pemikiran Sakala membuatnya kembali tersenyum.
-o0o-