Babak Pertama

1447 Words
Lutut Saka ditekuk, menunduk dan meraih tangan Darja Hadi yang baru saja datang. Mencium punggung tangan kanan kakeknya itu dengan hormat. Lalu kembali menegakkan punggungnya. Senyum tampan di wajahnya turun dari kakeknya dengan sempurna. “Saya bawa seseorang yang mau kenalan sama kakek,” ucap Saka lalu menoleh dan mengulurkan tangan kanannya pada Ala. Senyumnya yang manis dan ucapannya yang hangat dan sopan penuh hormat, sekarang menoleh dengan penuh percaya diri. Mata Ala berkedip, mengangguk dan tangan kirinya naik meraih tangan Saka. Senyumnya yang sejak tadi tidak hilang makin naik ke pipinya. Berjalan mendekati Saka yang berada di hadapan Darja Hadi yang berdiri dengan tangan menggenggam tongkat. Ada aura yang tidak bisa Ala tahan. Bagaimana Darja Hadi yang berdiri di depannya yang juga sama memakai kaus polo dan celana training panjang, dan running shoesnya yang biasa-biasa saja, tapi membuat Ala canggung. Membuat Ala segan berdiri sejajar dengan Saka di sampingnya. Tangan kanan Ala terulur meraih tangan kanan Darja Hadi, gadis itu menunduk, dan mencium punggung tangan Darja Hadi dengan hormat. “Pak-“ “Kakek aja,” ucap Darja dengan ramah. Ala merapatkan bibirnya sembil kembali menegakkan punggung, lalu mengangguk, “Kakek, saya Ala, Alara Fahira,” katanya memperkenalkan diri. Tangan kanannya masih digenggam oleh lelaki tua di depannya. “Kamu pacarnya Sakala?” tanya Darja Hadi tanpa basa-basi. Mulut Ala terbuka, dengan jantung yang berdebaran seperti sudah satu putaran lari. Padahal ia belum melakukan apa-apa. Matanya berkedip dan senyumnya berubah jadi cengiran kecil. “Kakek,” Saka terkekeh, “Ala kaget,” katanya sambil kembali mendaratkan tangannya dengan ringan di pinggang Ala. Ala terkesiap untuk yang keberapa kali. Karena rasanya canggung, menggelitik, dan membuat tangannya mendadak dingin. “Kalau dia nakal kamu bisa bilang sama kakek,” ucap Darja Hadi sambil menepuk tangan Ala dalam genggamannya oleh tangan kirinya. Ada yang menyentuh hatinya saat Darja Hadi berkata padanya seperti itu padanya. Rasanya menyenangkan, setelah selama ini tidak pernah ada yang berdiri membelanya. Hari ini ia merasakannya beberapa kali. Kepala Ala mengangguk lebih tegas, “Terima kasih, Kakek,” ucapnya. Entah kenapa Ala ingin mengatakannya. Darja Hadi mengangguk, memberi kedipan kedua matanya juga memiringkan kepalanya pelan, lalu melepaskan tangan Ala yang terasa dingin. Ala mengangguk sopan lalu kembali mundur dengan Saka di sampingnya. Masih dengan pinggang yang dihinggapi tangan kanan Saka yang lemes betul berada di sana. Satu per satu sepupu Saka maju bergantian, salim dan mencium tangan Kakek mereka. Semuanya yang sudah berkenalan dengan Ala tadi. Ada Amara yang memakai kaus crop dan skort berwarna kuning pucat. Lalu ada Nalika yang sepertinya tidak akur dengan Amara, tapi begitu akrab dengan yang lain. Ala juga sudah berkenalan dengan Khaira, Khalil, dan Khafka. Saka memperkenalkan kalau ketiganya adalah sepupu Saka dari anak ketiga kakeknya. Khaira sudah menikah dengan Gani, dan ia baru saja mengumumkan kehamilannya yang berusia tiga bulan. Tadi Khaira sudah mengundangnya untuk datang ke acara empat bulanannya dua minggu lagi. Dan Saka dengan santainya bilang kalau mereka akan datang. Yang bisa Ala lakukan hanya tersenyum dan mengangguk. Bisa apa lagi dirinya? Memang tidak ada keluarga besar seperti yang dikatakan Saka kemarin. Yang datang hanya persepupuan yang kompak. Tentu saja kecuali Nalika dan Amara. Selain para cucu itu, Darja Hadi juga mengundang beberapa kenalan lainnya. Ala tidak mengenal yang lainnya itu, hanya seorang penyanyi jebolan Idol yang dikenalnya, itu juga karena terkenal. Dara Layla, juara dua idol tahun lalu. Kemudian ada Aria yang katanya fotografer internasional, ada Braja Krisna yang adalah pemilik sebuah rumah produksi. Juga seorang artis remaja yang sedang naik daun, Isabela Halim. Sebagai seorang yang tidak punya latar belakang apapun, Ala cukup tahu diri untuk tidak mengepaskan diri berada di lingkaran itu. Kalau saja tangan Saka tidak bertengger di pinggangnya, Ala pasti sudah mundur dan mensejajarkan diri dengan para pegawai yang sedang mempersiapkan beberapa hal di belakang mereka. Sepertinya Saka juga menyadari bagaimana Ala yang sedang menahan diri untuk tetap mengangkat kepalanya dan tersenyum dengan manis. “Baiklah, silakan bersenang-senang, ada hadiah buat yang menang,” ucap Darja Hadi dengan begitu ramahnya. Lalu berbalik dari ruangan tunggu di lantai bawah. Ala mengangguk hormat sekali lagi pada Darja yang melewatinya. Tangan Saka mengerat lalu menggelitiknya. “Bebe,” tegur Ala sambil berputar melepaskan diri. “Angkat kepala kamu, tunjukan wajah penuh percaya diri, kamu pacarnya Sakala Rangga. Bawa aku dalam nama kamu, dan kamu gak akan merasa kalah dari yang lain,” bisik Saka begitu Ala kembali berdiri di depannya. Mata hitam cemerlang milik Ala berkedip, “Keliatan aku minder, ya?” tanyanya. Saka hanya memberi gestur kecil yang ‘yah’. “Karena aku memang gak punya apa-apa untuk bisa aku banggakan dalam diri aku,” jawab Ala, bisikannya hanya bisa di dengar oleh mereka berdua. “Kamu gak bisa membanggakan aku?” rajuk Saka. Tangannya menyentuh helai poni di kening Ala, membereskannya. Ala mengeryit, seorang Sakala Rangga yang keputusannya memengaruhi banyak hal bisa merajuk manja seperti ini ternyata. Ia tersenyum, “Gak apa-apa?” tanyanya ragu. “Kalau kamu gak percaya dengan dirimu sendiri, pakai aku untuk membuat kamu percaya,” jawab Saka. Mulut itu! Manis banget ngomongnya! Batin Ala. Gadis itu mengangguk, “Oke, Bebe, sejauh ini aku meyakinkan, gak?” “Canggung-canggung kamu lucu, Bebe,” puji Saka. Senyum Ala naik di depan Saka. Senyum tulus yang pernah Saka lihat saat pertama kali gadis itu sampai di rumahnya dan ia bilang kalau rumahnya bisa ditempati dengan setengah harga kosannya sebelumnya, dengan syarat ia yang membereskan rumah. Kali ini, senyum itu kembali. Senyum lega yang membuat Saka tertegun sendiri. “Kak Saka, jangan pacaran terus!” seru Nalika sambil melewati mereka diikuti asprinya yang seorang perempuan juga. “Ganggu orang pacaran aja!” Saka balas berseru. Sedangkan seperti tadi, Ala hanya terkekeh kecil melihat interaksi kedua kakak beradik itu. “Ayo, kita menangkan hadiah dari Kakek,” ucap Saka, dengan tangan yang kembali meraih pinggang Ala. “Bebe,” panggil Ala, “aku gak bisa main tenis.” Saka menoleh, “Aku jago,” akunya. Ala bertepuk tangan, “Waah, aku bisa mengandalkan pacarku ini, dong!” Giggle tawa Ala terdengar lagi saat Saka dengan percaya dirinya menepuk dadanya sendiri dan jumawa akan memenangkan hadiah yang kakek siapkan. -o0o- Sepanjang pertandingan yang lain pada babak pertama, Ala memerhatikan setiap gerakan. Amara dan Aria jadi satu tim, melawan Khalil yang jadi satu tim dengan Dara Layla. Setiap pegangan di raketnya. Saat Saka mendapat telepon di ponselnya, ia pamit keluar sebentar. Ala mengangguk dan duduk sendiri di bagiannya dengan Saka. Ala pikir ini hanya kegiatan santai biasa. Tapi ternyata ada wasit profesional. Ada tim fotografer dan videographer juga. Bahkan ada seorang pembawa acara juga seorang komentator lain yang bertugas memeriahkan pertandingan. Karena itulah, Ala lalu berdiri, berjalan ke bagian belakang lapangan, dan mencoba praktek memukul. Sejak semalam ia hanya belajar dari youtube, memerhatikan bagaimana memegang raket yang benar, bagaimana berdiri dan sebagainya. Sampai di jalan tadi pun, ia masih coba melihat video-video tutorial. Ala masih mencoba mengayunkan raketnya, lalu satu suara lelaki di belakang kepalanya membuat Ala berbalik cepat-cepat. “Mau saya ajarkan?” tanya lelaki itu. Yang Ala ingat, lelaki ini bernama Braja Krisna. Ala tersenyum kecil, sebenarnya merasa risih. Karena sejak berkenalan, lelaki itu terus memandanginya dengan mata m***m. “Terima kasih tawarannya, tapi saya bisa sendiri,” tolaknya ramah. “Latihan berdua lebih efisien,” jawan Braja. Wajah tampannya dengan senyum manis tapi m***m itu diperlihatkannya dengan sangat baik. Tapi kepala Ala menggeleng, “Saya tidak apa-apa,” tolak Ala sekali lagi. Tangan Braja yang naik, terulur pada Ala yang mundur selangkah dari hadapannya. “Saya hanya mau membantu,” Braja tersenyum. Jantung Ala berdebar cepat, ia bisa melihat tatapan lapar yang diberikan Braja padanya. Caranya memandang ujung pundak Ala yang terbuka, pada dadanya, perutnya, lalu turun ke pahanya yang memang hanya memakai dress tenis yang panjangnya setengah paha. Tapi semua perempuan di sana juga memakai hal yang sama. Jadi Ala tidak merasa salah kostum dengan apa yang diberikan Saka untuknya. Tangan Ala menggenggam raket tenisnya erat-erat. Kakinya mematung tidak bisa lagi mundur. “Jangan takut begitu, Alara, saya hanya mau membantu,” ucap Braja lagi. Langkah Braja pelan, mendekati Ala. Tangannya juga terulur … Tap! “Ala sudah latihan dengan saya, Raj,” ucap Saka. Braja menoleh, senyumnya masih di sana. “Lu jahat banget kalau gak temenin Alara belajar, Saka,” katanya ringan sambil menurunkan tangannya. Tatapan Saka yang tajam membuat Braja mengangkat bahunya tak acuh lalu mundur, melirik Ala sekali lagi dan berbalik. Tangan Ala masih mengepal dan mematung di tempatnya, “Ala?” panggilnya pelan. Mata Ala berkedip, bahunya naik turun, menarik napasnya banyak-banyak. Saka mendekat, Ala mundur lalu mengangkat kepalanya dan menatap Saka lekat. “Aku gak apa-apa.” Kata-katanya berbanding terbalik dengan suaranya yang gemetar. -o0o-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD