Sungguh gampangan!
Ala menutup mata dan menarik napas, menahan diri untuk tidak menarik tuas pintu mobil dan berlari keluar. Saat ia kembali membuka mata, bangunan di depannya tetap sama. Wise Sport Center. Ala sudah mencari tahu tentang tempat ini tadi malam, saat Saka bilang kalau bayarannya dalam sebulan menjalani drama menjadi pacarnya Sakala Rangga adalah perpanjangan kontrak yang sudah disetujuinya itu.
Bonusnya jadi kartap kalau ia bisa meyakinkan kakeknya, katanya.
Memang gampangan.
Tapi yang membuat Ala mengiyakan ajakan gila Saka bukan itu. Sungguh, karena ia malu dengan apa yang terjadi malam saat ia meminum air mabuk itu dan berakhir di kamar Saka. Rekaman suara yang diambil Saka benar-benar membuatnya ingin menghilang dari bumi saat itu juga.
Meski ada alasan yang membuat Ala tidak menyesal sudah meminum air itu secara tidak sengaja. Ala merasa kalau ia sudah merugikan semua orang. Dirinya sendiri dan Saka.
Jadi ia mengangguk setuju setelah semua perlawanannya yang dilakukan saat mereka makan malam. Setelah semua kata gak mau yang ia katakan.
“Kalau hari ini berhasil, ada bonus buat kamu, Bebe,” ucap Saka dengan nada yang membuat Ala menoleh secepat kilat.
“Bebe?” ulang Ala dengan wajah kaget yang benar tidak bisa ditutupinya.
Dan di depannya, Saka mengangguk dengan wajah manja, “Mm, Bebe, kalau kita gak punya nama panggilan, semua orang gak akan percaya kalau kamu itu pacar aku,” jawabnya dengan mata yang menyipit karena senyum di bibirnya yang bergerak naik.
“Aku?” lagi Ala membeo, Sejak kapan saya-kamu berubah jadi aku? “Pak Saka-"
“Bebe, panggil aku sayang juga dong,” pinta Saka yang memotong ucapan Ala. “Pak Saka itu gak dibolehin di sini, selama kita bersama dan selama ada semua orang.”
Ala menarik napas. Menahan geli di dalam dadanya dan canggung yang tidak bisa tidak ia rasakan. “Pak Saka, mari kita luruskan dulu apa yang bisa kita sepakati.”
“Gak ada waktu buat itu, Bebe,” jawab Saka sambil mengangkat ponselnya, Pak Zam Calling tertera di layar ponselnya, “Aspri Kakek aku udah telepon aku suruh masuk,” tambahnya.
“Terus kalau kita ditanya apa-apa gimana?” Ala mengkhawatirkan mulutnya sendiri.
“Jawab aja sesuai yang terjadi,” jawab Saka dengan ringannya.
“Kayak kita sebenernya gak ada hubungan apa-apa selain karyawan sama bonya?” tanya Ala.
“Kayak kita sebenarnya udah menghabiskan malam bersama meskipun sayang sekali belum ngapa-ngapain,” timpal Saka dengan kerlingan pelan.
Ala menggigit bibir, langsung malu seketika. “Pak-“
“Bebe, panggilan sayang kamu mana?”
“Oke, oke!” Ala menarik napas, “Beb-“
Saka tersenyum.
“Bebe.”
Lurus. Tegas. Tanpa manis-manis sedikit pun.
“Gak bisa, Pak Saka,” Ala bergidik sambil memeluk dirinya sendiri yang sudah memakai tenis dress lacoste berwarna navi, couple warna dengan Saka yang memakai kaus polo dan celana pendek putih. Dress yang sudah di siapkan oleh Dimas sejak Saka bilang kalau Ala akan ikut datang.
Saka tergelak, “Kamu pasti bisa, Bebe,” katanya kemudian lalu meraih kedua tangan Ala dan menggenggamnya.
Hal yang membuat Ala membelalakan matanya. Melihat bergantian tangan dalam genggaman Saka dan wajah tampan yang tersenyum-senyum meledeknya.
“Ada bonus lagi kalau kamu bisa melewati hari ini dengan baik. Gimana? Penawaran yang menarik, kan?” tawarnya dengan tangan menggerak-gerak.
Dan si matre Ala memikirkan hal itu dengan lebih serius. “Apa bon-“
Tok-tok-tok!
Ala menoleh ke samping kirinya, melihat seorang perempuan yang mungkin seumuran dengannya mengetuk jendela. Wajah yang memakai kacamata hitam itu sama sekali tidak terlihat ramah. Ala bisa belihat perempuan itu sudah memakai setelan tenis yang sudah siap.
“Siapa?” tanya Ala sambil menahan pandangannya pada si perempuan. Takut sekali kalau ternyata Saka menjebaknya karena lelaki itu sudah dijodohkan. Orang kaya begitu, bukan? Ia yang tidak punya apa-apa dan bukan siapa-siapa ini tidak mungkin bisa masuk ke dalam lingkaran mereka.
“Adikku, Bebe,” jawab Saka sebelum menurunkan jendela, “Nalika, gak sopan,” tegurnya pelan.
Mata Ala mengikuti bagaimana gerakan jendela yang turun tepat di depan wajahnya. Ia tidak sempat protes dengan bagaimana Saka kembali menggodanya dengan panggilan ‘Bebe’ itu. Matanya menyipit, sudut bibirnya terangkat otomatis, lalu wajahnya yang ramah langsung menyapa tanpa sadar.
Perempuan itu membuka mulutnya kemudian dengan tangan kanannya, membuka kacamata hitam yang dipakainya. “Kak!” serunya pelan. Matanya menatap Ala lalu berpindah pada kakaknya, lalu menatap Ala lagi.
“Hai,” sapa Ala kaku.
Saka terkekeh pelan, “Kaget banget, lu,” komentarnya. “Be, tunggu biar aku yang bukain,” ucap Saka sebelum jendela kembali naik.
Tangan Ala terangkat melambai.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Saka meraih kunci lalu membuka pintu bagiannya. Ia turun dan menyapa Nalika di luar sana. Samar Ala bisa mendengar suara Nalika yang memekik pada Saka yang menyeringai santai. Ia melirik tangannya yang masih terangkat dan menepuk pelan dengan tangan kirinya. Menyadari kalau jantung berdebar cepat hanya karena bertemu dengan satu orang dari semua keluarga besar yang katanya akan datang kemari juga.
“Lo bisa, Ala. Demi kartap dan demi bonus yang Bebe lo, ih apaan sih gue? Ini demi bonus yang Pak Saka janjikan!” katanya menyemangati diri sendiri. Tidak peduli dengan apa yang menelusup pikirannya kemudian. Bahwa ia bisa saja tidak diinginkan perusahaan tapi membuat pemiliknya menyetujui permintaannya. Nepo cabang baru.
Ala sedang tidak peduli. Ia hanya ingin terus punya uang untuk bertemu mama dan ayah. Hanya itu.
Pintu terbuka, Ala tersenyum melihat Saka yang mengulurkan tangan. Ia harus bisa. Semangat Ala! Semangat! ucap kepalanya sendiri.
-o0o-
“Lo yang kemarin dijemput Kak Saka itu?” tanya Lika yang berjalan di depan Ala dan Saka. Berjalan mundur dengan kepangan rambutnya yang bergerak-gerak.
Kepala Ala mengangguk pelan, “Beritanya udah sampe kemana-mana, ya?” tanyanya dengan lirikan pelan pada Saka.
Lelaki itu menoleh dan hanya mengangkat bahu tak acuh. Tapi tidak melepaskan genggaman tangannya di tangan kanan Ala.
Kaki Lika berhenti melangkah, ia menatap Ala dengan lebih serius, “Pikirin lagi deh, Al,” katanya misterius dengan mata mendelik pada Saka yang jadi ikut berhenti karena Ala berhenti di depan Lika yang sekarang bersedekap, “dia cuma bagus cassingnya doa-“
Tuing!
“Kak!” geram Lika yang kepangan rambutnya ditarik gemas oleh Saka.
Ala membelalak melihat jahilnya tangan Saka.
“Tuh, gitu tuh bentukan pacar lo yang asli!” seru Lika menggunakan momen yang tepat untuk meruntuhkan image cool Saka yang menurutnya terlihat sengak. Tangannya masih memegangi rambut kepang ekor kudanya, sambil memelet ke arah Saka yang kini mendengkus pelan.
Tanpa disangka kedua kakak beradik itu, Ala tersenyum dengan giggle kecil yang terdengar, ia menutup mulutnya yang terlanjur terdengar suaranya. “Sorry,” katanya cepat-cepat.
Saka kembali mengatupkan bibirnya menahan senyum saat Lika mengerutkan keningnya karena heran.
“Kok lo ketawa?” tanya Lika.
Ala memasang wajah lelah setelah memaksa senyumnya turun, bahunya terangkat pelan dan menoleh pada Saka yang kini tersenyum menatapnya. “Berarti kamu emang sejahil itu, ya, Bebe?”
Pertanyaan Ala dengan nada manja dan panggilan Bebe itu membuat senyum Saka semakin lebar. Tangannya kini melepaskan tangan Ala dan beralih meraih pinggang gadis itu.
Ala terkesiap pelan tapi mencoba menjaga riak wajahnya tetap tenang. Tangannya mendarat di pundak Saka yang terasa keras dengan otot-otot yang menonjol. Ala mengutuk kepalanya yang kembali memutar apa yang ia lihat pagi itu. d**a Saka dengan otot-ototnya yang terbentuk.
Sial banget, Ala merasa pipinya memerah dan matanya menatap Saka tanpa berkedip.
“Love language aku itu jahilin orang yang disayang, Bebe,” ucap Saka pelan dengan kedipan sebelah matanya.
“Huek!” terdengar suara Lika dan ketukan suara langkahnya yang menjauhi kedua orang yang masih saling bertatapan itu.
“Percobaan yang bagus, Bebe,” bisik Saka dengan tangan kanan yang terulur menyentuh pelan pipi Ala.
“Bonusnya, Bebe, jangan lupa!” balas Ala yang sengaja mengalihkan perhatiannya dari pikiran yang tidak-tidak pada hal yang iya-iya saja.
-o0o-