“GAK MAU!”
Saka mendengkus pelan. Ia tidak memedulikan bagaimana kepala-kepala yang menoleh padanya mendengar pekikan dari mejanya itu.
“Pak Saka jangan jadiin saya tumbal, dong,” protes Ala pada bosnya itu.
“Tumbal?” tanya Saka.
Ia menahan dengkusannya, tidak Ala tidak adiknya. Kenapa semuanya membicarakan tumbal? Apa ia punya wajah seperti orang yang akan menumbalkan?
“Kalau bukan tumbal apa, coba?” tanya Ala dengan tatapan tak percaya.
Bisa-bisanya dalam situasi seperti ini ia ditawari satu hal yang mustahil. Meski ia pernah berpikir tentang datangnya ibu peri dalam hidupnya, tapi kejadian seperti itu, keajaiban seperti itu tidak mungkin ada di dunia ini. Apa yang baru saja ia dengarkan dari Bosnya bukan suatu keajaiban.
Apa tadi katanya? Tawaran untuk menjadi pacarnya? Pacarnya selama sebulan? Lalu harus mau besok dibawa main tenis bersama dengan keluarganya? Keluarganya banget nih? Keluarga Wisesa? Keluarganya seorang Sakala Rangga Wisesa?
Bagaimana bisa ia melakukannya? Datang dan mengaku sebagai pacar dari bosnya sendiri? Datang untuk mengaku sebagai pacar Sakala di depan seorang Darja Hadi Wisesa? Tidak terima kasih! Ia tidak punya wajah sebening itu untuk menjadi pacarnya Sakala yang luar biasa.
Ala punya cuma satu nyawa. Demi apapun ia masih ingin hidup. Kalau ia menerima permintaan itu, Ala tidak tahu apakah ia bisa bertahan seperti sekarang.
Kalau ingin sesuatu yang besar harus sejalan dengan usaha dan pengorbanan yang besar juga, bukan? Seseorang seperti Sakala Rangga tidak mungkin didapatkannya secara cuma-cuma seperti ini. Ala tahu akan ada hal yang harus ia lakukan yang sama besarnya dengan apa yang Saka tawarkan. Ala tidak mengharapkan sebesar itu, ia hanya punya keinginan untuk tetap bisa mendatangi pusara mama dan ayah. Hanya itu.
“Saya gak mau memperpusing diri, Pak Saka,” tambah Ala pelan. “Saya lebih baik cuci piring enam bulan di sini,” ucapnya putus asa.
Dan Saka benar-benar dibuat kesal oleh gadis itu. Bagaimana mungkin ia ditolak begitu saja? Bagaimana bisa tawarannya untuk berada dekat dengannya dibandingkan dengan mencuci piring di sini selama enam bulan pula?!
“Apa yang kurang dari saya, Ala?”
Ala kembali menoleh dengan tatapan tak percaya yang sama. Wajah dengan riasan itu menatap Saka dengan sedikit sebal yang bisa langsung dirasakan Saka.
“Saya ganteng, saya kaya, saya baik banget sama kamu,” Saka mempromosikan dirinya dengan lantang dan rasa percaya diri yang selalu tinggi melambung. Dalam riwayatnya mendekati perempuan, ia selalu diterima.
Tiga hal yang dikatakannya adalah pilar dari semua yang ada pada dirinya.
“Kelebihan Pak Saka memang tidak usah diragukan lagi, Pak,” Ala mengangguk-angguk setuju dengan apa yang diucapakan Bosnya itu. “Tapi kelebihan itu lebih banget, Pak. Kalau dibanding saya ini, Pak Saka udah di angka satu miliar, saya masih di dua puluh ribu,” katanya dengan gerakan tangannya yang saling menjauh.
Menggambarkan betapa mereka jauh sekali.
Ala rasanya ingin menarik apa yang ia pikirkan malam itu. Ia tidak mau menjadi Cinderella. Ia hanya mau menjadi Alara tapi dengan versi lebih sukses dan punya banyak uang. Pikirannya tidak sampai kalau ia harus menjadi seorang yang berdiri di samping putra mahkota.
Itu terlalu menyeramkan, bukan?
Karena Ala pernah melihat rombongan para petinggi Wise Corp, yang mana itu adalah keluarga Wisesa semuanya, berjalan dengan anggun dan gagah. Berjalan tanpa ragu seperti gerakan seorang yang memiliki dunia. Dan Ala merasa cukup menjadi rakyat biasa.
Bukan jelata.
Rakyat biasa saja. Please?
“Tapi kamu sudah tau bagaimana saya di rumah.”
Ala berkedip.
“Kamu sudah tau semua kebiasaan saya, kamu sudah tau kalau saya sering meghabiskan malam di ruang bermain, suka lupa sarapan, saya juga selalu datang sebelum pukul tiga sore,” ungkap Saka.
Hal yang tidak bisa disanggah Ala. Ia memang mengenal pola bosnya itu di rumah. Sampai Saka yang bilang kalau ia lebih memilih makan malam daripada sarapan. Lelaki itu juga hanya minta dibuatkan telur rebus jika pagi. Hal yang sangat mudah bagi Ala yang bisa melakukan segalanya.
“Kamu juga tau saya suka simpan teh manis basi di kulkas,” tambah Saka.
“Pak, itu ilegal,” bisik Ala yang mencondongkan tubuhnya, lebih mendekat pada lelaki di samping kirinya. Menjaga suaranya sepelan mungkin agar tidak ada yang mendengar mereka. Meski jarak kursi dengan seorang yang di meja sampingnya cukup untuk tidak bisa saling menguping satu sama lain. “Jangan simpen itu lagi, pokoknya.”
Ujung bibir Saka tertarik. Tubuhnya ikut condong, mendekatkan diri, menoleh dan membuat wajahnya berada sedekat itu dengan wajah bulat Ala. Menatap hitam cemerlang yang kelopaknya langsung melebar. Kaget dengan kikisan jarak di antara mereka. Sejalan dengan bagaimana tubuh Ala yang kembali duduk tegak, menjauhkan wajah mereka lagi.
“Lagipula kamu udah tau ukuran celana dala-“
“Pak!” seru Ala dengan tolehan kepala dan kelopak mata yang semakin melebar. Tangannya terulur menutup mulut Saka di sampingnya.
Saka tersenyum di balik telapak tangan Ala yang menutup mulutnya.
“Jangan buka hal private di muka umum, dong,” mohon Ala dengan pipinya yang memerah. Malu sekali dengan keadaan ini. Dari obrolan tidak masuk akal sampai hal yang harusnya menjadi privasi.
Tangan Saka meraih tangan Ala di depan bibirnya, menggenggamnya, dan tidak memberi perempuan itu kesempatan untuk menarik tangannya.
“Itu belum semua,” ucap Saka lagi.
Alis Ala bertautan di tengah, lagi-lagi tidak mengerti dengan apa yang akan Saka katakan padanya.
“Kita juga sudah menghabiskan malam bersama,” ucap Saka dalam bisikan yang hanya bisa di dengar oleh Ala.
Sungguh. Ala ingin saat ini ada serangan udara entah dari kubu sebelah mana, atau adanya lubang hitam di bawah kursinya, atau ada alien yang mencomotnya dari sini, atau ada trex yang mengamuk di luar sana. Ia ingin kabur. Kenyataan memalukan itu membuatnya harus menghindari Saka seharian kemarin.
Dan untuk menghindari bosnya itu, ia sampai merelakan satu porsi perbaikan gizinya di kantin Wise Corp itu kemarin. Padahal Lisa bilang menunya hari itu adalah iga bakar. Gara-gara malam itu ia salah masuk kamar, Ala merelakan makan siangnya yang mewah itu.
“Pak Saka itu,” Ala menarik napas, kembali mencondongkan tubuhnya dan bertanya dalam bisikan, “Pak Saka gak apa-apain aku kan malam itu?” tanyanya.
Ala juga penasaran. Apa yang terjadi antara dirinya dengan bosnya, dengan Sakala Rangga?
Wajah Saka langsung memasang wajah terluka, “Kamu gak inget? Sungguh?”
Mata Ala berkedip cepat. Ia sungguh tidak ingat. Ia sungguh khawatir dengan apa yang sudah terjadi. Meski tubuhnya tidak ada yang aneh. Tidak terasa aneh juga. Tapi itu tidak serta merta membuatya lega.
“Kamu gak inget dengan apa yang kamu lakukan sama saya?”
Mendengar pertanyaan itu, wajah Saka yang terluka, dan nada kecewa dalam suara Saka, Ala menegakkan kembali punggungnya. Tapi kali ini ia tidak memalingkan pandangan. Mereka saling berpandangan dan sama tidak mengerti dengan apa yang ada di kepala mereka masing-masing.
“Saya perjaka ting-ting, saya pria umur matang yang menjaga kesucian dan kehormatan diri-“
“Pak,”panggil Ala sekali lagi, “Maaf memotong ucapan Pak Saka. Tapi bisakah kita membicarakan ini lebih detail? Saya benar-benar tidak bisa mengingatnya. Saya benar-benar tidak tahu apa yang terjadi malam itu.”
Senyum Saka naik di bibirnya. Merasa kalau ini adalah saatnya. Ini adalah saat dimana Ala tidak akan menolah idenya untuk membawa si gadis dalam intrik yang ia susun dalam kepalanya.
“Ada syaratnya,” bisik Saka.
Sebearnya Ala bisa menebak, kemana arah syarat ini akan pergi.
“Beri saya kesempatan untuk menjadi pacar kamu selama sebulan ini,” ucap Saka. Ia masih tersenyum, “Saya akan menjamin kamu aman, terlindungi, bahagia, dan berkecukupan. Semua yang kamu mau akan saya berikan. Hanya itu syaratnya,” jelasnya dengan gamblang. Semua kemewahan dan uang yang pastinya tidak akan ada limitnya.
Ala menarik napas.
Senyum Saka naik sempurna di bibirnya. Siap dengan apa yang akan Ala katakan sebagai jawaban dari betapa menariknya presentasi yang baru saja ia jabarkan. Namun senyumnya menghilang saat Ala kembali berkata.
“Gak mau.”
-o0o-