Ini hanya perasaannya, atau memang Dimas jadi berdiri dengan canggung sejak tadi? Sejak ia keluar dari salon dan berdiri canggung dalam balutan gaun selutut ini. Tapi bukan hanya Dimas, Ala sendiri merasa canggung dengan dirinya sendiri.
“Pak Dimas, apa ini gak berlebihan?” tanya Ala setelah ikut berdiri di sisi Dimas.
Lelaki tinggi itu menoleh dan menggeleng, “Saya yakin sudah melakukan tugas yang Pak Saka berikan dengan baik,” jawabnya.
Alis Ala berkerut, “Pak Saka beneran mau minta traktir di tempat mahal ya, Pak Dim-“
“Bu Ala bisa panggil saya Dimas saja,” ucap Dimas.
“Kalau gitu saya juga mau dipanggil Ala aja,” jawabnya dengan senyum kakunya.
Dimas mengangguk kaku.
“Ini Pak Saka mau minta traktir di mana ya, Kak Dimas?”
Alis Dimas terangkat, keduanya, mendengar Ala yang memanggilnya dengan tambahan ‘kak’.
“Saya gak mungkin panggil yang lebih tua cuma pake nama doang,” Ala tersenyum, “gak sopan. Kayak di Amerika aja,” tambahnya dengan cengiran kaku. Sementara perutnya sudah mules. Bagaimana kalau Sakala benar-benar memintanya untuk makan di tempat mahal?
“Saya tidak tau kalau itu, Ala. Pekerjaan saya cuma sampai kamu selesai bersiap-siap,” Dimas menjawabnya dengan senyum sopannya sekali lagi.
Ala mengangguk pelan. Lalu diam berdiri di atas sepatu heels barunya.
Sampai sebuah mobil berhenti di depan mereka. Mobil yang membawa Sakala yang matanya menatap tajam pada gadis yang berdiri canggung itu.
-o0o-
Dimas mengangguk dan membuka pintu penumpang di depan, segera setelah mobil yang dikenalnya sebagai mobil bosnya itu datang. Tapi baik Ala ataupun Saka, keduanya sama-sama mematung.
Kepala Ala penuh dengan semua kekhawatiran tentang berapa banyak ia harus menghembat untuk bulan depan. Jika kali ini bosnya meminta traktir di resto mewah.
Sedangkan Saka menatap lurus Ala dari ujung rambutnya yang tergerai dengan potongan baru, ikal-ikal yang tadinya tidak ada, juga warna yang sedikit lebih terang dari sebelumnya. Entah siapa yang memilihkan, tapi Zimmerman itu cocok dengan Ala. Kakinya yang memakai heels tinggi berdiri dengan canggung.
“Ala?” Dimas memanggil.
Saka mengerutkan kening dengan panggilan yang diberikan Dimas.
Gadis itu berkedip, lalu melirik pada Saka juga Dimas. “Saya duduk di depan?” tanyanya.
“Lalu kamu mau duduk di belakang? Saya bukan supir kamu, Ala. Mobil ini juga cuma punya dua seat. Kamu gak bisa duduk di bagasi,” tandas Saka dengan tatapan menajam.
“Pak Saka maksudnya bukan gitu-“ Ala mengangkat tangannya, membuat tanda silang dengan kedua tangannya. Matanya kemudian melirik Dimas yang memberi isyarat dengan tangannya untuk Ala segera masuk ke dalam mobil Saka. Ala mengangguk kaku lalu berjalan ke arah ferrari hitam itu.
Ala menyempatkan diri mengangguk berterima kasih pada Dimas sebelum lelaki itu menutupkan pintu untuknya. Ia menarik seatbelt sebelum Saka di sampingnya kembali menyemprotnya dengan ketus.
Bisa di dengar Saka menekan klakson sebelum mobil melaju keluar dari parkiran.
Dan Ala tidak bisa duduk dengan santai. Ia benar-benar kepikiran bagaimana hidupnya setelah ini. Bukankah semua yang ia pakai sekarang juga harus dibayar? Perawatan wajah, rambutnya, biaya berendam, yang membuatnya sewangi ini juga. No, bukan, bukan karena sebelumnya ia bau. Tentu saja ia juga menjaga kebersihan.
Hanya saja, rasanya ia tidak pernah semerbak seperti sekarang.
Maklum, parfumnya hanya apa yang ada di minimaret, yang begitu keluar dari kamar wanginya menghilang. Bukan parfum jutaan yang masih tercium wanginya bahkan sampai seminggu menempel di baju. Seperti wangi di baju-baju Saka yang ia cuci.
Ala memikirkannya lagi, benar sekali, harusnya ia menyadari kalau Mas Saka di rumah yang ia sewa itu bukan lelaki sembarangan. Kemeja-kemejanya, celana, dan glek! Ala menoleh pada Saka yang masih menyetir dengan tenang. Ia juga mencuci semua bajunya. Luar dan dalam.
Mata Ala berkedip-kedip.
“Kamu kelilipan?” tanya Saka.
Ala menggeleng dan kembali melihat ke depan. “Pak Saka mau minta traktir di mana?” tanyanya mengutarakan apa yang sejak pesan tagian traktir dari bosnya itu masuk.
“Kamu akan tau setelah kita sampai,” jawab Saka misterius. Matanya melirik Ala dengan sedikit kerling jahil.
Ala menunduk melihat itu, punggungnya menempel pada jok yang disandarinya, berharap jok mobil mahal ini menelannya begitu saja. Jadi, ia tidak perlu repot-repot membuka dompetnya.
-o0o-
Steak yang ada di hadapannya memang terlihat menggiurkan. Ala tidak pernah mencoba makanan seperti ini sebelumnya. Ia bahkan bisa memakan daging setiap hari karena program gizi yang diusung Wise Corp. Jika tidak, mungkin makanan sehari-harinya hanya tempe dan tahu. Telur mungkin sekali-sekali untuk variasi.
Namun bukan itu yang ada di kepalanya sekarang.
Ini Wolfgang. Benar-benar wolfgang seperti apa yang ditakutinya.
“Thank’s,” ucap Saka begitu pelayan yang mengantarkan makanan mereka mengangguk dan mundur.
Lelaki itu menoleh pada gadis yang sudah sangat berubah total di luar tapi masih seperti Ala yang dikenalnya kikuk setelah pagi itu. Tampilan Ala sekarang sudah mirip dengan Nalika. Wajah dengan make up flawless, bibir pink mengkilap, pipi merona tidak berlebihan, dan pakaian yang lebih niat.
Bukan seperti kemeja dan celana panjang hitamnya juga flat shoes yang ujungnya sudah gugus itu jelek. Bukan karena masalah penampilan. Bukan karena ia tidak suka, namun saat ia ingin membawanya untuk membuat kakek kesal, penampilan Ala harus ia pastikan sudah lebih baik.
“Makanlah, Ala,” ucap Saka lagi, matanya masih tidak melihat pergerakan dari gadis yang duduk di samping kanannya.
Ala menoleh pada Saka yang sudah mengunyah. Ia menegakkan duduknya, menghadap Saka yang menatapnya dengan alis terangkat sebelah. Ala yakin Saka bingung dengan apa yang membuatnya gelisah sejak tadi.
“Pak Saka, saya mau jujur duluan,” kata Ala dengan nada serius.
“Hm, apa?” tanya Saka ringan. Santai sekali menghadapi Ala yang sudah panas dingin dengan harga yang berputar di kepalanya. “Jujur kalau malam ini saya ganteng banget?” tanya Saka.
Mata Ala melebar, meski tidak sampai melotot.
“Kamu bilang saya ganteng tadi pagi,” Saka dengan songong yang Ala kenal kembali keluar.
“Emang iya, Pak Saka itu ganteng,” jawab Ala cepat-cepat, tapi langsung menutup mulutnya. Tidak percaya dengan apa yang ia katakan barusan. “Maksudnya, itu-“ Ala menarik napas, mengulum bibirnya, matanya mendelik pada Saka yang hanya menyeringai kecil sambil mengunyah.
“Saya gak sanggup bayar,” Ala mengungkapkan isi kepalanya dengan sangat jelas. “Saya gak punya uang sebanyak ini buat traktir.”
Kunyahan Saka berhenti, ia menatap Ala dengan lebih lekat, “Kalau gitu gimana kita bayar ini?” tanyanya dengan wajah bingung yang sama.
Ala mengerjap. “Pak Saka jangan mempermainkan saya kayak gini, dong,” pintanya dengan suara makin menghilang.
“Saya gak mempermainkan kamu, saya cuma nanya gimana kita bayar ini?” Saka menggeleng dengan mata menatap makanan di meja mereka. Sudut bibirnya berkedut ingin tertawa. Tapi ia menahannya sekuat yang ia bisa.
Kening Ala berkerut, menatap lapar semua makanan di atas meja, “Ini gak mungkin kebayar pake cuci piring, kan, Pak?”
“Kamu pikir gitu?” tanya Saka ikut menghitung.
Ala menoleh.
Kepala Saka kini mengangguk, “Kamu kayaknya harus cuci piring paling enggak dua bulan buat semua ini,” jawabnya dengan tampang serius.
Tangan Ala mendorong piring di hadapannya, “Kurangi ini, Pak Saka,” katanya semangat.
“Kamu gak makan?”
Kepala Ala menggeleng secepat yang ia bisa untuk menjawab Saka.
“Sebulan setengah,” jawab Saka tak kalah meyakinkan.
“Kalau gitu minum saya juga gak usah,” Ala mendorong lagi gelasnya.
Saka tidak sanggup lagi, ia terkekeh pelan.
Alis Ala bertautan di tengah, matanya mendelik lagi pada Saka yang menutup bibirnya sambil berdeham untuk meredam tawanya. “Pak Saka lagi mainin saya, kan?” tebaknya langsung. Bibirnya mengatup, menahan giginya yang gemeretak di dalam mulut.
Tapi Saka menggeleng, “Kalau kamu makan dengan baik,” tangan Saka kembali menyimpan piring ke hadapan gadis di depannya, “Minum juga,” tambah Saka yang kini mendekatkan gelas ke piring Ala, “Semuanya cuma perlu satu bulan.”
Ala makin tidak mengerti.
Tapi Saka tidak menjelaskan lebih banyak lagi. Ia hanya kembali meraih garpu dan pisaunya, lalu kembali memotong daging di atas piringnya. Makan dengan santai dan sesekali tersenyum pada Ala. Matanya menyiratkan pada gadis itu untuk mulai makan.
Dan Ala, sebagai seorang yang hanya perlu mengikuti perintah, ia mengangkat tangannya, meraih pisau dan garpu di sisi piring. Mulai mengiris daging bagiannya. Kalau hanya sebulan, ia bisa menyisihkan waktu. Ia menyingkirkan semua kekhawatirannya yang sedari tadi membuatnya tidak bisa fokus.
Sekarang, Ala ingin memakan apa yang ada di depannya dengan lebih serius. Ia menyuap dan rasa dagingnya langsung membuatnya mengerjap.
“Enak?” tanya Saka.
Seperti anak anjing, Ala mengangguk semangat.
“Habiskan, dan kita akan membicarakan bagaimana kamu bisa membayarnya,” lanjut Saka dengan senyum menawan yang tidak pernah Ala lihat sebelumnya.
Gawat. Malam ini, selain makanan yang enak dan baju yang bagus, kenapa senyum Pak Saka terlihat sangat menawan? gumam Ala dalam hati.
-o0o-