Undangan Kakek

1261 Words
Ponsel Sakala berdering, menampilkan nama Kakek sebagai peneleponnya. Ia ingat dengan apa yang Lika katakan adanya pagi tadi. Info yang didapatkannya kalau ia akan menjadi ‘tumbal’ dari apa yang akan terjadi. Perasaannya bilang kalau ini akan menjadi awal dari apa yang sedang direncanakan kakeknya. Tangannya meraih benda pipih itu dari atas meja, ia berdiri dan berbalik membelakangi meja yang berantakan. Tangan kirinya naik membawa ponsel ke telinga kirinya setelah menyentuh ikon terima. Sedangkan tangan kanannya ia masukan ke saku celananya. “Selamat siang, Kakek,” sapanya dengan ponsel tertahan di telinga kiri. “Terdengar menyenangkan dapat sapaan selamat siang dari cucu kakek yang super sibuk ini,” sindir Darja. Saka terkekeh pelan, “Maaf saya gak pamit, Kakek. Saya pulang sebelum subuh, saya hanya tidak mau mengganggu istirahat kakek,” ucapnya meminta ampunan. “Kalau mau mendapatkan maaf kakek, besok kamu harus datang,” jawab kakek dengan idenya yang selalu membuat Sakala tidak bisa berkata tidak. “Apa ada acara yang harus saya datangi?” tanya Saka. Berpura tidak tahu apa-apa. “Kita main tenis. Kakek sudah mengundang beberapa teman, kita akan bermain-main,” jawab Kakek sudah ceria. Kepala Saka mengangguk, matanya masih menatap keluar jendela dari lantai tujuh belas, lantai di mana ruangannya sebagai pengganti sementara kakeknya itu berada. Ujung bibirnya terangkat, ia menyeringai kecil, “Apa saya juga boleh mengajak teman?” tanyanya. Ia hanya mencoba peruntungannya. Menjudi nasibnya. “Tentu saja boleh,” jawab kakeknya setelah ada jeda hening yang membuat Saka menyipitkan matanya. “Beneran boleh?” tanya Saka dengan nada tidak percaya. “Siapa yang akan kamu ajak?” Darja balik bertanya, “Apa seorang yang baru saja kakek tahu?” Saka berkedip, hal yang kemarin terjadi tidak mungkin tidak diketahui siapapun. Ia dengan terang-terangan menarik tangan Ala dari lantai dua puluh tiga. Tempat divisi desain berada satu lantai dengan bagian marketing. Tidak mungkin tidak ada yang melihatnya. Meski ia membawa Ala naik lift eksekutif, namun semua mata di lantai dua puluh tiga melihatnya dengan sangat jelas. “Benar, Kakek,” jawab Saka. Jika tebakannya benar, ia mungkin sudah tahu akan kemana arah tujuan dari sesuatu yang dikamuflasekan dengan main tenis ini. Saka kembali menyeringai kecil. “Kalau kamu yakin dia bisa berada di sana, bawalah,” jawab kakeknya dengan tenang. Ketenangan yang selalu Saka yakini adalah hal yang lahir dari waktu dan kepercayaan diri dari semua yang sudah berhasil dibangunnya sampai hari ini. Saka mengangguk, “Kalau begitu sampai jumpa besok, Kakek,” ucapnya dengan percaya diri yang sama. Terdengar kekehan tawa kakeknya yang khas, “Sampai besok, Sakala,” katanya sebelum sambungan telepon terputus. Saka menurunkan ponsel, masih dengan tangan kanan tersaku, ia berbalik, tangannya menyentuh tombol untuk memanggil Dimas. Ia harus mempersiapkan gadis yang akan dibawanya ke dalam acara dadakan keluarganya ini. Ujung bibir Saka kembali terangkat, sepertinya ini akan menyenangkan. -o0o- Kepala Ala menoleh ke kiri dan kanan. Tapi masih melangkah mengikuti Dimas yang berjalan di depannya. Ia tidak tahu mau dibawa kemana, tapi sepanjang yang ia tahu, semua merk-merk di toko yang ia lewati itu adalah merk luar negeri yang tidak akan pernah bisa ia beli dengan uangnya. Uangnya yang sekarang. Meski semua uangnya tidak dikirimkan pada Mama Arum, meski mengumpulkan semua uang dari awal gajiannya, ia tetap tidak akan mampu membeli satu dari deretan di dalam-dalam etalase itu. Kecuali dulu, saat Ayah masih ada dan ia bisa dibelikan apapun. Sekarang barang-barangnya yang itu sudah diberikan pada Gina. Mama Arum bilang Gina akan lebih membutuhkannya karena adik tirinya itu masih dalam masa kuliah. Ala yang tidak mau membantah apapun hanya mengiyakan semuanya. Ia sudah tidak punya lagi tenaga untuk membalas ucapan Mama Arum. Hanya Mama Arum yang menjadi satu-satunya tempat pulang. Langkah Ala berhenti saat Dimas menghentikan langkahnya di depan satu pintu. “Pak Dimas, kita mau kemana? Pak Saka pasti mau ditraktir di tempat mahal, ya?” tanya Ala dengan nada khawatir yang jelas bisa Dimas dengar. Lelaki itu menggeleng, “Pak Saka bilang anda harus bersiap untuk besok,” jelasnya yang sama sekali tidak bisa Ala mengerti. “Besok?” “Pak Saka yang akan menjelaskannya pada anda,” jawab Dimas lagi. Anda? Ala terkesiap dengan panggilan formal itu. Ia hanya mengangguk setelahnya. Pertanyaan yang sudah sampai di kepalanya tidak sempat diutarakan Ala saat seorang perempuan keluar dari balik pintu yang mereka belakangi. “Pak Dimas?” tanya perempuan itu. Perempuan dengan seragam hijau emerald dan celana putih, yang rambut cokelat pirangnya digelung rapi. Lalu dengan riasan wajahnya yang cantik. Dimas berbalik dan mengangguk, “Kak Siska?” tanyanya balik. Perempuan bernama Siska itu mengangguk dengan sopan. “Siapa yang harus saya make over, Pak Dimas?” tanyanya lebih ceria. Tangan Dimas terangkat membuka, menunjuk Ala dengan kelima jarinya, “Bu Alara,” panggil Dimas. Ala menoleh, melihat bergantian pada Dimas dan Siska. “Saya? Mau apa?” “Serahkan pada saya, Pak Dimas,” jawab Siska dengan ceria. Ia menghampiri Ala, memerhatikam gadis itu dari atas sampai bawah, lalu mengangguk. “Udah cantik dari sananya, mungil, imut,” katanya menilai, lalu menoleh kembali pada Dimas. Dimas mengangguk. Apa? Cantik dari sananya? Mau apa? “Silakan jemput tiga jam lagi,” katanya kemudian. Ala mengerjap. “Baik, Kak Siska. Terima kasih,” jawab Dimas kemudian berbalik dan meninggalkan Ala yang masih tidak mengerti situasi. “Pak Dim-“ “Bu Alara,” panggil Siska. “Iya?” Ala menoleh. Tidak jadi memanggil Dimas yang sudah semakin menjauh. Berjalan ke arah mereka tadi datang. “Percayakan semua sama Siska,” ucap Siska dengan penuh percaya diri, “Siska akan buat Bu Alara jadi princess,” lanjutnya dengan senyum cemerlang. “Kak Siska panggil aja Ala,” jawab Ala ragu-ragu. “Oke, Bu Ala,” Siska masih tersenyum, “Ayo,” ajaknya kemudian membuka pintu di belakang mereka. Tangannya menarik Ala masuk dan Ala tidak punya pilihan lain selain mengikuti apa yang dikatakan Siska. -o0o- Saka meraih ponselnya, menatap layar dari ponsel berwarna hitam itu yang berkedip pelan. Pesan dari Dimas masuk bercentung, bersamaan dengan pesan dari Lika. [Nalika : Kak, lu harus liat seniat apa kakek besok!] Ujung bibir Saka tertarik naik saat stiker balita ngakak kembali dikirimkan adiknya itu. Ia mengetik balasannya. [Sakala : Lu juga siap-siap. Kalau gue sama Mara udah kebagian, lu selanjutnya.] [Nalika : Ih, ogah. Gue lagi menikmati masa remaja gue yang gak akan terulang.] [Nalika : Lu sama Amara aja sana, gue gak tertarik buat join grup saling sikut.] Stiker ngakak kembali dikirimkan satu-satunya adik perempuan Saka itu. Nalika Ranya Wisesa. Satu-satunya keturunan kakek yang berbelok menjadi pengacara. [Sakala : Bilang aja lu masih ngarep sama yang itu.] Tidak ada jawaban yang bisa dibaca Saka, hanya ada voice note yang masuk sebagai balasannya. “Kak Saka! Lu kurang kerjaan banget stalk gue!” Tawa Sakala terdengar setelah suara Nalika berhenti. [Sakala : Chill, cil, gue belum kasih tau mama.] Balasan Lika kali ini hanya berupa stiker jari tengah yang besar. Balasan yang membuat Tama kembali mengekeh. Lalu ia ingat pesan belum terbaca dari Dimas. Ia beralih pada pesan asprinya itu dan senyumnya merekah. [Dimas : Bu Alara sudah siap, Pak.] [Sakala : Biar saya yang jemput. Terima kasih, Dim.] [Dimas : Sama-sama, Pak. Saya bawa Bu Alara ke depan, ya, Pak Saka.] Sakala tersenyum, bukan lebih tepatnya menyeringai. Ia memasukan ponsel ke saku dalam jasnya kemudian berjalan keluar dari ruangannya. Ia akan menilainya, apa Ala bisa ia bawa ke acara besok atau tidak. Atau, ia bisa mengambil kesempatan ini untuk menjadikan Wise benar-benar ada dalam genggamannya. Saka bersenandung pelan, ia tidak sabar melihat gadis yang tiba-tiba masuk ke selimutnya itu berubah penampilan. -o0o-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD