“Ala!” panggilan Lisa membuat cewek itu memalingkan wajah dari layar monitor di depannya.
“Hm?” gumam Ala dengan wajah menghadap Lisa yang baru datang setelah tadi pamit laporan, tangannya otomatis menekan save pada pekerjaannya, “Kenapa?”
“Lo dipanggil Bu Awi,” jawab Lisa dengan jempol terangkat dan menunjuk ke arah luar ruangan mereka.
Kening Ala berkerut, “Bu Awi?” tanyanya memastikan telinganya tidak salah dengar. Bu Isnawi atau yang lebih sering dipanggil Bu Awi adalah HR perusahaan mereka. Ala sudah mengirimkan berkas permohonan perpanjangan kontrak pada Pak Dawan, supervisor bagian desain, sejak bulan lalu. Tapi tidak menyangka kalau ia akan langsung dipanggil oleh Bu Awi.
“Heem,” Lisa mengangguk. “Mungkin pengajuan kontrak lu udah selesai ditinjau,” tebaknya.
“Gak lewat Pak Dawan?” bisik Ala bertanya.
Lisa mengangkat bahunya sambil menggeleng, “Gue gak tau,” ucapnya yang selaras dengan gestur tubuhnya. “Tapi lo beneran dipanggil, gih sana pergi dulu,” tambahnya sambil menarik Ala bangun dari duduknya.
“Iya, iya,” katanya pelan lalu melepaskan mouse dan berdiri. “Doain pengajuan gue lolos ya,” pintanya sambil mengangguk-angguk pada Lisa.
Kedua tangan Lisa terkepal, lalu ia angkat sampai di depan pipinya, “Semangat!”
Ala mengangguk lalu berbalik, di mejanya ia tidak melihat Pak Dawan. Apa tidak apa-apa jika ia pergi tanpa mengkonfirmasi apapun pada atasannya itu dulu? Ala mengangguk, tidak apa-apa. Semoga Pak Dawan sudah tahu dan hanya kebetulan sedang tidak ada di tempatnya.
-o0o-
“Bukan cuma itu, kamu juga dipromosikan untuk naik jadi karyawan tetap.”
Ala berusaha menjaga wajahnya agar tidak terlalu terlihat kaget. Meski di dalam kepalanya sudah ada berbagai suara semburan kembang api juga taburan confetti, merayakan kenaikan tahapan sebagai karyawan yang dipromosikan. Tapi wajahnya tetap berusaha profesional, meski senyum mengembang kini menjadi poin utama di wajahnya.
“Terima kasih banyak, Bu Awi atas kesempatannya. Saya senang sekali bisa tetap melanjutkan pekerjaan dan menjadi bagian tim desain. Juga untuk kesempatan promosi menjadi karyawan tetap di Wise Corp,” jawab Ala dengan penuh antusias. “Saya mohon arahannya untuk proses administrasi selanjutnya, Bu,” lanjutnya setelah menunduk kecil.
Wanita pertengahan empat puluhan itu mengangguk kecil, namun sudut matanya terlihat jelas sedang menahan kesal. Rambut hitamnya yang digelung sederhana dengan hair pin berwarna emas yang menjadi highlight yang mencolok dalam tampilannya yang chik dan selalu terlihat pas. Setelan thousers dan kemeja juga jas yang bernuansa biru dan cream membuatnya terlihat segar.
“Saya akan kabari lagi untuk proses penandatanganan kontrak baru, ya, Alara,” jawab Bu Awi dengan kepala mengangguk pelan dan tanpa senyum.
Mata Ala berkedip menyadari perbedaan yang terasa kentara ini. Tapi senyum dan sikap sopan Ala masih ditunjukannya. Meski ia bertanya-tanya kenapa Bu Awi yang biasanya selalu ramah itu jadi terasa jutek padanya. Ala meyakinkan diri kalau mungkin saja Bu Awi sedang punya hari yang berat.
Jadi, ia kembali mengangguk. “Baik, Bu Awi. Terima kasih, saya menunggu kabar selanjutnya.”
Ala mundur lalu berbalik dan menarik pintu terbuka. Tangannya kembali menarik pintu sampai tertutup. Memastikan pintu yang setengahnya adalah kaca buram itu tertutup tanpa suara gebrakan. Tangannya melepaskan pegangan pintu dan menghela napas lega setelahnya. Ala tidak tahu kenapa hatinya yang bahagia terasa sedikit terluka dengan sikap Bu Awi yang tidak seperti saat pertama bertemu dengannya dua tahun lalu.
Kepalanya menggeleng kemudian, tidak perlu memikirkan apa yang bukan menjadi urusannya. Ala menyakinkan diri kalau ia hanya perlu merasa bersyukur atas apa yang sudah ia terima. Bagaimana mood Bu Awi, biar itu jadi urusannya sendiri saja. Langkah Ala terasa ringan, ia bahkan sedikit bersenandung saat melewati selasar menuju lift di ujung lorong ini.
Setidaknya, kalau sudah jadi karyawan tetap, ia sudah bisa menjamin dirinya akan tetap bisa bertemu dengan makam Ayah dan Mama selama sisa hidupnya. Hanya itu yang menjadi motivasinya. Alasan terbesarnya.
-o0o-
Sakala berjalan terburu keluar dari lift khusus petinggi Wise Corp, diikuti Dimas di belakangnya. Tapi langkahnya terhenti saat melihat siapa yang berjalan dengan tangan bergoyang di sisi kiri dan kanannya, kakinya yang melangkah ceria, ditambah dengan sedikit melompat-lompat, juga terdengar pelan senandung pelan dari gadis yang berjalan menuju lift di arah samping lift khususnya itu.
Dimas ikut berhenti dan menatap ke arah yang sama dengan arah pandang Sakala.
“Bu Awi sepertinya sudah memberi tahu,” tebaknya dengan akurat.
‘Hm’ itu berhenti tepat saat gadis itu menyadari bahwa di depannya ada lelaki yang mempunyai dua peran di dalam hidupnya.
Benar-benar dua peran yang saling bertolak belakang. Saat di rumah, Sakala dengan setelan baju tidurnya, rambut tidak ditata, menyimpan menuman keras seenaknya di dalam kulkas, yah, meskipun Ala mengerti kalau itu haknya karena itu rumahnya sendiri. Tapi ketidakteraturan Sakala di dalam rumah sungguh terbalik dengan Sakala di kantor.
Orang yang bahkan sebelum resmi menjadi CEO sudah menjadi orang yang sangat berpengaruh untuk perusahaan. Jadwal padatnya, keteraturan yang dijaganya, dan semua yang berhubungan dengan bosnya itu adalah hal yang tidak akan Ala termukan dalam diri Sakala di rumah.
Karena itulah ia tidak menyangka kalau ternyata lelaki yang ditolongnya malam itu adalah Sakala Bos-nya. Raja Terakhir yang jadi legenda kantornya sendiri.
Kepala Ala otomatis mengangguk hormat pada Sakala yang diam dengan tangan sebelah kanan yang tersaku di celana bagian sampingnya. Ia memberi jalan meski selasar itu masih lebar untuk dilewati Sakala dan Dimas. Ala berdiri di sisi kiri Sakala yang masih diam dan memerhatikannya.
Kepala Ala yang menunduk membuatnya tidak bisa melihat wajah Sakala. Ia diam tapi bosnya itu ikut diam. Hatinya bingung sendiri. Tapi jika ia jalan melewati Sakala begitu saja ia merasa tidak sopan. Bagaimana ini? Matanya mengerjap-ngerjp pelan.
Sakala mengulum senyum sambil memerhatikan Ala yang semakin mundur. Sejak kemarin, sejak bangun tidur dan menemukan gadis itu dalam pelukannya, Saka sudah ingin membahas hal itu. Tapi seperti kemarin, hari ini pun Ala masih menghindarinya.
Tentu saja Sakala tahu apa yang membuat Ala semakin menjauhinya. Terbukanya identitas dirinya sebagai atasan dari gadis itu.
“Pak?” Dimas menegur pelan. Ia sama sekali bingung kenapa mereka hanya berdiri diam seperti ini. Matanya menatap bergantian pada bosnya dan pada Ala yang masih menunduk di depan.
Sebagai assisten pribadi Sakala, tentu saja Dimas tahu siapa Ala. Gadis itu yang sudah menghubungi almbulance dan menemani Sakala di tempat jatuhnya lelaki itu. Gadis yang malam itu juga ia cari setelah Sakala bilang kalau gadis yang membantunya mungkin membutuhkan bantuan karena sedang membawa koper.
Setelahnya, Sakala meminta bertemu dan keputusan agak gila itu diambil olehnya. Bahwa Ala akan menyewa kamar di rumahnya. Dan Sakala memastikan kalau Ala tidak mengenalinya saat itu. Sakala juga tidak terlalu mempermasalahkan, ia hanya tidak punya waktu untuk membereskan rumahnya.
Alasan lainnya adalah ia tidak mau dikirim pengurus rumah oleh mamanya. Karena sudah dapat dipastikan kalau pengurus rumahnya akan diminta untuk melapor pada mamanya itu. Setiap waktu.
Jadi, selain karena tidak tega membiarkan Ala terlunta tengah malam begitu, Saka juga mendapat keuntungan dengan bagaimana gadis itu bersedia membereskan rumahnya.
“Selamat atas promosinya, Ala,” pelan ucap Sakala sebelum kembali melangkah pada tujuan mereka. Dimas mengikutinya lagi dengan ritme langkah yang sama.
Ala berkedip. Telinganya mendengar ucapan selamat itu dan dilanjutkan dengan suara ketukan sepatu yang menjauhinya. Sedangkan ia masih mematung, mencerna yang terjadi. Lalu centung suara ponselnya membuat Ala kembali sadar. Ia merogoh saku celana panjangnya, mengeluarkan ponsel dan memicingkan mata melihat balon notifikasi di layar ponselnya.
Pesan dari Sakala.
[Pak Sakala : Saya tunggu traktirannya. Kamu gak lupa, kan?]
Alis Ala bertaut dengan kening berkerut, lalu ingatan tentang ucapannya beberapa waktu lalu dalam sebuah obrolan ringan dengan Saka melintas kembali.
“Mas Saka nanti aku traktir kalau aku udah resmi diperpanjang kontrak, ya.”
Ala pusing seketika, gimana kalau Sakala meminta traktir di Wolfgang?
-o0o-