Malam ini gemerlapan lampu kota nampak begitu indah, saat ini seluruh peserta tengah berkumpul di aula. Mereka baru saja selesai makan malam, saat ini tengah ada hiburan malam serta pengumuman siswa yang masuk sepuluh besar.
Gavesha nampak sedikit gusar dan gugup. Tanpa sadar ia terus menggigiti kukunya dan hampir terluka. Meesa yang melihat langsung menjauhkan tangan Gavesha dari mulut gadis itu.
“Kamu tenang aja, Gave. Kamu udah berusaha yang terbaik, pasti Allah akan berikan hasil yang terbaik juga,” nasehat Meesa untuk menenangkan Gavesha.
“Tapi gue gugup, Sa. Gue takut kalau gue gak masuk sepuluh besar.”
Meesa tersenyum sangat manis, ia memegang kedua pundak milik Gavesha.
“Aku tahu bagaimana kemampuan kamu, kamu pasti bisa.”
Gavesha sedikit tenang, sampai akhirnya saat ini pengumuman peserta yang lolos sepuluh besar.
“Baik anak-anak, tidak usah berkecil hati. Saya tahu kalian adalah murid-murid terpilih dari sekolah masing-masing. Kalian sudah hebat untuk bisa mengikuti olimpiade tingkat Jawa-Bali ini.”
“Untuk mempersingkat waktu, langsung saja saya bacakan siapa saja yang masuk peringkat sepuluh besar dan lolos ke babak selanjutnya,” sambung MC pembawa acara tersebut.
“Di urutan kesepuluh peserta mata pelajaran Ilmu Pengetahuan dan Sosial ananda Andhira Anuradha dari SMPN 1 Yogyakarta dengan skor 78 ....”
“... dan yang terakhir di urutan pertama ananda Lal Abirama Gasendra dari SMP Nabastala dengan skor 100.”
Semua tepukan riuh, Meesa bahkan tercengang, Lal berhasil mendapatkan nilai yang sempurna. Sementara sang empu hanya menatap datar tidak ada ekspresi terkejut ataupun senang. Seakan-akan itu adalah hal biasa yang tidak usah dikejutkan.
“Demi apa, Lal? 100? Sumpah sih, pinter banget pasti dia. Tapi dia kok gak masuk kelas kita?” heran Meesa bertanya pada Gavesha.
“Lal sama aja masuk kelas A2, tempatnya anak sosial.”
Meesa mengangguk, pantas saja dia seperti tidak asing dengan Lal ternyata dia salah satu tetangga kelasnya. Di SMP Nabastala ada tiga kelas unggulan. Kelas A1 untuk bidang MIPA, kelas A2 untuk bidang sosial, dan kelas A3 untuk bidang bahasa. Sedangkan sisanya ada sembilan kelas reguler yang terdiri dari kelas A sampai I.
Saat ini tiba di pengumuman untuk peserta yang lolos olimpiade matematika. Gavesha nampak begitu gugup. Bahkan kini gadis cantik itu menggenggam tangan Meesa begitu erat tanpa sadar. Sudah urutan kelima namun nama Gavesha belum saja terpanggil, membuat gadis itu semakin was-was.
“Di urutan keempat ananda Gavesha Gian dari SMP Nabastala dengan skor 85-”
Gavesha memekik senang, ia bahkan reflek memeluk Meesa dengan erat. Sementara itu Meesa hanya tersenyum manis sambil menepuk-nepuk punggung Gavesha.
“Udah kali, Gave. Kasian Meesa tuh sesek lo peluk,” sindir Davendra yang memang duduk di samping Gavesha.
Gavesha tersadar, ia meringis saat melihat wajah kuning langsat milik Meesa nampak memerah.
“Hahaha, sorry gue terlalu exited,” sesal Gavesha tak enak.
“Gak papa. Selamat ya, gue tau lo pasti masuk.”
“Sayang Meesa deh.”
Meesa terkekeh, terlihat menggelitik cewek tomboy macam Gavesha mengucapkan kalimat semanis itu.
“Santai.”
“Di urutan ketiga ananda Davendra Ekawira Hirawan dari SMP Nabastala dengan skor 92-“
Gavesha kembali memekik, dia memeluk Davendra begitu erat untuk memeberikan semangat.
“Widih tinggi juga skor lo. Selamat ya.”
“Iya dong, siapa dulu? Davendra Hirawan!” Davendra memajukan badanya sembari memukulnya terlihat begitu sombong dan tengil.
“Sombong b**o!” umpat Gavesha.
“Hahaha, selamat ya, Dave,” kali ini ucapan selamat dari Meesa.
“Makasih.”
Mereka begitu serius mendengarkan pengumuman yang masih berlanjut. Tidak sangka, semua perwakilan dari SMP Nabastala masuk final. Tidak hanya itu, kali ini Meesa harus melawan perwakilan dari SMP Buntara yang ternyata mayoritas juga masuk semifinal.
“Dan yang terakhir, untuk skor tertinggi di mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam ....”
Semua nampak menebak, bahkan hati Meesa sejujurnya gusar karena memang namanya belum di panggil. Apakah dia tidak masuk semifinal?
“ Ananda Lavanya Meesa! Dari SMP Nabastala dengan skor yang sempura!” teriak MC begitu nyaring.
Semuanya memekik, hanya ada dua peserta yang berhasil mendapatkan skor yang sempurna. Dan itu sama-sama dari SMP Nabastala. Meesa menutup mulutnya tak percaya. Dia bahkan speachlees karena berhasil mendapatkan skor yang sempurna untuk olimpiade kali ini.
“WAAAHHH MEESA! YA AMPUN GUE BANGGA BANGET SAMA LO. SUMPAH! SELAMAT, BESTIE,” pekik Gavesha.
“Saya tidak menyangka bahwa ada yang mendapatkan skor sempurna, bahkan itu dari lembaga yang sama. Saya ucapkan selamat untuk para peserta yang lolos di babak selanjutnya. Untuk yang belum beruntung jangan khawatir, kalian adalah murid-murid yang hebat sudah sampai di sini,” terang MC mengakhiri acaranya.
Seluruh pandangan kini fokus ke arah Meesa dan Lal yang memang kebeulan duduk berdampingan. Lal seperti biasanya tidak berekspresi apapun berbeda dengan Meesa yang selalu senyum dan membalas semua ucapan selamat untuk dirinya.
“SMP Nabastala menang banyak kali ini.”
“Apalagi ada Meesa di sana, sumpah sih.”
“Anak Buntara juga masuk semifinal gak sih?”
“Iya, berarti nanti Meesa bakal lawan mantan sekolahnya.”
“LAL GANTENG BANGET WOY!”
“SELAMAT LAL! MEESA!”
“Demi apa woy skornya sempurna, padahal susah banget tadi soalnya.”
“Sumpah, kok gue lihat mereka cocok ya?”
“Hahaha, skandal apalagi nanti? Tapi kalau mereka jadian, gak bayangin gue.”
“Kalau mereka nikah, sepinter apa nanti anaknya.”
“Otaknya dapet, fisiknya juga dapet, sempurna banget sih.”
“Iya, Lal ganteng banget. Meesa cantik, imut, manis, di borong semua sama dia.”
“SELAMAT MEESA!”
“SELAMAT LAL!”
“Insecure sumpah gue sama Meesa.”
“Sempurna banget kayanya dia.”
“Kaya gak ada celah cacatnya woy!”
“Hahaha iya. Cantik, imut, pinter, ramah, kaya, famous, baik, dah sumpah bidadari spek malaikat di dunia nyata.”
“Dia ponakanya selebgram terkenal itu ya kan?”
“Gue sering lihat dia di story Kak Vira.”
“Nah iya, Kak Vira sering videoin dia lagi main piano.”
“Gak kaleng-kaleng gennya dia.”
Dan masih banyak lagi bisik-bisik yang membiacarakan Meesa. Gadis yang terlampau sempurna di mata mereka semua.
Meesa tersenyum kaku mendengar bisik-bisik yang sebenarnya tidak bisa di katakan bisik-bisik sih, karena hampir keseluruhan dia mendengar semua itu.
“Terima kasih, terima kasih ya. Kamu juga selamat, terima kasih, terima kasih, selamat juga ya, terima kasih.”
Rasanya sampai mulut Meesa berbusa tidak akan selesai juga semuanya. Bayangkan saja, saat ia ingin kembali ke kamar hotel hampir keseluruhan peserta yang berjumpah bukan lagi ratusan tapi seribu lebih berbondong-bondong ingin langsung mengucapkan selamat pada Meesa.
Tidak hanya itu, beberapa dari mereka mengambil kesempatan untuk numpang pansos. Banyak yang ngevideoin dengan begitu ceria kemudian di upload di sosmed untuk mencari viewers.
“Lavanya Meesa,” panggil Pak Adiyaksa selaku waka SMP Nabastala yang memang mengawal mereka memanggil Meesa.
Baru saja Meesa hendak pergi, namun sepertinya mereka masih belum puas dengan Meesa. Meesa hampir kualahan, sampai akhirnya Lal yang memang berada di dekat Meesa menarik gadis itu untuk pergi dari kerumunan.
“Bubar,” dingin Lal yang akhirnya sukses membuat kerumunan itu bubar.
Meesa nampak menghela nafas lega, jujur tadi rasanya sesak sakali. Ia bingung padahal ini dirinya baru masuk semifinal, belum benar-benar jadi juara. Tanpa keduanya sadari, Lal masih terus mengenggam jemari milik Meesa untuk menghampiri Pak Adiyaksa.