Perlombaan sudah di mulai. Di setiap ruangan terdapat dua puluh peserta dengan dua pelajaran yang berbeda. Meesa nampak duduk santai di tempatnya, ia masih mempunyai waktu satu setengah jam lagi untuk mengerjakan puluhan soal di hadapanya.
Sebenarnya tidak terlalu sulit, ia bahkan sudah menyelesaikan setengah dari jumlah soal yang di berikan. Meesa menghela nafas sejenak, ia harus bersikap lebih rileks agar bisa menjawab dengan lancar.
“Ayo Meesa, kamu pasti bisa,” ucapnya lirih menyemangati diri nya sendiri.
Sementara di ruangan lain, Gavesha dengan serius mengerjakan soal-soal di hadapanya. Waktu seperti berjalan begitu cepat. Ia menggoreskan pensil yang ada di genggamanya dengan luwes, seperti benar-benar tengah di kejar waktu.
Di antara empat puluh soal di hadapanya, Gavesha baru mengerjakan sebanyak sepuluh soal.
“Astaga, kenapa susah banget sih,” gerutunya namun masih terus mencoba.
Waktu terus berganti, sesuai peraturan hasil akan di umumkan malam nanti. Besok sekitar jam delapan adalah babak penyisihan sepuluh besar karena nanti akan di pilih juara satu sampai harapan tiga.
Tidak terasa ternyata kurang setengah jam lagi waktu akan habis. Gavesha semakin gusar, masih ada sekitar lima belas soal yang belum ia kerjakan. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba saja seluruh rumus yang ada di kepalanya hilang.
Kata-kata dari Meesa tiba-tiba terngiang dalam benaknya.
“Nanti jika kamu tiba-tiba lupa semuanya, cobalah untuk rileks, Gavesha. Bacalah surah al insyirah tiga kali dengan berharap di beri kemudahan, inn syaa Allah, Allah akan beri kamu kemudahan,” pesan Meesa padanya tadi.
Gavesha mengangguk singkat, ia mulai merapalkan surah ke-94 dalam kitab suci agamanya. Waktu sisa dua puluh lima menit lagi, ia mencoba untuk tenang menghadapi seluruh soal di hadapanya. Syukurlah di akhir sisa waktunya ia begitu lancar menghitung semua angka-angka rumit di hadapanya.
Teeettt ... teeett ... teet ....
Bel berbunyi tiga kali yang berarti waktu mengerjakan telah selesai. Setiap peserta harus menaruh seluruh alat tulis dan lembar jawabanya di ujung meja untuk di ambil oleh panitia.
Gavesha masih merasa gugup meski tidak separah tadi, setelah di persilahkan untuk keluar ia bergegas untuk keluar dari ruanganya dan mencari Meesa. Gavesha tersenyum lebar saat melihat Meesa baru saja keluar dari ruangan gadis itu.
“MEESA!” teriaknya memanggil Meesa yang nampak celingak-celinguk.
Gavesha melambaikan tangan kananya dengan tinggi agar Meesa bisa melihat tubuh mungilnya. Baru setelah manik coklat tua melihat tubuh Gavesha akhirnya Meesa menghampirinya.
“Gimana, Sa?”
“Alhamdulillah lancar, lo?” Gavesha mengangguk singkat, “lancar berkat lo.”
Meesa menyirit bingung, memang dia melakukan apa untuk Gavesha? Bahkan tadi ia tidak satu ruangan dengan Gavesha.
“Kok gue?”
“Iya, karena pesan lo tadi gue yang aslinya cukup kesulitan jadi mudah deh. Makasih ya.”
Meesa terkekeh manis, “itu artinya yang bantu kamu Allah, bukan gue.”
“Hahaha, iya sih. Tapi kan berkat lo gue jadi tau tips nya.”
Mereka berdua berjalan beriringan, jam telah menunjukkan pukul empat sore. Jadinya Meesa dan Gavesha bergegas untuk menuju kamar hotel karena mereka belum salat ashar.
Karena perwakilan dari SMP Nabastala terdiri dari tujuh orang, jadinya mereka di bagi tiga kamar. Dua kamar untuk perempuan dengan di bagi dua orang di setiap kamarnya dan yang terakhir adalah kamar untuk siswa laki-laki yang terdiri atas tiga orang.
Sesampainya di kamar Meesa bergegas untuk mengambil wudu, berbeda dengan Gavesha yang nampak tiduran dulu di atas kasur.
“Gavesha, cepatlah ambil wudu. Ini sudah jam empat lebih,” titah Meesa yang mulai memakai mukenahnya.
“Sebentar, otak gue rasanya mau pecah di adu sama empat puluh soal tadi,” tawar Gavesha.
“Ya sudah, jangan lama-lama. Keburu waktu salatnya habis nanti.”
“Iya-iya, Ustadzah Meesa.”
Meesa menggeleng tak heran dengan tingkah Gavesha, kemudian ia melanjutkan melaksanakan perintah Tuhanya tersebut. Gavesha yang terlalu asik tiduran di atas kasur empuk, tanpa dia sadari kini dirinya mulai terlelap.
“Assalamu’alaikum warrahmatullah, assalamu’alaikum warrahmatullah.”
Meesa menatap jengah ke arah Gavesha yang sepertinya telah terlelap, ia bangkir dari tahiat akhirnya, kemudian mendekati Gavesha untuk membangunkan gadis itu. Meesa menepuk-nepuk pipi yang sidikit cubby tersebut.
“Gavesha, bangunlah. Tidak baik tidur di sore hari. Lebih baik kamu bersih-bersih dulu setelah itu bergegaslah untuk salat,” ujar Meesa mencoba membangunkan Gavesha.
“Eungh ... lima menit lagi, Sa.”
“Gavesha, ini sudah hampir setengah lima.”
Meesa menghela nafas sejenak, ia kembali membangunkan Gavesha dengan lembut sampai akhirnya kini gadis itu bangkit dari tidurnya.
“Jam berapa ini? Gue capek banget sumpah, kepala gue juga rasanya nyut-nyutan,” keluh Gavesha yang baru saja terkumpul nyawanya.
“Mandilah dulu, ini udah jam setengah lima.”
Gavesha mengangguk singkat, kemudian ia bergegas ke kamar mandi membawa handuk. Karena hanya ada satu kamar mandi di kamar milik mereka, jadilah kini Meesa memutuskan untuk membuka ponselnya. Ternyata di sana ada beberapa pesan yang ayah serta bundanya.
Sudah sepuluh menit Gavesha masuk kamar mandi, namun tidak ada suara gemericik air. Meesa menaruh ponselnya di atas nakas, berjalan ke arah kamar mandi menggedornya pelan.
“Gavesha! Jangan bilang kau lanjut tidur,” sergah Meesa dengan nada tinggi.
Sementara Gavesha yang tadi tengah terlelap sebentar di bath up tersentak terkejut.
“Iya-iya ini mandi, Bawel,” teriaknya dari dalam kamar mandi.
Meesa mengangguk singkat saat sepertinya Gavesha sudah mulai mandi karena terdengar suara air kran di nyalakan. Setelah lima belas menit kemudian Gavesha sudah selesai mandi, ia bergegas untuk melaksanakan kewajibanya jika tidak ingin Meesa mengomel kembali.
Meesa memang termasuk orang yang di siplin dalam melaksanakan perintah Allah. Namun itu berdampak baik kepada Gavesha, karena Meesa, Gavesha tidak pernah lagi melewatkan waktu salatnya.
Selanjutnya giliran Meesa yang mandi. Hanya butuh sekitar dua puluh menitan Meesa selesai mandi, ia terkejut saat melihat Gavesha yang kembali tertidur di atas sajadah bahkan gadis itu masih menggunakan mukenah.
“Astagfirullah anak itu.”
Meesa merapikan sejenak kamar hotel milik mereka, ia menutup gorden jendela karena memang hari sudah mulai petang. Ia membangunkan kembali Gavesha yang nampak nyenyak tidur di atas sajadah.
“Gavesha, bangunlah. Ini udah mau magrib lho. Pamali tidur mau magrib gini. Gavesha ....”
Meesa mengguncang-guncang tubuh Gavesha. Kemudian akhirnya sang empu mulai membuka matanya kembali.
“Jam berapa?” tanya Gavesha dengan suara seraknya.
Mata Gavesha bahkan nampak merah, sepertinya gadis itu benar-benar ngantuk dan lelah.
“Lima lebih dua puluh menit. Bangun dulu, abis ini magrib.”
“Magrib masih jam enam, Sa. Masih lama,” elak Gavesha yang hendak menutup matanya kembali.
“Ini di Surabaya, Gavesha. Di sini magrib jam setengah enam. Ayo bangun. Pamali tau tidur sore-sore kaya gini,” omel Meesa seperti ibu yang membangunkan anaknya.
“Iya-iya.”
Dengan malas Gavesha bangun dari tidurnya. Ia melepas mukena lilac yang ia kenakan. Tak lupa melipatnya rapi beserta sajadahnya. Sepertinya Gavesha memang suka dengan warna lilac, kebanyakan barang gadis itu memang berwarna ungu terang.