Part 16

1324 Words
Mereka sudah sampai di Surabaya sejak satu jam yang lalu. Bahkan kini mereka telah siap dengan seragam kebanggaan SMP Nabastala. Gavesha dan Meesa sedang mematut diri mereka di depan cermin kamar hotel mereka. “Gimana penampilan gue? Sumpah, gue gugup banget.” Meesa terkekeh renyah, “cantik. Kita akan pergi olimpiade, Gavesha. Bukan berkencan.” Gavesha mendengus, “lo tau, anak-anak olim cowok tuh biasanya cogan-cogan. Jadi kita harus tetep tampil cantik, kali aja nanti pulang bawa gebetan. “Hahaha, ada-ada aja kamu.” “Gimana, gue udah oke kan?” ulang Gavesha yang kedua kalinya. “Iya, Gavesha. Udah cantik, cantik banget.” Gavesha terkekeh. Ia mengalunkan id card miliknya. Kemudian setelah bersiap, mereka pergi ke aula tempat akan melaksanakan olimpiade nantinya. Untuk upacara pembukaan memang ada beberapa pertunjukan. Tidak hanya Meesa tapi hampir keseluruhan peserta begitu excited melihatnya. Mereka berdua berjalan keluar dari kamar hotel. Ternyata Davendra, Shankara, serta Lal baru saja keluar dari kamar hotel mereka yang memang terletak di samping kamar Gavesha dan Meesa. “Eh kalian mau ke aula?” tanya Meesa yang menunggu Gavesha mengunci kamar hotel. “Iya, lagian lima belas menit lagi upacara pembukaan di mulai,” jawab Shankara. Baru saja mereka berlima hendak beranjak, ternyata Deepsikha dan Feshikha baru saja keluar kamar mereja juga. Seperti biasa Meesa tersenyum begitu manis untuk menyapa keduanya. Meski baru kenal sejak tiga jam lalu mereka sudah nampak begitu akrab. “Eh ada Deepsikha sama Feshikha, ya udah sekalian kita ke aula sama-sama.” “Iya, yok!” “Eh tau gak? Katanya ada salah satu selebgram dari Bali yang ikut, ganteng banget masyaallah!” heboh Feshikha. “Serius? Dia ikut apa?” heboh Gavesha yang ikut menimbrung. “Anak matematika kayanya. Dia sering post rumus-rumus gitu, jadi kayanya matematika deh.” “Eh namanya siapa? Nama instagramnya? Sumpah, semoga gue satu ruangan sama dia.” “Davka, dvka.urdh07. Yang followersnya enam ratus ribu lebih.” Dengan semangat Gavesha mengotak-atik ponselnya namun sayangnya saat tiba di lift ponselnya di rampas oleh Davendra. Gavesha menatap nyalang Davendra tak terima. Ia berusaha mengambil ponsel miliknya yang telah di angkat tinggi-tinggi oleh Davendra. “Balikin, Davendra! Ih ngeselin, gue kan mau stalking si sapa tadi namanya? Daka? Dafa?” “Davka, Gavesha,” koreksi Meesa yang sedari tadi menyimak namun tidak tertarik dengan pembicaraan tersebut. Ya, bisa di bilang Meesa tidak begitu tertarik membahas mengenai lawan jenis. Meski saat ini umurnya hampir menginjak enam belas tahun, tapi dia masih belum tertarik pada dunia merah jambu. Meesa lebih memilih fokus ke pendidikanya dan cita-citanya sebagai psikiater. “Nah itu. Balikin, Dave!” “Gak ada, lo habis ini mau olimpiade. Jangan main-main, Gavesha. Seharusnya lo fokus ke olimpiade lo.” Gavesha cemberut tak suka, selain berambisi mengenai akademik maupun nonakademik, Gavesha begitu obsesi pada cogan atau singkatan darii cowok ganteng. “Gak asik lo.” Davendra mengedikan bahunya acuh, saat tidak ada penolakan dari Gavesha. Gavesha mengerucutkan bibirnya beberapa senti karena kesal pada Davendra. Sementara itu, Meesa yang melihat interaksi keduanya hanya terkekeh ringan. Semua peserta perwakilan dari SMP Nabastala telah duduk di kursi masing-masing. Mereka begitu anteng mendengarkan pidato sambutan dari ketua panitia olimpiade tersebut. Olimpiadenya akan di adakan selesai makan siang, karena setelah sambutan akan ada beberapa pertunjukan untuk pembukaan. Binar nayanika itu benar-benar fokus menatap pertunjukan yang baru saja di tampilkan. Sebenarnya ia cukup tertarik, sepertinya menyenangkan jika bisa berlanggak lenggok selues itu. “Keren banget sumpah, kaya udah penari profesional,” takjub Feshikha. “Ya kan mereka emang penari profesional, Fesh,” sahut Gavesha. Gemuruh tepuk tangan menggema di ruangan seluas lapangan sepak bola tersebut. Mereka akan istirahat makan siang terlebih dahulu kemudian pergi ke ruangan masing-masing yang telah di siapkan. “Eh lo dapet nomor berapa, Lal?” tanya Gavesha pasalnya kali ini ruangan olimpiade matematika dan IPS akan di gabung. Lal hanya menatap Gavesha datar, kemudian ia nyelonong pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun. Bahkan ia tidak menjawab pertanyaan Gavesha barusan. Gavesha mencak-mencak di buatnya. “Dasar manusia es,” kutuk Gavesha kesal. “Hush, jangan gitu. Mungkin Lal lagi gak mood,” peringat Meesa yang sedari tadi di samping Gavesha. Gavesha mencak-mencak sendiri, bahkan ia memperagakan ingin menimpuk laki-laki yang di juluki es berjalan itu. “Gue ragu dia gak bisa bahasa manusia.” “Kalau gitu mana mungkin dia ikut olimpiade, Gavesha. Apalagi kan dia pinter banget masalah IPS.” “Iya juga ya, ah bodo lah. Percuma juga kalau gue seruangan sama dia, gak ada gunanya.” “Hahaha, udah jangan marah-marah terus. Lebih baik kita segera ambil makan kemudian salat dhuhur biar keburu,” tengah Meesa menenangkan. Gavesha mengangguk, ia duduk di salah satu meja bundar yang telah di siapkan. Ya di sana ada ratusan meja bundar yang akan di kelilingi setiap perwakilan sekolah. Mereka mulai memakan makan siang mereka dengan tenang atau lebih tepatnya hanya meja mereka yang nampak begitu tenang. Penampilan Meesa sebenarnya tidak begitu mencolok, hanya saja kecantikan dari gadis itu membuat beberapa orang mulai berbisik. “Itu Lavanya Meesa bukan sih?” “Bukanya dia dari SMP Buntara? Kok pakai seragam SMP Nabastala?” “Dia udah pindah, aku lihat di snapgram Kak Vira.” “Eh, iya. Dia ponakanya Kak Vira ya?” “Cantik ya, katanya dia dulu pemenang olimpiade matematika. Apa sekarang dia ikut matematika lagi?” “Tapi dari id cardnya dia ikut IPA terpadu deh.” “Cantik.” “Gue iri sama body nya, apalagi tingginya anjir. Gak kebayang gimana kalau pas SMA.” “Wajahnya imut banget, gemes gue sama pipinya.” “Iya, kaya squisy pipinya.” Meesa tersenyum kaku mendengar semua itu. Jujur ia merasa tidak nyaman menjadi pusat perhatian, apalagi sekarang ia sedang makan. “MEESA! Wah gak nyangka kamu bakal mewakili olimpiade ini di sekolah baru kamu. Gimana kabar kamu?” ujar Qirani teman sekolah Meesa di SMP Buntara. Meesa menaruh sendok serta garpunya, ia memekik senang bertemu dengan Qirani yang dulu adalah teman baiknya. “Rani, aku rindu banget sama kamu. Alhamdulillah, gimana kabar kamu? Eh Trisha ikut juga gak?” “Ikut dong, biasa kan dia Mr. Trisha. Gimana sekolah kamu di Jakarta? Kamu udah punya teman?” Meesa terkekeh begitu manis, ia sampai lupa mengenalkan teman-teman barunya. “Kenalin teman-teman aku, ini Gavesha dia sahabat sekaligus tetangga aku hehe sama juga kaya Davendra, cowok yang lagi makan itu,” ujar Meesa memperkenalkan kedua teman baiknya. “Gavesha Gian, panggil aja Gavesha.” Gavesha mengulurkan tanganya untuk berkenalan dengan Qirani. Qirani menyambut hangat jabatan tangan dari Gavesha, “Qirani, salam kenal.” “Hai, gue Davendra. Sorry gak nyampe tanganya haha,” sapa Davendra dengan tawa manisnya. Qirani tertegun sejenak, Davendra itu laki-laki yang sangat tampan menurutnya. Namun lamuanya kemudian di buyarkan oleh Meesa. “Rani, Davendra nyapa kamu itu, lho.” “Eh-eh, h-hai. Ak-aku Qirani,” gugup Qirani. “Oh ya ini Fashikha sama Deepsikha, mereka kembar seiras hahaha. Aku yakin kamu pasti gak bisa bedain.” Qirani mengangguk menyetujui, Deepsikha dan Fashikha memang begitu mirip. Nyaris tidak ada perbedaan di antara mereka. “Gue Fashikha.” “Qirani.” “Gue Deepsikha, kakaknya Fashi.” “Qirani.” “Kalau mereka Shankara dan Lal,” tunjuk Meesa pada laki-laki dengan dua kepribadian yang berbeda itu. “Hai, gue Shankara. Tapi kalau lo panggil Sayang juga gak papa. By the way, gue jomblo,” introducing Shankara yang begitu tengil. “Hahaha, aku Qirani.” Berbeda dengan Shankara yang begitu ramah, Lal nampak acuh dan tidak berminat menanggapi Qirani. “Lal emang gitu orangnya. Dia jarang ngomong sama manusia,”halus Fashikha enteng. “Fash, jangan gitu. Lal emang jarang ngomong tapi dia baik kok,” bela Meesa. Karena waktu istirahat akan segera berakhir, Qirani pun pamit untuk pergi ke mejanya. Sementara Meesa dan Gavesha yang telah selesai makan mereka bergegas ke masjid untuk melaksanakan kewajiban. Si kembar yang pintar berbahasa itu beragama kristen. Jadilah mereka menunggu yang lainya pergi ke masjid sambil bermain ponsel.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD