Arunika pagi ini terpancar begitu cerah. Wanodya ayu tersebut telah siap dengan kemeja merah muda dan rok berwarna nila yang nampak begitu pas di tubuhnya. Postur tubuhnya yang bisa di bilang lebih tinggi dari pada anak seusianya membuat penampilanya begitu mencolok.
Rambut hitam sebahunya di biarkan tergerai, sedangkan bibir tipis itu hanya di olesi liblam agar terlihat lebih fres. Ia mencangklot tas berwarna hijau tosca miliknya, setelah itu ia pergi ke ruang makan untuk melaksanakan sarapan pagi bersama.
Denallie tersenyum hangat melihat cucu pertamanya tersebut. Begitu pula dengan Elakshi dan Jayendra yang menyambut hangat kehadiran Meesa. Pagi ini mereka hanya sarapan berempat saja, Meesa duduk di samping Elakshi. Pagi ini ia hanya ingin memakan beberapa helai roti keju saja.
“Selamat pagi, Sayang,” sapa Jayendra begitu ramah.
“Pagi, Ayah.”
“Gimana, kamu siap pergi ke sekolah baru hari ini?” tanya Denallie pada Meesa.
“Siap dong, Nek! Gimana cantik belum Lava?”
“Kamu selalu cantik dan selalu menjadi cucu nenek yang paling cantik.”
Meesa terkekeh renyah, “iya kan Rafa, Andra, sama Radhika cowok, Nek.”
Mereka tertawa renyah, kemudian mulai melakukan sarapan. Jarum jam memang masih menunjukan pukul enam pagi. Meesa harus berangkat pagi-pagi untuk beberapa urusan yang ia selesaikan di sekolah barunya. Kebetulan juga Jayendra ada rapat pagi ini.
“Jangan lupa jadi gadis yang baik dan jangan menyakiti orang lain,” pesan Denallie saat Meesa hendak pergi ke sekolah.
Meesa mengangkat tangan menaruhnya di pelipis. Ia memperagakan layaknya prajurit yang tengah hormat kepada komandan mereka.
“Siap! Meesa akan selalu jadi gadis yang baik sesuai pesan nenek.”
Meesa menyalimi tangan keriput Denallie, kemudian dia masuk ke dalam mobil dimana Elakshi dan Jayendra telah menunggunya. Jendela mobil di buka setengah oleh Meesa, kemudian tangan nya melambai berpamitan pada Denallie. Denallie tersenyum hangat, hatinya selalu menghangat saat melihat senyuman manis itu.
Kedua iris mata coklat tua itu menatap penuh gairah keluar jendela. Ia bahkan menyapa ramah satpam kompleks yang tengah berjaga pagi itu. Meski baru tiga hari dia pindah, beberapa orang telah mengenalnya karena ke ramahanya tersebut.
“Kamu sudah siapkan semuanya kan, Sayang? Tidak ada yang tertinggal, ‘kan?” tanya Elakshi memastikan.
“Sudah, Bun. Semua sudah Meesa siapkan dari tadi malam.”
“Nanti pulangnya kamu di jemput sama Kak Kaivan dulu ya. Ayah masih belum menemukan supir untuk kamu. Secepatnya ayah akan carikan supir untuk antar jemput kamu,” papar Jayendra yang sibuk menyetir.
“Meesa pulang naik angkutan umum aja juga gak papa kok, Yah. Takut ngerepotin Kak Kaivan,” tolak Meesa lembut.
“Jangan, nanti kalau kamu nyasar gimana? Ayah udah bilang kok, kebetulan Kaivan kuliah agak siangan.”
“Ya udah kalau gitu.”
Dua puluh menit kemudian mobil pajero sport berwarna hitam milik Jayendra telah sampai di perkarangan SMP Nabastala. Meesa menatap sekolah itu kagum, terdapat tiga gedung dengan lima lantai berdiri kokoh tampak begitu mewah dan mengagumkan.
Meesa tak henti-hentinya kagum dengan sekolah barunya tersebut. Ini dua kali lipat atau bahkan tiga kali lipat dari sekolah lamanya di Semarang. Elakshi tersenyum, sepertinya ia tidak salah memilih sekolah. Ekavira yang merekomendasikan sekolah tersebut, karena memang kebanyakan anak-anak komplek sekolah di sana.
“Kamu suka?”
“Suka banget, Bun! Bagus banget sekolahnya. Pasti mahal ya?” tebak Meesa begitu polos.
“Tidak, untuk putri kesayangan ayah.”
Meesa memeluk Jayendra berterima kasih. Sebenarnya tidak mudah mencapai di titik ini, Jayendra pun memulai semuanya dari nol sampai memperoleh profesi saat ini. Meesa adalah saksi bisu perjuangan Jayendra. Dari Jayendra yang sempat menjadi karyawan pabrik biasa sampai jadi direktur utama seperti saat ini.
Itu adalah alasan kenapa Meesa bersikap begitu sederhana. Jayendra dan Elakshi memang mendidiknya menjadi gadis yang sederhana. Tidak peduli apapun yang di pakai yang terpenting pantas dan tidak peduli apapun yang di makan yang terpenting layak.
“Ayo sayang, kita harus ke ruang kepala sekolah.”
“Ayah, Meesa pamit ya. Ayah hati-hati kerjanya, semangat!” pamit Meesa menyalimi serta mencium kedua pipi Jayendra.
“Iya sayang, kamu juga hati-hati. Kalau ada yang jahatin kamu, aduin ke ayah!” seru Jayendra bercanda.
Meesa terkekeh renyah, “Meesa bisa jaga diri. Lagian ada Allah yang akan dan selalu jaga Meesa. Ya udah, assalamu’alaikum, Ayah.”
“Wa’alaikumussalam putri kesayangan ayah.”
Jayendra tersenyum mendengar penuturan lugu putri semata wayangnya tersebut. Setelah Jayendra mencium keningnya cukup lama, Meesa keluar dari mobil bersama Elakshi menjadi sorotan. Banyak siswa yang menatap ke arahnya, ada juga para siswi yang memekik terkejut siapa yang baru saja pindah ke sekolah mereka.
Mereka mengenal gadis bersurai sebahu tersebut atau lebih tepatnya mereka mengenal Lavanya Meesa. Siapa yang tidak mengenal Ekavira? Selebgram ngehits yang sedang naik daun. Mereka mengenal Meesa yang tak lain adalah keponakan Ekavira yang sangat dekat dengan selebgram tersebut.
Ah mereka baru ingat, Ekavira bahkan memosting bagaimana keceriaan gadis itu saat mencoba seragam milik SMP Nabastala. Meesa juga terkenal karena prestasi gadis itu, gadis yang mampu mengalahkan Gavesha Gian di olimpiade matematika tingkat nasional tiga bulan lalu.
“Itu Meesa?”
“Lavanya Meesa kan?”
“Cantik juga ya dia. Iri gue sama dia yang bisa deket sama Kak Vira.”
“Iya, pasti enak jadi dia.”
“Tinggi banget ya ternyata dia.”
“Gak heran sih. Kak Vira kan juga pernah posting, dia bahkan tingginya hampir seperti Kak Vira.”
“Dia yang kemarin kalahin Gavesha di olimpiade nasional kan?”
“Katanya dia emang pinter banget sih.”
“Saingan baru Vesha nih?”
“Kayanya bakal ada yang rebut posisi Vesha di peringkat paralel.”
“Hahaha, iya deh kayanya.”
Meesa mendengar semua itu, ia menyirit seperti tidak asing dengan nama Gavesha. Namun tak menggubris desas-desus tersebut Meesa hanya tersenyum ramah saja saat ada beberapa yang menyapanya. Sesampainya di kantor kepala sekolah pun, kepala sekolah dan beberapa staf menyambutnya dengan ramah.
“Assalami’alaikum, selamat pagi,” ucap Elakshi begitu ramah saat memasuki ruang kepala sekolah.
“Wa’alaikummussalam, ayo masuk. Ibu Elakshi? Ini ananda Lavanya Meesa?” tanya seorang wanita yang telah berumur sekitar empat dekade tersebut menyambut kedatangan Elakshi dan Meesa.
“Iya, Bu.”
“Ayo masuk. Sudah di tunggu sama Pak Adytama.”
Elakshi dan Meesa memasuki ruangan, tak lupa sebelum di persilahkan duduk Meesa menyalimi pria berkepala lima tersebut yang sepertinya menjabat sebagai kepala sekolah SMP Nabastala. Adytama tersenyum sangat ramah, ia melihat data prestasi gadis berambut sebahu tersebut begitu banyak saat sekolah di sekolah lamanya.
“Lavanya Meesa? Senang saya mendapat kabar bahwa salah satu murid emas SMP Buntara pindah kemari. Saya harap kamu betah dan senang pindah di sini. Jika ada yang mengganggu mu, laporkan saja langsungg kepada saya,” tutur Adytama begitu ramah.
Meesa tersenyum canggung, ia bingung harus merespon seperti apa.
“Senang juga di beri kesempatan untuk bersekolah di SMP Nabastala, saya harap saya tidak mengecewakan bapak nantinya.”
Adytama tak pernah menghilangkan senyumanya. Ia mulai menjelaskan beberapa peraturan serta tata tertib SMP Nabastala. Ia juga memberikan penjelasan beberapa ekstakulikuler rekomendasi yang bisa di ikuti Meesa. Selain itu, ia bahkan langsung menawarkan olimpiade IPA yang di selenggarakan bulan depan.
“Apakah kamu bersedia mewakili SMP Nabastala untuk olimpiade IPA tingkat Jawa-Bali bulan depan, Meesa?” tawar Adytama tanpa basa-basi.
Meesa mengangguk mantap, sebenarnya ia telah di persiapkan oleh SMP Buntara untuk mengikuti olimpiade tersebut. Mengingat tahun lalu ia juga mengikuti olimpiade tersebut dan mendapatkan juara pertama.
“Baik, Pak. Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk Pak Adytama dan SMP Nabastala.”
“Syukurlah, saya sangat senang kamu menerimanya. Jika berkenan, mulai hari ini kamu sudah bisa melakukan bimbingan dengan Bu Wikrama. Nanti akan saya sampaikan.”
Elakshi tersenyum bangga, putri semata wayangnya tersebut memang selalu bisa membanggakanya. Setelah berbincang cukup lama, mengingat bel jam pelajaran pertama telah berbunyi akhirnya Meesa di antarkan ke kelas barunya. Sebelum pergi ke kelas, Meesa berpamitan pada Elakshi terlebih dahulu.
“Belajar yang rajin ya. Jadi gadis baik dan jangan nakal,” pesan Elakshi pada Meesa.
“Siap, Bunda.”
Meesa pergi menyusuri koridor yang nampak sepi. Maklum pembelajaran sepertinya telah di mulai.